
Sudah beberapa kali Devi melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun ia sama sekali tidak ada niatan beranjak dari depan televisi untuk pergi tidur.
Devi sedang menunggu kedatangan Alby yang tak kunjung pulang. Tadi pagi saat Devi menghubungi Alby, Alby berkata jika malam ini ia akan pulang. Oleh karena itu Devi memilih untuk menunggu Alby di ruang tengah dengan menonton televisi agar tidak mengantuk.
Sebetulnya Devi sudah sangat mengantuk tapi sekuat tenaga ia menahannya. Devi melihat ke arah ponselnya dan melihat tidak ada satu pesan pun dari Alby, itu tandanya Alby benar-benar akan pulang malam ini.
"Lho kamu belum tidur Dev?" tanya Abimanyu yang berniat turun ke dapur untuk mengambil air minum.
"Belum om," jawab Devi tersenyum.
"Sudah malam waktunya beristirahat. Kamu di sini menunggu Alby pulang ya?" tebak Abimanyu berjalan mendekat ke arah Devi dan duduk di sofa yang berada di sebelahnya.
"Iya om. Tadi pagi aku menelepon om Alby dan katanya ia akan pulang malam ini. Tapi sekarang kenapa belum datang ya om? Aku sudah mengiriminya pesan namun belum dibalas oleh om Alby. Aku jadi khawatir takut terjadi apa-apa," ujar Devi dengan raut wajah khawatir yang kentara.
Abimanyu yang mendengar pernyataan Devi pun tersenyum lembut sembari menatap Devi perhatian seperti selayaknya seorang ayah yang menatap sayang ke arah putrinya.
"Jangan khawatir, mungkin Alby sibuk menangani pasien. Alby kan sekarang di IGD, jadi pasien gawat darurat bisa datang kapan saja dan Alby tidak bisa mengabarimu sepanjang waktu karena harus segera menangani mereka. Jangankan Alby, aku saja sering mengingkari janjiku pada Ishwari. Aku bilang akan pulang cepat namun nyatanya malah pulang terlambat karena ada pasien dengan kondisi gawat darurat. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak dan lebih baik kamu segera pergi tidur. Kamu masih dalam tahap pemulihan lho Dev," tutur Abimanyu lembut.
Devi tampak keberatan dengan perintah Abimanyu yang memintanya untuk pergi tidur dan hal itu juga tidak luput dari pandangan Abimanyu.
"Baiklah, kuberi waktu setengah jam lagi. Nanti jika Alby belum datang, kamu harus pergi tidur. Bagaimana?" tawar Abimanyu.
"Setuju om," jawab Devi tanpa pikir panjang.
Abimanyu tersenyum melihat tingkah Devi. Sekilas Devi memang mirip dengan Icha namun Abimanyu melihat ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Tidak mungkin seseorang memiliki karakteristik yang sama persis satu sama lain kan? Tentu saja pasti ada satu atau dua perbedaan di antaranya.
"Om mau ke dapur ambil air minum dulu. Kamu mau om ambilkan sekalian tidak?" tawar Abimanyu seraya bangkit dari duduknya.
"Tidak om. Om Abi duduk di sini saja biar aku yang ambilkan."
Belum sampai Abimanyu menjawab, Devi sudah terlebih dahulu berlari ke arah dapur untuk mengambilkannya minuman. Abimanyu yang melihat hal itu hanya tertawa kecil sembari kembali duduk di tempatnya.
Tidak berapa kemudian, Devi tiba dengan segelas air mineral di tangannya dan segera menyerahkannya pada Abimanyu.
"Terima kasih."
Devi menjawabnya dengan anggukan dan senyuman manis.
Setelahnya keduanya pun hanya saling diam dengan pandangan Devi yang mengarah ke layar televisi. Abimanyu menoleh ke arah Devi, ia ingin sekali bertanya mengenai apakah Devi sudah siap memberi kesaksian untuk kasus Ganendra atau belum. Namun ia teringat perkataan putranya jika Devi tidak boleh dipaksa dan harus dibiarkan sampai Devi sendiri yang berniat menceritakannya, ia pun mengurungkan niatnya. Abimanyu pun mendesah pelan dan ikut mengarahkan pandangannya ke arah televisi.
"Om Abi tidak tidur?" tanya Devi menoleh ke arah Abimanyu.
"Tidak. Om akan menemanimu sampai Alby datang," jawab Abimanyu.
"Aku tidak apa-apa om, sungguh. Om Abi bisa tidur sekarang. Om Abi kan sudah bekerja seharian jadi om Abi pasti capek dan sekarang om Abi harus beristirahat."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sungguh," jawab Abimanyu yang membuat Devi tidak memiliki pilihan lain selain mengijinkannya menemaninya menunggu kepulangan Alby.
Mereka berdua pun kembali hanyut dalam diam. Namun rupanya jauh di dalam hati Devi, Devi ingin sekali bertanya-tanya pada Abimanyu dan meminta saran padanya namun Devi terlalu malu untuk mengatakannya.
Semakin lama Devi menahannya, Devi malah semakin ingin bertanya. Alhasil ia pun memberanikan dirinya untuk bertanya pada Abimanyu mumpung hanya ada mereka berdua saja.
"Om," panggil Devi seraya menoleh ke arah Abimanyu.
"Iya?"
Devi tidak langsung menjawab, ia menundukkan kepalanya dan memilin jarinya tanda ia gugup. Abimanyu yang melihat hal itu pun tersenyum lembut dan menenangkan.
"Jika tidak ingin mengatakannya tidak masalah. Jangan dipaksa," ujar Abimanyu lembut.
"Tidak om. Aku harus mengatakannya karena jika dibiarkan kasus ini tidak akan selesai," tutur Devi yang langsung membuat Abimanyu paham ke mana arah pembicaraan Devi.
