
Hari ini Alby sengaja menghubungi Laudya dan memintanya untuk datang menemuinya di rumah sakit. Ada hal yang ingin Alby tanyakan dan luruskan pada Laudya terkait foto yang Laudya kirimkan pada Renata.
Jujur saja Alby sangat terkejut mengetahui Laudya terlibat perang dingin dengan Renata hanya karena dirinya. Dan yang lebih membuat Alby tidak mengerti adalah kenapa Renata malah menanggapinya seolah Renata juga menyukai Alby? Bukankah selama ini Renata hanya menyukai Sean?
Ah sudahlah masalah ini benar-benar membuat Alby pusing tujuh keliling. Belum lagi tentang kondisi Devi, semakin membuat kepala Alby ingin pecah.
Tok! tok!
Alby mengalihkan perhatiannya pada pintu ruangannya.
"Masuk."
Terlihat Laudya yang tampak cantik dengan balutan pakaian casualnya.
Alby pun mempersilahkan Laudya untuk duduk di kursi yang berada di depan mejanya.
"Ada apa By?" tanya Laudya senang.
"Apa kau mengirim foto kita ke Renata?" tanya Alby langsung.
Senyum di wajah Laudya langsung memudar dan tergantikan raut wajah terkejutnya.
Bagaimana Alby bisa tahu? Apa Renata memberitahunya?
"Aku tahu sendiri, bukan dari Renata. Ponsel Renata tertinggal di kamar inap Devi dan aku tidak sengaja melihatnya," ujar Alby mematahkan pemikiran Laudya.
Laudya terdiam membuat Alby yakin jika memang Laudya yang mengirim foto itu pada Renata.
"Sejak kapan?" tanya Alby. "Sejak kapan kalian perang dingin seperti itu di belakangku?"
Laudya terdiam sebentar sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Alby.
"Sudah lama. Renata bilang padaku untuk menjauhimu karena dia mencintaimu tapi aku tidak mau. Aku tetap ingin bersamamu dan bahkan aku ingin mendapatkanmu," ujar Laudya jujur.
"Kau sudah mendapatkanku," terang Alby.
Laudya teringat kemarin malam saat pesta ulang tahun Jessica, Alby datang menjemputnya. Tentu saja hal itu membuat Laudya senang bukan main dan yang lebih membuatnya bahagia lagi adalah Alby mengungkapkan perasaannya padanya.
Ya! Alby bilang jika ia menyukainya!
Flashback on
Setelah membujuk Devi dengan susah payah, Alby pun berhasil pergi dari kamar inapnya dan bergegas berangkat ke rumah Laudya.
Saat Alby berjalan menuju parkiran, Alby melihat Sena yang tengah berdiri di depan mobil Alby seolah menunggu kedatangan Alby.
"Apa yang direktur lakukan di sini?" tanya Alby.
"Aku menunggumu," jawab Sena menegakkan badannya.
Alby tampak tidak nyaman melihat kedatangan direktur yang menunggunya apalagi perkataannya yang membahas mengenai kesepakatan di depan Devi membuat Alby sedikit jengkel.
"Ada apa?"
"Ungkapkan perasaanmu pada Laudya nanti malam."
"Apa?!!" tanya Alby terkejut.
"Bukankah kau bilang akan mengencani putriku maka kau boleh pindah departemen sesukamu? Aku sudah melakukan tugasku dan sekarang tinggal kau yang menyelesaikannya," jawab Sena.
"Tapi saya belum memiliki perasaan apapun pada putri anda," tolak Alby.
"Aku tidak perduli. Masalah perasaan bisa menyesuaikan. Lagi pula aku memintamu mengungkapkan perasaanmu pada Laudya bukan tanpa sebab. Semakin lama kau berada di dekat Laudya maka perasaanmu akan timbul dengan sendirinya."
"Tapi direktur-"
"Aku tidak menerima alasan. Keputusan ini kau yang buat sendiri jadi sudah sepantasnya kau jalankan apa yang pernah kau sepakati," ujar Sena berlalu meninggalkan Alby.
Alby mengusap wajahnya frustasi. Mana mungkin ia bisa menjalankan suatu hubungan tanpa perasaan? Perasaannya saat ini pada Laudya masih abu-abu dan bahkan Alby sendiri masih belum memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.
Katakanlah Alby bodoh karena membuat kesepakatan konyol seperti itu dan Alby sudah mendapatkan apa yang ia minta dari direktur jadi sekarang mau tidak mau ia harus menurutinya.
Ya, malam ini ia harus mengungkapkan perasaannya pada Laudya dan tentu saja itu bukan perasaan Alby yang sebenarnya.
Nasi sudah menjadi bubur dan kesepakatan itu sudah terlanjur dibuat, maka yang harus Alby lakukan adalah mencoba menerima dan mulai menyukai Laudya apapun yang terjadi!
__ADS_1
Flashback off
"Maka dari itu aku ingin memberitahu Renata agar ia menjaga jarak darimu By. Kau pacarku tentu saja aku cemburu jika kau dekat dengan wanita lain," ujar Laudya.
