
Drt....drt...
"Kamu temui Arin dulu, aku angkat telepon sebentar," ujar Alby begitu mereka tiba di tempat Arin.
Devi pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, ia pun segera turun dari mobil dan berlari menemui Arin.
"Arin!!!"
Begitu melihat kedatangan Devi, Arin langsung berhambur ke pelukan Devi dan menangis dengan keras.
Devi berusaha menenangkan Arin dan mengelus pelan punggungnya. Setelah dirasa Arin sedikit tenang, barulah Devi berani bertanya pada Arin apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Devi lembut.
"Dev huaaaaaa. Kak Fitra selingkuh!!!! Dia membawa perempuan lain ke apartemennya huaaaaa," tangis Arin pecah kembali.
"Husttt tenanglah. Kau lihat di mana? Bisa saja kau salah lihat."
Arin menyodorkan ponselnya pada Devi, Devi pun menerimanya dan matanya membola sedetik setelah ia melihat foto Fitra yang tengah bersama perempuan lain.
"Ka...kau dapat foto ini dari mana?" tanya Devi mulai ikut terpancing emosinya.
"Aku sengaja masuk ke dalam apartemennya secara sembunyi-sembunyi untuk memberinya kejutan dan begitu aku masuk, aku langsung disuguhi pemandangan itu huaaaa."
"Lalu si buaya itu tidak mengejarmu ke mari? Dia hanya diam saja tanpa menjelaskannya padamu?!!"
"Kak Fitra belum melihat kedatanganku jadi aku pergi sebelum ketahuan olehnya," jawab Arin sesenggukan.
"Kau tahu password pintunya?" tanya Devi mantap yang diangguki oleh Arin.
"Kalau begitu ayo kita kembali dan beri pelajaran pada buaya itu!!!"
"Tunggu dulu, kau mau ke mana?!" cegah Gara begitu Devi menarik tangan Arin untuk mengikutinya.
"Gara, kapan kau tiba?"
"Kebetulan aku sedang di Indonesia, Arin meneleponku sembari menangis mangkanya aku datang ke mari."
"Kalau begitu baguslah ada bantuan datang. Ayo!"
"Ke mana?" tanya Gara menghentikan langkah Devi.
"Melabrak si buaya Fitra! Aku tidak bisa tinggal diam begitu temanku disakiti. Aku harus memberinya pelajaran," ujar Devi penuh emosi.
"Memangnya kak Fitra kenapa?" tanya Gara bingung.
"Kak Fitra selingkuh!" jawab Devi emosi yang dibenarkan oleh Arin.
Gara tampak diam sejenak sembari menoleh ke arah Arin. Terlihat jelas bagaimana kacaunya Arin, itu tandanya apa yang dikatakan Devi memang benar. Fitra telah berselingkuh!!
"Kalau begitu lakukanlah, aku akan mengikutimu dari belakang. Kalau kak Fitra maju melawanmu aku akan siap menggantikanmu melawannya."
Devi mengedipkan kedua matanya dua kali begitu ia mendengar penuturan Gara. Apakah Gara benar-benar mendukung tindakannya?
"Kau perlu senjata tidak?" tanya Gara menyadarkan Devi.
Devi tampak memperhatikan sekitarnya sampai matanya menemukan sebuah botol plastik air mineral besar yang masih ada isinya setengah. Devi pun berlari untuk mengambilnya.
"Aku bawa ini saja. Airnya masih setengah jadi kurasa ini akan sakit jika kupukulkan ke kepalanya."
"Jangan kepalanya," cegah Gara.
"Kenapa?"
"Dia bisa mati. Bagian yang lain saja."
"Oke! Arin kau tidak bawa sesuatu?"
"Ak...aku? Aku bawa apa?" bingung Arin.
"Itu ada pot bunga. Kau bawa itu saja," tunjuk Devi pada sebuah pot bunga berukuran besar yang terbuat dari semen.
"Dev kau ingin melabrak kak Fitra atau membunuhnya? Sudahlah bawa botol itu saja sudah cukup."
"Tapi ini masih kurang Gara," rengek Devi.
"Apa perlu kubawakan pisau sekalian?"
Devi mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Gara, lalu setelahnya ia bergegas masuk ke dalam apartemen Fitra bersama Arin dengan Gara yang mengekor di belakanganya.
Begitu tiba di depan apartemen Fitra, Devi mempersilahkan Arin untuk membuka pintunya.
__ADS_1
"Aku tidak tega melihat kak Fitra terluka," cicit Arin.
"Kenapa tidak tega? Kak Fitra saja tega menyakitimu Arin. Bukalah matamu, kau ini buta ya?!"
Mendengar ucapan Devi, Arin pun memantapkan hatinya untuk memberi pelajaran pada Fitra.
"Setelah kita memberinya pelajaran, kau putuskan dia dengan keren."
Arin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Anak-anak," panggil Gara.
