Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Rindu


__ADS_3

Devi menggeliat dalam balutan selimut hangatnya. Kedua matanya masih terasa berat sekali untuk dibuka namun serangan dari sinar matahari dari kaca jendelanya membuatnya tidak nyaman.


Tangan Devi meraba-raba berniat mencari boneka Totonya untuk menghalau sinar matahari tersebut dari matanya namun ia tidak berhasil mendapatkannya. Sepertinya ada seseorang yang sengaja mengambilnya. Tapi siapa?


"Dev bangun!"


Devi menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya dan melanjutkan tidurnya kembali namun seseorang tiba-tiba menarik selimut hangatnya.


"Cepat bangun!" perintah Alby.


"Lima menit lagi om, kemarin aku tidak bisa tidur biarkan aku tidur sebentar lagi. Lagipula ini hari minggu," rengek Devi tanpa mau membuka matanya.


"Aku akan mengantar Renata ke bandara, kau ikut tidak?" tanya Alby yang langsung membuat Devi membuka kedua matanya lebar-lebar.


"Aku ikut!!" ujar Devi sembari cepat-cepat bangun dari ranjangnya dan berlari menuju kamar mandi.


"Om tunggu aku sebentar oke?!! Kau jangan meninggalkanku om!!" teriak Devi dari balik pintu kamar mandi.


"Setengah jam tidak selesai kutinggal," ucap Alby yang membuat Devi berteriak panik.


"Beri aku waktu satu jam om!!!" teriak Devi dari dalam kamar mandi.


"Baiklah, satu jam. Terlambat satu detik saja kutinggal," ujar Alby.


*****


Sebelum berangkat ke bandara, Alby dan Devi pun menjemput Renata terlebih dahulu di rumahnya. Selama berada di perjalanan keduanya hanya saling diam karena Alby memerintahkan Devi untuk belajar dengan buku yang ia paksa bawa.


Untung saja Devi tidak membantah saat Alby memerintahkannya untuk belajar jadi Alby tidak perlu repot-repot mengeluarkan emosinya di pagi hari.


"Om, seorang bayi memiliki otot jantung yang tidak berfungsi dengan normal sehingga sirkulasi darah dalam tubuhnya terganggu. Kemungkinan bayi tersebut mengalami gangguan perkembangan lapisan embrional bagian apa?" tanya Devi.


"Kau jawab apa?" tanya Alby.


"Aku tidak tahu mangkanya aku bertanya padamu om. Om Alby kan dokter," jawab Devi.


"Ada pilihan gandanya kan? Coba kau cari tahu jawabannya dengan otakmu sendiri lalu beritahu aku apa jawabannya," jawab Alby tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.


Devi yang mendengarnya pun mengerucutkan bibirnya kesal dengan jawaban Alby, namun ia tetap berusaha mencari jawabannya.


"Jawabannya di endoderm, benar tidak om?" tanya Devi.


"Kenapa kau memilih jawaban endoderm?" tanya Alby.


"Aku menebaknya saja hehe," jawab Devi dengan disertai cengirannya.


Alby pun menoleh dan menatap galak kearah Devi.


"Jika kau seorang dokter, pasienmu pasti akan mati karena kau asal tebak dan salah diagnosis," komentar Alby.


"Aku tidak tahu jawabannya om! Di bukuku juga tidak ada pembahasan materinya tentang lapisan tubuh," ujar Devi sebelum Alby mengomelinya lagi.

__ADS_1


"Kenapa bisa tidak ada? Bukankah itu materi kelas 12? Seharusnya di bukumu ada," ujar Alby.


"Aku merobeknya saat aku bertengkar dengan kak Sean," jawab Devi pelan.


Alby pun terdiam dan menghela nafasnya pelan sebelum pada akhirnya ia menjawab soal Devi.


"Ambil kertas dan pulpenmu, aku tidak akan mengulanginya dua kali," perintah Alby yang langsung dilaksanakan oleh Devi.


