
"Berapa hari?"
"Tiga hari om," jawab Devi sembari memasukkan pakaiannya ke dalam tas besarnya.
Alby terdiam. Ia tidak ingin berpisah dengan Devi meskipun itu hanya tiga hari saja, tapi Alby tidak memiliki pilihan lain selain mengijinkan Devi pergi apalagi untuk kegiatan kuliah.
"Kenapa tidak kuantar jemput saja?"
"Tidak om. Rumah sakit dan kampusku tidak searah. Aku tidak mau merepotkan om Alby, lagipula bukankah tiga hari ke depan om Alby sangat sibuk? Om Alby memiliki jadwal operasi dengan pasien-pasien om Alby kan? Om Alby tenang saja, ini hanya tiga hari setelah itu aku akan pulang," bujuk Devi agar Alby membiarkannya pergi.
"Bagaimana kamu bisa tidur kalau tidak boleh membawa Toto?" tanya Alby khawatir.
"Aku membawa ini saja," ujar Devi sembari menunjukkan gantungan kunci berupa boneka katak kecil berwarna hijau.
"Dari mana itu?"
"Aku membelinya kemarin. Ayo kita berangkat om."
Alby menghela nafasnya pelan. Melihat hal itu, Devi pun langsung mencium pipi Alby sekilas dan memeluknya erat.
"Aku hanya pergi tiga hari saja kenapa om Alby sangat sedih seperti ini?"
"Aku tidak mau kamu pergi," ujar Alby mengisyaratkan sesuatu.
"Om ayo berangkat sekarang nanti telat. Aku tidak mau dimarah-marahi karena datang terlambat," ujar Devi mengabaikan perkataan Alby.
Devi menarik tangan Alby agar segera bergegas mengantarnya pergi ke kampus. Mau tidak mau Alby pun mengantar Devi pergi ke kampus dan membiarkan Devi tidur di sana selama tiga hari.
"Malam ini aku tidur dengan Toto saja," lirih Alby yang dapat didengar oleh Devi.
Devi yang mendengarnya pun tersenyum simpul.
*****
Devi menunggu dengan gelisah kedatangan Raden. Devi memang sengaja berbohong pada Alby jika ia sedang melaksanakan ospek fakultas di kampusnya padahal kenyataannya Devi sedang menyelidiki semua tentang kekhawatirannya.
Devi ingin mencari tahu kebenarannya dan langkah awal yang ia pilih adalah bertemu dengan Raden. Devi ingin tahu lebih jauh mengenai penyakit yang diderita ibunya Raden mengingat itu adalah penyakit yang sama diderita oleh ibunya Rea.
Awalnya Devi menganggap kebetulan saja ibunya Rea dan Raden memiliki penyakit yang sama namun begitu Devi melihat kedatangan Alby yang mengurus semua prosesi pemakaman hingga jumlah ginjal ibunya Rea yang hanya ada satu membuat Devi berpikir macam-macam.
Alby tidak terlibat dengan sesuatu yang dicurigainya kan?
"Dev," sapa Raden begitu ia masuk ke dalam ruangan.
"Kak Raden. Kak Raden apa kabar?" tanya Devi berbasa-basi.
"Baik. Ada apa kau ke mari? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Raden khawatir. "Kenapa kau membawa tas besar seperti itu? Kau ingin pergi ke mana?"
"Ah ini hanya pakaianku kak, aku ingin menginap di rumah om Alby yang di desa," alibi Devi.
"Oh begitu, tapi kenapa dokter Alby tidak mengantarmu? Apa kalian bertengkar?"
"Tidak kak, kami baik-baik saja. Om Alby sangat sibuk. Dia tidak punya waktu untuk mengantarku," jawab Devi sembari tertawa kecil.
__ADS_1
"Baiklah, ada apa? Kau ke mari pasti ada hal yang ingin kau tanyakan kan?"
Devi terdiam. Ia meremas ujung roknya pelan.
"Aku ingin tahu secara detail penyakit yang menyerang ibunya kak Raden," jawab Devi yang membuat Raden langsung terkejut.
"Kak Raden seorang dokter jadi itu bukan hal sulit untuk menjelaskannya padaku kan?"
"Untuk apa?"
"Ha?"
"Untuk apa kau ingin tahu? Bukankah semuanya sudah dikubur rapat-rapat dan tidak boleh dibuka kembali? Kau sudah sembuh dari traumamu dan sudah sepantasnya kau melupakan itu semua," ujar Raden menatap Devi sungguh-sungguh.
"Bukankah tidak adil untuk semua korban jika masalah itu ditutup?" lirih Devi.
"Ada apa?" tanya Raden yang tidak begitu jelas mendengar suara pelan Devi.
"Tidak ada. Aku hanya membantu temanku untuk mencari tahu lebih dalam mengenai penyakit itu," dusta Devi.
"Teman?"
"Hm. Kami bertemu di kampus secara tidak sengaja lalu kami menjadi dekat. Dia sahabatku dan aku merasa tidak enak jika menolak permintaannya." Devi menghela nafasnya pelan agar Raden lebih mempercayai perkataannya. "Dia ini yang membantuku kabur kemari tempo hari tanpa sepengetahuan om Alby lho kak," lanjut Devi sembari tertawa kecil.
Berbeda dengan Devi yang memasang wajah jenakanya, Raden justru menatap Devi dengan serius.
"Ini bukan untukmu kan? Jika kau ingin tahu tentang penyakit itu hanya untuk membuka kembali masalah lama, aku tidak akan memberitahumu."
"Bukan-bukan! Ini bukan untukku. Kalau kak Raden tidak percaya, kak Raden tanya sendiri saja padanya. Aku membawanya ke mari. Lagipula aku juga sudah tidak ingin mengulik kembali masa lalu itu," sanggah Devi.