"Baiklah, kalau begitu coba beritahu aku apa yang ingin kau katakan padaku."
"Om tahu kan kalau kasus penyerangan itu akibat aku yang tidak sengaja mendengar Ganendra yang membunuh ayahnya sendiri?"
"Iya om sudah tahu. Alby sudah menceritakan semuanya padaku dan tentang kamu yang masih belum mau memberi kesaksian karena takut."
"Nah itu masalahnya om."
"Apa yang kamu takutkan?"
Abimanyu menghela nafasnya pelan seraya tersenyum.
"Jadi alasan sebenarnya kamu tidak ingin memberi kesaksian adalah karena kamu tidak ingin Alby terkena masalah?" tanya Abimanyu yang diangguki oleh Devi.
"Dev kamu tidak boleh seperti itu. Kalau kamu tidak memberi kesaksian, Ganendra bisa saja dibebaskan tanpa hukuman lho. Tentu kamu tidak mau hal itu terjadi kan?"
Devi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kasus Alby dan penyeranganmu sangat berbeda. Kasus penyeranganmu sangat fatal sedangkan Alby tidak. Ganendra mencoba membunuhmu karena kamu memegang kartu as yang dimilikinya. Ganendra takut kamu membocorkan rahasia tentang kematian ayahnya. Bayangkan, Ganendra ingin membunuhmu lho. Ini berkaitan dengan nyawamu. Kamu mau membahayakan nyawamu hanya demi karir Alby?"
Devi terdiam.
"Alby seorang dokter. Jika Alby salah maka ia harus menerima konsekuensinya. Kamu tidak boleh menyembunyikan fakta itu. Kamu harus mengatakan hal yang sebenarnya kepada polisi dan jangan pikirkan tentang Alby. Alby sudah dewasa jadi om yakin ia dapat mengatasi masalahnya jika ia benar-benar terseret dalam kasus ini. Hukuman bagi Alby mungkin adalah skorsing, ia tidak boleh bekerja di rumah sakit untuk sementara waktu sampai batas waktu yang ditetapkan dan setelahnya Alby dapat kembali bekerja lagi seperti semula, tapi kalau nyawamu yang melayang bagaimana? Apakah nyawamu juga bisa kembali padamu lagi seperti pekerjaan Alby?"
"Lagi pula saat itu keadaan pasien sangat tidak memungkinkan untuk diselamatkan meskipun dokter terbaik di rumah sakit yang menanganinya. Jadi jangan khawatir, catatan medis Rusli pasti dapat meringankan hukuman Alby," lanjut Abimanyu.
Devi terdiam. Ia tampak berpikir langkah mana yang harus ia ambil. Jika ia diam saja tanpa memberi kesaksian, bagaimana jika nanti Ganendra dibebaskan dan kembali mencelakainya? Kemarin ia beruntung karena ia masih diberi keselamatan tapi bagaimana nanti? Apakah keberuntungan masih diberikan kepadanya?
"Baik om, aku akan memberi kesaksian pada polisi," jawab Devi pada akhirnya.
__ADS_1
Abimanyu membelai lembut rambut Devi seraya tersenyum.
"Sebelum menyelamatkan karir orang lain, kau harus menyelamatkan dirimu sendiri," pesan Abimanyu yang diangguki oleh Devi.
"Besok kebetulan om ada pertemuan dengan direktur rumah sakit tempat Alby bekerja. Bagaimana kalau om yang mengantarmu pergi memberi kesaksian pada polisi?"
"Boleh om," jawab Devi senang.
"Baiklah, om akan meminta Alby untuk mengatur pertemuan dengan polisi yang menangani kasusmu. Kalau begitu sekarang saatnya pergi tidur, ini sudah lewat dari setengah jam dari kesepakatan kita," ucap Abimanyu.
"Setengah jam lagi ya om?" tawar Devi memelas.
"Tidak. Ini sudah malam dan besok pagi kita harus berangkat ke kota. Ayo cepat pergi tidur."
Mau tidak mau Devi pun menuruti perintah Abimanyu. Jika Alby yang memerintahnya mungkin Devi masih berani melawannya namun jika Abimanyu yang memerintahnya Devi sudah tidak dapat berkutik lagi selain menurutinya.
"Ingat, kamu harus benar-benar tidur. Tidak boleh begadang menunggu Alby pulang," ingat Abimanyu membukakan pintu kamar Devi.
"Iya om aku janji. Selamat malam," ucap Devi.
"Selamat malam."
Setelah memastikan Devi masuk ke dalam kamarnya, Abimanyu segera pergi ke kamarnya sendiri yang berada di lantai satu.
Devi yang belum bisa tenang pun segera merogoh ponselnya dan segera menghubungi nomor Alby.
Panggilan pertama Alby tidak menjawabnya namun Devi tidak menyerah. Ia tetap mendiall nomor Alby hingga akhirnya Alby menjawab panggilannya.
"Om kau di mana? Kenapa lama sekali?!!" cecar Devi begitu panggilan tersambung.
"Alby sedang tidur," jawab seorang perempuan dengan nada serak khas bangun tidur yang Devi kenal suaranya.
Rahang Devi mengeras begitu ia tahu siapa yang menjawab panggilan Alby.
"Sudah dulu ya Dev, aku dan Alby lelah sekali."
Tut...tut...
Panggilan dimatikan!
Devi langsung melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan diikuti dirinya sendiri. Devi langsung menutupi dirinya dengan selimut tebalnya hingga menutupi kepalanya.
Devi benar-benar marah sekali dan ia jadi berpikir sembarangan.
"Tante Laudya menyebalkan! Sebenarnya apa yang dilakukan tante Laudya dengan om Alby sampai ia kelelahan begitu!!!"
__ADS_1
*****