Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Broken Heart


__ADS_3

Devi duduk termangu di depan kolam ikan yang berada di belakang rumah Alby. Alby belum juga kembali setelah mengantar Laudya ke rumah sakit akibat terjatuh dari kuda yang ditungganginya tadi.


Setelah melihat Laudya terjatuh, Alby sama sekali tidak mengatakan satu kata pun padanya dan langsung bergegas menggendong Laudya dan membawanya pergi ke rumah sakit meninggalkan dirinya sendirian yang masih menunggang kuda. Bahkan Devi harus berteriak memanggil Asep terlebih dahulu untuk membantunya turun.


Alby pasti akan memarahinya begitu ia pulang nanti. Namun Devi sama sekali tidak merasa takut karena tentu saja ia tidak salah, itu adalah salahnya Laudya sendiri bukan dirinya.


Hal yang membuat Devi kepikiran sekarang adalah perkataan Abimanyu tadi pagi yang tidak sengaja ia dengar. Sepertinya Abimanyu lebih condong terhadap Laudya dari pada dirinya. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Devi, yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana jika mereka tahu kalau Devi sebenarnya tidak mengidap PTSD? Bukankah malah membuat Abimanyu semakin tidak menyukainya dan merestui hubungannya dengan Alby?? Eh tunggu dulu! Hubungan apanya, kalau saat ini saja Alby malah berpacaran dengan Laudya bukan dirinya.


Jadi sebenarnya tokoh utama dari drama cinta bertepuk sebelah tangan itu sendiri adalah aku?


Buktinya om Alby memilih berpacaran dengan tante Laudya daripada aku. Mungkin jika om Alby juga memiliki perasaan yang sama denganku aku bisa saja mengatasi om Abimanyu yang tidak merestui kami, tapi masalahnya om Alby tidak menyukaiku sebagai wanita. Om Alby hanya menganggapku sebagai adiknya sendiri yang sedang mengidap PTSD. Jadi bagaimana bisa aku berjuang sendirian?


"Dev."


Devi menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Di sana ada Ishwari yang tengah tersenyum lembut kearahnya.


"Sedang apa? Kenapa tidak masuk ke dalam? Sebentar lagi hujan lho, ayo masuk," ajak Ishwari sembari berjalan mendekat ke arah Devi.


"Sebentar lagi tante. Tante Ishy masuk dulu saja nanti aku menyusul," tolak Devi lembut.


"Ada apa?" tanya Ishwari perhatian begitu ia melihat raut wajah Devi yang tidak seriang biasanya.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin lihat ikan," dusta Devi sembari menunjuk seekor ikan koi besar berwarna putih.


Ishwari tersenyum sembari membelai rambut Devi dengan lembut.


"Apa ini ada hubungannya dengan Laudya?" tanya Ishwari yang membuat Devi menoleh ke arahnya.


"Tidak ada," jawab Devi jujur namun sepertinya Ishwari tidak mempercayai perkataannya.


"Kecelakaan tadi pagi bukan salahmu, kamu kan tidak sengaja," ujar Ishwari yang membuat Devi mengernyitkan keningnya bingung. Apanya yang tidak sengaja?!!


"Tunggu sebentar tante. Memangnya tante Laudya bilang apa sama tante?"


"Bukan padaku, tapi pada om-mu dan Alby. Laudya bilang kamu belum begitu bisa mengendalikan kuda hingga kamu salah menarik tali kekangmu dengan kuat. Saat itu Laudya berusaha menghentikanmu dan malah tali kekang kudanya yang ketarik kuat begitu ia mencoba menyelamatkanmu," tutur Ishwari yang membuat Devi tidak bisa berkata-kata lagi. Laudya benar-benar pengarang cerita yang handal!!


"Omong kosong macam apa ini?! Tante Laudya tidak menyelamatkanku tapi justru dia yang ingin mencelakaiku tante! Bukan aku yang ingin menarik tali kudaku, tapi dia! Aku memang tidak pernah mengendalikan kuda sebelumnya tapi aku sedikit tahu tentang apa yang ingin dilakukan tante Laudya padaku. Tante Laudya ingin mencelakaiku, dia berusaha mendekatkan kuda miliknya ke arahku dan berusaha merebut tali kekang kudaku. Aku yang paham dengan tindakannya langsung menghindar hingga pada akhirnya ia sendiri yang kena getahnya. Dalam hal ini murni karena ulahnya sendiri bukan karena ingin menyelamatkanku," jelas Devi panjang lebar sembari menahan emosinya.


