
Satu jam sebelum Devi tiba di Singapura.
Setelah mengantar Devi ke bandara, Alby segera berangkat bekerja. Sebetulnya Alby sedikit curiga dengan Devi yang tiba-tiba saja menolak Laudya ikut menemaninya pergi ke Singapura. Selain Devi yang menolak Laudya, Alby juga curiga dengan tujuan Devi mengajak bertemu Raden di kantin rumah sakit. Karena rasa curiganya yang tinggi, Alby pun segera menghubungi Gara untuk memastikan kebenarannya.
Alby melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan menunjukkan pukul 06.45. Baiklah Alby masih punya waktu lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi.
Alby segera mencari kontak Gara dan langsung menekan tombol call. Tidak lama kemudian terdengar suara Gara yang menjawab panggilan Alby.
"Halo."
"Ada apa om?"
"Kau juga memanggilku om?" tanya Alby tidak terima.
"Lalu aku harus memanggil apa?"
Alby memijit keningnya pusing, baiklah ia tidak punya waktu untuk ini. Alby akan langsung ke intinya saja.
"Jessica, ehm apa Jessica masih mengganggu Devi?" tanya Alby.
"Masih. Kemarin Jessica menghampiri Devi di kantin saat aku dan Arin memesan makanan. Aku tidak tahu pasti apa yang dibicarakan Jessica pada Devi namun yang pasti begitu Jessica pergi Devi langsung menangis dan berkata ingin segera bertemu kakaknya," jawab Gara terus terang.
Benar dugaan Alby, Devi menolak ditemani Laudya pasti karena Jessica sudah mengganggunya.
"Lalu kau tahu tidak alasan Devi ingin menemui Raden di rumah sakit?" tanya Alby.
Baru saja Gara hendak menjawab, Alby mendapatkan telepon dari Sean. Alby pun meminta Gara untuk menjawab pertanyaannya melalui pesan text saja karena ia sedang mendapat panggilan penting.
"Halo Sean. Kau baik-baik saja?" tanya Alby senang begitu Sean meneleponnya.
"Tentu saja. By kau di mana?" tanya Sean.
"Aku dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku baru saja mengantar Devi ke bandara. Ada apa?" jawab Alby.
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya padamu tentang Devi. Apa ia merepotkanmu? Apa dia membuat masalah? Apa saja yang akhir-akhir ini dia lakukan? Dia tidak membuatmu kewalahan kan?" tanya Sean bertubi-tubi.
"Tunggu dulu. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu sekaligus? Kau harus bertanya satu persatu," tegur Alby sembari tertawa.
"Ceritakan tentang Devi padaku. Aku tidak ingin jika Devi datang nanti dia berpikiran aku tidak mengetahui apa-apa tentangnya. Aku takut Devi berpikiran aku tidak perduli padanya," jawab Sean.
Alby pun mulai menceritakan apa saja yang dilakukan Devi selama ia tinggal bersama Alby termasuk berkelahi dengan Jessica, malas belajar dan hanya sibuk berkencan dengan Raden.
"Raden?" tanya Sean memastikan.
"Iya, dia dokter koas. Devi rela berpura-pura sakit hanya karena rindu ingin menemuinya," jawab Alby terkekeh pelan.
Tidak ada jawaban apapun dari Sean membuat Alby sedikit bingung.
"Kenapa?" tanya Alby setelah Sean cukup lama terdiam.
"Jangan ijinkan Devi mendekati Raden," ujar Sean tegas.
"Aku sudah melarangnya dan memintanya untuk fokus belajar tapi kau tahu sendiri Devi sangat keras kepala, jadinya aku memberinya syarat agar aku mengijinkan dia berpacaran dengan Raden," tutur Alby yang belum mengerti kemana arah pembicaraan Sean.
__ADS_1
"Tidak!! Apapun yang terjadi kau tidak boleh membiarkan Raden mendekati Devi. Raden terlalu bahaya untuk Devi, aku tidak mau dia mencelakai adikku!!" Ujar Sean dengan nada bergetar menahan marah.
"Ada apa? Memangnya kenapa?" cecar Alby.
"Raden. Dia adalah putra dari Brama Anggara, orang yang membunuh ayah dan ibuku. Aku yakin tujuan Raden mendekati Devi adalah Dia ingin membunuh Devi yang notabenenya seorang saksi utama dari kasus pembunuhan itu," ujar Sean yang membuat Alby sangat terkejut.
