
Keesokan harinya Devi dan Abimanyu pun berangkat ke kota untuk menyelesaikan urusan mereka. Devi yang harus memberikan kesaksian kepada polisi dan Abimanyu yang harus menemui direktur tempat Alby bekerja untuk menyelesaikan beberapa hal.
Dengan malas, Devi pun keluar dari dalam mobil milik Abimanyu. Kini mereka tiba di rumah sakit untuk menemui direktur. Devi memberenggut kesal karena jam pertemuannya dengan polisi nanti pukul tiga sore, itu tandanya masih kurang dua jam lagi dari waktu yang ditentukan. Hal itulah yang membuat Devi terpaksa ikut Abimanyu ke rumah sakit.
Jika bukan karena kejadian tadi malam saat Laudya yang menjawab ponsel Alby, mungkin sekarang Devi sudah berlari pergi menemui Alby dengan senang hati.
"Dev, om mau pergi menemui direktur dulu. Kau pergi temui kakakmu saja ya sembari menunggu om selesai, tadi om sudah memberitahu kakakmu dan kakakmu bilang ia sekarang sedang luang," ucap Abimanyu menginterupsi Devi.
"Kakak?" tanya Devi bingung. Siapa kakaknya?
"Alby maksud om. Bukankah Alby sekarang menjadi kakakmu?" tanya Abimanyu tersenyum.
Untuk seperkian detik Devi merasakan sesuatu yang mencubit hatinya. Ternyata mau dilihat dari sudut pandang manapun Alby memang lebih cocok menjadi kakaknya.
"Bagaimana?" tanya Abimanyu menyadarkan Devi.
"Iya om. Devi cari kakak saja," jawab Devi sembari tersenyum paksa.
Setelahnya Devi pun segera berpamitan pada Abimanyu untuk pergi lebih dulu untuk menemui Alby.
Devi merogoh ponselnya dan melihat pesan yang ia kirimkan kemarin tidak dibalas oleh Alby. Dengan kesal, Devi pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.
Begitu tiba di depan ruang IGD, Devi pun bertanya pada salah seorang perawat yang tengah berjaga di mejanya.
"Pagi sus, kalau boleh tahu dokter Alby di mana ya?" tanya Devi sopan.
Tanpa bertanya lebih lanjut, perawat tersebut segera memberitahu keberadaan Alby pada Devi karena bagaimanapun juga mereka sudah tahu jika Devi adalah adik dari Alby.
"Dokter Alby mungkin sedang berada di ruangan staff," jawab perawat tersebut sopan.
Setelah mengucapkan terima kasih, Devi segera berlalu menuju ruangan staff. Jika Alby tidak pindah departemen, Devi tidak akan kesulitan mencari di mana ruangan staff berada.
Setelah bersusah payah mencari, akhirnya Devi berhasil menemukan ruangan yang ia cari.
Tok! Tok!
Ceklek!
Begitu masuk ke dalam, Devi tidak mendapati keberadaan Alby melainkan hanya ada Raden saja dengan segelas kopi di tangannya.
"Kak Raden," sapa Devi sembari melambaikan tangannya canggung ke arah Raden. Bagaimanapun juga setelah kejadian tempo hari saat Raden menyatakan perasaannya padanya dan ia menolaknya membuat Devi merasa sedikit tidak enak pada Raden. Belum lagi Devi juga teringat dengan tujuan Raden yang ingin membunuhnya pun membuatnya sedikit was-was.
"Kenapa kaku begitu? Santai saja," ujar Raden tersenyum lebar sembari mempersilahkan Devi untuk duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.
Devi tersenyum canggung dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Raden.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Maaf aku belum sempat menjengukmu lagi setelah kejadian itu, dokter koas sepertiku benar-benar tidak memiliki waktu bahkan barang sedetik pun hanya untuk istirahat," tutur Raden merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kak, aku baik-baik saja. Lihat saja lukaku, sudah sembuh kan?" tanya Devi sembari menyingkap pakaiannya dan memperlihatkan luka bekas operasinya ke arah Raden yang membuat Raden langsung tersedak kopinya.
Uhuk! Uhuk!
"Turunkan bajumu! Kenapa kau membuka bajumu sembarangan!!" tegur seseorang yang membuat Devi memalingkan wajahnya ke sumber suara.
