Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Universal Studios


__ADS_3

Devi menatap jari manisnya dengan perasaan membuncah bahagia. Apa yang dialaminya semalam benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka? Tapi sepertinya itu bukan mimpi. Buktinya cincin bermata berlian merah muda itu telah melingkar indah di jari manisnya.


Devi tidak menyangka Alby melamarnya secepat ini. Apa tandanya mereka sebentar lagi akan menikah?


Memikirkannya saja membuat Devi sangat bahagia. Devi sudah membayangkan betapa indah hari-harinya bersama Alby sebagai suaminya. Bangun tidur disambut dengan ciuman hangat Alby di keningnya lalu menyiapkan sarapan untuk Alby dan bekal untuk anaknya nanti. Benar-benar masa depan yang paling diinginkan oleh Devi.


Tunggu dulu! Bukankah Devi tidak bisa memasak? Baiklah kalau begitu selepas pulang liburan dari Singapura Devi harus mengambil kursus memasak.


"Morning," sapa Alby yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Devi menoleh ke arah Alby yang terlihat sangat menarik dengan rambut basah dan handuk sepinggangnya menampilkan otot perut Alby.


Untuk seperkian detik Devi hanya terdiam sembari menikmati pemandangan di pagi harinya.


"Kau lihat apa?" tanya Alby.


"Lihat om Alby. Om Alby benar-benar seksi," jujur Devi yang membuat Alby tertawa kecil.


Alby pun berjalan mendekat dan duduk di pinggir ranjang menghadap ke arah Devi. Alby membelai lembut rambut Devi dan menatapnya dalam.


"Kau jauh lebih seksi daripada aku," puji Alby.


"Bukankah om Alby bilang lemakku di mana-mana?" sindir Devi.


"Memang, tapi menurutku kau tetap menarik dan seksi," jawab Alby yang membuat Devi tersenyum lebar.


"Ayo bangun. Aku akan memesan makanan. Setelah selesai sarapan aku akan membawamu pergi jalan-jalan."


"Ke mana om?"


"Universal studios. Kita harus berangkat pagi sebelum antriannya panjang," jawab Alby yang membuat Devi langsung berbinar.


"Baiklah om Alby pesan makanan dan aku akan mandi." Devi langsung bangkit dari ranjangnya dan berlari menuju kamar mandi.


"Jangan lari nanti jatuh!" tegur Alby yang tentu saja dianggap angin lalu oleh Devi.


Alby menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Devi. Devi benar-benar tampak sempurna dengan tingkah menggemaskannya.


*****


Alby berusaha menenangkan Devi yang masih saja menangis setelah memasuki wahana revenge of the mummy. Begitu memasuki wahana tersebut Devi sudah berteriak ketakutan dan berkali-kali bersembunyi di dalam pelukan Alby.


Bahkan setelah keluar dari wahana pun ia masih menangis yang membuat Alby menyesal membawa Devi memasuki wahana tersebut.


"Sudah jangan menangis lagi. Sekarang sudah selesai, tidak ada mummy lagi," bisik Alby pada Devi yang terus memeluknya erat.


"Aku tidak mau masuk ke sana lagi," ujar Devi menatap Alby dengan mata sembabnya.


"Iya, maaf seharusnya aku tidak membawamu masuk ke sana."


Devi menganggukkan kepalanya tanda ia memaafkan Alby.


"Ayo kita cari wahana lain yang lebih menyenangkan," ajak Alby.


"Tapi jangan yang menyeramkan," pinta Devi.


"Tidak kok. Aku jamin ini pasti menyenangkan," ujar Alby.


Devi pun menurut begitu tangannya digenggam oleh Alby. Namun begitu di tengah jalan Devi menghentikan langkahnya begitu ia melihat wahana yang sangat menarik untuknya.


"Om aku mau itu." Devi menarik tangan Alby agar menghentikan langkahnya.


"Naik apa?" tanya Alby.


"Itu," tunjuk Devi ke arah wahana battlestar galactica human vs cyclon.


"No," tolak Alby langsung.


"Kenapa om?? Pokoknya aku mau naik itu!!" kekeuh Devi mengerucutkan bibirnya sembari terus menunjuk ke arah wahana yang diinginkannya itu.

