Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Baikan?


__ADS_3

Devi mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan mencoba mengenali dimana ia berada. Kepalanya terasa berat dan sedikit pusing. Mungkin ini efek ia mabuk semalam.


Mabuk!


Devi langsung membuka selimutnya dan ia sangat terkejut begitu mendapati pakaiannya telah berganti.


Siapa yang menggantikan pakaianku?


"Sudah bangun?"


Devi terperanjat kaget dan ia langsung mengarahkan pandangannya ke arah Alby yang kini sedang berjalan ke arahnya dengan nampan berisi sarapan.


Alby yang melihat Devi tampak panik pun seketika tahu apa yang membuat Devi bertingkah seperti itu.


"Maaf aku yang menggantikan pakaianmu dan kita tidak jadi tidur di hotel karena kita tidak mungkin ke sana dengan pakaian kotor. Kamu tenang saja, aku tidak berbuat macam-macam padamu," ujar Alby lembut.


"Kenapa tidak bi Tari saja?"


"Kemarin sudah larut malam dan aku tidak mungkin memintanya ke mari."


Alby meletakkan nampan berisi sarapan tersebut di atas nakas yang berada di samping ranjang Devi.


"Sarapan dulu lalu minum obat penawar mabuk ini," ujar Alby.


Devi diam bergeming. Ia sedang mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. Kenapa ia bisa bersama Alby? Bukankah semalam ia bersama Arin?


Alby tersenyum simpul begitu melihat Devi yang tengah berusaha mengingat kejadian semalam.


"Kemarin-"


Belum sampai Alby menyelesaikan kalimatnya, Devi sudah terlebih dahulu mengingat kejadiannya bahkan ia sampai menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya saking tidak percayanya dengan apa yang ia lakukan semalam.


Devi ingat ia tidur di tanah lalu ia juga muntah dalam gendongan Alby dan yang lebih memalukan lagi Devi ingat jika ia berkata pada Alby jika satu-satunya hal yang ia takutkan adalah kehilangan Alby.


Sial! Aku bodoh sekali! Mulai sekarang aku tidak akan pernah minum-minuman beralkohol lagi!!


"Ingat?"


Devi menatap sinis ke arah Alby sembari terus merutuki kebodohannya.


"Om Alby jangan memarahiku ya? Aku punya alasan kenapa aku melakukan hal itu!" ujar Devi ketus mencoba menutupi rasa malunya.


"Iya aku tahu. Untuk kali ini aku tidak akan memarahimu tapi untuk lain kali jangan harap aku akan membiarkanmu," ujar Alby sembari mengacak pelan rambut Devi namun Devi langsung menepisnya.


"Rambutku jadi berantakan!!"


Alby pun menghentikan aksinya. Ia segera mengambil makanan yang berada di atas nampan dan berniat menyuapkannya pada Devi.


"Sekarang sarapan dulu. Ayo buka mulutmu."


"Aku tidak mau! Aku tidak lapar!" tolak Devi.


"Makan dulu, kamu kan belum makan."


"Tidak mau!"


"Dev!" tegur Alby tegas.

__ADS_1


"Aku makan sendiri saja!"


Devi merebut piring yang berada di tangan Alby dan lalu mulai memakan makanannya.


Sembari makan, Devi mengamati Alby yang terus menatap ke arahnya dan hal itu membuat Devi tidak nyaman.


"Om Alby tidak bekerja?"


"Aku meminta ijin hari ini."


Devi hanya ber oh ria tanpa mau bertanya lebih lanjut. Ia masih marah pada Alby karena Icha.


Setelah tiga suap makanan yang masuk ke dalam perutnya, Devi pun meletakkan kembali piring tersebut di atas nampan.


"Kenapa tidak dihabiskan?"


"Perutku tidak enak dan kepalaku masih pusing. Bisakah om Alby keluar saja dari kamarku? Aku ingin tidur lagi," usir Devi terang-terangan.


"Kalau begitu minum dulu penawar mabuknya."


"Tidak mau!" tolak Devi sembari meletakkan gelas kecil berisi cairan yang disodorkan Alby padanya di atas nampan.


"Cairan ini untuk meredakan mabukmu."


"Aku tidak mau!"


Tanpa mau menunggu lama lagi, Alby langsung meminum cairan tersebut dan menyimpannya di dalam mulutnya lalu setelahnya ia langsung mencium bibir Devi dan memaksa cairan tersebut ditelan oleh Devi.


Devi yang mendapat perlakuan seperti itu pun berusaha melepaskan pagutan bibirnya dari Alby namun Alby sangat kuat menahan tengkuknya hingga pada akhirnya cairan tersebut tertelan Devi hingga habis.


Uhuk! Uhuk!


"Itu larutan garam dicampur dengan glukosa, multivitamin dan asam amino. Ini disebut koktail untuk mengobati mabuk," jawab Alby sembari menyodorkan air putih pada Devi.


"Pantas saja tidak enak! Aku tidak mau meminum cairan itu lagi!"


"Kalau begitu jangan pernah minum alkohol lagi."