"Memangnya kenapa? Aku hanya memperlihatkan pada kak Raden bekas lukaku saja tidak lebih, lagi pula kak Raden kan dokter jadi apa salahnya?" balas Devi memberenggut kesal.
__ADS_1
Alby menatap Raden dengan tajam namun Raden balas menatapnya tanpa rasa takut.
"Bukankah tujuanmu kemari untuk mencariku? Kenapa malah berkencan di sini?" tanya Alby dingin.
"Siapa yang berkencan? Aku memang mencari om Alby tapi suster di depan bilang kalau om Alby berada di ruangan staff mangkanya aku ke mari. Tapi di sini om Alby tidak ada dan hanya ada kak Raden. Karena aku kenal kak Raden mangkanya aku berbicara sebentar dengannya. Memangnya aku tidak boleh mengobrol sebentar dengan kak Raden?" jawab Devi sedikit ketus.
Alby mencoba bersabar dan menahan emosinya. Devi benar-benar berani menjawab setiap perkataannya.
"Kalau begitu ayo kita pergi, ini bukan ruanganku," ajak Alby menarik tangan Devi.
"Tidak mau!!" tolak Devi sembari berusaha melepaskan cekalan Alby pada tangannya.
"Lepaskan om!! Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan kak Raden! Kenapa om Alby menyebalkan sekali?!!"
"Waktu istirahat Raden sudah hampir habis dan ia harus segera kembali ke IGD," jawab Alby tanpa melepaskan cekalan pada tangan Devi.
Raden yang paham dengan situasinya pun memilih untuk mengalah dan membiarkan Devi pergi bersama Alby saja.
"Dev, kakakmu benar. Waktu istirahatku hampir habis dan aku harus kembali bekerja," ujar Raden sembari menekankan kata 'kakak' di kalimatnya.
Devi menatap Raden dengan sedikit kesal.
Kenapa malah memihak om Alby?!!!
"Dengarkan?" tanya Alby.
Tanpa menjawab pertanyaan Alby, Devi pun melepaskan cekalan tangan Alby di tangannya secara paksa dan setelahnya ia bergegas keluar dari ruangan meninggalkan keduanya yang saling menatap tajam.
"Sudah kuperingatkan padamu kan, jika kau masih memiliki niat untuk membunuhnya maka kau harus menjauhinya?" tanya Alby tajam.
"Sial! Si udang sudah berani melawanku!"
*****
"Dev berhenti!!"
Devi tidak menggubris perintah Alby, ia terus berjalan meninggalkan Alby yang kini berlari kecil mengejarnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Alby untuk dapat menghentikan langkah Devi. Alby mencekal tangan Devi namun Devi berusaha keras melepaskannya.
"Kau mau ke mana?" tanya Alby lembut. Alby tahu keadaan Devi dan ia harus memperlakukan Devi dengan selembut mungkin dan bersabar dengan perubahan emosi Devi yang tidak stabil.
"Lepaskan om!" marah Devi namun Alby enggan melepaskannya.
"Kau marah karena aku melarangmu berbicara dengan Raden?" tanya Alby.
Devi menatap Alby dengan kesal. Sebetulnya bukan hanya perkara itu saja yang membuat Devi marah, tapi karena Alby mengabaikan pesannya dan Devi malah mendengar Laudya yang menjawab panggilannya membuat Devi benar-benar marah. Dan yang lebih membuat Devi kesal adalah ketidakpekaan Alby.
"Kalau kau marah karena itu baiklah aku minta maaf. Kau boleh mengobrol dengan Raden," ujar Alby yang malah membuat Devi bersungut-sungut.
"Kak Raden sedang kerja, bagaimana mungkin aku bisa mengobrol dengannya?!" ketus Devi.
"Nanti, nanti setelah pulang kerja aku akan memberitahu Raden jika kau ingin mengobrol dengannya," ujar Alby meskipun dalam hatinya ia sangat menentang keputusannya ini.
Bukannya berkurang rasa kesalnya pada Alby, kini Devi malah merasakan rasa kesal mencapai ubun-ubunnya.
"Om kau tahu kan kalau kau benar-benar menyebalkan?!!" marah Devi yang membuat orang-orang di sekitar mereka langsung memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
"Iya aku tahu, jangan teriak-teriak ya? Di sini banyak pasien dan kau tidak boleh mengganggu kenyamanan mereka. Lebih baik kita ke ruanganku saja bagaimana? Kita bicarakan semuanya baik-baik," tegur Alby lembut selayaknya ia menegur anak TK.