"Tapi Renata sahabatku."
"Aku tahu, tapi bukankah wajar rasa was-was muncul apalagi Renata pernah mengatakan jika ia menyukaimu? Aku percaya padamu tapi aku tidak percaya pada Renata," jelas Laudya.
"Kau sudah tahu Renata tidak menyukaiku, dia menyukai Sean."
Laudya terdiam. Apa yang dikatakan Alby benar. Kenapa bisa-bisanya Laudya melupakan hal ini?
"Lalu bagaimana dengan Devi?" tanya Laudya.
"Kenapa Devi?" tanya Alby bingung.
Laudya hendak bertanya tentang balasan pesan yang ia dapat kemarin namun ia ragu haruskah ia bertanya pada Alby atau mengatasi masalah ini sendiri dan sepertinya Alby juga tidak tahu mengenai pesan balasan kemarin.
"Ah tidak. Devi kan sangat dekat denganmu dan kau juga sering menghabiskan waktu dengannya," ujar Laudya pada akhirnya.
"Jadi kau mengkhawatirkanku dengan Devi?" tanya Alby yang diangguki oleh Laudya.
"Devi adikku. Meskipun bukan adik kandung tapi aku sangat menyayanginya dan sudah menganggapnya sebagai adik kandungku sendiri. Kau tidak mungkin memintaku untuk menjaga jarak dengan Devi kan?" tanya Alby memicingkan matanya.
Laudya yang mendengar pertanyaan Alby pun gelagapan sendiri. Laudya tidak mungkin menuntut banyak hal pada Alby disaat hubungannya masih berjalan belum genap satu hari. Mungkin lain kali di saat hubungannya sudah mulai melangkah lebih jauh, Laudya akan meminta Alby untuk mengurangi kedekatannya dengan Devi.
"Ah tidak! Bukan begitu! Aku tidak memintamu untuk menjaga jarak dengan Devi. Aku tahu Devi seperti adik kandungmu sendiri jadi kenapa aku harus cemburu dengan hubungan kalian berdua. Kau boleh berdekatan dengannya seperti sebelumnya, aku tidak masalah," jawab Laudya cepat.
Alby menganggukkan kepalanya menerima jawaban Laudya.
"Baiklah sebaiknya kau pulang, aku harus kembali bekerja. Nanti kuhubungi," ujar Alby.
Laudya menganggukkan kepalanya menyetujui Alby. Alby segera mengantar Laudya sampai parkiran rumah sakit.
Tanpa mereka sadari, Jessica mendengar semua percakapan mereka. Jessica yang niat awalnya ingin menemui ayahnya pun tidak sengaja melihat kakaknya sedang memasuki ruangan Alby. Karena Jessica yang penasaran, ia akhirnya memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka.
Jessica terkejut mengetahui kakaknya tengah menjalin hubungan dengan Alby namun ada hal yang membuatnya penasaran. Kenapa kakaknya mengkhawatirkan hubungan Alby dan Devi, apa diam-diam mereka menyimpan perasaan satu sama lain? Atau mungkin saja hanya Devi yang menyimpan perasaan pada Alby.
Aku harus cari tahu sendiri!
*****
Devi yang saat itu sedang menonton televisi pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan terlihat seorang suster menghampirinya sembari tersenyum.
"Devi apa kabar? Apa ada keluhan?" tanya suster Ratna ramah.
"Tidak ada sus," jawab Devi riang.
"Kalau begitu biar saya ganti perbannya ya?"
Devi menganggukkan kepalanya. Ia pun berbaring dan membiarkan suster Ratna melakukan pekerjaannya.
"Om Alby di mana sus?" tanya Devi.
"Dokter Alby sedang ada pasien darurat. Oh iya Dev, kau sudah tahu kalau dokter Renata hendak berangkat ke Suriah?" tanya Ratna.
Devi yang mendengarnya pun sontak terkejut dan langsung menatap ke arah Ratna.
"Benarkah? Untuk apa dokter Renata berangkat ke sana?" tanya Devi bingung.
"Menjadi relawan. Rumah sakit akan mengirim beberapa dokter ke sana dan dokter Renata salah satunya," terang Ratna.
Kenapa kak Renata tidak mengatakannya padaku kemarin?
"Sudah selesai, aku akan mengganti botol infus dan melihat luka di kepalamu," ujar Ratna yang diangguki oleh Devi.
Alby memang memerintahkan Ratna sebagai suster yang mengontrol kondisi Devi mengingat Devi yang ketakutan melihat orang asing. Setidaknya Devi dan Ratna sudah mengenal satu sama lain jadi Alby pikir lebih baik Ratna yang merawat Devi saat dirinya sedang bekerja. Selain itu, Alby juga menjadikan Ratna sebagai mata-mata apabila ada hal yang tidak beres pada Devi. Itu semata-mata Alby lakukan hanya untuk melindungi Devi.
Ceklek!
Devi menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Awalnya ia pikir itu Alby karena Alby masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, namun ternyata salah. Bukan Alby yang datang tapi Jessica.
