
Raden menggeram marah begitu ia menyadari jika rencananya tidak berjalan lancar.
Bukankah seharusnya ia sudah mendapat panggilan telepon dari Arin yang memberitahunya jika Devi telah mati? Namun kenapa sampai saat ini Arin tidak memberinya kabar apapun?
"Den," panggil Fitra yang baru saja selesai dari kamar mandi.
Raden membalikkan tubuhnya menatap sahabatnya itu.
"Kau semalaman tidak tidur? Lihat kantung matamu begitu mengerikan," tunjuk Fitra pada kantung mata Raden.
"Aku tidak bisa tidur," ujar Raden kembali melihat ke layar ponselnya.
"Kau tidak mandi? Kita harus bergegas sebelum dokter Alby tiba. Aku tidak mau dimarahi lagi," ujar Fitra.
"Baiklah aku akan mandi," ujar Raden menghela nafasnya berat.
*****
Semenjak kejadian Alby mencium Devi tadi malam, kini keduanya menjadi tampak canggung. Devi yang biasanya malas saat Alby memintanya belajar pun kini menjadi sangat rajin belajar. Seperti hari ini, Devi hanya sibuk belajar di dalam mobil tanpa mengajak Alby berbicara seperti sebelumnya.
Alby membiarkan hal itu terjadi malah ia merasa senang karena Devi menjadi rajin belajar tanpa Alby harus mengomelinya. Alby kini bisa menghemat tenaganya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah keduanya hanya diam saja tanpa ada yang memulai pembicaraan dan tanpa terasa kini mereka sudah tiba di depan pintu gerbang sekolah Devi.
"Ada ekstrakulikuler tidak?" tanya Alby.
"Tidak," jawab Devi sembari merapikan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. "Om Alby tidak perlu menjemputku, aku bisa kok naik bis bersama Arin dan Gara. Lagipula hari ini kami ingin belajar kelompok di kafe Anonymous. Aku boleh pergi kan om?" ijin Devi yang diangguki oleh Alby.
"Kalau begitu pergilah," jawab Alby.
"Aku sekolah dulu ya om, dadah." Devi melambaikan tangannya ceria ke arah Alby.
Rupanya hanya Alby saja yang merasa canggung berada di dekat Devi. Lihat saja gadis itu, ia malah bertingkah ceria seperti biasanya hanya yang membedakan ia menjadi rajin belajar. Itu saja.
Setelah Devi memasuki gerbang sekolah, Alby langsung menjalankan mobilnya dan bergegas menuju tempat kerjanya. Ia ingin sekali melihat raut wajah Raden begitu tahu rencananya gagal. Pasti menyenangkan!
Setelah beberapa menit di perjalanan, Alby pun tiba di rumah sakit tempatnya bekerja. Begitu ia tiba, ia langsung masuk ke ruangannya dan berganti pakaian. Setelahnya ia keluar menuju ruang IGD.
Begitu ia tiba, Alby langsung dihadang oleh Renata yang meminta penjelasan tentang kemarin. Kenapa Alby meminta Renata menghubungi Raden saat itu juga agar Raden tidak bertemu dengan Devi.
"Jadi ada apa sebenarnya?" tanya Renata.
Belum sampai Alby menjawab pertanyaan Renata, suara panggilan suster Ratna menginterupsi mereka.
"Dokter sebentar lagi ada pasien kecelakaan kontruksi bangunan. Lima menit lagi pasien akan tiba."
"Akan kujelaskan nanti setelah kita menangani pasien ini," ujar Alby menepuk pelan pundak Renata.
Renata menganggukkan kepalanya dan ikut bersiap-siap bersama Alby.
"Di mana siput dan udang? Kenapa belum terlihat batang hidungnya?!!!" marah Alby begitu ia melihat sebuah mobil ambulance tiba.
"Saya sudah menghubungi mereka dok, sebentar lagi mereka akan tiba," ujar suster Ratna.
Alby mengabaikan perkataan Ratna dan berjalan mendekat ke arah Edo yang sedang mengeluarkan pasien dari mobil ambulance.
"Bekisting pier head yang sedang dicor tidak kuat menahan beban sehingga roboh, tiga orang pekerja terjatuh dan tertimpa material," ujar Edo mengatakan akar masalahnya.
Alby mengangguk mengerti.
"Tensi dan denyut nadi stabil, ada lecet dan nyeri pergelangan tangan, ibu jarinya mati rasa dok," ujar Edo memberitahu kondisi pasien.
Alby pun memegang pergelangan tangan pria paruh baya tersebut yang tengah terbaring lemah.
"Apa anda merasakan sakit saat saya tekan seperti ini?" tanya Alby.
