Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Kritis


__ADS_3

Keesokan harinya begitu Devi membuka kedua matanya, ia melihat Sean yang tengah tersenyum ke arahnya. Ya, Devi memang tidur di samping Sean meskipun perawat dan dokter sudah melarangnya namun Devi tetap bersikukuh untuk tidur bersama Sean.


Perlahan tangan Sean terulur membelai rambut Devi dan menyelipkannya ke telinga Devi.


"Kau sudah bangun?" tanya Sean lembut yang diangguki oleh Devi.


"Tapi aku mau tidur lagi," ujar Devi sembari memeluk Sean lebih erat.


Sean tertawa kecil sembari mengacak pelan rambut Devi sebelum ia teringat sesuatu.


"Dev," panggil Sean.


"Hm?" jawab Devi tanpa membuka matanya.


"Kata Alby kau malas belajar dan sibuk berkencan dengan Raden. Apa benar?" tanya Sean.


"Benar," jujur Devi.


Sean menghela nafasnya pelan sebelum pada akhirnya ia merubah ekspresinya dan menyentil dahi Devi pelan.


Tuk!


"Aduh! Kenapa kakak menyentil dahiku?!!" protes Devi sembari mengusap dahinya.


"Kenapa kau malas belajar dan malah sibuk berkencan?! Kau itu masih kecil dan tugasmu hanya belajar bukannya malah pacaran! Aku tidak mau tahu pokoknya kau tidak boleh berpacaran dengan Raden! Kau harus fokus untuk masa depanmu!" omel Sean.


"Masa depanku kan kak Raden!" balas Devi.


"Raden apanya?!! Kau tidak akan bisa berkencan dengan Raden kalau nilaimu tetap saja merah! Aku tidak mau tahu, mulai sekarang kau harus fokus belajar dan sekolah! Awas jika Alby memberitahuku kalau kau berkencan dengan Raden lagi," ancam Sean.


Sean sengaja tidak memberitahukan siapa Raden sebenarnya pada Devi karena Devi tidak tahu jika kedua orang tuanya meninggal karena dibunuh dan orang yang membunuhnya adalah ayah Raden.


"Astaga kenapa pagi-pagi sudah ribut?" tegur Renata yang baru saja memasuki ruang rawat Sean.


"Tanya saja pada kak Sean," ketus Devi sembari membuang mukanya dari Sean.


"Dev!" tegur Renata. "Kau tidak boleh seperti itu pada kakakmu," lanjut Renata sembari berjalan mendekat ke arah Devi.


Renata terkejut begitu melihat Devi yang tengah menangis. Devi segera memberi kode pada Renata agar tidak memberitahu Sean jika ia menangis. Devi hanya berpikir apakah nanti ia masih bisa mendengar kakaknya memarahinya lagi? Berpikir seperti itu saja sudah membuat Devi sedih.


"Aku mau mandi dulu. Setelah ini kak Sean harus menemaniku jalan-jalan lagi," ujar Devi seraya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.


Sean menatap punggung Devi dengan sedikit bingung. Kenapa Devi buru-buru pergi?


"Devi kenapa?" tanya Sean pada Renata.


"Kenapa apanya? Dia ingin pergi mandi, lagipula jika di sini bersamamu kau pasti akan terus mengomelinya tanpa henti," ujar Renata membuat alasan.


"Apa aku secerewet itu?" tanya Sean pada Renata.


"Sedikit."


Renata pun duduk di kursi yang berada di samping brankar Sean.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Renata lembut sembari menggenggam tangan Sean.


"Baik. Setidaknya hari ini kondisiku memungkinkan untuk menemani Devi jalan-jalan," ujar Sean.


Mendengar hal itu justru membuat Renata menangis. Renata pun menangis tersedu-sedu di samping brankar Sean.

__ADS_1


"Ta kenapa kau menangis? Berhentilah menangis, di kamar mandi ada Devi. Bagaimana jika ia mendengar suara tangisanmu?" panik Sean sembari menenangkan Renata.


Renata pun menutup mulutnya menggunakan tangannya untuk meredam suara tangisannya.


