
Sepanjang penerbangan dari Singapura ke Indonesia, Devi hanya diam tanpa berniat berbicara pada Alby. Di setiap kesempatan Alby ingin mengajaknya berbicara Devi selalu pura-pura tertidur.
Alby kebingungan sendiri. Apa perubahan sikap Devi ada hubungannya dengan Shiela? Jika iya maka Alby harus meluruskan kesalah pahaman tersebut. Namun masalahnya setiap kali Alby ingin menjelaskan pada Devi, gadis itu selalu pura-pura tertidur dan menutup telinganya menggunakan kedua tangannya. Jika sudah seperti itu bagaimana caranya Alby meluruskan masalahnya?
"Argh dingin!" pekik Devi begitu ia merasakan sesuatu yang sangat dingin menempel pada pipinya.
"Arin!" tegur Devi begitu ia tahu siapa pelaku yang menempelkam minuman kalengnya di pipi Devi.
"Kenapa pagi-pagi melamun? Bukankah seharusnya kau bersemangat? Kau kan baru saja liburan ke Singapura dengan om Alby. Oh tunggu dulu! Apa ini? Cincin?" Arin langsung menyentuh cincin yang melingkar di jari manis Devi. "Om Alby melamarmu?"
"Hm."
"Wah selamat!!! Akhirnya kau bisa menikah dengan om Alby."
"Hm."
Devi menumpukan kepalanya pada tangannya di atas meja dengan lesu. Hal itu membuat Arin menjadi bingung.
"Kenapa? Bukankah seharusnya kau senang om Alby melamarmu?"
Mendengar perkataan Arin, Devi pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lalu apa masalahnya?"
Dengan lesu Devi pun menceritakan kejadian mereka bertemu Shiela pada Arin.
"Lalu apa yang kau masalahkan? Bukankah om Alby bilang dia hanya adik temannya bukan mantan kekasihnya?"
"Kalau disebut adik temannya aku ini juga adik temannya. Masalahnya Shiela pernah meminta om Alby menjadi pacarnya Rin."
"Om Alby mau?" tanya Arin.
"Om Alby menolak dengan alasan Shiela terlalu kecil untuknya."
"Kalau begitu kau seharusnya senang."
"Senang kenapa?" bingung Devi.
"Bukankah Shiela seumuranmu? Itu artinya om Alby melanggar persepsinya sendiri dengan melamarmu. Itu tandanya om Alby betulan mencintaimu," tutur Arin.
"Benarkah?"
"Astaga kenapa kau bodoh sekali masalah cinta."
Devi mencoba memahami perkataan Arin dan semakin dipahami malah membuat Devi semakin tersipu malu. Benarkah Alby benar-benar mencintainya?
"Arin kau benar." Devi bergelayut manja di lengan Arin membuat Arin memutar bola matanya malas.
"Mulai hari ini sepertinya kita akan sulit bertemu. Kau dan aku kan beda fakultas jadi kau harus berhati-hati selama tidak ada aku," pesan Arin.
"Kau tenang saja. Aku bisa jaga diri sendiri. Oh iya kalau begitu kita harus bertemu di akhir pekan," ujar Devi.
"Iya nanti sekalian panggilan vidio dengan Gara. Kalau begitu aku harus pergi, sebentar lagi kelas dimulai. Kau harus baik-baik dengan om Alby, jangan salah paham terus padanya. Kau harus minta maaf padanya, mengerti?"
"Iya-iya."
Arin pun beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Devi sendiri.
Devi melihat ke arah jam tangannya. Sebentar lagi kelasnya juga dimulai, ia harus bergegas.
Begitu tiba di kelas, Devi sedikit terkejut begitu mendapati Rea dan Jessica berada di kelasnya.
Mereka mengambil jurusan yang sama denganku?
Rea sempat menatap Devi dengan pandangan terkejutnya namun setelahnya ia mencoba bersikap biasa. Sedangkan Jessica hanya menatapnya dalam diam.
"Dev kau bisa duduk di sampingku." Rea menepuk kursi yang berada di sampingnya.
