
Alby mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobilnya melaju dengan gesit membelah jalanan kota Jakarta. Berkali-kali Alby memutar kemudinya dari arah kanan ke kiri secara bergantian dengan begitu terampil untuk menyalip mobil yang ada di depannya.
Alby sudah tidak menghiraukan teguran dan bunyi klakson mobil pengendara lain begitu Alby menyalip mereka dan hampir menabraknya. Kini yang ada di otaknya adalah menghentikan Devi sebelum Devi bertemu dengan Raden.
Masih dengan fokus menyetir, Alby segera merogoh ponselnya dan segera mendiall nomor Devi tapi Devi tidak menjawab panggilannya. Alby mencoba menghubungi Devi lagi namun lagi-lagi Devi tidak menjawabnya.
Alby tidak kehabisan akal, Ia segera menghubungi Renata untuk memastikan jika Raden belum bertemu dengan Devi.
"Di mana Raden?" tanya Alby langsung begitu Renata menjawab panggilannya.
"Aku tidak tahu, tapi tadi ia berpamitan padaku ingin bertemu seseorang di lobby rumah sakit sebentar," jawab Renata.
"Panggil Raden sekarang juga! Jangan biarkan Raden bertemu dengan Devi!!" perintah Alby yang membuat Renata kebingungan.
"Memangnya kenapa?"
"Sudah lakukan saja seperti perintahku. Akan kuberitahu nanti," ujar Alby mengakhiri panggilan teleponnya.
Alby memukul stir mobilnya begitu lampu merah menyala. Alby tidak habis pikir kenapa Devi sudah tidak terlihat lagi di hadapannya? Bukankah jarak Devi dengan Alby keluar restaurant tidak beda jauh? Kenapa Devi menghilang secepat itu?
Tanpa Alby tahu, ternyata Devi pergi menuju rumah sakit menggunakan ojekĀ dan meminta tukang ojek tersebut untuk mencarikan jalan pintas agar cepat sampai di rumah sakit.
Raden bilang ia tidak punya waktu banyak sehingga Devi harus cepat-cepat tiba di rumah sakit sebelum Raden kembali bertugas.
Drtt...drt...
Devi tahu ponselnya berbunyi dan itu panggilan dari Alby. Devi memilih untuk tidak menjawab panggilan Alby karena ia masih kesal dengan Alby yang pergi berkencan dengan Laudya.
"Mbak sudah sampai," ujar tukang ojek sembari menghentikan motornya tepat di depan rumah sakit.
"Terima kasih pak." Setelah menyerahkan beberapa lembar uang, Devi pun segera masuk ke dalam rumah sakit dan ia melihat Raden yang tengah menunggunya di depan lobby.
"Kak Raden!" panggil Devi sembari melambaikan tangannya.
Raden yang mendengar panggilan Devi pun tersenyum lebar dan berjalan ke arah Devi.
"Kau sudah tiba. Ayo kita pergi ke rooftop, ada yang ingin kuberikan padamu," ajak Raden.
Dengan senang hati Devi mengikuti langkah Raden. Dalam hati ia bertanya-tanya hadiah seperti apa yang ingin Raden berikan padanya? Apakah sebuah boneka? Atau malah pernyataan cinta? Memikirkannya saja sudah membuat Devi bahagia.
Begitu tiba di rooftop, Raden melepaskan genggaman tangannya pada Devi dan menatap Devi dengan senyum manis yang terbit di wajahnya.
"Sebenarnya aku sudah lama ingin memberimu ini tapi baru hari ini aku bisa memberikannya padamu," ujar Raden sembari mengulurkan sebuah kotak berpita biru dengan isi siput di dalamnya.
Devi menatap takjub ke arah siput cantik yang berada di dalam kotak transparan tersebut. Warnanya yang indah mampu mengelabuhi Devi jika siput tersebut ternyata mengandung racun yang sangat berbahaya.
"Kau suka?" tanya Raden.
"Aku sangat menyukainya. Terima kasih kak," ucap Devi senang.
"Kau harus menjaganya ya dan begitu sampai rumah kau harus memindahkannya ke wadah lain yang lebih besar agar ia nyaman. Oh iya kau harus memegangnya menggunakan tanganmu sendiri agar ia tidak stres karena bersentuhan dengan benda asing." Raden tampak tersenyum senang begitu ia menyadari Devi tidak menyadari rencana buruknya.
"Aku akan menyembunyikan siput ini dari om Alby karena jika ia tahu aku menyimpan siput di dalam apartment aku pasti akan dimarahi habis-habisan dan siput ini pasti akan dibuang. Om Alby itu sangat gila kebersihan," ujar Devi yang membuat Raden tertawa geli. Setidaknya kali ini rencananya akan berhasil, ditambah Devi yang menyembunyikan siput tersebut dari Alby malah menyempurnakan rencananya.
Drt...drt....