*****
Setelah selesai membantu dokter Novi melakukan operasi, Fitra dan juga Raden kini sedang beristirahat sebentar di ruang istirahatnya.
Fitra yang saat itu hendak mengambil buku di dalam lacinya pun tidak sengaja melihat kotak dengan isi siput di dalamnya. Fitra sedikit bingung dengan siput tersebut namun ia segera mengembalikan ke tempatnya begitu Raden telah selesai mandi.
"Aku sudah selesai," ujar Raden yang baru keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
"Ah iya," jawab Fitra.
Fitra pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi meskipun dalam benaknya ia bertanya-tanya kenapa Raden menyimpan siput di lacinya dan kenapa kotak siput tersebut dihiasi oleh pita. Apa siput itu untuk hadiah seseorang?
Setelah beberapa saat kemudian, Fitra pun selesai mandi. Ia keluar dan terkejut begitu mendapati Raden yang berdiri di hadapannya sembari bersilang dada.
"Ada apa?" tanya Fitra bingung. Apa ini karena kotak berisi siput tadi?
"Kau memegang kotak berisi siput milikku kan?"
"Iya. Memangnya kenapa? Itu hadiah dari seseorang?" tanya Fitra.
"Bukan. Itu milikku dan dia sangat beracun. Kau jangan sekali-kali menyentuhnya kalau kau tidak ingin mati terkena racunnya," jawab Raden sembari tersenyum.
"Kau serius?" tanya Fitra terkejut.
"Untuk apa kau menyimpan siput beracun seperti itu?!! Cepat buang!!!" panik Fitra tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Iya-iya aku akan membuangnya. Lebih baik kita segera kembali ke IGD sebelum dokter Novi mencari kita."
"Buang dulu!!!"
"Iya-iya."
*****
"Apa? Dokter Novi resign?" tanya Alby terkejut begitu mendengar perkataan Ryan.
Kini keduanya sedang berada di kantin rumah sakit untuk istirahat makan siang. Keadaan kantin saat itu cukup ramai sehingga Ryan harus menegur Alby supaya mengecilkan suaranya.
"Kenapa tiba-tiba resign?" tanya Alby lirih.
"Dokter Novi kan baru saja melahirkan dan suaminya memintanya untuk beristirahat saja di rumah dan fokus merawat bayinya," jawab Ryan.
"Lalu siapa yang menjadi perseptor untuk Raden dan Fitra jika dokter Novi resign?"
"Aku tidak tahu. Direktur sedang pusing-pusingnya sekarang karena memikirkan siapa yang akan menggantikan dokter Novi. Kau jangan membuat masalah dengan direktur kalau tidak ingin didepak dari rumah sakit ini. Direktur benar-benar sensitif sekarang," tutur Ryan yang justru membuat Alby menyungginggkan smirknya.
"Tunggu dulu! Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu? Kau tidak akan mengganggu direktur kan? Direktur sudah cukup marah karena kau menolak putrinya, jadi sekarang jangan membuat masalah dengannya lagi," tegur Ryan.
__ADS_1
Alby tidak menjawab perkataan Ryan. Alby hanya diam sembari berpikir apakah keputusannya kali ini benar atau tidak.
"Aku harus pergi sekarang," pamit Alby terburu-buru.
"Kau mau kemana?!!" tanya Ryan yang sama sekali tidak digubris oleh Alby.
Alby melarikan kakinya menuju ruangan direktur. Ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan direktur dan Alby tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Kesempatan sekaligus keputusan gila Alby.
Tok! Tok!
"Masuk."
Alby segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan direktur yang megah itu. Alby dapat melihat direktur yang tengah memijit keningnya pusing. Alby tahu siapa yang membuat direktur seperti ini, ya siapa lagi kalau bukan dokter Novi yang resign mendadak.
"Ah kau Alby. Ada apa? Kau kemari bukan karena ingin menambah rasa pusingku kan?"
"Tidak direktur, justru saya ingin membantu direktur menyelesaikan masalah ini," ujar Alby mantap.
"Apa maksudmu?" tanya direktur sembari menatap ke arah Alby.
"Saya ingin mengajukan pindah departemen dan ijinkan saya menggantikan dokter Novi menjadi perseptor untuk Raden dan juga Fitra," jawab Alby mantap yang membuat direktur terkejut bukan main.
