
Tok! Tok!
Arin sangat terkejut begitu mendapati Devi yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya dengan kondisi yang sangat kacau.
Air mata masih mengalir di kedua pipinya dan sesekali Devi masih sesenggukan. Arin yang melihat sahabatnya tampak berantakan pun langsung memeluknya dan menenangkannya. Sama seperti yang Devi lakukan untuknya.
"Hustt tenanglah," ujar Arin mengelus pelan punggung Devi.
"Arin siapa?" teriak ibu Arin dari dalam rumah.
"Devi bu! Devi datang ke mari untuk mengajakku berangkat ke kampus bersama," jawab Arin dengan suara lantang agar ibunya mendengar perkataannya. "Kau tunggu sebentar di sini, aku akan mengambil tasku lalu kita cari tempat yang cocok untukmu menenangkan diri."
Devi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Arin pun segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya lalu setelahnya ia segera mengajak Devi untuk pergi.
Kini mereka berdua berada di sebuah taman yang lokasinya tidak jauh dari rumah Arin. Setelah dirasa Devi sedikit tenang, Arin pun memberanikan diri untuk bertanya pada Devi tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ada apa? Kenapa menangis seperti ini?" tanya Arin khawatir.
Tanpa mengatakan satu patah kata pun, Devi langsung menyodorkan foto Alby dan Icha yang ia temukan di dalam dompet milik Alby pada Arin.
Arin yang melihat foto tersebut pun sontak langsung menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya karena saking terkejutnya.
"In...ini om Alby?" tanya Arin yang diangguki oleh Devi sebagai jawaban.
"Lalu ini siapa?" tanya Arin sembari menunjuk wanita yang berada di dalam foto tersebut.
Devi pun menceritakan semuanya pada Arin dari awal ia bertemu dengan Shiela di Singapura sampai terakhir kemarin malam tentang perubahan raut wajah Alby begitu Devi menyinggung tentang Icha.
"Kenapa kita memiliki nasib yang sama seperti ini?" ujar Arin sembari menyandarkan kepalanya pada kepala Devi.
"Tapi Rin, kenapa aku ragu jika om Alby selingkuh ya?"
"Ragu kenapa?"
"Om Alby selama ini selalu perhatian dan sangat menyayangiku seperti ia benar-benar mencintaiku dan aku seperti wanita satu-satunya untuknya. Ini semua tidak mungkin kan Rin? Ini hanya salah paham saja kan?" tanya Devi.
"Salah paham apanya? Bukankah foto itu sudah menjelaskan semuanya? Kalau tentang perlakuan om Alby padamu, kak Fitra pun juga seperti itu padaku. Tapi lihatlah sekarang, kak Fitra sudah berani berselingkuh dariku!"
Devi menghela nafasnya pelan sembari menundukkan kepalanya dalam.
Setelah semua yang terjadi kenapa Alby tega menduakan cintanya?
Namun detik berikutnya, Devi kembali menegakkan kepalanya dan menatap Arin dengan wajah berbinar.
"Arin aku tahu cara agar kita tidak sedih lagi," ujar Devi.
"Caranya?"
Devi mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompet miliknya dan menunjukkannya pada Arin.
"Hari ini kita liburan dan habiskan waktu untuk bersenang-senang berdua. Kita harus membuktikan pada pria-pria buaya itu jika kita tidak akan sedih karena diselingkuhi. Kita harus membuktikan pada mereka jika kita tidak selemah yang mereka kira. Masalah ini tidak akan membuat kita tumbang. Bagaimana?"
Arin memikirkan ide Devi sejenak sebelum akhirnya ia menyetujui ide Devi untuk pergi bersenang-senang.
"Oke aku setuju!! Baiklah pertama-tama kita pergi ke mana?!!" tanya Arin antusias.
"Ke salon! Aku harus memperbaiki wajah cantikku yang tampak berantakan karena menangisi si buaya Alby dari apartemen hingga tiba di depan rumahmu."
"Oke aku setuju!! Kita harus berpenampilan cantik dan menarik. Siapa tahu ada berondong yang mau menggantikan posisi kak Fitra dan om Alby," ujar Arin menimpali.
"Eh kau sudah mau mencari pacar lagi?"
"Memangnya kenapa? Jika mereka bisa mencari pacar lagi kenapa kita tidak?" jawab Arin.
"Ah kau benar juga. Kalau begitu ayo kita berangkat!!!"
*****
Setelah mengunjungi salon, Devi dan Arin pun lanjut berbelanja di mall bahkan Devi dan Arin sampai memilih untuk membolos kuliah untuk bersenang-senang bersama.
Setelah puas berbelanja, Devi dan Arin memilih untuk pergi berlibur di salah satu tempat bermain yang letaknya tidak jauh dari mall. Mereka bermain bermacam-macam wahana hingga tanpa mereka sadari hari sudah semakin sore.