Raden merogoh ponselnya dan langsung menjawab panggilan Renata yang memintanya agar cepat kembali.
"Aku harus kembali, dokter Renata mencariku," pamit Raden.
__ADS_1
"Iya, sekali lagi terima kasih banyak ya kak," ujar Devi riang.
Setelah Raden pergi dari rooftop, kini hanya tersisa Devi sendirian. Ia mengamati siput lucu tersebut dengan perasaan yang membuncah bahagia. Raden memberinya hadiah apa itu berarti Raden mulai menyukainya? Devi cekikikan sendiri sebelum pada akhirnya suara pintu terbuka kasar membuatnya terjengkit kaget.
"Om Alby? Kenapa om Alby ada di sini? Bukankah seharusnya om Alby di restaurant bersama tante Laudya?" tanya Devi panik sembari menyembunyikan siput tersebut di balik punggungnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Devi, Alby melangkahkan kakinya mendekat ke arah Devi dan hal itu sontak membuat Devi memundurkan kakinya takut jika Alby tahu ia menyimpan siput di balik punggungnya. Pinggang Devi sudah menabrak pagar pembatas rooftop namun Alby sama sekali tidak mau menghentikan langkahnya dan terus berjalan mendekat ke arah Devi.
"Om berhenti!" tegur Devi namun Alby tidak menggubrisnya.
Kini Alby mengikis jarak diantara mereka berdua bahkan kini ujung kaki Alby sudah menempel di ujung kaki Devi. Devi menahan nafasnya begitu ia berada di depan dada bidang milik Alby. Devi tidak berani mendongakkan kepalanya menatap manik mata Alby.
"Om Alby mau apa?" cicit Devi menahan dada Alby menggunakan salah satu tangannya.
"Menciummu. Bukankah kemarin bibirmu minta dicium?"
Devi membulatkan matanya terkejut dan reflek ia mendongakkan kepalanya menatap Alby. Begitu Devi mendongakkan kepalanya ke atas, Alby langsung menciumnya.
Tangan kiri Alby menahan pinggang Devi sedangkan tangan kanannya menarik tengkuk Devi untuk memperdalam ciumannya.
Devi yang terkejut dengan tindakan Alby pun berusaha mendorong dada Alby menjauh namun ia kalah tenaga, Alby tidak bergerak sesenti pun.
Ciuman Alby yang awalnya menuntut pun kini mulai melembut membuat Devi ikut terbuai. Perlahan ia juga ikut memejamkan kedua matanya membiarkan Alby menyesap lembut bibir manisnya.
Tanpa Devi sadari, tangan kiri Alby yang awalnya berada di pinggangnya kini menjalar ke atas menyentuh kotak berpita biru itu lalu menyenggolnya pelan agar terjatuh dari tangan Devi.
Devi yang menyadari kotaknya terjatuh pun langsung menolehkan kepalanya ke samping sehingga ciuman Alby padanya terlepas. Belum sampai Devi menoleh sepenuhnya Alby kembali menempelkan bibirnya pada bibir Devi untuk mengalihkan perhatian Devi dari kotak berisi siput mematikan tersebut.
Devi yang mulai kehabisan nafas pun memukul-mukul dada Alby agar Alby menyudahi ciumannya. Paham dengan maksud Devi, Alby pun melepaskan ciumannya dan menatap Devi dengan intens.
Devi buru-buru mengambil oksigen sebanyak-banyaknya kemudian ia menatap ke arah Alby dengan tatapan nyalang.
"Bukankah kemarin kau bilang minta dicium? Aku hanya menuruti kemauanmu," ujar Alby ringan.
Devi menatap Alby dengan pandangan tidak percaya. Alasan macam apa itu?!!
Deg!
Devi merasakan jantungnya berdetak lebih cepat begitu ia melihat ke arah bibir Alby. Ia tidak percaya jika Alby telah menciumnya dan merebut first kissnya yang seharusnya ia berikan pada pacarnya nanti. Tapi di sisi lain Devi merasakan suatu perasaan asing yang hinggap di dirinya begitu Alby menciumnya dan tangan kekarnya memeluk pinggangnya posesif.
Alby yang menyadari arah tatapan Devi pun menyunggingkan smirknya.
"Kenapa melihat bibirku seperti itu? Kau mau lagi?" goda Alby.
"Om!!" Devi memukul dada Alby kesal karena perkataan Alby membuat pipinya merona dan wajahnya terasa panas.
Devi yang teringat dengan siput pemberian Raden pun langsung memutar tubuhnya dan melihat ke arah bawah. Siputnya pasti sudah mati karena terjatuh dari ketinggian 15 lantai.
"Siputnya pasti mati," lirih Devi.
Setelahnya Devi langsung berlari turun untuk melihat kondisi siputnya. Alby menatap punggung Devi yang mulai menghilang sembari menghembuskan nafasnya pelan.