"Tidak dok," jawab pria paruh baya tersebut.
"Apakah anda merasakan sesuatu?" tanya Alby lagi sembari menekan tangan pria tersebut dengan sedikit kuat.
"Tidak. Saya tidak merasakan apa-apa," jawab pria tersebut.
"Hoi siput!!" teriak Alby begitu ia melihat Raden yang baru saja datang bersama Fitra dan berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
__ADS_1
"Dari mana saja kau?!! Kenapa lama sekali?!! Kau tidak mendengar ada panggilan pasien gawat darurat?!!" marah Alby pada Fitra.
"Maaf dok," sesal Fitra.
Alby menghela nafasnya kasar. Ia harus menahan emosinya dan lebih mementingkan kondisi darurat pasiennya.
"Mungkin cedera dorongan, sirkulasi aman tapi saraf median tertekan. Bantalan untuk lengan, minta foto AP¹ dan lateral lengan depan, lalu segera lakukan reduksi," perintah Alby pada Fitra.
"Baik dok." Fitra segera mengambil alih pasien tersebut dan segera membawanya ke ruang tindakan.
"Di mana dokter residen lainnya?! Kenapa hanya siput dan udang saja di sini?!!" tanya Alby pada Renata dengan nada marah.
"Hari ini ada konferensi dan semua dokter residen mengikutinya," jawab Renata.
"Sialan!"
Alby segera berlari menuju pasien berikutnya.
"Pasien jatuh dari ketinggian 25 meter dan cedera kepala bagian belakang."
"Bagaimana tekanan darahnya?" tanya Alby pada salah satu regu penyelamat.
"Tekanan darahnya 80/50, pasien tidak sadar dan reflek mata sebelah kirinya hilang."
"Aku akan menangani pasien ini," ujar Renata.
"Baiklah, kuserahkan pasiennya padamu," ujar Alby.
Alby segera berlari menuju pasien terakhir diikuti Raden di belakangnya.
Belum sampai Alby menghampiri pasien terakhir, salah seorang suster berlari menghampiri Alby dan memberitahu Alby jika Fitra melakukan sebuah kesalahan dan kondisi pasiennya sedang kritis.
"Sial! Dasar siput maut!!" umpat Alby marah. "Pasien terakhir kau yang menanganinya," ujar Alby pada Raden.
"Cepat minta bantuan dokter anestesi dan dokter lain yang saat ini sedang senggang! Kita kekurangan tenaga medis!" perintah Alby oada suster tersebut.
Raden tampak terkejut namun sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya.
Alby sebetulnya khawatir meninggalkan Raden sendirian apalagi dengan kemampuan dokter koas yang seperti itu. Namun apa boleh buat, saat ini IGD kekurangan tenaga medis dan ia tidak memiliki pilihan lain selain mempercayai kemampuan Raden.
"Pria 45 tahun dengan batang penguat menembus perutnya," ujar Edo. "Lho? Di mana dokter Alby?" kaget Edo begitu bukan Alby yang menangani pasien terakhir.
"Saya akan menanganinya," ujar Raden penuh keyakinan.
*****
Alby yang saat itu sedang melakukan operasi darurat bersama Fitra pun mendapat panggilan darurat dari IGD. Salah seorang dokter pembantu menghampiri Alby.
"Ada telepon dari IGD dok."
"Aku akan menerimanya," ujar Alby dengan tetap fokus pada operasi yang dilakukannya.
"Dokter Alby, pria berusia 45 tahun. Batang penguat satu meter menembus perutnya," ujar Raden panik di seberang sana.
Dokter lain termasuk Fitra terkejut begitu mendengar perkataan Raden.
"Tetap fokus sialan!!!" bentak Alby yang membuat Fitra dan dokter lainnya kembali fokus.
"Di mana letaknya?" tanya Alby.
"Menembus dari punggung bawah ke perut kiri atas."
"Vitalnya?"
"Tensinya normal. Denyutnya 130, tidak ada pendarahan besar."
"Lakukan FAST² andai terjadi hemoperitoneum³. Jaga vitalnya, aku yang cabut batangnya," ujar Alby.
"Baik dok." Raden mematikan sambungan tw
"Kalian dengarkan? Selesaikan dalam waktu 30 menit," ujar Alby.
"Baik dok."
__ADS_1
*****
--IGD--
Tanpa sengaja salah seorang suster terpeleset dan menyenggol batang penguat tersebut, sehingga batang penguat tersebut langsung terjatuh merosot hingga keluar dari perut. Begitu batang penguat tersebut terlepas dari perut, darah langsung menyembur keluar. Raden yang berniat menghentikan batang penguat yang merosot jatuh itu pun langsung terkena semburan darah pasien tepat di wajahnya, membuatnya syok ketakutan.