"Terima kasih," ujar Devi sopan pada seorang petugas di penitipan barang di mana ia menitipkan semua barang belanjaannya di sana.
"Woah seru sekali, aku sangat senang dan ternyata cara ini lumayan ampuh untuk melupakan buaya-buaya itu barang sejenak," ujar Arin yang disetujui oleh Devi.
"Tentu saja. Kalau kau mau kita setiap hari bisa bersenang-senang seperti ini untuk melupakan mereka," balas Devi.
"Tapi Dev, kau menggunakan kartu kredit milik siapa? Om Alby? Bagaimana jika-"
"Ini milikku yang diberikan kak Sean padaku. Kau tenang saja," ujar Devi memotong perkataan Arin.
__ADS_1
Arin mendesah lega.
"Kau mau langsung pulang atau bagaimana?" tanya Arin.
Devi melihat ke arah jam tangannya dan waktu masih menunjukkan pukul enam sore.
"Aku tidak ingin pulang."
"Lalu kau mau pergi ke mana? Ke rumahku?"
"Aku masih ingin lanjut bersenang-senang lagi."
"Ke mana?"
"Kita cari tempat ganti baju dan berdandan lebih dulu, nanti aku akan memberitahumu," ujar Devi yang membuat Arin bertanya-tanya ke mana Devi ingin mengajaknya bersenang-senang. "Kau bawa KTP kan?"
"Bawa."
"Ayo!"
*****
Arin mengedipkan kedua matanya berkali-kali begitu melihat sebuah bangunan yang ada di hadapannya.
Bangunan tersebut tampak ramai dengan berbagai kalangan. Pria dan wanita sudah tumpah ruah di tempat hiburan tersebut.
"Kita akan ke sana?" tanya Arin sembari menoleh ke arah Devi.
"Hm. Kenapa kau tidak mau?" tanya Devi sembari memperbaiki tas belanjaannya.
"Mau!!" jawab Arin antusias. "Ayo kita masuk!!"
"Ayo!! Kita pergi ke toilet dulu untuk ganti pakaian dan berdandan."
Setelah menunjukkan kartu identitasnya kepada penjaga club, Devi pun diijinkan untuk masuk ke dalam.
Begitu masuk, Devi segera mencari toilet untuk berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian, Devi pun mendandani dirinya secantik mungkin sembari menunggu Arin yang juga tengah berdandan di sebelahnya. Bahkan Devi tadi juga sengaja membeli gaun sexy untuk dipakainya di klub malam.
"Sudah?" tanya Arin pada Devi.
"Sudah. Ayo!"
Suara dentuman musik mulai terdengar nyaring di telinga Devi membuat Devi sedikit tidak nyaman namun ia berusaha mengabaikannya dan ikut menari-nari di lantai dansa bersama Arin.
"Ini sangat menyenangkan!" teriak Arin.
"Tapi musiknya terlalu keras. Aku tidak terlalu menyukainya, Arin aku tunggu kau di meja sana ya?!!" ujar Devi dengan nada keras agar Arin dapat mendengar suaranya.
"Baiklah, aku akan menyusulmu nanti," balas Arin.
Devi pun meninggalkan Arin yang masih sibuk menari-nari untuk duduk di sebuah kursi yang letaknya agak jauh dari dancefloor.
Sembari menunggu Arin selesai, Devi yang bosan pun memesan sebuah minuman. Karena ini pertama kalinya ia mengunjungi klub malam, Devi pun kebingungan apa yang hendak ia pesan.
Jujur saja Devi sedikit takut jika ia mabuk dan ketahuan oleh Alby. Alby pasti akan memarahinya habis-habisan. Tapi untuk saat ini Devi memutuskan untuk menghilangkan rasa takut itu lagi karena sakit yang diberikan Alby padanya. Ah mengingat hal itu lagi membuat hati Devi terasa semakin remuk.
Devi pun segera memesan sebuah minuman beralkohol kepada salah seorang bartender. Setelah menunggu beberapa menit, minuman pesanan Devi pun telah tersaji di atas meja.
Arin yang saat itu baru saja datang menghampiri Devi pun langsung meminum minuman pesanan Devi sebelum Devi sempat meminumnya.
"Arin itu minumanku!" protes Devi sembari menunjuk minumannya.
"Ini pahit. Maaf aku sangat haus. Aku pesankan lagi ya?"
"Tidak usah, aku saja."
Devi pun kembali memesan minumannya lagi.
Setelah pesanannya diantar ke mejanya, Devi langsung meminumnya hingga tandas tak tersisa. Merasa kurang, Devi pun memesan beberapa gelas lagi untuk dirinya dan Arin sampai pada akhirnya keduanya mabuk berat.
"Minumannya pahit tapi aku suka."
"Aku juga mau lagi boleh?" tanya Arin.
"Pesan saja sesukamu, aku yang bayar," ujar Devi sembari tertawa senang.
