Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Alby Marah


__ADS_3

Devi diam menunduk sembari memainkan kedua tangannya sedangkan Alby menatap Devi tajam sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Setelah kejadian tadi, Alby sungguh marah besar. Apartemennya menjadi kotor dan berantakan. Tumpahan dan pecahan mangkuk berisi bubur sudah berserakan di mana-mana, belum lagi di meja ruang tamu penuh dengan berbagai macam snack dan minuman. Alby yang gila kebersihan itu sangat membenci apartemennya berantakan dan kotor seperti ini. Dan satu-satunya tersangka dalam kasus ini adalah Devi Kusuma Wardhani yang mengajak teman-temannya ke apartemen milik Alby tanpa ijin darinya.


Alby yang niatnya ingin pulang untuk mengambil data laporannya yang tertinggal pun malah harus merasakan sakit kepala begitu melihat kekacauan yang terjadi.


"Maaf om," lirih Devi tanpa berani melihat raut wajah Alby.


"Kenapa teman-temanmu datang kemari?" tanya Alby. "Apa aku memberimu ijin?" lanjut Alby sebelum Devi sempat menjawab.


"Tidak," jawab Devi.


"Lalu kenapa kau mengundangnya kemari? Bukankah kau tahu aku sangat benci kotor? Lihatlah bagaimana kondisi apartemenku sekarang! Sangat kotor dan berantakan!!" marah Alby.


"Ini bukan apartemenmu jadi jangan bersikap seenaknya!" lanjut Alby.


"Aku minta maaf," ujar Devi lagi.


"Jika maafmu dapat membereskan semua kekacauan ini untuk apa aku marah padamu," ujar Alby.


"Aku janji akan membersihkan semuanya," cicit Devi.


"Memangnya kau bisa?" tanya Alby yang membuat Devi mendongakkan kepalanya tersinggung.


"Om Alby meremehkanku?" tanya Devi dengan nada tersinggung. "Aku memang gadis manja tapi jika hanya membersihkan kekacauan kecil seperti ini aku bisa! Lagipula ini bukan sepenuhnya salahku. Salah sendiri om Alby tidak memberitahuku apa saja larangan yang tidak boleh kulanggar selama tinggal di apartemenmu yang sangat bersih ini," lanjut Devi berani.


Alby menatap mata merah itu. Mata yang mencoba menahan air mata. Alby tahu ia sungguh keterlaluan pada Devi dan ia juga menyadari kesalahannya karena tidak memberitahu larangan tersebut pada Devi.


"Jika om Alby memberitahuku tidak boleh membawa temanku kemari, maka aku tidak akan membawa mereka kemari. Hari ini aku bosan tidak ada teman. Mau sarapan tapi aku tidak suka bubur hiks. Mereka datang membawakanku makanan dan aku memakannya karena aku tahu hiks, aku tahu aku baru saja sakit dan om Alby memerintahkanku agar aku sarapan dan meminum obat tepat waktu. Dan aku hiks juga tahu om Alby pasti akan marah jika aku tidak memakan buburnya makanya aku memberikan buburnya kepada Gara agar om Alby berpikir aku yang memakannya, ta...tapi Arin merebutnya dan tidak sengaja bubur itu jatuh huaaaa," jelas Devi sebelum pada akhirnya ia menangis tersedu-sedu.


Alby yang melihat Devi menangis tersedu-sedu pun menjadi terenyuh dan mengingatkannya pada seseorang. Cara bicara dan tangisnya sama seperti seseorang di masa lalunya. Dengan cepat, Alby pun segera menghilangkan pikiran tersebut dan segera bangkit dari tempat duduknya. Entahlah, tiba-tiba saja ia merasa bersalah.


"Cepat minum obatmu sekarang lalu pergi istirahat. Aku sudah memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan ini semua. Aku kembali ke rumah sakit terlebih dahulu dan kita bicarakan peraturannya nanti malam," pamit Alby.


Devi pun mengusap air matanya dengan kedua tangannya dan menatap punggung Alby yang memasuki ruang kerjanya untuk mengambil laporan kerjanya. Devi tahu ia salah karena mengundang Arin dan Gara tanpa ijin dari Alby, tapi mendengar Alby meremehkannya tiba-tiba saja ia menjadi emosional.


Ting tung!


Devi menghapus air matanya dan menatap ke arah pintu.


"Tolong bukakan pintunya. Dia bibi Tari, asisten rumah tangga di sini," pinta Alby sembari menyiapkan beberapa berkas yang akan ia bawa ke rumah sakit dari ruang kerjanya.

__ADS_1


"Iya," jawab Devi.


Devi pun berjalan dan membukakan pintu untuk bibi Tari. Wanita paruh baya itu cukup terkejut begitu melihat ada seorang gadis di apartemen milik tuannya.


Begitu menyadari kebingungan bibi Tari karena keberadaannya, Devi pun langsung memperkenalkan dirinya dengan sopan kepada bibi Tari.


"Oh perkenalkan saya Devi. Ehm.. saya.. saya adiknya om Alby," ucap Devi berbohong. Devi hanya tidak ingin bibi Tari berpikir aneh-aneh karena Devi tinggal satu atap dengan Alby.


"Dia adik temanku bukan adikku," koreksi Alby yang kini berdiri di belakang Devi dan membuat Devi terjengkit kaget. "Kau tidak perlu berbohong pada bibi Tari. Bibi Tari tidak mungkin berpikir aneh-aneh hanya karena aku tinggal bersama anak SMA," lanjut Alby sembari menyampirkan tasnya di pundak.


