
Devi tidak henti-hentinya memukul-mukul ranjangnya dengan kesal. Bagaimana tidak, Alby benar-benar pergi ke acara ulang tahun Jessica meskipun Devi sudah melarangnya dan memberinya ancaman.
Devi jadi berpikir sebenarnya kesepakatan apa yang tengah dilakukan Alby dengan direktur menyebalkan itu?
Masa iya kesepakatan perjodohan om Alby dengan tante Laudya? Ah tidak mungkin!
Devi kembali memukul ranjangnya berulang kali hingga tanpa sengaja tangannya mengenai luka operasinya.
"Argh!! Sakit!!" pekik Devi mengaduh kesakitan.
Dielusnya pelan perutnya yang masih dalam balutan perban, berharap rasa sakit itu berkurang.
Tok! Tok!
Ceklek!
Devi langsung berhenti mengelus perutnya dan berusaha bersikap biasa saja meskipun rasa nyeri di perutnya belum juga reda.
"Hai, apa kabar? Maaf aku belum sempat menjengukmu sejak kau siuman," sapa Renata berjalan ke arah Devi.
"Tidak apa-apa kak. Aku tahu kakak pasti sangat sibuk," jawab Devi pengertian.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengganti perban di perutmu dulu. Apakah rasanya masih sakit?" tanya Renata sembari menyiapkan alat-alatnya.
"Tidak," bohong Devi. Entah kenapa sejak kejadian ia pernah diculik dan hampir kehilangan organ tubuhnya membuat Devi sangat takut pada dokter lain meskipun itu Renata sekalipun dan Devi tidak berani berkata jujur meskipun perutnya terasa nyeri karena pukulan tidak sengaja yang mengenai perutnya tadi.
"Serius tidak sakit? Perutmu sedikit berdarah dan beberapa jahitan terlepas," ujar Renata bingung sembari menatap ke arah Devi yang kini menggigit bibir bawahnya seperti menahan sakit.
"Tidak sakit kak," cicit Devi pelan.
"Baiklah, aku akan memperbaikinya. Kau tidak melakukan aktifitas berat kan? Dan perutmu tidak mendapat tekanan atau pukulan kan?"
"Tidak," jawab Devi.
Renata pun mulai mengobati dan mengganti perban pada perut Devi. Devi mencengkeram sprei kasurnya kuat-kuat untuk menahan rasa sakit yang dirasakannya. Keringat mulai membasahi dahinya dan bayangan masa lalunya perlahan berputar kembali memenuhi kepalanya.
"Kalau sakit katakan sakit. Tidak apa-apa," ujar Renata lembut. Devi hanya diam bergeming tanpa mau menjawab perkataan Renata karena ia sibuk menghilangkan bayangan kelam itu dari kepalanya.
"Sudah selesai." Renata segera membereskan peralatannya dan kini menatap ke arah Devi yang tampak berkeringat dan pucat.
"Dev kau tidak apa-apa?" tanya Renata khawatir.
"Aku baik-baik saja. Sungguh, kak Renata tidak perlu mengkhawatirkan aku," jawab Devi disertai senyumannya. Devi tidak mungkin menceritakan apa yang ia alami pada Renata.
Renata menghela nafasnya pelan kemudian menggenggam tangan kiri Devi dan menatapnya tulus.
"Dev, jika ada hal yang ingin kau katakan ataupun kau butuh teman untuk bercerita, kapanpun aku siap. Meskipun aku tidak menikah dengan kakakmu, tapi kau tetap adikku. Katakan apa saja yang ada di dalam pikiran yang mengganggumu. Aku akan membantumu," ujar Renata lembut.
Devi tampak terharu begitu melihat sisi lain Renata yang belum ia jumpai. Renata sekarang tampak jauh lebih dewasa dibanding dulu yang sifatnya sebelas dua belas dengannya.
"Kak, kakak tahu tidak kesepakatan apa yang dibuat om Alby dengan direktur?" tanya Devi pada akhirnya.
"Kesepakatan?" bingung Renata.
"Iya. Tadi awalnya om Alby menolak undangan datang ke pesta ulang tahun Jessica bersama tante Laudya. Namun begitu direktur mengingatkan om Alby tentang kesepakatannya, om Alby langsung menyetujuinya. Lihat saja sekarang, kak Renata ke mari karena diminta oleh direktur tua menyebalkan itu kan?" ujar Devi.
"Dev kau menyakiti hatiku. Aku kemari bukan karena direktur tua menyebalkan itu. Aku ke mari memang ingin menemanimu tapi kebetulan direktur memintaku untuk menemanimu," rajuk Renata.
