
"Aww sakit om!!" pekik Devi kesakitan begitu Alby mengoleskan salep luka di pipinya.
"Inilah akibatnya jika kau berkelahi seperti itu. Kau ini laki-laki atau perempuan?! Mana boleh kau memukul temanmu seperti itu?!!" marah Alby sembari terus mengobati memar di pipi Devi.
"Jessica yang memukulku terlebih dahulu om! Jika dia tidak memukulku mana mungkin aku memukulnya lebih dulu? Aku ini cinta damai om! Aku hanya membela diri, lagipula bukankah om Alby sendiri yang mengijinkan aku berkelahi dengan Jessica? Om Alby sudah tua ya mangkanya lupa?" balas Devi berani.
Alby yang mengobati luka Devi pun langsung menghentikan kegiatannya begitu mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Devi. Alby sangat tersinggung jika itu menyangkut usianya.
"Jangan membawa-bawa masalah tua! Lagipula kenapa kau tidak bisa membedakan mana bercandaan mana tidak? Aku berkata seperti itu bukan berarti aku mengijinkanmu untuk berkelahi. Kau itu perempuan, perempuan tidak boleh berkelahi seperti itu!" tegur Alby tersinggung.
"Jadi menurut om Alby aku harus diam saja saat Jessica dan teman-temannya merundungku? Aku ini hanya membela diri om! Jessica menampar pipiku lebih dulu dan aku hanya membalas perbuatannya om. Om pikir ditampar Jessica tidak sakit?! Kenapa om Alby malah memarahiku?!!" marah Devi dengan dada naik turun penuh amarah. Bahkan kedua mata Devi ikut berkaca-kaca karena saking kesalnya.
Alby yang melihat Devi seperti itu pun menghela nafasnya pelan dan kembali melanjutkan mengobati luka Devi. Alby tahu ia salah karena memarahi Devi. Devi hanya membela dirinya karena dirundung oleh Jessica dan teman-temannya. Lagipula ini juga salahnya karena berbicara seolah mengijinkan Devi berkelahi dengan Jessica. Mulai besok Alby akan berhati-hati dengan ucapannya.
"Jangan menyentuhku!" tepis Devi saat Alby hendak mengoleskan salep ke pipinya.
"Lukanya tidak akan sembuh jika tidak diobati," ujar Alby menahan marah.
"Biar saja! Memangnya apa peduli om Alby padaku? Om Alby kan hanya melaksanakan amanat dari kakakku saja tidak lebih, jadi om Alby berhenti saja berpura-pura peduli padaku," ujar Devi.
"Aku tidak pura-pura. Aku benar-benar peduli padamu terlepas itu amanat dari Sean atau bukan. Aku peduli padamu mangkanya aku menasehatimu," tutur Alby.
"Menasehati apanya? Om Alby kan sedari tadi hanya memarahiku. Pagi tadi membela Rea sekarang membela Jessica. Aku ini memang tidak ada benarnya di mata om Alby."
"Baiklah aku salah. Aku minta maaf," ujar Alby.
Devi hanya diam saja tanpa menjawab permintaan maaf Devi. Bahkan gadis itu tidak mau menatap kearah Alby.
"Kau tahu kau salah kan om?" cicit Devi.
"Iya aku tahu."
"Lalu kenapa tetap memarahiku?"
"Aku hanya menasehatimu. Tapi sudahlah kita lupakan saja masalah ini, untuk kali ini aku akan memaklumimu. Aku tidak mau kau berkelahi lagi nanti, bila besok Jessica kembali merundungmu kau bilang saja pada gurumu atau kalau kau tidak mau, bilang saja padaku. Aku akan membuatnya jera," ujar Alby.
*****
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti putriku!!" marah seorang pria paruh baya yang tengah menatap dua orang di hadapannya dengan penuh amarah.
"Aku tidak akan menyakitinya jika kau menyerahkan bisnis dan istrimu padaku!"
"Kau gila!! Mana mungkin aku menyerahkan itu semua?!!!"
Dor!!
Devi yang bersembunyi di dalam almari pun melihat dengan jelas bagaimana ayahnya meregang nyawa begitu pistol itu menembak kepala ayahnya. Devi yang mengintip dari celah pintu almari pun langsung membekap mulutnya menahan tangisnya agar suaranya tidak terdengar dan keberadaannya tidak diketahui. Devi tidak dapat melihat dengan jelas siapa pria paruh baya tersebut karena posisi Devi membelakanginya.
"Si brengsek Banyu berisik sekali. Ayo pergi. Kita cari Marinka."
Setelah kedua pria tersebut pergi, Devi pun berjalan mendekat kearah ayahnya dengan kedua kaki dan tangannya yang bergetar hebat. Devi pun jatuh terduduk di samping ayahnya yang sudah terbujur kaku karena tertembak pada bagian kepalanya itu.