__ADS_1



"Butuh nyali besar untuk naik ke wahana itu. Kau tidak akan berani, percayalah padaku kau pasti akan menyesal menaikinya," tutur Alby.


"Bilang saja om Alby tidak berani menaikinya. Itu tidak sama seperti mummy tadi om, aku tidak takut. Ayo naik itu om," rengek Devi.


"Bukan masalah takut tidaknya, tapi wahana itu melesat dari atas ke bawah lalu memutar dengan kecepatan super duper ekstrim. Aku tidak ingin mengambil resiko, kita naik yang lain saja. Lagipula kita akan dalam masalah jika memiliki jantung lemah dan stamina fisik yang tidak mendukung."


"Tapi kita kan baik-baik saja. Ayolah om, jika om Alby tidak mau biar aku saja. Bukankah om Alby mengajakku ke mari untuk bersenang-senang? Kalau om Alby melarangku seperti ini bagaimana bisa aku bersenang-senang?"


Alby menghembuskan nafasnya pelan. Devi benar-benar keras kepala. Satu-satunya cara Alby untuk mengatasi Devi ya membiarkan Devi melakukan apa yang ia suka agar ia tahu sendiri bagaimana akibatnya jika ia tidak menuruti perintah Alby.


"Baiklah kita naik wahana itu. Setelahnya kau jangan menangis lagi padaku."


"Iya-iya."


*****


Benar saja setelah menaiki wahana battlestar galactica human vs cyclon, wajah Devi langsung pucat pasi dengan keringat dingin yang menetes dari dahinya.


Alby segera mendudukkan Devi di bangku terdekatnya dan segera menyodorkan air mineral kepada Devi.


"Minum air dulu." Alby membuka tutup botol air mineral tersebut dan membantu meminumkannya pada Devi.


Setelahnya Alby pun menyeka keringat di dahi Devi dengan lembut.


"Bagaimana?"


"Aku ingin muntah om. Di mana toilet?" panik Devi sembari menutup mulutnya.


"Ayo."


Alby segera menggendong Devi menuju toilet yang tidak jauh dari tempatnya. Segera setelah Alby menurunkannya, Devi langsung masuk ke dalam dan memuntahkan isi perutnya.


Sial! Harusnya aku menuruti perkataan om Alby!


Alby menunggu Devi dengan cemas di depan toilet karena ia tidak mungkin ikut masuk ke dalam toilet wanita.


"Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?" tanya Alby yang di jawab gelengan kepala oleh Devi.


"Perutku masih terasa tidak enak om," ujar Devi mengerucutkan bibirnya.


"Kalau begitu ayo kita duduk di sana dulu," ajak Alby sembari memapah Devi dan mendudukkannya di bangku yang tidak jauh dari tempatnya.


"Minum air hangat dulu lalu minum obatnya," perintah Alby.


Alby pun menyodorkan air hangat dan satu tablet obat pereda mual kepada Devi. Devi segera menerima dan meminumnya.


"Sudah?"


"Sudah," jawab Devi.


"Sudah tahu kan akibatnya? Kan sudah kubilang jangan menaikinya, tapi kau tetap bersikukuh ingin naik. Sekarang kau rasakan sendiri akibatnya jika tidak menuruti perkataanku. Aku melarangmu itu tentu saja ada sebabnya, aku tahu kondisi fisikmu jadi lain kali turuti perkataanku ya?" nasihat Alby lembut.


"He'em."


"Masih mau keras kepala lagi tidak?"


Devi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Awas jika kau mengulanginya," ujar Alby sembari mencubit pelan hidung Devi.


Devi pun menyandarkan kepalanya pada bahu Alby dengan tangannya yang memeluk lengan Alby.


"Aku minta maaf om," cicit Devi.


"Iya tidak apa-apa. Kalau begitu kita tunggu sebentar lagi sampai perutmu benar-benar baik lalu kita pulang untuk istirahat," ujar Alby yang membuat Devi langsung menoleh ke arahnya.


"Pulang?"

__ADS_1


"Iya. Kau masih ingin bermain dengan kondisi seperti ini?"


Devi menggelengkan kepalanya lemah. Perutnya masih terasa mual dan ia merasa kepalanya berdenyut jadi tidak mungkin ia melanjutkan bermainnya di universal studio ini. Tahu begitu ia menurut saja pada perkataan Alby dan bisa mencoba semua wahana di sana. Memang yang namanya penyesalan selalu datang belakangan.