"Coba bawa ke mari," ujar Raden pada akhirnya.
Devi pun bangkit berdiri dan memberi isyarat pada temannya untuk masuk ke dalam.
Raden yang melihat Devi benar-benar membawa temannya pun mulai percaya jika Devi memang benar ingin membantu temannya.
"Kak perkenalkan ini Lino, temanku," ucap Devi memperkenalkan Lino pada Raden.
Lino pun mengangguk sopan begitu juga dengan Raden yang membalasnya dengan senyuman ramah.
"No, ini kak Raden. Semua yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja pada kak Raden. Dia ini dokter hebat lho jadi tidak salah aku merekomendasikan kak Raden untuk menjadi sumber informasimu."
"Kau ini pintar sekali mengarang. Aku bahkan belum lulus dari dokter koas," ujar Raden tertawa kecil. "Kenapa tidak bertanya pada dokter Alby? Dokter Alby jauh lebih pintar dan berpengalaman daripada aku," tanya Raden pada Devi.
"Om Alby tidak akan mau membantu Lino," ujar Devi. "Dia sangat marah kemarin saat tahu aku pergi ke rumah Rea dengan Lino. Om Alby sangat pecemburu kak," ucap Devi dengan nada lirih.
Raden tertawa kecil mendengarnya. Ia pun mempersilahkan Lino untuk bertanya apa yang ingin ia tanyakan, namun sebelum itu Raden memberi isyarat pada Devi agar Devi keluar dan tidak mendengarkan apapun pembicaraan mereka.
Devi pun menurutinya. Ia sudah antisipasi ini sebelumnya. Devi sengaja meminta bantuan Lino agar pura-pura meminta bantuan Raden untuk penelitiannya karena Devi tahu Raden tidak akan memberitahunya tentang penyakit ibunya dan apa yang dipikirkan Devi memang benar. Raden tidak mau memberitahunya.
"Akan kuberitahu semua yang ingin kau ketahui tentang penyakit ibuku tapi aku ingin bertanya satu hal padamu," ujar Raden pada Lino.
Lino mendengarkan dengan seksama pertanyaan apa yang akan diberikan oleh Raden.
__ADS_1
"Ini bukan tugas kuliahmu kan? Kau kemari karena diminta oleh Devi kan?"
*****
Sepanjang perjalanan Devi dengan serius mendengarkan setiap penjelasan Lino mengenai penyakit yang diderita ibunya Raden. Meskipun banyak istilah-istilah medis yang tidak ia ketahui tapi Devi sedikit banyak mengerti tentang apa yang diderita ibunya Raden.
"Untung saja aku bisa meyakinkan kak Raden kalau ini untuk mengerjakan tugas kuliah. Kau tahu bagaimana ekspresi kak-" Ucapan Lino terhenti begitu ia melihat Devi yang tengah menghembuskan nafasnya dalam sembari membuang pandangannya ke arah lain. "Ada apa?"
"Jadi sama ya?" lirih Devi.
"Apanya?" tanya Lino yang tidak mengerti dengan maksud perkataan Devi.
"Penyakit yang diderita ibunya kak Raden dengan Rea sama," jawab Devi pelan.
"Beda kok penyebabnya. Ibunya Rea kan terkena GFR karena tekanan darah tinggi sedangkan ibunya kak Raden karena virus hepatitis B," ujar Lino.
"Iya tapi mereka sama-sama hanya memiliki satu ginjal No! Satu fakta itu saja sudah cukup untuk memvalidasi pikiranku."
Lino mendesah pelan. Ia tidak tahu tujuan Devi mencari tahu tentang penyakit yang diderita ibunya Raden dan juga Rea. Lino hanya diberitahu oleh Devi jika ia benar-benar membutuhkan informasi tersebut untuk mengungkapkan sebuah kebenaran. Namun kebenaran apa itupun Lino juga tidak tahu.
"Lalu sekarang apa?" tanya Lino.
"Tidak ada. Terima kasih atas bantuanmu No, kali ini sudah sampai sini saja kau membantuku. Aku benar-benar berhutang budi padamu."
Lino menganggukkan kepalanya sebagai jawaban meskipun ia tidak puas dengan ucapan Devi. Lino benar-benar penasaran dengan apa maksud Devi mencari tahu tentang penyakit tersebut.
"Dev."
"Hm?"
"Kalau aku tanya tentang tujuanmu mencari tahu ini semua apakah kau akan memberitahuku?"
Devi menatap Lino dengan perasaan bersalah yang kentara sembari menggelengkan kepalanya tanda ia menolak memberitahu Lino alasan sebenarnya.
"Oke, aku tidak akan memaksamu. Kalau begitu aku pamit. Kau hati-hati ya," pamit Lino sembari melambaikan tangannya ke arah Devi.
Devi membalas lambaian tangan Lino sembari tersenyum.
Setelah kepergian Lino, Devi pun segera memesan taksi. Selang beberapa menit menunggu, taksi pesanan Devi pun tiba.
Devi segera masuk ke dalam taksi dan menyampaikan tujuannya pada sopir taksi tersebut.
"Jl. Pahlawan no.16 ya pak."
"Baik non. Itu rumah pak Banyu Wardhana ya non?"
"Iya pak, bapak kenal?" tanya Devi sedikit terkejut karena rupanya sopir taksi tersebut mengenal ayahnya.
"Iya non. Pak Banyu dulu adalah majikan saya. Saya dulu bekerja sebagai sopir di rumah beliau," ujar sopir taksi tersebut.
Begitu sang sopir taksi membalikkan badannya menghadap Devi, mata Devi lansung terkejut begitu ia melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Pak Santo?" tanya Devi terkejut.
__ADS_1
"Non Devi ingat saya?"
*****