"Ha?" bingung Devi. Siapa yang dipanggil anak-anak oleh Gara?
"Kalian tidak perlu melakukan ini, kalau kalian mau aku bisa memukulnya untuk memberinya pelajaran. Kalian tidak perlu turun tangan," ujar Gara begitu ia berubah pikiran tidak jadi mendukung tindakan Devi dan Arin. Gara yakin ini akan jadi keributan yang besar dan Gara menyesal telah menyetujui ide ini.
Lagipula bukankah ide Arin dan Devi selalu berakhir buruk?
"Tidak perlu! Untuk urusan ini biar aku yang menyelesaikannya," ujar Arin menolak Gara.
"Aku akan membantumu," ujar Devi yang diangguki oleh Arin.
Gara menatap Arin tidak habis pikir. Apa bedanya bantuannya dengan bantuannya dari Devi? Bukankah sama-sama memberi pelajaran pada Fitra?
Ceklek!
Begitu pintu terbuka, Devi dan Arin pun langsung menerjang masuk ke dalam apartemen Fitra.
Begitu mendapati Fitra tidak ada di ruang tamu maupun ruang tengah, Arin pun menunjukkan di mana kamar Fitra berada. Gara yang mengetahui hal tersebut hendak melarang keduanya untuk membuka pintu kamar Fitra sembarangan. Takut jika mereka melihat pemandangan yang tidak seharusnya mereka lihat.
Namun Gara kalah cepat, Devi dan Arin sudah berhasil masuk ke dalamnya.
Begitu masuk ke dalam kamar Fitra, Devi dan Arin melihat Fitra yang tengah menatap mesra seorang wanita yang berbaring di ranjangnya
"Kak Fitra!!!" panggil Arin penuh emosi.
Fitra yang melihat kedatangan Arin dan Devi pun sontak terkejut, tak terkecuali wanita yang juga berada di atas ranjang Fitra.
"Arin, apa yang-"
Bugh!!
Plak!!
Bugh!!
"Tega sekali kak Fitra menyakiti Arin!!!" marah Devi tanpa berhenti memukul Fitra dan Arin yang langsung menggigit tangannya.
"Argh!!! Sakit, Arin kenapa kau menggigit tanganku?!!! Dev hentikan!!" teriak Fitra kesakitan sembari mencoba melepaskan gigitan Arin dan menangkis pukulan Devi.
Mendengar suara kesakitan Fitra, Devi pun juga terpikirkan untuk menggigit Fitra. Alhasil, Devi pun ikut menggigit lengan Fitra yang tambah membuatnya menjerit kesakitan.
Wanita yang berada di ranjang Fitra pun tidak tinggal diam, ia juga berusaha menyelamatkan Fitra dari amukan kedua remaja asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan mengamuk.
"Siapa kalian ini?! Kenapa menyerang Fitra!!"
Dirasa sudah tidak kondusif lagi, Gara pun segera menghentikan Devi dan juga Arin.
"Sudah hentikan, sudah cukup kalian memberinya pelajaran," ujar Gara mencoba melepaskan Devi dari Fitra karena Gara tahu seberapa sakitnya gigitan Devi daripada Arin.
"Kenapa menghentikanku?" protes Devi pada Gara begitu gigitannya terlepas dari lengan Fitra.
"Sudah cukup, jangan digigit lagi. Kau tidak lihat bekas gigitanmu seperti gigitan harimau?" ujar Gara. "Sekarang biar Arin yang menyelesaikan semuanya."
"Kau bertanya aku siapa kan? Aku ini pacarnya kak Fitra!!!" marah Arin sembari menunjuk ke arah Fitra.
Wanita itu tampak terkejut.
"Pacar?"
"Iya!!! Kenapa?!! Kau tidak percaya?!! Tanya saja pada buaya tukang selingkuh ini!!" Arin menunjuk ke arah Fitra.
"Aku berselingkuh?" tanya Fitra bingung.
"Tidak usah pura-pura bingung! Aku melihat semuanya!!" ujar Arin.
"Apa yang kau lihat?" tanya Fitra sembari menatap Arin. Fitra merasa tidak terima ia dituduh Arin berselingkuh.
Arin pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang sama yang ia tunjukkan kepada Devi pada Fitra.
Fitra tampak terkejut, namun detik berikutnya tanpa basa-basi lagi, Arin kembali menyerang Fitra.
__ADS_1
Kali ini Fitra tidak tinggal diam, ia berusaha menghentikan Arin.
"Arin hentikan!! Dengarkan dulu penjelasanku!!"
"Penjelasan apa? Penjelasan tentang awal mula kak Fitra berselingkuh?!"
Fitra berhasil menangkap kedua tangan Arin sehingga Arin tidak berhasil memukul Fitra lagi.
"Aku tidak berselingkuh!" ujar Fitra.
"Lalu siapa dia?"
