
Setelah satu setengah jam berkutat dengan soal ujian nasionalnya, akhirnya satu mata pelajaran berhasil Devi selesaikan tanpa kesulitan.
Begitu bel berbunyi, Gara dan Arin langsung menghampiri Devi untuk mengajaknya pulang bersama.
"Bagaimana?" tanya Gara begitu ia berdiri di depan meja Devi.
"Apanya?" bingung Devi.
"Rencananya. Apa om Alby cemburu padamu karena kau membawa kak Raden ke rumahnya?" tanya Gara penasaran.
"Berhasil," jawab Devi sembari tersenyum senang.
"Berarti hubunganmu dengan om Alby sudah membaik ya?" tanya Arin ikut senang.
"Heem. Oh iya kemarilah, kuberitahu sesuatu," ujar Devi meminta Gara dan Arin mendekat ke arahnya.
"Om Alby menyukaiku!"
"Apa?!!!" pekik Arin terkejut.
"Aku serius," ucap Devi seraya tersenyum.
Gara menatap Devi dengan senyuman lebarnya dan bahkan Gara juga mengacungkan jari jempolnya ke arah Devi.
"Terima kasih Gara," ujar Devi tulus.
"Sama-sama. Kalau begitu ayo kita pulang, om Alby pasti sudah menunggumu," ajak Gara yang diangguki oleh Devi dan Arin.
Mereka pun berjalan keluar kelas. Begitu berada di ambang pintu, Gara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Arin dan juga Devi.
"Ada apa?" bingung Devi.
"Aku ingin ke toilet sebentar, kalian duluan saja," ujar Gara.
"Tidak masalah, kita tunggu di sini saja, kau pergi saja ke toilet," ujar Arin.
Gara pun menganggukkan kepalanya menyetujui Arin. Detik berikutnya Gara langsung menitipkan ponsel dan tasnya pada Arin, setelah itu ia bergegas menuju kamar mandi.
"Kau betulan tidak mau menerima Gara menjadi pacarmu?" tanya Devi.
"Aku sudah punya pacar."
"Kak Fitra dan Gara pilih mana?" goda Devi.
"Aku tidak bisa memilihnya," jawab Arin.
"Berarti kau juga menyukai Gara!"
"Diamlah! Jangan berkata keras-keras nanti ada-"
"Dev."
Arin dan Devi sontak memutar tubuh mereka ke arah sumber suara. Di belakangnya kini ada Jessica sendirian tanpa teman-temannya yang biasanya berjalan mengikutinya.
"Kau memanggilku?" tanya Devi sinis.
"Bisa ikut denganku ke halaman belakang sekolah?" tanya Jessica langsung.
"Tidak mau!" tolak Devi mentah-mentah.
"Kenapa kau mengajak Devi ke halaman belakang sekolah? Kau pasti ingin mengajaknya berkelahi lagi ya?" curiga Arin.
"Tidak. Kalau kau juga ingin ikut silahkan, aku hanya diminta seseorang untuk membawa Devi ke halaman belakang sekolah," jawab Jessica datar.
Devi mengernyitkan dahinya pelan. Ini bukan Jessica yang biasanya. Jessica yang ia kenal akan langsung mencari gara-gara dengannya atau malah mungkin langsung menyerangnya. Namun Jessica kali ini ia cukup tenang dengan wajahnya yang tampak sendu? Entahlah tapi Devi merasa ada sesuatu yang salah dengannya kali ini.
"Baiklah aku akan ke sana," ujar Devi pada akhirnya.
"Tidak! Kenapa kau menurutinya? Bagaimana jika ia macam-macam padamu?" tolak Arin.
"Kita kan berdua, Jessica sendirian. Sudah pasti kita yang menang kalau Jessica mengajakku berkelahi," bisik Devi pada Arin.
"Kalau ternyata di halaman belakang sekolah sudah ada teman-temannya bagaimana? Kau ingin kita babak belur dikeroyok ramai-ramai?" balas Arin.
"Kalau begitu kau di sini saja tunggu Gara. Nanti kalau aku belum kembali kau cepat susul aku bersama Gara," jawab Devi yang membuat Arin mau tidak mau menurutinya. Padahal dalam hati Arin ia sama sekali tidak menyetujui ide Devi. Entahlah tiba-tiba saja perasaannya tidak nyaman.
__ADS_1
"Di mana?" tanya Devi pada Jessica.
"Ikuti aku."
*****
Devi berjalan mengikuti Jessica dari belakang. Keduanya hanya diam saja tanpa membuka pembicaraan satu sama lain. Devi juga tidak melihat tanda-tanda teman Jessica muncul, berarti Jessica memang tidak membawa teman-temannya ke mari.
Suasana sekolah juga sudah mulai sepi mengingat hari ini ujian nasional, mereka memilih untuk segera pulang ke rumah untuk belajar.