"Aku baik-baik saja Ta. Apa yang kau khawatirkan?"


Renata mengusap air matanya dan menatap ke arah Sean.


"Kita pergi ke Amerika saja ya? Rumah sakit Mayo Clinic di Rochester merupakan rumah sakit kanker terbaik di dunia. Aku yakin jika kita berobat di sana kau pasti akan sembuh," ujar Renata berlinang air mata.


"Ta, kau seorang dokter. Tentu kau lebih tahu mengenai kondisiku. Apa menurutmu aku bisa sembuh meskipun aku berobat ke sana?" tanya Sean tersenyum.


Renata terdiam tidak dapat menjawabnya dan hanya bisa menangis.


"Kuharap kau menemukan seseorang yang mampu mencintaimu dengan tulus dan mampu menjagamu dengan baik. Maaf aku tidak bisa menemanimu sampai akhir," ujar Sean dengan kedua mata mulai berkaca-kaca. "Berhentilah menangis, Devi nanti dengar lho Ta."


Devi yang mendengar percakapan itu semua dari dalam kamar mandi pun langsung meluruhkan tubuhnya ke dinginnya lantai kamar mandi. Ia menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya diantara lipatan tangannya. Devi menangis dalam diam.


*****


"Wajahmu pucat, kau yakin ingin pergi?" tanya Renata khawatir.


"Tentu saja, cepat pakaikan jaketku. Devi pasti sebentar lagi keluar dari kamar mandi."


Devi menghela nafasnya berat sebelum akhirnya ia membuka pintu kamar mandi dan berjalan riang kearah Sean dan Renata.


"Kau masih marah pada kakak?" tanya Sean pada Devi.


"Tidak. Aku sudah terbiasa diomeli jadi kakak tidak perlu merasa bersalah," jawab Devi ringan.


Devi melirik sekilas ke arah Renata yang tampak diam dengan kedua mata sembabnya.


Devi tidak langsung menjawab, ia mengamati wajah Sean yang tampak jauh lebih pucat dari sebelumnya dan pandangan Devi juga tidak sengaja melihat tangan Sean yang sedang mengelus perutnya seolah ia sedang meredam rasa sakitnya.


"Di sini saja. Aku malas keluar, cuacanya panas aku takut hitam," ujar Devi sembari berjalan menaiki brankar Sean.


"Kenapa kau naik lagi?" tanya Sean yang melihat Devi memintanya untuk sedikit bergeser menggunakan isyarat tangannya.


"Aku ingin rebahan sembari menonton drama Korea kesukaanku," jawab Devi mulai menyalakan televisi.


"Kak Renata tidak cemburu kan melihat aku tidur bersama kak Sean?" goda Devi pada Renata untuk mencairkan suasana.


"Ti..tidak! Untuk apa aku cemburu. Aku bisa tidur dengan gulingku nanti," jawab Renata yang membuat Devi dan Sean tertawa.


Selama menonton drama, Devi tidak henti-hentinya berbicara dan ikut berkomentar tentang tokoh yang menurutnya jahat bahkan sesekali Devi harus beragumen dengan Renata.


Tiba-tiba saja Sean merasakan perutnya terasa sakit. Karena tidak ingin membuat Devi khawatir, Sean pun mengulurkan tangannya untuk mengelus perutnya pelan agar rasa sakitnya berkurang. Namun Sean sedikit terkejut begitu ia merasakan tangan Devi yang juga ikut mengelus perutnya pelan dengan pandangan mata yang menatap lurus ke arah televisi.


"Aku yakin sekali pelakunya pasti Gi Osung," ujar Devi tanpa menghentikan tangannya mengelus perut Sean.


"Kau benar. Wah rasanya aku ingin sekali memukul Gi Osung dan plotwist macam apa ini?!! Kenapa jadi Jaebum bukannya Seohoon yang muncul?!" heboh Renata.


Sean merasakan air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Devi melirik sekilas ke arah Sean dan ia tahu kakaknya pasti sedang kesakitan mangkanya ia mengulurkan tangannya untuk mengelus perut Sean agar sakitnya sedikit berkurang.


Hoek!