Devi menatap Alby sengit. Apa hak Alby melarangnya meminum minuman beralkohol?


"Terserah padaku, kenapa om Alby melarangku?!"


"Jika minum alkohol, lobus frontal akan kehilangan kendali dan kita jadi bisa berbicara sembarangan. Aku hanya takut kamu berbicara sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kamu katakan," ujar Alby mengingatkan Devi tentang kejadian semalam.


Devi yang masih merasa malu dengan kejadian semalam pun memejamkan kedua matanya mencoba menghapus semua ingatan buruknya mengenai hal yang terjadi tadi malam.


"Om Alby jangan bahas apapun tentang semalam!"


"Cepat pergi mandi dan ganti pakaian, aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat," ujar Alby pada Devi. "Kecuali jika kau ingin aku menggantikan pakaianmu lagi," lanjut Alby berbisik menggoda Devi.


"Dasar mesum!!!!!"


Devi melempar Alby dengan bantalnya namun Alby berhasil menghindar.


"Aku beri waktu satu jam untuk bersiap-siap. Nanti aku akan kemari lagi setelah menyelesaikan beberapa hal," pamit Alby keluar dari kamar Devi.


*****

__ADS_1


"Makam?"


Alby tidak menjawab, yang ia lakukan hanyalah menggenggam tangan Devi dan mengajaknya untuk melangkah lebih jauh lagi memasuki area pemakaman.


Devi hanya diam dan mengikuti kemana Alby akan membawanya pergi. Dalam hati Devi, ia bertanya-tanya kenapa Alby membawanya ke area pemakaman? Sebenarnya apa yang ingin ditunjukkan Alby padanya?


"Ini Icha," ujar Alby sembari menunjukkan sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama 'Marisha'.


Devi menutup mulutnya terkejut.


Jadi Icha sudah meninggal?


"Orang yang kamu lihat di dalam dompet dan kotak milikku ada disini," tutur Alby.


Devi menatap ke arah Alby. Devi dapat melihat wajah sayu yang Alby tampilkan begitu ia berada di depan makam Icha dan tiba-tiba perasaan bersalah memenuhi rongga dadanya.


Devi berjongkok dan mengamati batu nisan tersebut dalam diam. Ia melihat tanggal kematian Icha yang artinya Icha sudah pergi jauh sebelum Devi bertemu dengan Alby.


"Mau pergi ke tempat yang lebih nyaman untuk menceritakan semuanya?" tawar Alby.


"Tidak om. Tidak perlu," tolak Devi seraya bangkit menatap ke arah Alby. "Om Alby tidak perlu menjelaskan semuanya. Ini semua salahku, aku yang salah paham dan menyimpulkan semuanya tanpa bertanya lebih lanjut pada om Alby. Aku minta maaf."


"Tidak. Kamu tidak perlu minta maaf. Memang sudah saatnya aku memberitahumu siapa Icha sebenarnya."


"Aku tidak ingin om Alby sedih dengan mengingat masa lalu om Alby bersama Icha," cicit Devi meskipun dalam hatinya ia ingin sekali tahu seperti apa hubungan Alby dan Icha di masa lalu.


"Tidak masalah sayang. Aku akan memberitahumu semuanya, ayo kita pergi."


Alby kembali menggandeng tangan Devi dan membawanya ke tempat yang lebih nyaman untuk menceritakan masa lalunya bersama Icha hingga akhirnya Alby memilih sebuah taman yang terletak tidak jauh dari area pemakaman.


"Duduklah," ujar Alby setelah ia membersihkan bangku kayu tersebut menggunakan desinfektan.


Devi pun duduk di sebelah Alby.


"Icha adalah mantan pacarku," ujar Alby memulai pembicaraan.


Devi tidak terkejut mendengar hal itu karena dari awal ia memang sudah menduga hal tersebut.


"Dia meninggal karena gagal ginjal."


"Gagal ginjal?"


"Iya. Saat itu aku tidak sempat menyelamatkannya sehingga rasa bersalah masih menumpuk hingga sekarang," lirih Alby.


"Itu sebabnya om Alby membiayai Shiela? Om Alby melakukan itu sebagai bentuk kompensasi om Alby terhadap Icha?"


"Iya. Maaf seharusnya aku mengatakannya dari awal, hanya saja-"


"Tidak apa-apa om, seharusnya aku yang minta maaf. Maaf karena telah membuka kenangan buruk om Alby."


Alby tersenyum simpul. Ia membawa Devi ke dalam dekapannya.


"Aku akan membuang foto-foto itu."


"Tidak perlu. Itu kan kenangan om Alby dengan pacar om Alby dulu. Lagipula sekarang aku wanita satu-satunya untuk om Alby kan?"


"Tentu saja."

__ADS_1


Alby mencium puncak kepala Devi lama dan mendekap gadis itu erat-erat seraya meminta maaf dalam hati jika apa yang ia katakan pada Devi belum sepenuhnya tentang kebenaran kematian Icha. Ada hal yang harus ia simpan rapat-rapat tanpa sepengetahuan Devi.


__ADS_2