Devi diam bergeming mengamati seluruh penjuru kelas. Tidak ada kursi kosong selain di samping Rea dan Devi mengutuk hal itu!
Mau tidak mau Devi pun duduk di samping Rea.
"Dev," panggil Rea pelan.
"Kenapa memanggilku? Bukankah kau tidak mau menjadi temanku?" tanya Devi menghadap ke arah Rea.
"Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Apa kau benar-benar menganggapku tidak punya rasa kasihan mangkanya kau menolakku?" tanya Devi sembari bersilang dada.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin kau malu berteman denganku. Kau dan aku berbeda. Kau-"
"Apanya yang berbeda? Sudahlah kau sebenarnya mau jadi temanku tidak?" potong Devi.
Rea terdiam dengan pandangan haru.
"Aku mau."
"Aku memintamu menjadi temanku karena Arin dan Gara tidak satu kelas denganku bahkan Gara berada di luar negeri. Jadi anggap saja aku tidak ingin kesepian di kelas."
Jessica yang duduk tepat di depan mereka berdua pun mendengar semua perkataan Devi dengan Rea. Tentu saja Devi sengaja mengatakannya sedikit lebih keras agar Jessica mendengarnya.
Tuk! Tuk!
Devi menjentikkan jari telunjuknya pelan ke arah bahu Jessica. Membuat Jessica membalikkan badan menatap ke arahnya.
"Kalau kau juga mau menjadi temanku tidak masalah tapi aku tidak mau hanya menjadi pelampiasan rasa sakit hatimu."
*****
__ADS_1
Devi berjalan memasuki rumah sakit sembari bersenandung kecil. Suasana hatinya cukup bagus karena perkataan Arin tadi pagi dan sekarang saatnya ia meminta maaf pada Alby.
Devi bertanya pada suster yang berjaga di depan IGD di mana keberadaan Alby namun ternyata Alby sudah kembali menjadi dokter spesialis bedah digestif lagi.
Dengan perasaan yang semakin membuncah bahagia, Devi pun segera menuju ke tempat Alby berada.
"Suster Mia," sapa Devi riang begitu ia melihat Mia yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Mau cari dokter Alby ya?" tanya Mia.
Devi menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis.
"Sebentar ya kuhubungi dulu dokter Alby. Takutnya ada pasien yang belum selesai berkonsultasi dengan dokter Alby."
"Oke sus."
Selang beberapa menit menunggu akhirnya Mia pun mengabarkan jika Alby sudah selesai menangani pasien dan Devi diperbolehkan masuk ke dalam ruangannya.
Namun pada saat ia hendak berjalan memasuki ruangan Alby, mata Devi menangkap kehadiran Lino yang tampak berdiri tidak jauh darinya.
Devi pun segera berjalan menghampiri Lino.
"Lino! Kenapa kau ke mari? Ada keluargamu yang sakit?" tanya Devi.
"Tidak ada. Hanya menunggu kakakku."
"Kakak? Siapa kakakmu?" tanya Devi penasaran. "Dia seorang dokter?"
"No," panggil Raka sebelum Lino menjawab pertanyaan Devi.
"Itu kakakku," ucap Lino sembari mengedikkan dagunya ke arah Raka.
"Dokter Raka kakakmu?" tanya Devi dengan kedua mata membola karena terkejut.
"Hm."
"Wah kalian saling kenal? Halo Dev, apa kabar?" sapa Raka ramah.
"Iya dok. Ah saya baik."
"Kupikir kau akan lari ketakutan begitu melihatku tapi ternyata tidak," canda Raka.
Devi hanya tersenyum kikuk menanggapinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu dok, saya mau ke ruangannya om Alby," pamit Devi undur diri.
Setelahnya Devi pun segera pergi meninggalkan Raka dan juga Lino berdua.
"Kenapa Devi terlihat ketakutan bertemu denganmu?" tanya Lino pada Raka.
"Rahasia," jawab Raka menyebalkan.
Lino berdecih pelan sebelum ia menyerahkan paperbag kecil pada Raka.
*****
Tok! Tok!
Devi pun segera masuk ke dalam ruangan Alby. Di sana ia melihat Alby yang tengah berkutat dengan dokumen-dokumen di mejanya dan pandangannya mengarah lurus ke arah komputernya.
