Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Berkelahi 'Lagi'


__ADS_3

Arin dan Gara menatap ke arah Devi dengan pandangan heran. Pasalnya sedari ia masuk ke dalam kelas hingga mereka berada di kantin untuk istirahat Devi tidak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri. Bahkan tidak jarang tiba-tiba ia tertawa kecil yang membuat Gara dan Arin reflek menempelkan telapak tangannya pada dahi Devi untuk mengecek suhu badannya.


"Dev kau masih sakit?" tanya Gara.


"Tidak. Siapa yang sakit?" jawab Devi sembari meminum jus alpukatnya.


"Lalu kenapa kau sedari tadi senyum-senyum sendiri? Ini pasti karena kak Raden kan? Kemarin kau kan pergi menemuinya dan gara-gara itu juga aku dan Gara menjadi tukang cuci piring dadakan," ujar Arin sedikit kesal begitu ia ingat kejadian di restoran kemarin.


"Ah aku minta maaf, nanti kuganti uangnya dua kali lipat karena kalian harus menjadi tukang piring dadakan," ujar Devi menyesal. "Tapi aku senang hari ini bukan karena kak Raden, tapi om Alby," lanjut Devi riang.


"Om Alby?"


"Iya. Mendekatlah ke arahku," ujar Devi meminta Gara dan Arin mendekat ke arah Devi.


"Om Alby menciumku," ujar Devi sembari tersenyum malu.


"Apa?!!!"


"Arin jangan berteriak nanti yang lain dengar!!" tegur Devi meminta Arin untuk tenang.


"Kau serius? Tapi bagaimana bisa?" tanya Gara heran.


"Apanya yang tidak bisa, tentu saja bisa. Buktinya kemarin om Alby menciumku, mungkin om Alby tertarik padaku," ujar Devi percaya diri.


"Tapi om Alby kan berkencan dengan tante Laudya," timpal Arin.


"Belum berkencan, mereka masih tahap pendekatan," koreksi Devi membetulkan perkataan Arin.


"Sama saja. Jika om Alby pendekatan dengan tante Laudya itu berarti om Alby tertarik pada tante Laudya. Tidak mungkin om Alby tertarik pada gadis SMA sepertimu. Aku saja yang masih SMA pasti akan memilih tante Laudya kok dari pada kau," ujar Gara yang membuat Devi mendelik ke arahnya.


"Lalu bagaimana dengan kak Raden? Bukankah kau menyukainya?" tanya Arin penasaran.


"Tidak bisakah aku menyukai keduanya? Aku tidak ingin melepaskan mereka," ujar Devi memelas.


"Mana boleh seperti itu. Kau harus memilih salah satu diantara mereka," nasehat Gara yang disetujui oleh Arin.


Devi menghela nafasnya pelan. Jujur saja saat ini ia bingung dengan perasaannya sendiri. Entah ia menyukai Raden atau Alby ia sendiri juga masih belum tahu. Tapi yang jelas Devi tidak ingin melepaskan keduanya.


"Mungkin ini karena aku jarang bertemu dengan kak Raden dan malah sering bertemu dengan om Alby jadinya aku mulai menyukai om Alby. Seharusnya kak Sean menitipkanku pada kak Raden saja dengan begitu aku tidak bingung dengan perasaanku sendiri," cicit Devi.


"Untung saja aku jarang bertemu dengan kak Fitra dan malah sering bertemu dengan Gara tapi aku tidak menyukai Gara," ujar Arin menghela nafasnya lega.


"Hei apa maksudmu berbicara begitu? Kau pasti ingin bilang aku tidak menarik kan?" tanya Gara tersinggung.

__ADS_1


"Kenapa kau jadi salah paham padaku, aku kan hanya mengungkapkan isi hatiku saja," balas Arin.


Devi memilih untuk diam menikmati pertengkaran Arin dan juga Gara. Tidak lama kemudian Leo, ketua kelasnya datang menghampirinya.


"Dev, setelah bel masuk nanti bu Septi memintamu untuk melakukan tryout susulan di perpustakaan," ujar Leo memberitahu Devi.


"Oke, terima kasih," balas Devi.


Pada saat tryout kedua dilaksanakan Devi berada di Singapura untuk menemani Sean dan sekarang begitu ia kembali ke sekolah, ia harus melaksanakan tryout susulan sendirian.


"Aku pergi dulu ke kelas untuk belajar sebentar sebelum bel berbunyi," pamit Devi pada kedua sahabatnya itu.


"Tapi kau belum memakan makananmu sama sekali. Lihat, makananmu masih utuh siapa yang akan memakannya?"


"Kau makan saja Gara. Aku harus cepat pergi sebelum bel berbunyi."


Devi langsung berlalu meninggalkan keduanya.


"Makanan ini sudah dibayar kan?" tanya Gara pada Arin.


*****


Setelah selesai melaksanakan tryout susulan, Devi pun berniat untuk kembali ke kelasnya. Sepanjang perjalanan, Devi merengganggkan ototnya yang mulai kaku karena duduk cukup lama untuk mengerjakan soal dua mata pelajaran yang diujikan hari ini.


Devi mengelus pelan perutnya yang terasa lapar. Ia belum makan apapun selain sarapan tadi pagi. Seharusnya ia menuruti Gara yang memintanya untuk memakan makanannya terlebih dahulu dan sekarang ia menyesal.


Devi sudah tidak memiliki waktu untuk pergi ke kantin lagi karena sekarang waktunya kelas dimulai. Devi tidak ingin ketinggalan materi yang akan diajarkan hari ini.