"Aku tidak bermaksud menyindirmu kak," ujar Devi sembari tertawa kencang.
"Argh! Sshhh," ringis Devi.
"Jangan tertawa seperti itu dulu. Lukamu masih basah," tegur Renata sembari mencegah tangan Devi yang hendak menyentuh perban luka operasinya.
"Jangan disentuh, tanganmu belum memakai handsanitizer. Kau tidak boleh sembarangan menyentuhnya sebelum tanganmu benar-benar steril dari kuman," jelas Renata menggantikan tangan Devi mengelus perutnya.
__ADS_1
"Apa om Alby menyukai tante Laudya?" tanya Devi mengabaikan pesan Renata.
"Aku tidak tahu tapi mungkin saja begitu. Alby bukan tipe orang yang akan menuruti permintaan orang lain apa lagi masalah hati. Alby tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak ia sukai meskipun ia harus dicoret dari kartu keluarga sekalipun," jawab Renata yang membuat Devi semakin lesu. "Ada apa? Perutmu masih sakit?"
"Tidak. Aku hanya kesal saja pada om Alby. Sudah tahu Jessica itu musuhku tapi tetap saja ia pergi, malah ia menjemput tante Laudya untuk pergi bersama. Pokoknya aku benar-benar marah padanya kak! Aku tidak mau bertemu dengannya!"
"Kau cemburu?" tebak Renata tertawa kecil.
"Iya," jawab Devi jujur yang membuat Renata menghentikan tawanya.
"Serius?"
"Iya."
"Kau menyukai Alby?"
"Aku mencintainya," jawab Devi mantap.
Renata tampak terkejut sebentar sebelum pada akhirnya ia tersenyum lebar pada Devi.
"Aku mendukungmu. Aku lebih menyukai kau bersama Alby dari pada Alby bersama Laudya. Aku akan-"
Drt...drt...
Panggilan di ponselnya membuat Renata menghentikan perkataannya dan segera menjawab panggilannya.
Devi memperhatikan raut wajah Renata yang sepertinya ada sesuatu yang darurat.
"Dev maaf aku harus pergi. Ada pasien kecelakaan yang akan tiba ke IGD sepuluh menit lagi. Kau tidak apa-apa sendirian di sini?" tanya Renata merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Jika aku perlu sesuatu aku tinggal memanggil suster saja," jawab Devi tersenyum.
"Dasar si direktur menyebalkan itu! Ia bilang aku harus menemanimu tapi sekarang ia membuatku bekerja padahal jadwalku sudah berakhir sejak tadi sore!!" gerutu Renata sembari melangkahkan kakinya pergi.
Setelah kepergian Renata, Devi hanya berdiam diri menatap langit-langit kamar inapnya. Rasa bosan menghampirinya dan ia tidak mungkin bisa menghubungi Arin ataupun Gara untuk memintanya menemaninya di rumah sakit mengingat ponselnya yang saat ini sedang diamankan oleh polisi sebagai barang bukti, selain itu Devi juga tidak hafal nomor Arin dan Gara jadi tidak ada gunanya juga seandainya ia meminjam ponsel suster untuk meneleponnya.
Pyar!!
Gelas tersebut tidak dapat diraihnya dan malah terjatuh di lantai. Devi menggeram marah, ia melihat ke arah pintu namun tidak ada satu suster pun yang datang ke kamarnya.
"Apa suara pecahan gelas ini tidak sampai ke telinga mereka?" kesal Devi.
Devi yang sudah terlanjur kesal pun memilih kembali menonton televisi dan membiarkan tenggorokannya terasa kering.
"Om Alby juga! Kenapa lama sekali tidak pulang-pulang?!!" gerutu Devi melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Ting!
Devi menoleh ke samping nakasnya. Di atas nakas terdapat ponsel Renata. Sepertinya Renata lupa membawanya karena ia terburu-buru membawa peralatan yang ia gunakan untuk membersihkan luka Devi dan langsung keluar begitu saja karena ada pasien darurat.
Awalnya Devi berniat mengabaikannya saja, namun karena ia penasaran, Devi pun mengambil ponsel Renata dan melihat nama Laudya tertera di sana.
"Tante Laudya mengirim apa?" tanya Devi sembari membuka pesan gambar tersebut.
Rahang Devi langsung mengeras dan kini amarahnya sudah mencapai ubun-ubun ditambah pesan yang juga tertera di bawah foto tersebut membuatnya semakin emosi.