Devi sedikit bingung begitu melihat pintu gerbang halaman belakang yang terbuka pada salah satu sisinya. Tidak biasanya gerbang belakang sekolah dibuka karena jika gerbang tersebut dibuka sudah dapat dipastikan hal itu dimanfaatkan oleh siswa nakal untuk membolos sekolah.
"Kau ingin mengajakku ke mana?" tanya Devi pada Jessica.
Jessica hanya diam saja karena jujur saja ia juga tidak tahu tujuan kakaknya menyuruhnya membawa Devi ke halaman belakang sekolah.
Bugh!
Brak!
Jessica tersentak kaget, ia langsung membalikkan badannya begitu ia mendengar suara pukulan benda tumpul pada tubuh seseorang. Mungkinkah seseorang tiba-tiba menyerang Devi?
"Arin!!" pekik Gara begitu melihat Arin jatuh pingsan dengan kepala bagian belakangnya mengeluarkan banyak darah.
Devi terkejut bukan main, ia tidak menyangka Arin mendorong tubuhnya dan menggantikannya menerima pukulan tongkat baseball dari pria berpakaian hitam yang ternyata bersembunyi di balik pohon.
Devi bangkit bangun. Tubuhnya bergetar ketakutan begitu ia melihat kepala Arin mengeluarkan darah.
Darah!
Bayangan masa lalunya kembali berputar memenuhi kepalanya. Tubuhnya bergetar dan dadanya terasa sesak. Devi berusaha bangkit berdiri namun tubuhnya tidak kuat.
"Arin," lirih Devi sembari menangis.
Gara langsung memeluk tubuh Arin dan berteriak meminta pertolongan.
"Tolong!!! Ada seseorang terluka di sini!!! Tolong panggil ambulance!!!"
"****!" umpat pria berpakaian hitam tersebut begitu ia tahu ia salah sasaran.
Pria misterius itu tidak tinggal diam. Dia segera berlari ke arah Devi dan langsung membekap mulut Devi.
Gara yang melihat hal tersebut langsung melepaskan pelukannya pada Arin dan berniat menolong Devi yang kini berontak minta dilepaskan.
"Lepaskan saya!!!! Gara!!!!"
Bugh!
"Argh!! Kau ingin mati?!!" marah pria berpakaian hitam itu pada Gara.
Gara memukul punggung pria misterius tersebut menggunakan tongkat yang sebelumnya pria itu gunakan untuk memukul Arin sehingga bekapannya pada mulut Devi terlepas.
"Dev lari!!!" teriak Gara.
Devi langsung memanfaatkan hal tersebut untuk melarikan diri. Namun baru beberapa langkah ia melarikan diri, salah satu teman dari pria tersebut langsung mencekal tangannya dan menariknya agar masuk ke dalam mobil yang ternyata sudah siap sedia di luar gerbang.
Devi langsung menggigit lengan pria itu yang membuat pria itu berteriak kesakitan dan melepaskan cekalan tangannya pada Devi. Devi segera berlari ke arah Gara untuk menyelamatkan diri.
Gara hendak menolong Devi lagi namun pria misterius itu menghadang langkahnya bahkan pria tersebut terlibat perkelahian dengan Gara, pada perkelahian tersebut Gara kalah dan dihajar habis-habisan hingga ia tidak berdaya.
"Gara!!!! Saya mohon jangan pukuli Gara!!! Saya mohon!!" teriak Devi histeris sembari memeluk Gara yang tergeletak di tanah.
Bugh!
Pria itu kembali menendang perut Gara yang membuat Devi semakin berteriak histeris.
"Hentikan!!! Jangan sakiti Gara!!!!"
Sial! Ke mana guru-guru yang lain!!
Devi terus memeluk tubuh Gara begitu pria tersebut menarik tangannya dan menyeretnya pergi.
Plak!
__ADS_1
Pria tersebut menampar pipi Devi hingga pelukan Devi pada Gara terlepas. Tubuh Gara yang sudah lemah pun tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan Devi selain air mata yang mulai menetes begitu melihat sahabatnya dibawa pergi pria asing itu.
"Lepaskan saya!!!" raung Devi sembari menangis keras begitu ia melihat kedua temannya sudah terkapar penuh darah di tanah.
"Lepaskan saya!!!" Devi menggigit lengan pria yang mencekalnya hingga cekalan di lengannya berhasil terlepas. Setelahnya Devi segera berlari menyelamatkan diri. Namun lagi-lagi karena tubuhnya yang masih bergetar ketakutan begitu melihat darah, langkahnya menjadi tidak beraturan hingga ia jatuh tersungkur ke tanah.
Kedua pria tersebut langsung menarik kedua lengan Devi agar Devi berdiri lalu menyeretnya menuju mobil.
"Lepaskan saya!!! Tolong!!!!"
"Diam atau kurobek mulutmu!!!" bentak salah satu pria tersebut.