"Jangan sedih. Lain kali kalau ada waktu luang aku akan membawamu kemari lagi untuk mencoba wahana yang belum pernah kau mainkan," hibur Alby yang diangguki oleh Devi.


*****


Selepas pulang dari universal studios, Devi langsung pergi tidur. Ia harus memulihkan tenaganya agar bisa pergi jalan-jalan lagi. Terus terang saja ia merasa bersalah pada Alby, seharusnya mereka pergi bersenang-senang bukannya malah mengurus gadis merepotkan sepertinya.


Tidak terasa hari sudah petang namun Devi masih belum kunjung bangun. Alby pun berjalan menuju balkon dan menikmati matahari terbenam dengan tenang.


Ting!


Alby merogoh ponselnya dan melihat sebuah pesan dari ayahnya.


'Kau tidak boleh macam-macam sebelum menikah'


Alby tertawa geli begitu selesai membaca pesan dari ayahnya. Mana mungkin Alby melakukan hal itu pada Devi. Alby cukup tahu diri dan tahu batasan. Ayahnya benar-benar berlebihan.


Setelah berdiam diri cukup lama, Alby pun memutuskan untuk segera masuk. Ia juga tidak lupa menutup kembali pintu balkon dan kelambunya.


Begitu berbalik, Alby mendapati Devi yang tampak tidak tenang dalam tidurnya. Keringat membasahi dahinya dan ia seperti sedang menggumamkan sesuatu. Apa Devi mimpi buruk lagi?


Alby segera mendekat ke arah Devi dan mencoba membangunkannya.


"Dev, bangun Dev," panggil Alby sembari menggoyang-goyangkan Devi pelan.


"Tolong aku! Hosh hosh hosh." Devi terbangun dengan nafas tersengkal.


Alby segera menyodorkan air mineral pada Devi dan Devi langsung meminumnya hingga tandas tak bersisa.


"Ada apa? Apa mimpi buruk lagi?" tanya Alby khawatir.


"Iya om," jawab Devi pelan.


Alby langsung membawa Devi ke dalam pelukannya.


"Dev pulang dari sini aku ingin membawamu ke dokter Raka. Aku tidak ingin kau terus-terusan mimpi buruk seperti ini. Trauma menyakitkan dalam kejadian nyata bahkan ikut juga terbawa dalam alam mimpi. Aku sangat mengkhawatirkanmu."


Devi terdiam. Haruskah ia jujur bahwa mimpi buruk itu masih kerap menghantuinya? Atau Devi berdalih mimpi lain sehingga Alby tidak mengkhawatirkannya?


Devi teringat perkataan Gara tentang seberapa menderitanya om Alby mengkhawatirkan dirinya. Apa sekarang om Alby sedang menderita karena dirinya?


"Apa aku membuat om Alby khawatir?" tanya Devi lirih.


"Iya. Aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Itu artinya aku membuatmu tersiksa ya om?"


"Apa maksudmu?" tanya Alby bingung.


"Gara pernah bilang jika om Alby tersiksa karena mengkhawatirkanku. Sekarang om Alby tidak boleh mengkhawatirkan aku lagi, aku tidak mau om Alby menderita."


Alby menatap Devi dengan senyum lembutnya.


"Gara bilang apa?" tanya Alby lembut.


"Kau tahu tidak betapa tersiksanya seseorang karena rasa khawatir? Kau tidak kasian pada om Alby yang setiap saat harus mengkhawatirkanmu? Kau ini suka sekali membuat orang lain khawatir ya?" ujar Devi menirukan Gara. "Kata-kata itu bahkan aku sampai hafal di luar kepala," lanjut Devi.


"Om aku sungguh tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan mimpi-mimpi ini. Aku hanya menganggapnya bunga tidur biasa. Aku memang ketakutan tapi setelah bangun aku sudah tidak apa-apa, om Alby tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya."


"Dev daripada aku yang tersiksa karena rasa khawatir padamu bukankah lebih baik jika kau menghilangkan rasa khawatir ini padamu?"


"Bukankah dengan mimpi buruk ini hilang dari hidupmu rasa khawatirku padamu akan hilang?"


"Bagaimana caranya om?" tanya Devi bingung.


"Psikoterapi."

__ADS_1


*****


__ADS_2