"Ambil kasa!!" perintah suster Ratna yang memang diperintahkan Alby untuk membantu Raden. Selain senior dan memiliki sepak terjang dalam gawat darurat dalam waktu yang cukup lama, kemampuan suster Ratna hampir setara dengan dokter pada umumnya sehingga Alby mempercayakan suster Ratna untuk membantu Raden. Meskipun sebenarnya Alby tahu, posisi Raden lah yang membantu suster Ratna bukan sebaliknya.
"Tensinya 90/60, menurun cepat. Kecepatan infus penuh. Siapkan transfusi darah lagi!! Nit cepat panggil dokter Alby!!" perintah Ratna.
Suster bernama Nita pun segera menghubungi Alby.
"Dokter Alby, IGD menghubungi lagi. Katanya sangat mendesak."
"Jawab panggilannya."
"Batangnya jatuh tanpa sengaja, tensi turun dengan cepat dok," ujar Ratna mengabarkan kondisi pasien.
Alby memejamkan matanya menahan emosinya.
"Bodoh!" umpat Alby. Di mana udang? Udang!!!" marah Alby.
"Kau sedang apa? Dokter Alby memanggilmu!" tegur Ratna pada Raden.
"Dokter Raden!!"
"Udang!!! Sialan kau di mana?!!" Marah Alby. "Kau dengar aku tidak?!!! Kendalikan dirimu bodoh!!!"
Bentakan Alby melalui telepon membuat Raden segera tersadar.
"I...i..iya dok," gagap Raden.
"Sepuluh menit. Bertahanlah, aku akan tiba sepuluh menit lagi. Gunakan seluruh kemampuanmu untuk menjaganya tetap hidup sampai aku tiba. Paham?!!!!" marah Alby.
"Ba...baik dok," jawab Raden dengan nada bergetar ketakutan.
"Tensinya terus menurun. Suster Lia cepat ambil kasa!!!!" perintah Ratna.
"Raden apa yang kau lakukan brengsek!!! Kenapa kau hanya diam saja!!!" marah Ratna begitu Raden hanya diam saja dengan tangan bergetar ketakutan.
"Sa..saya-"
"Sialan tensinya turun lagi."
Belum sampai telepon tersebut ditutup, Alby mendengar keributan di ruang UGD tersebut.
"Sial!!! Siput kau bisa melanjutkan sisanya kan?"
"Iya dok,"
"Lakukan! Aku harus menyelamatkan pasien dari tangan udang!"
Alby langsung bergegas menuju ruang IGD. Begitu tiba ia melihat Raden yang tengah jatuh terduduk dan menangis di kakinya.
"Saya gagal menyelamatkan pasiennya dok. Pasiennya meninggal," ujar Raden di sela-sela tangisnya.
Melihat Raden yang menangis di hadapannya membuat Alby sedikit mengubah pandangannya terhadap Raden. Kenapa Raden menangis seperti ini setelah kehilangan pasiennya padahal tadi malam ia baru saja ingin membunuh Devi?
Semakin kesini, Alby semakin tidak paham dengan Raden. Tidak mungkin seorang pembunuh seperti Raden akan menangis seperti ini hanya karena ia gagal menyelamatkan pasien. Dari sini Alby yakin jika sebenarnya Raden masih memiliki hati nurani yang sewaktu-waktu bisa Alby tanamkan untuk mengampuni Devi. Ya, Alby akan membuat Raden melupakan niat jahatnya pada Devi dengan memanfaatkan sedikit celah kelemahannya.
Mulai sekarang Alby akan lebih sering meminta Raden untuk menangani pasien dengan luka berat, dengan begitu Raden akan tahu betapa susahnya perjuangan dokter menyelamatkan dan mempertahankan hidup pasien agar Raden sadar bahwa tugasnya adalah menyelamatkan nyawa seseorang bukan malah membunuhnya.
"Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha dengan baik," ujar Alby menenangkan Raden. "Sekarang kau tahu kan betapa berharganya nyawa manusia?"
*****
FYI.
Foto AP (forearm anterior-posterior view lateral) adalah salah satu dari dua proyeksi standar dalam rangkaian lengan bawah untuk menilai radius dan ulna.
FAST merupakan singkatan dari Face (wajah), Arms (tangan), Speech (cara bicara) dan Time (waktu).
Hemoperitoneum adalah perdarahan yang tidak terkontrol pada rongga perut di sekeliling organ.
__ADS_1
Cr. Google
*****