"Lapisan embrional itu pada dasarnya dibagi menjadi 3 bagian, yaitu endoderm, mesoderm, dan ectoderm-"


"Pelan-pelan om!" potong Devi sembari mencatat apa saja yang dikatakan Alby.


"Endoderm merupakan lapisan embrional yang ada di bagian dalam. Sel-sel di lapisan endoderm bakal berkembang menjadi sel-sel yang menyusun organ-organ di sistem pencernaan dan pernapasan. Mesoderm berada di bagian tengah-tengah dan bisa berkembang jadi jaringan otot dan darah. Ectoderm merupakan lapisan yang berada di luar. Ectoderm bakal berkembang menjadi sistem saraf dan epidermis kulit. Jadi menurutmu apa jawabannya?" tanya Alby.


"Emmm."


Alby pun mengambil kertas yang berada di tangan Devi dan melihatnya.


"Kau tidak mencatat apa yang baru saja kujelaskan padamu?!! Sebenarnya apa yang kau dengarkan dari tadi?!!" tanya Alby menatap tidak percaya kearah Devi.


Bagaimana bisa ia sudah menjelaskan jawabannya panjang lebar namun tidak ada satu kata pun yang berhasil Devi tulis?


"Om Alby mengatakannya terlalu cepat jadi aku tidak bisa mencatatnya," protes Devi tidak terima.


"Jangan menyalahkan orang lain! Salahkan otak dan tanganmu yang lambat!" balas Alby.


"Wah aku benar-benar sakit hati om," ujar Devi kesal. "Sudahlah aku tidak jadi bertanya!" lanjut Devi menutup buku pelajarannya.


Alby yang melihat Devi seperti itu pun merasa bersalah. Alby sadar perkataannya sudah keterlaluan. Lihatlah sekarang, Devi marah padanya. Tapi gadis SMA ini benar-benar menguras kesabarannya.


Devi yang mendengarnya pun menoleh kearah Alby dan saat itu Alby juga menoleh kearahnya.


"Maaf," ujar Alby.


"Oke dimaafkan," ujar Devi riang seolah tidak terjadi hal yang tidak mengenakkan sebelumnya.


Alby pun tersenyum begitu melihat Devi tidak marah padanya.


"Kita persingkat saja agar kau mudah memahaminya. Lapisan embrional ada tiga, pertama lapisan endoderm. Endoderm berada di lapisan dalam, dia menyusun organ-organ di sistem pencernaan dan pernapasan. Kedua, mesoderm, dia bisa berkembang menjadi jaringan otot dan darah. Ketiga, ectoderm. Dia ada di luar dan berkembang menjadi sistem syaraf dan epidermis kulit, sudah?" tanya Alby begitu ia mengulangi jawabannya dengan amat pelan.


"Sudah, jadi jawabannya mesoderm ya om?" tanya Devi yang diangguki oleh Alby.


"Sepertinya kau lemah dalam pelajaran IPA," ujar Alby.


"Aku buruk dalam mengingat om," jawab Devi mengiyakan.


"Kalau begitu kau harus sering-sering mempelajarinya agar dapat menguasai materinya. Lagi pula besok kau sudah mulai try out," pesan Alby.


"Siap om," jawab Devi.


"Ehm. Kalau boleh tahu kenapa kau sering bertengkar dengan kakakmu?" tanya Alby ragu-ragu.

__ADS_1


"Dia menyebalkan. Jarang pulang ke rumah tapi selalu mengekangku bahkan sepertinya ia punya mata-mata untuk mengikutiku karena ia selalu tahu apa saja yang kulakukan. Setiap hari selalu memaksaku untuk belajar, padahal di usiaku yang sekarang harusnya yang kulakukan adalah bermain kan om?"