"Apa kabar?" tanya Jessica berjalan mendekat ke arah Devi sembari bersilang dada.
"Keluar, aku malas berkelahi denganmu," usir Devi malas.
__ADS_1
"Aku ke mari ingin menjengukmu, kenapa kau kasar sekali?"
Devi memilih diam enggan menanggapi Jessica.
"Kau tahu tidak kalau dokter Alby berkencan dengan kakakku?" tanya Jessica yang langsung mendapat tatapan tajam dari Devi.
Ratna yang mengerti situasi pun berusaha menghentikan keduanya dan meminta Jessica untuk segera keluar dari kamar inap Devi sebelum Jessica berkata macam-macam pada Devi.
"Lebih baik kamu pergi sekarang, pasien sedang dalam kondisi tidak baik," usir Ratna halus.
"Tunggu sebentar. Aku janji tidak akan lama," ujar Jessica berjalan lebih dekat menuju brankar Devi.
"Aku tahu kau menyukai dokter Alby, tapi dokter Alby menyukai kakakku. Mereka sudah berpacaran jadi kuharap jaga batasanmu kalau kau tidak mau aku mengganggumu lagi," desis Jessica.
Setelah mengatakan hal itu, Jessica pun berbalik dan melangkahkan kakinya keluar. Namun sebelum itu, Jessica menghentikan langkahnya dan berbalik mengejek ke arah Devi.
"Aku sangat kasihan padamu, satu-satunya orang yang perduli padamu sebentar lagi akan menelantarkanmu sendirian dan memilih hidup bahagia bersama kakakku. Harusnya kau menuruti perkataanku-"
"Diam!!!" teriak Devi namun Jessica malah tertawa bahagia.
"Mati saja sana biar berkumpul bersama keluargamu!" lanjut Jessica sembari berlari begitu Devi melempar bantalnya ke arah Jessica dengan marah.
"Diam!!!!"
"Dev, tenanglah," bujuk Ratna menenangkan Devi yang semakin menjadi.
Ratna pun segera menghubungi Alby melalui ponselnya agar segera datang untuk menenangkan Devi.
"Dev tenanglah, temanmu sudah pergi. Kau tidak boleh seperti ini, luka operasimu belum sepenuhnya pulih," ujar Ratna memeluk Devi.
"Dia bukan temanku!!"
Devi pun menghentikan aksinya dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Ratna.
"Aku tidak mau mati," tangis Devi tersedu-sedu.
"Tidak ada yang menginginkamu mati Dev. Jangan dengarkan ucapannya," ujar Ratna menenangkan Devi.
"Tapi Jessica selalu memintaku untuk mati," ujar Devi berlinang air mata. "Apa aku tidak pantas untuk hidup?"
"Tidak, kau jangan berpikiran seperti itu. Kau berhak dan sangat pantas untuk hidup."
Brak!
"Ada apa ini?" tanya Alby khawatir dan langsung bergegas menuju brankar Devi dan langsung memeluknya menggantikan Ratna.
Ratna pun berbisik pada Alby dan menceritakan apa yang baru saja dialami oleh Devi. Alby yang mendengarnya pun langsung mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Om aku tidak mau mati," ujar Devi menatap Alby dengan mata sembabnya.
"Aku juga tidak akan mengijinkanmu mati sampai kapanpun. Jangan dengarkan Jessica," ucap Alby menenangkan Devi dan memberi kode pada Ratna agar meninggalkan mereka berdua.
"Om, aku menangis bukan karena aku lemah. Aku menangis hiks karena aku sangat marah dan tidak bisa mengontrol emosiku hiks," jelas Devi menjelaskan apa yang ia rasakan karena jujur saja Devi tidak ingin terlihat lemah di hadapan Alby. Devi ingin terlihat sempurna di mata Alby.
"Iya, tidak apa-apa. Menangislah," ujar Alby lembut dan mencium puncak kepala Devi.
"Tempat tidurnya jadi berantakan," cicit Devi sembari mengusap air matanya.
"Tidak apa-apa nanti biar kurapikan. Masih mau menangis lagi tidak?" tanya Alby lembut. Devi hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Yasudah kalau begitu berbaring dan istirahatlah. Besok kau sudah boleh pulang," tutur Alby membantu Devi berbaring di atas tempat tidurnya setelah Alby merapikannya.
"Pulang?"
"Iya."
"Ke mana?"
"Kau akan tahu besok," jawab Alby sembari tersenyum.
Alby pun segera mengganti infus Devi yang belum sempat diganti oleh Ratna karena kedatangan Jessica yang membuat Devi mengamuk.
Lagi! Lagi-lagi Jessica mengucapkan perkataan seperti itu. Tidak tahukah Jessica jika Devi sedang menderita PTSD yang sewaktu-waktu bisa membuatnya bunuh diri?
Alby harus segera menghentikan Jessica!
__ADS_1
"Jessica, cara seperti apa yang pantas untuk menghentikanmu?!!" desis Alby dalam hati.
*****