Renata yang tanggap pun langsung mengambil sebuah tempat yang memang sudah ia siapkan jika sewaktu-waktu Sean ingin muntah dan menadahkannya pada Sean.

__ADS_1


"Sean kau baik-baik saja?" tanya Renata sembari memijit pelan tengkuk Sean.


Devi pun segera beranjak turun dari ranjang dan hanya diam mengamati Sean yang tengah muntah-muntah.


Devi menggigit bibir bawahnya bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


"Apa perutmu sakit?" tanya Renata.


"Tidak," dusta Sean karena ada Devi di sana.


Devi tahu kakaknya jelas berbohong. Devi dapat melihat raut wajah Sean yang tengah menahan sakit dengan peluh yang membanjiri keningnya. Devi pun berinisiatif untuk pergi keluar saja agar kakaknya bisa berkata sejujurnya pada Renata.


"Aku harus keluar untuk membeli minum," pamit Devi.


"Ja...jangan pergi," cegah Sean dengan nafas tersendat-sendat.


Devi menghentikan langkahnya dan berbalik mendekat ke arah Sean sedangkan Renata langsung menekan tombol warna merah yang berada di samping brankar Sean untuk memanggil dokter.


"Temani kakak sebentar saja," pinta Sean dengan mata tertutup.


Air mata Devi sudah tidak dapat dibendung lagi. Devi menangis tersedu-sedu di samping Sean.


"Hust... jangan menangis, kakak baik-baik saja hanya sedikit mual," ujar Sean tanpa membuka matanya.


Renata yang saat itu sedang memantau kondisi Sean pun mulai panik begitu detak jantung Sean perlahan mulai melemah dan tekanan darahnya menurun.


"Sial!" umpat Renata tertahan.


Tidak lama kemudian dokter yang menangani Sean pun tiba dan langsung memberi pertolongan pada Sean.


"His heart rate slowed down and his blood pressure dropped," ujar Renata memberitahu tanda vital Sean. (Detak jantungnya melemah dan tekanan darahnya menurun drastis.)


"I will handle it," jawab dokter tersebut sembari mulai memeriksa Sean. (Saya akan mengatasinya.)


"Dev ayo kita keluar," ajak Renata menggenggam tangan Devi.


Devi hanya diam mematung sembari menatap lurus ke arah Sean yang tengah ditangani oleh dokter.


"Tapi kak Sean memintaku untuk tetap tinggal," lirih Devi.


"Ayo kita keluar, keberadaan kita disini hanya akan mengganggu pekerjaan dokter menyelamatkan kakakmu," bujuk Renata sebelum Akhirnya Devi pasrah ketika tangannya digenggam dan ditarik keluar oleh Renata.


"Dev," panggil Renata pelan begitu melihat Devi yang hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Renata tahu apa yang dirasakan Devi sekarang. Devi pasti takut Sean meninggalkannya saat ini juga. Jangankan Devi, Renata sendiripun juga takut hal itu terjadi.


"23 hari," ujar Devi yang membuat Renata mengernyitkan dahinya tidak mengerti. "Ini belum ada 23 hari kan kak?" tanya Devi berlinang air mata.


Renata hanya menggeleng lemah sebagai jawaban.


"Kalau begitu aku bisa tenang. Om Alby bilang waktunya 23 hari dan ini bahkan belum ada separuh dari 23 hari. Kak Sean tidak akan meninggalkan kita sekarang kak," ujar Devi pada Renata seraya tersenyum.


Namun tidak lama kemudian dokter yang menangani Sean keluar dan langsung memberitahu kondisi Sean pada Renata. Devi yang tidak mengerti bahasa Inggris pun hanya diam saja menunggu Renata menjelaskan padanya nanti.


Setelah dokter tersebut pergi, Renata berjalan mendekat ke arah Devi dan langsung berlutut sembari memegang kedua tangan Devi. Devi tahu pasti kondisi Sean memburuk atau malah yang lebih buruk, Sean telah meninggal begitu ia melihat Renata yang berlutut di hadapannya sembari menangis.


"Kakakmu kritis."


*****

__ADS_1


__ADS_2