"Saya akan ikut pergi dengan kalian, tapi saya mohon selamatkan teman-teman saya dulu. Mereka terluka. Tolong hubungi ambulance," pinta Devi mengiba.
Kedua pria tersebut tidak menggubris permintaan Devi membuat Devi pias. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Gara dan Arin?!
Satu-satunya orang yang masih dapat berdiri tegak dan tidak terluka adalah Jessica. Devi menatap Jessica iba seolah ia meminta pertolongan.
Jessica yang syok dengan kejadian yang ada di hadapannya hanya diam saja tanpa tahu harus berbuat apa. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, apakah ini alasan kakaknya menyuruhnya membawa Devi ke halaman belakang sekolah? Kakaknya ingin menculik Devi? Tapi kenapa?
"Tolong selamatkan teman-temanku!" teriak Devi penuh harap pada Jessica.
Melihat Jessica yang masih diam bergeming pun membuat Devi putus asa. Hingga pada akhirnya kedua pria tersebut memasukkan Devi ke dalam mobil SUV hitam yang terparkir di depan pintu gerbang.
Brak!
Devi meringis kesakitan begitu kedua pria tersebut melemparnya masuk ke dalam mobil hingga ia terbentur kaca mobil.
"Lepaskan saya, saya mohon," pinta Devi sembari menangis begitu pria tersebut mengikat kedua tangan dan kaki Devi menggunakan tali.
"Tolong!!!!" teriak Devi sembari berontak agar kedua pria tersebut kesulitan mengikat kaki dan tangannya.
Plak!!!
Pria tersebut menampar Devi dengan kuat hingga Devi pingsan karena kepalanya terbentur pintu mobil hingga sudut bibirnya terluka dan mengeluarkan darah.
Setelah mengikat Devi, kedua pria tersebut segera pindah ke bagian kemudi dan langsung menjalankan mobilnya meninggalkan halaman belakang sekolah Devi.
"Kita jemput Laudya dulu."
*****
Alby yang saat itu berlari menuju sekolah Devi pun menghentikan langkahnya begitu ia melihat sebuah mobil suv warna hitam terlihat melintasi jalan kecil yang berada di samping sekolah Devi dengan curiga.
Alby mengamati mobil SUV hitam tersebut sebelum pada akhirnya ia melihat mobil tersebut berhenti di tempat Laudya.
Drt....drt...
Alby merogoh ponselnya dan langsung menjawab panggilan dari orang yang ia tugaskan menyelidiki Laudya.
Tanpa menunggu lama lagi, Alby langsung menjawab panggilan tersebut.
"Devi diculik mobil SUV warna hitam dengan nomor polisi *****. Saya sedang membawa teman-teman Devi menuju rumah sakit. Mereka terluka parah."
"Aku titip teman-teman Devi padamu." Setelahnya Alby langsung mematikan sambungan teleponnya.
Alby yang paham pun langsung kembali ke kafe di mana ia memarkirkan mobilnya di sana. Alby langsung masuk ke dalam dan mengegas mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil suv hitam tersebut.
"Sial!!"
Alby terus mengumpat begitu ia sadar jika ia kecolongan lagi untuk yang kedua kalinya. Dengan gesit Alby menyalip kendaraan yang ada di depannya bahkan Alby mengabaikan umpatan pengendara lain begitu Alby sengaja memotong jalan mereka.
Kini Alby dapat melihat mobil SUV warna hitam itu yang berjarak beberapa meter di depannya. Alby pun berusaha mempersempit jarak mereka.
Alby sangat mengkhawatirkan Devi. Bagaimana kondisi Devi saat ini? Apa ia akan bergetar ketakutan? Apa bayangan masa lalunya juga ikut terputar kembali di memori otaknya karena ia kembali mengalami hal yang pernah ia alami dulu?
Semakin lama Alby mengikuti mobil tersebut semakin jauh pula Alby keluar dari daerah kota. Kini Alby memasuki hutan belantara dengan jalan tanah seukuran mobil dengan pepohonan yang menjulang tinggi di pinggir jalan.
Alby memelankan laju kendaraannya agar mereka tidak mengetahui jika Alby mengikuti mereka. Alby segera menghubungi Raka dan meminta bantuan Raka untuk datang menyusulnya dengan beberapa polisi.
Alby sengaja meminta bantuan pada Raka karena hanya Raka-lah yang pernah bertemu Devi secara langsung. Dalam kondisi seperti ini Alby tidak ingin Devi tambah ketakutan begitu ia bertemu orang asing sekalipun orang asing tersebut berniat menyelamatkannya. Selain itu hanya Raka-lah yang tahu tentang kondisi Devi. Jadi meminta bantuan Raka adalah solusi yang tepat.
"Takkan kubiarkan seseorang menyakitimu walaupun seujung kukumu. Tunggu aku, aku akan datang menyelamatkanmu," desis Alby.
*****
__ADS_1