"Yeayy!!!"
Drt....drt...
__ADS_1
"Siapa?" tanya Arin.
"Tunanganku." Devi mengarahkan layar ponselnya ke arah Arin.
"Jawab saja."
"Aku tidak mau. Tunanganku ini sudah berselingkuh dariku, aku tidak mau menjawab panggilannya," jawab Devi dengan nada mulai melantur.
"Jawab saja lalu kita maki mereka."
"Mereka?"
"Hm. Aku akan menghubungi Fitra dan kita akan memakinya bersama-sama. Mereka harus tahu bagainana sakit yang kita rasakan. Bagaimana?"
Tanpa berpikir lagi, Devi menganggukkan kepalanya menyetujui ide Arin.
Devi segera menjawab panggilan Alby sedangkan Arin masih tidak dapat menghubungi Fitra karena nomor Fitra tidak aktif.
"Halo." Devi menjawab panggilan telepon Alby dengan nada yang menunjukkan bahwa ia sedang mabuk sekarang.
"Huaaa kak Fitra tidak bisa di telepon," raung Arin.
Devi yang saat itu sudah menjawab panggilan Alby pun begitu mendengar rengekan Arin menjadi terfokus pada Arin hingga ia melupakan sambungan teleponnya pada Alby.
"Dia tidak bisa di telepon?" tanya Devi.
"Iya. Dasar buaya buntung!!! Tega-teganya kau berselingkuh di belakangku!!!!! Kau pikir kau satu-satunya pria di dunia ini??!! Jika aku mau aku bisa mendapatkan sepuluh orang sepertimu!! Dasar menyebalkan!!!! Aku sangat membencimu! Memangnya apa yang salah dengan sifatku? Aku ini menggemaskan tahu! Tanya saja pada Devi! Devi saja betah berteman denganku! Ah iya Gara juga, Gara yang menyukaiku saja kutolak demi bajingan sepertimu!!!!" marah Arin seolah memarahi ponselnya.
"Berikan padaku, aku juga ingin memarahinya."
Arin pun menyerahkan ponselnya kepada Devi dan membiarkan Devi ikut memaki Fitra meskipun Fitra tidak bisa dihubungi.
"Iyaaa. Kenapa kak Fitra berselingkuh dari Arin?!! Memangnya Arin kurang apa? Arin tidak jelek kok meskipun dia bodoh sepertiku! Tega-teganya kak Fitra menyakiti Arin!!! Kak Fitra tidak tahu ya kalau aku bisa menjadi ular kobra yang sewaktu-waktu bisa menggigit-"
"Dev bukan ular kobra," tegur Arin yang membuat Devi bingung.
"Lalu apa?"
"Buaya."
"Kenapa buaya?? Aku kan bukan buaya Arin! Kenapa kau mengataiku buaya huaa?? Yang jadi buaya itu kak Fitra dan om Alby!!!" tangis Devi tersedu-sedu.
"Ah aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengataimu. Maafkan aku ya?" ujar Arin sembari memeluk Devi.
"Heem. Jangan diulangi lagi," cicit Devi.
"Iya aku janji. Oh anak perempuanku jangan menangis. Nanti kita beli boneka beruang yang besar bagaimana?" Arin mengusap air mata Devi selayaknya ibu yang tengah menghibur anaknya.
Devi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Sekarang ganti om Alby. Mana ponselmu? Bukankah kau sudah menjawab panggilannya om Alby?" tanya Arin.
Devi memberikan ponselnya pada Arin.
"Panggilannya sudah dimatikan. Ayo kita lanjut bersenang-senang lagi!!!"
"Yah kita tidak jadi memarahinya Arin."
"Tidak apa-apa. Nanti kalau kita bertemu langsung dengannya kita pukul saja dan gigit tangannya!"
"Oke!! Arin kau menari di sana aku menari di sini saja ya? Di sana terlalu berisik, telingaku jadi menangis," ujar Devi.
"Baiklah."
"Hati-hati diculik om-om," ujar Devi sembari melambaikan tangannya ke arah Arin.
Drt...drt...
Devi melihat Alby sedang menghubunginya lagi. Dengan malas, Devi pun menjawab panggilan tersebut.
"Hm? Ada apa?"
"Kamu di mana?"
"Om Alby mau membawaku pulang ya? Aku tidak mau!!! Aku tidak mau pulang, aku mau tidur di jalan saja yang lebih nyaman. Aku hoek!! Om aku masuk angin hoek!"
"Kamu mabuk?"
"Aku masuk angin!!!!"
"Di mana kau sekarang?!" tanya Alby tegas.
"Kenapa mencariku? Bukankah om Alby sudah punya wanita baru? Aku melihatnya, aku melihat om Alby mencium pipinya. Tapi om aku kan lebih cantik darinya, kenapa om Alby berselingkuh dariku?!"
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Alby pun langsung mencari keberadaan Devi saat itu juga.
*****