"Apa benar seperti itu?" tanya seseorang yang membuat Devi membalikkan badannya menatap Alby dan juga Abimanyu yang baru saja tiba.


"Aku mengatakan hal yang sesungguhnya, jika kalian tidak percaya kalian tanya saja pada Asep. Aku bahkan meminta Asep untuk melepaskan tali kekang kudaku karena aku tidak mau Asep ikut celaka karena tante Laudya."


"Bagaimana aku bisa percaya padamu kalau kau saja berani berbohong padaku," desis Alby tajam.


"Aku tidak berbohong om! Aku berani bersumpah. Kalau begitu kita panggil Asep saja ke mari biar dia-"


"Tidak perlu," potong Alby tegas.


Devi terdiam. Sorot matanya menatap lurus ke arah Alby yang kini sedang menatap tajam ke arahnya. Seumur-umur baru kali ini Devi melihat raut wajah Alby semarah ini.


Alby mengisyaratkan kepada kedua orang tuanya agar meninggalkan mereka berdua saja dan hal itu langsung mendapat tanggapan dari Abimanyu dan Ishwari yang bergegas masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Alby pun berjalan mendekat ke arah Devi yang sedang duduk di pinggir kolam. Tanpa Devi duga, Alby mencengkeram lengan Devi dan memaksanya berdiri. Tidak terlalu kuat memang namun tenaga Alby sudah cukup untuk membuatnya secara suka rela berdiri menghadap Alby.


"Apa tidak ada hal lain yang ingin kau katakan padaku?" desis Alby.


"Tidak. Untuk apa aku menjelaskan semuanya pada om Alby kalau om Alby tidak percaya dan malah menyebutku seorang pembohong?! Lebih baik om Alby tanya saja pada Asep sana biar om Alby tahu kebenarannya bagaimana. Asep kan bukan pembohong sepertiku," ujar Devi sembari menekankan kata 'pembohong' untuk menyindir perkataan Alby.


"Aku sudah tanya Gara," jawab Alby yang membuat Devi mengernyitkan dahinya bingung.


Kenapa Gara?


"Dan sekarang aku ingin bertanya padamu," ujar Alby yang entah kenapa membuat Devi sedikit merasa takut.


"Kau berbohong padaku jika kau menderita PTSD kan?"


Deg!!


Om Alby tahu?!!


Melihat Devi terkejut membuat Alby yakin dengan perkataan Laudya. Saat di rumah sakit tadi pagi Laudya memberitahunya jika dulu saat hendak menjenguk Devi, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Arin dan juga Gara tentang Devi yang berpura-pura mengalami PTSD agar mendapat perhatian penuh dari Alby. Namun tentu saja Laudya tidak memberitahu tujuan Devi pada Alby. Dan masalah ia bertanya pada Gara sebenarnya itu hanyalah tipuan Alby saja untuk memancing kebenaran dari Devi karena pada dasarnya Alby memang belum menghubungi Gara.


"Om Alby ini bicara apa?!!" tanya Devi dengan nada bergetar.


"Sebenarnya apa tujuanmu membohongiku seperti itu?" tanya Alby dengan nada rendah. "Kau ingin membodohiku? Ingin meremehkanku yang seorang dokter tapi bodoh dalam membedakan mana penderita PTSD sungguhan dan mana yang bohongan?"


"Tidak! Bukan seperti itu om," sanggah Devi seraya mencoba melepaskan cekalan Alby di lengannya.


"Lalu apa?!! Kau tahu tidak betapa merasa bersalahnya aku setiap kali melihatmu menderita, ketakutan dan terluka huh?!! Rasa bersalahku pada Sean bahkan sudah mencapai batas dadaku begitu aku mendengar kau mengalami PTSD. Tapi sekarang aku lega karena rasa bersalah itu sudah lenyap tak tersisa karena ternyata itu semua hanya akal-akalanmu. Apakah menyenangkan mempermainkanku?"


Devi terdiam. Haruskah ia mengatakan hal yang sebenarnya pada Alby? Bukankah itu sama seperti ia mengungkapkan perasaannya pada Alby?


"Tentu saja. Sean memberi amanah padaku dan tentu saja aku harus melaksanakannya dengan benar!" balas Alby.