"Dia temanku," jawab Fitra.
"Teman? Teman apa yang sampai dibawa masuk ke dalam apartemen bahkan sampai kak Fitra tidurkan di ranjang kak Fitra ha?" marah Arin dengan mata berair. "Aku juga lihat kak Fitra membiarkan dia tidur dalam pelukannya kak Fitra, bahkan kak Fitra juga menggenggam tangannya. Apa itu yang dinamakan teman?"
"Hana sedang sakit jadi aku membawanya ke kamarku untuk beristirahat."
"Kalau sakit kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?!" balas Devi.
"Sudah kubilang jangan ikut campur!" tegur Gara pada Devi.
"Arin kumohon jangan membuat semuanya semakin runyam. Aku tidak berselingkuh darimu. Ini tidak seperti yang kau lihat."
"Berhenti berbohong, aku sudah melihatnya sendiri kak!! Lepaskan tanganku!!!"
Arin berontak sekuat tenaga dan berusaha memukul Fitra kembali.
"Baiklah akan kukatakan yang sebenarnya!!" ujar Fitra pada akhirnya.
"Aku memang pernah berniat berselingkuh darimu karena apa? Karena sifatmu yang seperti ini. Kau sangat kekanak-kanakan. Melarangku ini dan itu dan selalu cemburu saat aku dekat dengan teman wanitaku. Kami hanya berteman tapi kau sudah berpikir berlebihan. Lihat saja contohnya saat ini. Aku hanya sedang mengobati teman masa kecilku dan membawanya istirahat ke kamarku, kau sudah menuduhku selingkuh bahkan kau juga membawa temanmu untuk menyerangku. Aku sudah menjelaskannya padamu tapi kau tidak mau mendengarkanku, bukankah semuanya bisa dibicarakan baik-baik tanpa membuat keributan seperti ini?"
Arin yang mendengarnya pun sontak meneteskan air matanya mendengar perkataan Fitra.
"Tidak bisakah kau bersikap dewasa? Kau sudah bukan remaja lagi, sifat kekanakanmu harus dikurangi," lanjut Fitra.
Arin terdiam dan menundukkan kepalanya dalam sembari menangis sesenggukan.
Melihat Arin yang menangis karena perkataan Fitra, Devi pun tidak tinggal diam. Ia segera memukul dan menggigit Fitra lagi membuat Fitra mengaduh kesakitan.
"Argh!!! Dev kau jangan ikut campur!!"
"Kenapa kak Fitra berbicara seperti itu pada Arin?!! Arin melakukan ini semua karena sangat mencintai kak Fitra tahu!!"
Melihat keributan kembali terjadi, Gara pun menjambak rambutnya frustasi dan kembali menghentikan Devi dari aksinya.
"Dev lepaskan!" perintah Gara.
"Aku tidak mau melepaskannya sebelum kak Fitra melepaskan Arin!"
Tanpa diduga, wanita yang berada di atas ranjang Fitra tadi juga turut dalam perkelahian tersebut. Wanita itu langsung menjambak rambut Devi agar Devi melepaskan gigitannya pada Fitra.
"Lepaskan Fitra!"
Merasa sakit, Devi pun melepaskan gigitannya dan berbalik menyerang wanita tersebut.
"Wah beraninya kau menjambak rambutku!!"
Gara yang frustasi pun segera menghubungi Alby supaya datang ke mari untuk memisahkan perkelahian ini.
Di sisi lain, Alby yang saat itu selesai menelepon seseorang pun kebingungan begitu tidak mendapati Devi di tempatnya.
Karena panik, Alby pun mencari Devi di sekitar tempat tersebut namun nihil. Alby mencoba menghubungi Devi namun Devi tidak menjawabnya, lalu tiba-tiba Alby melihat layar ponselnya dan tertulis Gara sedang menghubunginya.
Tanpa menunggu lama, Alby segera menjawabnya.
"Halo."
"......"
Segera setelah mematikan sambungan teleponnya, Alby berlari ke tempat yang dimaksudkan Gara.
Setelah beberapa saat berlari, akhirnya Alby tiba di depan pintu apartemen Fitra. Alby yang tahu password pintu tersebut dari Gara pun segera membukanya.
Begitu masuk, Alby dapat mendengar suara keributan yang berasal dari sebuah ruangan. Tanpa menunggu lama lagi, Alby langsung berlari ke sumber suara.
Alby langsung melebarkan kedua matanya begitu melihat situasi yang berada di hadapannya.
Arin yang tengah berusaha melepaskan diri dari cekalan Fitra bahkan Arin juga menggigit tangan Fitra untuk minta dilepaskan. Sedangkan Devi yang kini adu jambak dengan seorang wanita dan Gara yang kesusahan memisahkan keduanya.
"Hentikan!!!!" bentak Alby lantang membuat semuanya berhenti dan menoleh ke arah Alby.
*****
__ADS_1