Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Korban Kecelakaan


__ADS_3

Keesokan pagi harinya Devi menggeliatkan badannya dan tanpa sengaja ia menyentuh punggung seseorang. Devi pun membuka matanya dan langsung menoleh ke samping dan mendapati Alby yang tertidur membelakangi dirinya.


Jadi semalam ia tidur bersama?


Memikirkan hal itu membuat Devi tersenyum bahagia. Devi pun bangkit dari tidurnya dan berjalan ke sisi ranjang sebelah Alby, lalu ia berjongkok dan mengamati Alby yang sedang tertidur pulas.



Devi mengamati wajah tampan Alby yang tengah tertidur dengan penuh kekaguman. Kulit putih bersihnya, hidung mancungnya, bulu matanya yang tipis ditambah tahi lalat di dekat bibir sebelah kirinya menambah kesempurnaan Alby. Pandangan Devi pun turun kearah bibir merah muda alami Alby. Bibir yang selalu memarahinya dan mengomelinya.


"Om Alby sebenarnya tampan tapi kadang menyebalkan," ujar Devi sembari menyentuh ujung bulu mata Alby.


Devi tersentak kaget begitu siempunya mata membuka kedua matanya dan menatap nyalang kearahnya, namun selang beberapa detik kemudian tatapan mata Alby pun kembali melembut.


"Sedang apa kau duduk disitu?" tanya Alby.


"Mengamati om Alby. Kau sangat tampan om," jawab Devi sembari mengacungkan jari jempolnya kearah Alby.


"Aku tahu. Oh iya, bukankah seharusnya kau berteriak heboh begitu mendapati bangun tidur berada di kamar seorang pria? Bagaimana jika ternyata aku melakukan sesuatu padamu? Kau tidak takut?" tanya Alby.


"Untuk apa aku berteriak? Bukankah kemarin malam kita juga tidur bersama?" tanya Devi polos. "Lagipula aku percaya padamu om, kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padaku," lanjut Devi.


"Sesuatu yang buruk apa?" tanya Alby mencoba memancing Devi.


"Ya pokoknya sesuatu yang buruk om. Bisa saja begitu aku tidur, om Alby malah menidurkanku di pinggir kolam renang sendirian atau malah menidurkanku di depan pintu rumah tetangga," jawab Devi polos.


Alby tersenyum samar. Rupanya Devi tidak mengerti apa maksudnya, tapi biar saja Devi seperti itu. Sifat polosnya benar-benar menggemaskan.


"Keluar dari kamarku, aku mau mandi."


Alby pun bangkit dari tidurnya dan berniat untuk mandi.


"Om ayo jalan-jalan," rengek Devi sembari menghentikan langkah Alby dan menggoncang-goncangkan tangannya.


"Tidak mau."


"Om aku sangat bosan di rumah. Ayo kita jalan-jalan atau kita pergi beli es krim di kafe dekat rumah sakit tempat om Alby bekerja. Ayo om," rengek Devi yang membuat Alby mau tidak mau menurutinya. Devi benar-benar seperti anak anjing yang tidak akan pergi sebelum dituruti keinginannya.


"Iya-iya, cepat kau pergi mandi sana! Kau bau sekali."


"Yeayy om mau kucium lagi tidak?!!" tanya Devi sembari memajukan bibirnya kearah Alby.


"Tidak!" tolak Alby sembari menahan dahi Devi menggunakan jari telunjuknya. "Cepat pergi mandi atau kita tidak jadi pergi."


"Iya ini aku mau pergi mandi om," ujar Devi seraya berlari menuju kamarnya.


*****


Devi tidak henti-hentinya mengeluh karena jalanan sedang macet, bahkan mobilnya bergerak satu senti pun tidak. Tidak biasanya jalanan begitu sangat macet seperti ini meskipun hari minggu sekalipun.


Devi mengamati sekelilingnya dan tampak ada beberapa orang yang tengah berlari ke arah depan. Hal itu pun tidak luput dari pandangan Alby.


"Ada apa ya om? Kenapa orang-orang itu berlari ke depan? Apa ada demo?" bingung Devi.


"Aku tidak tahu."