'Renata maaf bukannya aku ingin membuatmu marah, tapi Alby bilang ia menyukaiku jadi kuharap kau sedikit menjaga jarak dengannya. Alby sekarang menjadi milikku, sekarang kau harus tahu posisimu.'
Devi segera mengetikkan balasan kepada Laudya.
'Bukan aku, tapi Devi dan sepertinya Alby mencintai Devi bukan dirimu!!! Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan Alby sampai kapanpun!!'
Setelah mengetikkan balasan, Devi pun mengembalikan ponsel Renata ke nakas seperti semula dengan sedikit melemparnya.
__ADS_1
Setelahnya ia menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Ia sangat kesal dan marah pada Alby. Melihat foto Alby dan Laudya yang tampak dekat membuatnya terbakar api cemburu.
Devi susah payah menahan air mata yang ingin berlomba menuruni kedua pipinya karena selain perutnya yang masih terasa nyeri ia tidak ingin wajah cantiknya tampak bengkak keesokan harinya.
Hatinya terasa sakit sekali padahal ia bukan kekasihnya Alby. Tapi Devi kan mencintainya jadi wajar saja jika hatinya sakit.
Ceklek!
Alby semakin menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut tebalnya begitu ia mendengar suara pintu terbuka.
Itu pasti om Alby!
Mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat Devi semakin menyembunyikan wajahnya dan berpura-pura tidur. Hari ini sesuai janjinya ia tidak ingin menemui Alby!
Tidak ada suara terdengar selain langkah kaki yang kini pergi menjauh lagi. Tidak lama kemudian suara langkah kaki tersebut kembali terdengar memasuki kamar.
Kini Devi juga dapat mendengar suara pecahan beling. Mungkin Alby sedang membersihkan gelas yang tidak sengaja dijatuhkannya tadi.
Nafas Devi tercekat begitu Alby menarik turun selimutnya agar tidak menutupi wajahnya. Devi segera berpura-pura tidur.
"Aku tahu kau belum tidur," ujar Alby lembut.
Devi diam bergeming. Ia masih mempertahankan kepura-puraannya.
"Kenapa belum tidur hm?" tanya Alby membelai lembut pipi Devi. "Kau marah ya padaku?"
Devi pun membuka kedua matanya pelan dan enggan menatap ke arah Alby.
"Renata tidak kemari?" tanya Alby dan lagi-lagi Devi enggan menjawabnya.
Alby menghela nafasnya pelan, ia tahu ia salah karena tidak mengindahkan larangan Devi. Devi pasti marah karena ia malah datang ke pesta ulang tahun Jessica yang jelas-jelas adalah musuh Devi.
"Kau haus tidak? Mau minum?" tanya Alby menyodorkan segelas air dengan sedotan kepada Devi namun Devi langsung mengalihkan perhatiannya ke samping.
Alby menghela nafasnya berat dan meletakkan kembali gelas tersebut di atas nakas.
Saat meletakkan air tersebut, mata Alby tidak sengaja melihat ponsel Renata yang juga berada di atas nakas. Alby pun mengambilnya berniat untuk memberikan pada Renata saat mereka bertemu nanti.
"Jadi Renata tadi kemari, ponselnya ketinggalan," ujar Alby dan tanpa sengaja jarinya menggores layar yang tidak dikunci tersebut yang memperlihatkan fotonya yang dikirimkan Laudya.
Mata Alby langsung membulat terkejut ditambah ia tidak habis pikir kenapa Laudya mengirim fotonya dengan pesan seperti itu pada Renata. Jadi selama ini mereka berdua terlibat perang dingin di belakang Alby.
"Ka..kau membaca pesan yang dikirimkan Laudya?" tanya Alby pada Devi.
Devi hanya diam dan kembali menutup wajahnya menggunakan selimut tebalnya namun Alby menghalanginya.
"Jangan ditutup seperti itu nanti kau sesak nafas," tegur Alby lembut melupakan rasa kesalnya pada Laudya.
Laudya tidak penting sekarang karena yang terpenting sekarang adalah Devi. Alby harus mencari cara agar Devi tidak marah lagi padanya.
"Aku minta maaf," ujar Alby menyesal.
"Aku harus melakukan apa agar kau tidak marah lagi padaku?" tanya Alby dengan tatapan mengiba.
"Aku akan melakukan apapun untukmu asal kau jangan marah lagi padaku," ujar Alby mencoba membujuk Devi.
"Apapun?"
Berhasil!!
"Iya, apapun," ucap Alby sumringah karena Devi sudah mau merespon perkataannya.
__ADS_1
"Aku mau om Alby menjauhi tante Laudya."
*****