"Om Alby sibuk ya?" tanya Devi berjalan mendekat ke arah Alby.
Alby pun mengalihkan pandangannya ke arah Devi lalu ia tersenyum lebar dan mempersilahkan Devi agar duduk di pangkuannya.
"Hm. Libur beberapa bulan membuat pekerjaan menjadi menumpuk," ucap Alby sembari menyelipkan anak rambut Devi ke telingannya.
"Apa aku mengganggu?"
"Tidak."
Alby tersenyum ke arah Devi membuat Devi semakin merasa bersalah.
"Om aku minta maaf," cicit Devi.
"Minta maaf kenapa?" bingung Alby.
"Aku mendiamkan om Alby kemarin. Aku juga pura-pura tidur setiap kali om Alby mengajakku bicara," sesal Devi.
"Kalau begitu coba dengarkan dulu apa alasanmu marah padaku."
"Aku tidak suka dengan Shiela. Dia menyukai om Alby dan om Alby juga sangat akrab padanya," terang Devi yang membuat Alby tertawa.
"Kenapa tertawa?"
"Jadi kau cemburu?" tanya Alby menyudahi tawanya.
"Tidak! Aku tidak cemburu, aku hanya-"
"Hanya apa?" goda Alby.
"Sudahlah tidak jadi tanya!" kesal Devi membuang wajahnya ke arah lain.
Cup!
Alby mengecup bibir Devi sekilas dan mempererat pelukannya pada pinggang Devi.
"Kemarin aku ingin menjelaskannya padamu tapi kau pura-pura tidur. Kalau begitu biar kujelaskan sekarang," tutur Alby lembut yang membuat Devi menatap ke arahnya.
Drt..drt....
__ADS_1
Belum sempat Alby menjelaskan siapa Shiela pada Devi, ponsel Alby sudah lebih dulu bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Om ada panggilan masuk. Cepat jawab." Devi menyodorkan ponsel Alby padanya.
Mau tidak mau Alby pun menjawab panggilannya. Devi yang penasaran dengan siapa yang menelepon Alby pun mendekatkan telinganya pada ponsel Alby.
"Baiklah aku akan bersiap," ujar Alby mengakhiri panggilannya.
"Dev," panggil Alby.
Devi pun memusatkan perhatiannya pada Alby.
"Boneka Totomu biar diantar Asep ke mari saja ya? Kau tidak perlu pulang ke rumah untuk mengambilnya," ujar Alby.
"Kenapa om?"
"Aku ada jadwal operasi dan aku tidak bisa mengantarmu. Atau kalau kau tidak apa-apa, aku bisa mengantarmu pergi besok."
"Tidak perlu om," tolak Devi sembari menggelengkam kepalanya. "Biar aku yang mengambilnya sendiri."
"No! Kau tidak boleh ke desa sendirian."
"Tapi aku tidak bisa tidur tanpa memeluk Toto," rengek Devi. "Om aku kan sudah dewasa, apa salahnya pergi sendirian?"
"Aku tidak tega membiarkanmu pulang sendirian. Atau begini saja, kubelikan boneka kesukaanmu untuk pengganti Toto sementara bagaimana?" tawar Alby.
"Tidak mau. Boleh ya om? Aku janji akan berhati-hati."
Alby diam bergeming tetap dengan keputusannya. Devi tidak tinggal diam, ia terus berusaha mencari cara agar ia bisa kembali ke desa sendirian. Devi harus memeriksa bangunan yang berada di jalan bercabang itu tanpa sepengetahuan Alby.
"Biar Asep yang mengantar Toto kemari," ucap Alby final.
Devi mencebikkan bibirnya kesal. Ia segera bangkit dari pangkuan Alby dan menatap Alby nyalang.
"Om kau benar-benar menyebalkan!"
Alby menghela nafasnya pelan sembari bangkit dari duduknya. Ia mensejajarkan wajahnya pada wajah Devi. Membuat Devi langsung mengalihkan wajahnya dari Alby.