"Belok ke kiri saja om. Di sana ada jalan terabasan untuk lebih cepat sampai ke rumah sakit tempat om Alby bekerja."


Ada kecelakaan!!!

__ADS_1


Cepat panggil ambulance dan polisi kemari!!!


Belum sampai Alby merespon perkataan Devi, samar-samar Alby mendengar seseorang tengah berteriak terjadi kecelakaan.


"Kau tunggu disini jangan keluar!" perintah Alby sembari melepas sabuk pengamannya dan keluar mobil.


Belum sampai Devi bertanya lebih lanjut, Alby sudah keluar dari mobil terlebih dahulu.


Alby berlari ke tempat terjadinya kecelakaan itu. Rupanya kecelakaan itulah yang menyebabkan kemacetan lalu lintas.


"Tolong ada kecelakaan!!"


"Apa dia sudah meninggal dunia?"


"Kecelakaannya parah sekali!"


Alby berusaha menerobos kerumunan dan kedua matanya langsung bisa menangkap adanya mobil yang menabrak pembatas jalan. Korban masih ada di dalam mobil dan kenapa tidak ada ambulance ataupun polisi yang menangani?


"Ada apa ini?" tanya Alby pada seorang pria tua yang berdiri pada barisan paling depan.


"Mobil itu baru saja menabrak pembatas jalan, sepertinya remnya blong."


"Sudah ada yang menghubungi ambulance dan polisi belum?" tanya Alby.


"Sudah, tapi sepertinya ambulance kesulitan kemari karena macet. Polisi saja juga kebingungan mencari jalan pintas agar bisa sampai disini tepat waktu," jelas pria tua tersebut.


Alby berjalan mendekat kearah korban kecelakaan tersebut. Rupanya itu adalah kecelakaan tunggal karena tidak ada korban jiwa lain selain pengemudi mobil itu sendiri.


"Dia tidak sadarkan diri dan mulutnya mengeluarkan busa bercampur darah, selain itu aku tidak mencium bau alkohol. Sepertinya ini memang karena remnya blong," lirih Alby sembari memeriksa korban. Mata Alby membulat sempurna begitu ia sadar sesuatu.


"Cepat bantu saya keluarkan korban!! Saya seorang dokter!!" teriak Alby meminta pertolongan sembari menunjukkan id card dokternya yang selalu ia bawa kemanapun ia berada.


"Dokter Alby? Bagaimana anda bisa ada disini?" sapa salah seorang petugas pemadam penyelamatan.


"Saya kebetulan lewat. Tolong cepat keluarkan korban," perintah Alby yang langsung dilaksanakan oleh petugas penyelamatan bernama Edo.


Alby dulu pernah bertugas di bagian IGD selama beberapa tahun dan ia juga kerap ditugaskan untuk menyelamatkan pasien di lapangan seperti kecelakaan ataupun bencana alam. Jadi secara otomatis ia juga bekerja sama dengan tim penyelamatan dari pemadam kebakaran.


"Berapa lama lagi ambulancenya tiba?" tanya Alby pada Edo.


"Kami datang. Lho dokter Alby? Bukannya anda tidak bertugas hari ini?" tanya Raden yang baru saja tiba bersama dengan Fitra.


Alby membalikkan badannya dan menatap Raden dan Fitra bergantian.


"Hanya kalian berdua?" tanya Alby mengabaikan pertanyaan Raden.


"Iya dok."


Alby mengernyit heran. Kenapa rumah sakit mengirimkan dua dokter koas yang bahkan belum begitu pengalaman untuk terjun ke lapangan tanpa di dampingi dokter lainnya? Dokter residen misalnya?


"Kami sudah berhasil mengeluarkan sopir dok," ujar Edo menginterupsi.


"Cepat bawa peralatan dan ikuti aku!" perintah Alby.


Raden dan Fitra pun langsung bergegas mengikuti Alby dari belakang.


Begitu tiba, Alby pun langsung mendekat kearah korban dan mulai memeriksanya kembali.


"Kakinya mengalami fraktur kominutif dan mulutnya mengeluarkan busa campur darah," ujar Alby menjelaskan kondisi pasien, selain itu Alby ingin mengetes keputusan mana yang akan diambil oleh Raden.