"Jika bukan karena kak Sean, om Alby pasti sudah membuangku sedari dulu," ujar Devi.


"Kau salah paham," ujar Alby menyangkal tuduhan Devi. "Sekarang bukan itu intinya! Aku tanya kenapa kau berbohong padaku!"


"Karena aku menyukaimu om," jawab Devi cepat.


"Apa?"


"Aku menyukaimu mangkanya aku nekat berbohong padamu. Aku takut kehilangan perhatian om Alby begitu aku mendengar om Alby berpacaran dengan tante Laudya. Aku berbohong padamu agar om Alby selalu perhatian padaku dan dekat denganku, itu saja. Aku tidak ada maksud lain seperti meremehkan om Alby ataupun membodohi om Alby. Semua itu murni karena aku menyukai om Alby," lanjut Devi yang membuat Alby sontak langsung melepaskan cekalannya di lengan Devi.


"Berhenti berbohong! Orang yang kau sukai itu Raden bukan aku!!!"


"Aku tidak berbohong. Aku memang menyukai kak Raden tapi rasa sukaku tidak lebih dari rasa sukaku pada om Alby."


Mendengar pengakuan Devi ada sebagian kecil di hati Alby yang turut bahagia mendengarnya namun Alby sadar ia sudah berpacaran dengan Laudya dan bahkan Alby sudah membuat kesepakatan pada direktur untuk menikahi Laudya. Perasaannya pada Devi maupun sebaliknya adalah salah besar! Tidak seharusnya mereka saling menyimpan rasa seperti itu.


"Cepat masuk sebentar lagi hujan turun," ujar Alby berlalu meninggalkan Devi tanpa membalas ungkapan perasaan Devi.


Begitu berada diambang pintu, Alby menghentikan langkahnya namun tanpa niatan berbalik menghadap Devi yang kini menatapnya sendu.

__ADS_1


"Kebohonganmu mengenai PTSD aku tidak akan mengatakannya pada ayah dan ibuku, tapi aku harap kau bisa menyadari kesalahanmu. Dan soal perasaanmu, aku lebih suka kau kembali bersama Raden."


Crashh!!!! Glarrr!!!


Hujan deras langsung menuruni bumi saat itu juga. Bahkan Devi juga turut andil menjadi sasaran air hujan yang kini turun semakin deras dengan kilat dan guntur yang bersahutan.


Alby masih berada di depan pintu namun ia sama sekali tidak memberi peringatan pada Devi agar segera masuk ke dalam rumah dan bahkan kini Alby sudah berjalan memasuki rumah meninggalkan Devi sendirian di tengah hujan.


"Non!! Non Devi kenapa hujan-hujanan seperti ini? Ayo cepat masuk dan mandi air hangat supaya tidak demam," pekik Asep yang terkejut melihat Devi basah kuyub.


Asep segera berlari ke arah Devi dengan sebuah payung dan segera memayungi tubuh basah Devi.


"Sep," lirih Devi.


"Ayo kita masuk dulu, anginnya mulai kencang non," ajak Asep sembari menarik tangan Devi lembut.


"Sep," panggil Devi sembari menahan tangan Asep.


"Ada apa non? Lho non Devi kenapa menangis?" panik Asep begitu melihat Devi terisak pelan.


"Menangis apanya? Ini air hujan," elak Devi sesenggukan.


"Argh!!"


"Hati-hati non, kaki non kan masih sakit gara-gara terkilir," tegur Asep sembari memapah Devi.


"Ini gara-gara kau kupanggil tidak datang-datang jadinya aku melompat turun sendiri dari kuda!" omel Devi seraya menghapus air matanya.


"Iya maafkan saya. Ayo kita masuk biar saya kompres kakinya," ucap Asep.


"Sep," panggil Devi.


"Iya non."


"Lukanya di kaki sakitnya di hati huaaaaa," raung Devi yang membuat Asep langsung panik.


"Hati non kenapa?!!"


"Patah," jawab Devi sesenggukan.


"Hah?"


"Sep besok kau harus mengantarku pergi ke kota!"


"Kota?"


"Aku harus meminta pertanggung jawaban dari Gara!"


*****


Si Alby sebenernya juga suka sama Devi gaes cuma kehalang si Laudya:'(

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya;)


Kritik dan sarannya aku tunggu


__ADS_2