"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Lagipula bukankah hanya mengambil Toto saja? Bukankah aku bisa meminta Asep mengantarnya kemari tanpa kau sendiri yang ke sana? Ini sudah sore dan jika kau berangkat sekarang juga kau akan sampai pada malam hari. Bukankah akan bahaya jika anak perempuan naik kendaraan umum sendirian saat malam?" Alby mencoba memberi pengertian pada Devi namun sepertinya Devi masih tetap pada keinginannya.
"Tapi masalahnya ****** ***** dan bra-ku juga ketinggalan! Masa mau minta tolong Asep untuk dibawakan?!"
Devi merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa kalimat memalukan seperti itu keluar dari mulutnya? Lihat saja sekarang! Wajahnya pasti memerah karena malu. Ah bodo amat yang penting bisa ke desa sendirian.
Alby mengedipkan kedua matanya beberapa kali begitu mendengar perkataan Devi. Detik selanjutnya ia mencoba menahan tawanya begitu mendapati wajah Devi yang sudah memerah.
"Aku kan bisa membelikanmu yang baru," jawab Alby.
"Om Alby mana tahu ukuranku?" sinis Devi. Detik selanjutnya ia langsung memukul mulutnya pelan. Kenapa mulutnya selalu berbicara sembarangan.
"Mau kuukur?" goda Alby.
"Om!!!" Devi memukul Alby sedangkan Alby tertawa terbahak-bahak melihat Devi.
"Sudahlah aku tidak mau berbicara lagi. Pokoknya aku ingin ambil Toto sendiri!"
"Cela-"
"Om!!!"
"Oke-oke aku tidak akan menggodamu lagi."
Alby kembali memasang wajah seriusnya lagi. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Kau bersikukuh ingin ke desa sendirian bukan karena ingin berkunjung ke suatu tempat kan?" curiga Alby.
"Tempat apa? Oh iya!! Aku memang ingin pergi ke suatu tempat!" jawab Devi antusias.
Rahang Alby sudah mengeras begitu mendengar jawaban Devi. Apa Devi masih penasaran dengan bangunan di jalan bercabang itu?
"Aku ingin naik kuda lagi! Aku sudah tanya Asep, Asep bilang ia bersedia menemaniku naik kuda. Om Alby ingatkan pengalaman naik kuda pertamaku kurang menyenangkan karena ada tante Laudya? Kalau om Alby tidak percaya tanya saja pada Asep!"
Pokoknya aku harus berhasil pulang ke desa sendirian!!! Untung saja aku sudah memberitahu Asep jika aku ingin naik kuda.
Alby tampak berpikir sejenak. Mencoba mempercayai perkataan Devi. Alby menatap Devi cukup lama untuk mencari kebohongan di sana namun sepertinya Devi berkata jujur.
Tok! Tok!
Devi dan Alby pun mengalihkan perhatiannya pada pintu. Di sana ada suster Mia yang berniat memberi tahu Alby jika sudah waktunya untuk operasi.
"Maaf dok sepuluh menit lagi pasien akan dibawa ke ruang operasi."
Alby menganggukkan kepalanya mengiyakan pemberitahuan Mia. Setelah Mia beranjak pergi, Alby memusatkan perhatiannya penuh pada Devi.
"Baiklah kau boleh pergi sendirian. Tapi ingat kabari aku begitu kau tiba," pesan Alby yang diangguki oleh Devi.
"Foto nomor kendaraan taksinya padaku."
"Siap om!"
"Begitu kau merasa ada yang janggal dengan sopir taksinya langsung hubungi aku atau kalau tidak memungkinkan kau harus mencari cara untuk keluar dari taksi dan meminta bantuan pada orang sekitar. Oh tunggu dulu, atau bisa juga kau menelponku dan berpura-pura jika aku mengikutimu dari belakang. Kau mengerti apa-"
Cup!
"Aku mengerti om. Bye bye!!"
Setelah mengecup bibir Alby, Devi pun berlari keluar dengan semangat. Rencananya berhasil!!
Jika seperti ini maka ia bisa pergi ke bangunan di jalan bercabang tanpa sepengetahuan Alby.
__ADS_1
Mission complete!!
*****