Devi menatap sebal ke arah Alby dan hal itu membuat bibi Tari tersenyum.


"Baiklah, saya pergi dulu. Maaf membuat bibi repot-repot kemari hanya karena kekacauan kecil ini," pamit Alby pada bibi Tari.


"Ah tidak apa-apa nak Alby, jangan sungkan-sungkan. Hati-hati di jalan," balas bibi Tari.


Setelah kepergian Alby, Devi pun langsung menggandeng tangan bibi Tari dan menatap bibi Tari sungguh-sungguh.


"Bi tolong ajari saya bagaimana cara bersih-bersih. Saya mohon," mohon Devi sembari merapatkan kedua telapak tangannya ke depan. Dan hal itu terdengar oleh Alby yang ternyata belum menutup pintu dengan rapat. Alby tersenyum tipis begitu mendengarnya. Rupanya gadis itu memiliki rasa bersalah juga.


*****


"Woah capek sekali," keluh Devi sembari melemparkan tubuhnya ke sofa yang berada di ruang tamu.


"Terima kasih."


Devi meminum susu coklat tersebut dengan sekali teguk. Rasanya tenaganya benar-benar sudah terkuras habis semua. Jika tahu akan selelah ini, Devi pasti tidak akan mengajak Arin dan Gara kemari.


"Kamu istirahat dulu saja, bibi mau masak untuk makan malam," ujar bibi Tari sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Aku ikut!!" ujar Devi sembari berlari menyusul bibi Tari.


"Kenapa tidak beristirahat saja? Kau pasti lelah karena seharian membersihkan rumah," tanya bi Tari sembari mengeluarkan sayur-sayuran dari dalam kulkas.


"Iya. Baiklah aku akan duduk di sini saja menemani bibi," ujar Devi sembari tersenyum manis.


Bibi Tari membalas senyuman Devi dengan senyuman juga. Sungguh bi Tari orang yang sangat menyenangkan menurut Devi.


"Maaf bi, saya boleh bertanya-tanya tidak?" tanya Devi.


"Boleh."

__ADS_1


"Sejak kapan bibi bekerja untuk om Alby?"


"Om? Bibi rasa Alby belum setua itu," kekeh bi Tari.


"Tapi di mataku dia tetap tua," ujar Devi.


"Baiklah. Bibi sebetulnya dulu menjadi asisten rumah tangga di rumah orang tuanya Alby, hanya saja sekarang sudah tidak lagi," jawab bibi Tari.


"Kenapa tidak lagi? Apa mereka memperlakukan bibi dengan buruk?" tanya Devi curiga.


"Tidak. Mereka justru sangat baik pada bibi. Hanya saja sekarang bibi harus merawat suami bibi di rumah. Kasian jika dia sudah bekerja seharian tapi tidak ada istri yang menyiapkan semua keperluannya dan merawatnya," jawab bi Tari sembari tertawa kecil.


"Ah benar, tugas istri adalah di rumah dan suami yang bekerja," ujar Devi mengambil kesimpulan sendiri.


"Tidak juga. Banyak kok wanita karir di luar sana. Mereka dapat membeli apapun yang mereka sukai tanpa harus membebani suami," jelas bi Tari.


"Oh begitu. Lalu kenapa bibi mau datang kemari untuk membersihkan apartemen jika bibi sudah tidak bekerja untuk keluarganya om Alby?" tanya Devi.


"Hanya ingin mempererat tali silaturahmi saja. Pada saat bibi ijin keluar, bibi memang mengatakan pada mereka jika kapanpun mereka butuh bantuan bibi, bibi siap membantu."


"Wah bibi baik sekali," kagum Devi.


"Tidak juga, malah bibi berhutang budi pada keluarga ini terutama Alby. Alby pernah menyelamatkan nyawa suami bibi pada saat suami bibi kecelakaan dulu, jadi mungkin satu-satunya cara untuk membalas kebaikan Alby adalah membantunya seperti ini saat dia benar-benar sibuk dan tidak sempat membersihkan apartemen," ujar bi Tari.


"Biasanya om Alby yang membersihkan apartemen ini sendirian?" tanya Devi tidak percaya.


"Iya," jawab bi Tari yang membuat Devi menggelengkan kepalanya kagum.


"Tapi sayang ya bi, om Alby menyebalkan sekali dan mudah sekali marah. Tadi saja aku kena marah hanya karena aku mengajak kedua sahabatku kemari dan tidak sengaja memecahkan mangkuk berisi bubur itu," adu Devi.


"Tentu saja Alby marah. Selama ini tidak ada satupun teman pria maupun wanitanya yang diajak berkunjung kemari. Kau adalah satu-satunya orang yang beruntung karena Alby mengijinkanmu tinggal bersamanya di sini," ujar bi Tari yang entah mengapa membuat hati Devi menghangat.


Ah tunggu dulu!! Perasaan macam apa ini?!!


Devi segera menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menetralisir perasaannya. Hal yang seperti itu tidak boleh hinggap di perasaannya.


Setelah beberapa saat kemudian, bi Tari telah selesai memasak dan ia mengalihkan pandangannya pada Devi yang kini tertidur pulas dengan kepalanya yang ia sandarkan di meja makan.


Dengan perlahan, bi Tari berjalan mendekatinya dan membelai rambut Devi.


"Devi benar-benar mirip dengan nona Icha."

__ADS_1


*****


__ADS_2