Karena Devi hanya diam saja bergeming, Alby menganggap Devi menyetujuinya. Alby pun menggandeng tangan Devi dan membawanya ke ruangannya.
Begitu tiba, Alby langsung mendudukkan Devi di sebuah sofa dengan diikuti dirinya sendiri yang juga duduk di sebelah Devi.
"Apa yang membuatmu marah? Aku kan sudah memberimu ijin untuk menemui Raden, lalu apa lagi?" tanya Alby lembut.
Devi hanya diam saja enggan menjawab pertanyaan Alby.
"Katakan padaku apa yang salah," ujar Alby lagi. Berhadapan dengan penderita PTSD memang perlu kesabaran yang luar biasa.
"Ehm atau kau ingin berpacaran dengan Raden? Kalau itu aku tidak bisa memberimu ijin. Kau tidak boleh berpacaran dengannya meskipun sekarang Raden sudah mengurungkan niatnya untuk membunuhmu. Niat jahat tidak bisa hilang begitu saja dan kau harus menahan perasaanmu meskipun kau menyukainya," tutur Alby lagi.
"Om Alby benar-benar tidak peka!!" sungut Devi dalam hati.
"Sudah kubilang aku tidak menyukai kak Raden lagi!" kesal Devi.
"Lalu apa yang membuatmu marah?"
"Om Alby kemarin kenapa tidak memberi kabar jika tidak pulang? Aku sudah menunggu om Alby hingga larut malam dan yang menjawab teleponku malah tante Laudya," ujar Devi pada akhirnya memberi tahu letak kesalahan Alby.
"Lho Laudya tidak mengirimimu pesan kalau aku tidak pulang? Kemarin aku ada pasien darurat dan karena aku terburu-buru, aku menitipkan ponselku pada Laudya agar ia mengirimimu pesan jika aku tidak pulang. Lalu apa yang dikatakan Laudya padamu saat kau menelepon ponselku?" tanya Alby mulai mengerti akar permasalahannya.
"Tante Laudya bilang om Alby sedang tidur dan tante Laudya juga bilang kalau om Alby dan tante Laudya sedang kelelahan, setelah itu tante Laudya mematikan teleponnya," jelas Devi.
"Laudya bilang seperti itu?" tanya Alby menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bagaimana bisa Laudya berkata seperti itu pada Devi.
"Kalian tidur bersama?" tanya Devi mengabaikan pertanyaan Alby.
"Tidak," jawab Alby cepat.
"Lalu?"
Saat itu mata Devi tidak sengaja menangkap kehadiran Laudya yang sedang berdiri menguping di depan pintu ruangan Alby yang memang sengaja Devi buka sedikit untuk berjaga-jaga jika Alby memarahinya maka ia dapat kabur dengan mudah.
Tiba-tiba muncul sebuah ide di dalam kepala Devi.
Saatnya pembalasan!
"Begitu aku mendapat pasien, aku menitipkan ponselku dan meminta Laudya menunggu di ruanganku tapi begitu aku selesai, aku melihat Laudya sudah tertidur di ruanganku. Kami tidak tidur bersama," jelas Alby pada Devi.
"Baiklah aku memaafkanmu om, tapi om Alby harus tahu apa yang terjadi padaku tadi malam," ucap Devi.
Alby menganggukkan kepalanya bersiap mendengarkan cerita Devi.
"Tadi malam aku menunggu om Alby pulang hingga larut malam. Untung saja om Abi turun dan menemaniku menunggu om Alby bahkan om Abi juga yang membuatku mau menjadi saksi untuk kasus penyerangan itu. Karena sudah larut malam, om Abi menyuruhku untuk pergi tidur. Tapi aku tidak bisa tidur om," jelas Devi sembari bersandar pada lengan Alby.
"Kau masih takut mimpi buruk?" tanya Alby menggenggam tangan Devi.
"Hm. Selain itu biasanya kan aku tidur bersama om Alby jadi begitu tidur sendiri rasanya beda sekali, aku jadi tidak bisa tidur," ucap Devi sembari tersenyum penuh kemenangan ke arah Laudya.
Pembalasan lebih kejam!
Laudya yang melihat hal itupun langsung menggertakkan giginya menahan marah. Ternyata Devi bukan seseorang yang mudah disingkirkan. Laudya harus mencari cara lain untuk menyingkirkan Devi dari hidup Alby!
*****
__ADS_1