"Kau gila?!! Kenapa dokter spesialis sepertimu harus repot-repot turun ke IGD? Kau pasti sedang sakit!!"
Alby tahu ini keputusan gila yang diambil olehnya. Bagaimana mungkin setelah susah payah menjadi dokter spesialis, Alby justru ingin kembali menjadi dokter IGD dan menjadi perseptor untuk dokter koas? Omong kosong macam apa ini?
"Tidak. Saya benar-benar ingin pindah departemen," ujar Alby tegas.
Alasan Alby ingin pindah departemen itu sendiri adalah ia ingin mengawasi pergerakan Raden agar tidak mencelakai Devi dan satu-satunya cara untuk mengontrol kegiatan Raden adalah dengan menjadi perseptornya dan kebetulan dokter Novi sedang resign jadi bukankah ini sebuah kesempatan emas untuk Alby?
"Jangan gila!! Kau memiliki pasien dokter Alby!! Siapa yang akan mengawasi pasienmu?!! Tidak! Aku menolak! Kau akan tetap di bagian digestif!!" tolak direktur dengan menekankan kata 'digestif' di kalimatnya.
"Mereka akan tetap menjadi pasienku sampai mereka sembuh."
"Tidak! Lebih baik kau keluar sekarang sebelum kepalaku semakin pecah!"
"Tolong direktur pikirkan matang-matang pilihan saya. Di spesialis bedah digestif ada dokter Ryan yang juga tak kalah hebat seperti saya. Saya yakin dokter Ryan mampu menangani semuanya," pinta Alby sembari dalam hatinya ia meminta maaf pada Ryan karena telah menjadikannya umpan.
"Apanya yang perlu dipikirkan matang-matang?! Seharusnya kau yang harus berpikir matang-matang dokter Alby. Kau sudah susah payah menjadi seorang spesialis bedah digestif namun kau ingin terjun bebas kembali ke IGD. Kau tahu tidak kau adalah dokter spesialis bedah digestif terbaik di rumah sakit ini?!! Jika kau pindah departemen apa kata masyarakat dan pejabat rumah sakit lainnya? Kau ingin departemen digestif melangalami kemunduran?!!" marah direktur.
Alby mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menahan emosinya. Ini menyangkut nyawa Devi. Alby tidak ingin kecolongan oleh Raden yang berhasil mencelakai Devi apalagi Devi sangat menyukai Raden. Alby yakin mau diminta seribu kali pun Alby melarang Devi bertemu Raden, Devi pasti akan tetap melanggarnya. Jadi satu-satunya cara adalah mengendalikan Raden sendiri. Alby tidak memiliki cara lain selain....
"Saya akan mengencani Laudya jika anda menyetujui perpindahan departemen saya. Bukankah sedari awal anda ingin menjadikan saya sebagai menantu? Saya tahu anda ingin membangun citra baik anda sebagai seorang direktur dengan memiliki menantu seorang dokter bedah digestif terbaik seperti saya. Saya akan mewujudkan keinginan anda, maka dari itu tolong wujudkan keinginan saya menjadi perseptor untuk Raden dan Fitra," ujar Alby mantap.
Alby sudah masa bodoh dengan dampak dari ucapannya barusan. Biar itu menjadi masalah belakangan. Yang terpenting sekarang adalah ia mendapat persetujuan untuk pindah departemen. Itu saja.
Masalah perasaannya pada Laudya sebetulnya ia tidak merasakan apa-apa pada Laudya namun bukankah perasaan cinta muncul karena terbiasa? Alby berpikir perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya jika nanti ia mengencani Laudya. Biarkan waktu yang menjawab.
"Bagaimana?" tanya Alby setelah direktur tampak berpikir cukup lama.
"Baiklah aku menyetujuinya. Jika kau menyakiti perasaan putriku dan mengecewakannya maka tamatlah riwayatmu," ancam direktur.
Alby tersenyum mendengar keputusan direktur bernama Sena Atmaja tersebut. Sekarang selain dia bisa mengontrol Raden, Alby juga bisa mengontrol Jessica lewat Laudya agar tidak mengganggu Devi lagi. Bagus! Ini benar-benar sekali mendayung dua pulau terlampaui.
__ADS_1
"Aku akan mencoba mencintai Laudya," ujar Alby sembari tersenyum.
******