Alby memegang dada sebelah kirinya, ia dapat merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Apa ini efek ia mencium Devi?
Sebenarnya Alby tidak memiliki niat mencium Devi namun begitu ia mendekat ke arah Devi dan matanya tidak sengaja melihat siput pemberian Raden yang ia tahu itu adalah siput beracun, Alby tidak memiliki pilihan lain selain menciumnya dan menjatuhkan siput tersebut diam-diam.
Alby tidak ingin terang-terangan memberitahu Devi jika siput tersebut sangat beracun dan Alby juga tidak ingin memberitahu Devi tentang rencana jahat Raden. Alasannya sama seperti dulu, Devi belum mendapatkan kembali ingatannya dan Devi juga belum ingat alasan kematian kedua orang tuanya.
Begitu Alby tersadar sesuatu, Alby pun langsung berlari menyusul Devi. Bagaimana jika siput tersebut masih hidup dan Devi menyentuhnya dengan tangannya?
__ADS_1
Memikirkan hal itu membuat Alby kalang kabut sendiri.
Setelah berada di lantai dasar, Alby mendesah lega begitu ia melihat siput tersebut sudah mati bahkan cangkangnya sudah hancur berkeping-keping.
"Lihat! Ini semua karena om Alby!! Siputnya mati huaaa," tangis Devi keras.
Alby sontak langsung berjalan mendekat ke arah Devi dan menenangkan Devi agar tidak menangis dengan keras. Takut orang-orang di sekitar berpikir Alby telah berbuat macam-macam pada Devi.
"Hust tenanglah. Aku minta maaf, aku tidak sengaja menyenggolnya. Berhentilah menangis," ujar Alby meminta Devi untuk menghentikan tangisnya.
Bukannya mereda, tangis Devi malah semakin keras.
"Siput ini pemberian kak Raden dan gara-gara om Alby sekarang siputnya mati. Apa yang harus kukatakan pada kak Raden kalau dia bertanya tentang siputnya?" tanya Devi sesenggukan.
"Kalau begitu berhentilah menangis. Kalau kau menangis seperti ini Raden bisa dengar dan ia bisa tahu kalau siput pemberiannya sudah mati. Tenanglah," ujar Alby lembut.
Devi menghentikan tangisnya dan menatap Alby dengan mata sembabnya.
"Akan kuganti hadiahnya dan kau bilang saja pada Raden kalau kau menjaga siput itu dengan baik. Raden pasti percaya padamu. Sebagai permintaan maafku kau ingin kubelikan hewan peliharaan apa?" tanya Alby lembut.
Devi tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya satu hewan peliharaan terpikirkan olehnya.
"Aku mau ayam," jawab Devi.
"Ayam?" tanya Alby memastikan ia tidak salah dengar.
"Iya, aku mau ayam." Rupanya Alby tidak salah dengar.
"Dev kalau ayam kita tidak memiliki kandang, belum lagi kalau ayamnya masuk rumah seisi rumah pasti akan kotor dan berantakan. Kau kan tahu aku tidak suka kotor. Yang lain saja ya?" bujuk Alby lembut.
"Kelinci," jawab Devi singkat.
"Oke, kelinci. Besok kubelikan untukmu," ujar Alby tersenyum.
Devi menatap siput pemberian dari Raden sebentar sebelum akhirnya ia melihat bunga mawar yang berada di dalam pot dan langsung memetiknya. Alby yang melihat hal itu langsung membulatkan matanya panik dan mengawasi sekitarnya kalau-kalau mereka tertangkap petugas keamanan.
"Kenapa kau memetik bunga mawar itu? Bagaimana kalau dimarahi petugas keamanan? Kau tidak boleh memetik bungan sembarangan," tegur Alby.
Devi tidak menggubrisnya dan meletakkan bunga tersebut di atas siputnya yang telah mati.
"Ayo umumkan jam kematian siputku om."
"Ya?"
"Di drama yang kutonton jika ada pasien meninggal dokter akan mengumumkan waktu kematiannya. Om Alby kan dokter jadi ayo umumkan waktu kematiannya," pinta Devi dengan wajah tanpa dosanya.
Alby berkedip tidak percaya dengan permintaan Devi. Bagaimana bisa ia diminta mengumumkan kematian seekor binatang?
"Ayo om!!"
"Iya-iya. Siput pemberian Raden dinyatakan meninggal pukul 20.25 WIB," ujar Alby terpaksa.
"Sudah, ayo kita pulang om!" ajak Devi riang sembari menggandeng tangan Alby.
*****
Di sisi lain, Raden tidak henti-hentinya menatap layar ponselnya. Ia menantikan berita kematian Devi dari Arin.
"Mungkin sebentar lagi Arin akan menghubungiku dan memberitahuku kalau Devi sudah mati," ujar Raden sembari tersenyum mengerikan.
__ADS_1
*****