Begitu ia melewati kelas Jessica yang kebetulan sedang jam kosong, Devi melihat Jessica yang berdiri di depan kelasnya. Devi berjalan begitu saja melewatinya dan menganggap ia tidak melihat keberadaan Jessica.


Jessica yang melihat Devi melewatinya begitu saja pun merasa kesal dan langsung berjalan menyusul Devi.


"Hei tukang ngadu!" panggil Jessica yang membuat Devi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jessica.


"Aku?" tunjuk Devi pada dirinya sendiri.


"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan kau?!! Kau sengaja mengadu pada kakakku kalau aku menyuruhmu mati bersama kedua orangtuamu kan?"


"Memangnya kenapa? Kau dimarahi ya oleh kakakmu? Kasian sekali, lagi pula kau kan memang bilang seperti itu padaku dan asal kau tahu aku tidak berniat mengadu pada kakak tercintamu. Kakakmu sendirilah yang memaksaku untuk memberitahunya," balas Devi sembari tersenyum mengejek ke arah Jessica.


"Kau pikir aku mempercayai perkataanmu? Kau kan tukang tipu, kau lupa kau sudah menipu seluruh orang dengan berpura-pura menjadi adik dokter Alby?"


"Terserah kau mau bilang apa, aku tidak perduli." Devi berjalan mendekat ke arah Jessica dan berbisik tepat di telinganya. "Jika kau tidak ingin kupukul lebih baik berhentilah menggangguku."

__ADS_1


Devi menyunggingkan smirknya sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan Jessica.


"Jadi seperti ini ya anak tanpa asuhan orang tua. Tidak heran kenapa kakakmu juga ikut pergi menyusul orang tuamu, mungkin kakakmu lelah punya adik preman sepertimu. Kenapa? kau ingin memukulku?" tanya Jessica begitu DeviĀ  menghentikan langkahnya.


"Aku ingin menjambak rambutmu. Kemarilah!!" Devi berbalik dan langsung menjambak rambut panjang Jessica hingga keduanya terjatuh dan berguling-guling di lantai.


"Sini kujambak biar lepas rambutmu dari kepalamu!!" ujar Devi tanpa melepas jambakannya.


"Lepaskan!!! Sakit!!" pekik Jessica sembari melakukan perlawanan.


Jessica yang berhasil melepaskan tangan Devi dari rambutnya pun balik menyerang Devi. Jessica mencakar pipi Devi dan menyisakan goresan dengan sedikit darah di sana. Rupanya Jessica sengaja tidak memotong kukunya untuk berjaga-jaga jika ia berkelahi dengan Devi lagi.


"Kau ini kucing atau apa?!! Kenapa mencakarku!!!" marah Devi kembali meraih rambut Jessica.


Keributan yang dilakukan Devi dan Jessica pun berhasil menarik perhatian kelas di sekitarnya termasuk kelas Jessica sendiri yang sedang jam kosong.


Para siswa langsung menyalakan ponselnya dan merekam perkelahian mereka tanpa ada yang mau memisahkan mereka. Bahkan Clara yang notabene teman Jessica pun lebih memilih memperhatikan perkelahian tersebut dari pada ikut membantu Jessica.


"Kenapa kau tidak mati saja?!! Kenapa kau tidak ikut kakakmu menyusul orang tuamu!!!" ujar Jessica sembari melayangkan tamparannya pada pipi Devi. Tamparan Jessica tepat mengenai bekas cakarannya tadi sukses membuat darah di pipi Devi bertambah keluar.


Devi bisa merasakan darah yang sedikit mengalir di pipinya namun ia berusaha mengabaikannya karena Devi tidak ingin begitu ia melihat darah, bayangan mimpi buruknya kembali terputar di kepalanya.


Devi menghentikan aksinya begitu juga dengan Jessica begitu seorang guru menginterupsi perkelahian mereka.


"Apa yang kalian lakukan?!!!"


Keduanya hanya saling diam sembari menatap satu sama lain dengan tajam.


"Kalian berdua cepat pergi ke ruang BK sekarang juga!!! Mau jadi apa kalian nanti ha?! Bagaimana bisa seorang perempuan berkelahi seperti preman seperti itu?!!!" bentak pak Makrus marah.


Keduanya diam bergeming tanpa ada yang berniat untuk melangkahkan kakinya menuju ruang BK duluan. Devi menatap Jessica dengan marah. Jessica yang mendapat tatapan marah Devi hanya mengedikkan bahunya acuh dan berjalan ke arah ruang BK.


"Cepat pergi ke ruang BK!" perintah pak Makrus lagi begitu Devi hanya diam di tempatnya tanpa mau beranjak.


Devi pun melangkahkan kakinya menyusul Jessica. Begitu ia sejajar dengan Jessica, Devi langsung membisikkan sesuatu pada Jessica yang membuat Jessica menghentikan langkahnya dan menggeram marah ke arah Devi.


"Lain kali akan kupastikan rambutmu lepas dari kepalamu dan kalau dipikir-pikir kenapa tidak kau saja yang pergi menyusul kakakku daripada kau repot-repot menyuruhku? Kau tenang saja, aku pasti akan datang ke pemakamanmu," bisik Devi.


Setelahnya Devi langsung berjalan mendahului Jessica sembari menyenggol bahu Jessica dengan kasar.


Tanpa Jessica sadari begitu Devi berjalan di depan Jessica, Devi meneteskan air matanya dan langsung menghapusnya sebelum disadari oleh orang lain.


Kenapa terus memintaku untuk mati? Perkataan itu sangat melukai hatiku! Apa aku tidak pantas hidup?

__ADS_1


*****


__ADS_2