__ADS_1


"Busa bercampur darah?!!" ujar Raden terkejut begitu melihat kondisi korban.


"Ya. Mana yang harus kau tangani terlebih dulu?" tanya Alby.


"Bagian dada," jawab Raden mantap.


"Kau benar. Ini karena luka di paru-paru. Perkiraan daerah luka ada di paru-paru atas dan penyebabnya-"


Krekk!!!


Alby merobek kaos korban dan terlihat memar berwarna merah keunguan di dada atas agak tengah.


"Saat menabrak pembatas jalan dia terkena stir di bagian dada dengan keras lebih tepatnya jantung tapi belum sampai tamponade jantung*, tapi ada sedikit pendarahan. Cepat suruh ambulance mendekat kesini!!!" perintah Alby.


Brak!!!


Alby yang terkejut mendengar suara seperti seseorang tengah terjatuh pun langsung menengadahkan pandangannya ke depan dan ia melihat seseorang yang tengah jatuh pingsan. Alby tahu siapa itu!! Itu Devi!!


"Dokter tolong ada yang pingsan!!!" teriak salah seorang warga.


Alby menatap kearah korban dan Devi secara bergantian. Ia mengkhawatirkan keadaan Devi namun ia tidak mungkin meninggalkan korban kecelakaan ini pada dokter koas amatir di hadapannya ini. Keadaan korban kecelakaan ini lebih gawat daripada keadaan Devi jadi Alby memilih untuk menyelamatkan korban kecelakaan tersebut terlebih dahulu dan memilih memasrahkan Devi pada Raden.


"Devi!!" pekik Raden terkejut.


"Ini ambil kunci mobilku. Kau bawa Devi ke rumah sakit menggunakan mobilku dan aku bawa pasien ini menggunakan ambulance. Oh ya mobilku berada di depan pertigaan dengan warna hitam dan plat nomor xxxx. Kau langsung belok kiri saja, dengan begitu kau dapat sampai rumah sakit tanpa macet," perintah Alby pada Raden.


Dengan cepat, Raden pun langsung berlari ke arah kerumunan yang sedang mengerumuni Devi. Raden pun langsung menggendong Devi bridal style dan membawanya menuju mobil milik Alby.


"Dan kau siput. Cepat pindahkan pasien ke dalam mobil ambulance!" perintah Alby pada Fitra.


"Si..siput?"


"Ya! Kenapa? Kau tidak terima?!"


"Ti..tidak dok. Ba..baik saya akan panggil ambulance kemari!"


Fitra pun langsung bangkit berdiri dan memerintahkan ambulance untuk mendekat kearahnya. Tidak berapa lama, korban pun berhasil dipindahkan ke mobil ambulance dan segera dibawa menuju rumah sakit.


"Kau sudah pernah melakukan intubasi endotrakeal belum?" tanya Alby begitu mereka sudah berada di dalam mobil ambulance.


"Hah ap..apa dok?"


"Rupanya nama panggilan yang kusematkan padamu tidak salah. Kenapa rumah sakit malah mengirim malaikat maut kemari?!!" marah Alby sembari memijit keningnya pusing.


"Ambilkan jarum suntik yang ada slang infusnya!" perintah Alby pada Fitra.


Fitra pun segera mengambilkan jarum yang dimaksud oleh Alby dan segera menyerahkannya pada Alby.


"Semoga saja Devi baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkannya tapi aku harus fokus menyelamatkan pasien ini terlebih dahulu," ujar Alby dalam hati sembari tetap fokus pada pasien yang ada di hadapannya.


"Perhatikan baik-baik bagaimana aku melakukan intubasi endotrakeal*. Jika kau mengalihkan matamu sesenti saja akan kulepas bola matamu!"


"Iy...iya dok."


*****


FYI


Tamponade jantung : kondisi jantung yang tertekan karena darah mengumpul di antara otot jantung dan selaput jantung.

__ADS_1


Intubasi Endotrakeal : tindakan medis berupa memasukkan tabung endotrakeal melalui mulut atau hidung untuk menghubungkan udara luar dengan paru-paru.


__ADS_2