"Bermain apanya? Justru di usiamu yang sekarang sudah bukan waktunya untuk bermain-main lagi. Kau sudah beranjak dewasa tentu kau harus mulai menata masa depanmu. Mau lanjut kuliah dimana, kerja dimana, mau jadi apa, di umurmu yang sekarang kau sudah harus mulai memikirkannya dan berhenti bermain-main. Main-main hanya untuk anak kecil dan aku yakin kau tidak ingin dipanggil anak kecil bukan?"


"Tapi mau sekolah setinggi apapun dan dimanapun pasti ujung-ujungnya menjadi ibu rumah tangga kan om? Kalau begitu aku jadi ibu rumah tangga saja om jadi aku tidak perlu repot-repot belajar dan kuliah," ujar Devi.


"Tidak akan ada yang mau menikahi pengangguran sepertimu. Biarpun jadi ibu rumah tangga, kau harus tetap menjadi orang yang berpendidikan tinggi dan cerdas karena pekerjaanmu adalah pekerjaan yang paling berat. Kau harus mendidik anakmu dengan kemampuan itu agar anakmu menjadi orang yang hebat di masa depan. Kau tidak malu akan dikatai bodoh oleh anakmu sendiri?"


"Malu," jawab Devi pelan.


"Belajar yang rajin. Buku itu sumber ilmu jadi jangan karena kau bertengkar dengan kakakmu kau melampiaskan amarahmu pada buku. Lihat sekarang, karena ulahmu sendiri kau jadi tidak dapat mempelajari bab lapisan tubuh," nasihat Alby yang diangguki oleh Devi.


Devi pun kembali melanjutkan belajarnya namun entah kenapa ia tidak bisa fokus kali ini. Tiba-tiba ia teringat kakaknya, ia merindukannya.


"Om," panggil Devi pelan.


"Hm."


"Kak Sean, dia orangnya seperti apa?" tanya Devi cepat bahkan setelah mengatakannya Devi langsung memalingkan wajahnya kearah samping.


Alby pun menoleh sebentar kearah Devi namun gadis itu rupanya sedang menyembunyikan tangisnya.


"Ada apa?"


"Tidak, aku ha..hanya bertanya saja," jawab Devi gelagapan.


"Kau kan adiknya, bukankah kau yang paling tahu tentang kakakmu?" tanya Alby.


"Dia bukan kakakku," koreksi Devi.


"Kau pasti sangat menyayanginya," ujar Alby.


"Aku membencinya."


"Mari dengarkan dulu alasanmu kenapa kau membencinya," ujar Alby.


"Sangat banyak dan akan memakan waktu semalaman untuk menceritakannya," jawab Devi.


"Tapi kau menangisinya sekarang," ujar Alby sembari memberinya selembar tisu.


"Aku tidak menangis om, mataku kelilipan," sanggah Devi menolak tisu pemberian Alby.


"Aku tidak begitu tahu tentang Sean. Yang kutau dia sahabat baikku dan dia sangat menyayangimu," ujar Alby.


"Pembohong! Kak Sean tidak pernah menyayangiku," cibir Devi.


"Kau benar, aku berbohong. Jadi cobalah cari tahu sendiri apakah Sean menyayangimu atau tidak. Berhentilah menangis, sebentar lagi kita sampai di rumahnya Renata. Aku tidak mau dia menuduhku menyakitimu karena melihat air matamu," ujar Alby.


"Aku tidak menangis!!" kesal Devi sembari menangis.


"Baiklah, kau tidak menangis. Kau hanya kelilipan. Cepat seka dengan tisu sebelum iritasinya tambah parah," ujar Alby mengiyakan perkataan Devi.

__ADS_1


Alby tahu Devi tidak ingin dipandang lemah olehnya dan Alby juga tahu seberapa besar rasa sayangnya Devi pada Sean. Devi rindu akan kehadiran Sean saat ini. Air mata yang keluar dari kedua matanya adalah tanda rindu dan Devi enggan mengatakannya pada Alby. Kata rindu yang Devi sembunyikan dalam kata kebencian.


*****


__ADS_2