__ADS_1
Tanpa sengaja, kedua tangan Devi mengenai genangan darah ayahnya yang menggenang di lantai dan hal itu langsung membuat Devi ketakutan dan Devi pun langsung mengelap tangannya ke baju putihnya dengan panik.
"Ayah!!!!! Ayah!!!! Jangan tinggalkan aku yah!!!"
"Ayah!!!" raung Devi histeris sembari menggoncang-goncangkan tubuh ayahnya.
"Ayah!!!!"
"Jangan tinggalkan aku yah!!"
"Ayah...Ayah!!"
"Dev! Devi bangun!"
"Dev!"
"Devi!!"
Devi langsung terbangun dari mimpi buruknya begitu Alby mengguncang tubuhnya pelan dan menepuk pipinya. Keringat membanjiri kening Devi, nafasnya naik turun tidak beraturan dan wajahnya pucat pasi membuat Alby semakin khawatir.
"Ada apa?" tanya Alby khawatir.
Tanpa menjawab pertanyaan Alby, Devi malah menatap ke arah telapak tangannya yang masih bergetar dengan air mata yang terus saja mengalir membasahi pipinya.
"Darah," cicit Devi.
"Darah?" Alby tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Devi. Ia pun kebingungan dan mencari darah apa yang Devi maksud.
Alby terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Devi namun ia berusaha menenangkan Devi agar gadis itu berhenti mengusapkan tangannya pada pakaiannya.
"Ada darah ayah di tanganku om," ujar Devi di sela tangisnya.
"Hentikan Dev, tanganmu bisa terluka," cegah Alby sembari menggenggam tangan Devi.
"Om ayo bawa ayah ke rumah sakit om!!! Ayo selamatkan ayah, om Alby dokter kan? Om Alby bisa menyelamatkan ayah kan??!!"
Alby pun langsung memeluk tubuh Devi dan menenangkan gadis itu dalam pelukannya. Sebenarnya mimpi macam apa yang membuat Devi ketakutan sampai seperti ini? Alby ingin sekali bertanya pada Devi tentang mimpinya namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Alby harus menunggu Devi siap untuk menceritakan mimpinya sendiri. Pasalnya ini kali kedua Devi mengalami mimpi buruk seperti ini dan itu membuat Alby khawatir.
Setelah dirasa Devi sudah tenang, Alby pun melepaskan pelukannya dan menatap Devi yang sedang menangis tersedu-sedu dengan kedua mata Devi yang terus saja bergerak gelisah.
"Dev dengarkan aku," ujar Alby namun Devi mengacuhkannya.
"Dev dengarkan aku." Kali ini Alby memegang kedua pipi Devi agar gadis itu menatap kearahnya.
"Itu semua hanya mimpi buruk. Tidak apa-apa, semua baik-baik saja. Jangan takut," ujar Alby menenangkan.
"Lihat, tanganmu sangat bersih kan? Tidak ada darah yang menempel di kedua tanganmu, itu semua hanya mimpi. Tenanglah," lanjut Alby sembari memeluk tubuh Devi lagi.
Perlahan, Devi pun mulai tenang meskipun masih terdengar isakan kecil. Alby pun mencium pucuk rambut Devi dan mengelus punggung gadis itu agar ia semakin tenang.
"Masih larut malam, kita tidur lagi ya?" tanya Alby yang dibalas gelengan kepala oleh Devi.
__ADS_1
"Ini masih malam dan besok masih harus sekolah, kau tidak ingin mengantuk saat pelajaran kan?"
"Aku takut om," cicit Devi.
"Tidak apa-apa, kan ada aku."
"Om Alby tidur disini ya malam ini?"
Alby tampak berfikir sejenak sebelum pada akhirnya ia menyetujuinya.
"Baiklah, ayo kita tidur," ajak Alby sembari melepaskan pelukannya.
Alby pun membaringkan tubuh Devi dan ia pun ikut merebahkan dirinya di samping tubuh Devi.
Alby tidak tidur, ia menyenderkan punggungnya pada sandaran ranjang dan menepuk-nepuk bahu Devi dengan pelan agar gadis itu tidur.
"Om boleh aku memelukmu?" tanya Devi dengan kedua mata berkaca-kaca. Alby yang merasa iba pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Devi.
Devi pun memeluk Alby dan mulai memejamkan kedua matanya untuk tidur.
"Sekarang tidurlah, aku tidak akan melepaskan pelukanku," ujar Alby sembari mencium puncak kepala Devi.
"Om," panggil Devi pelan.
"Hm?"
"Kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan kan om?" tanya Devi tiba-tiba.
Alby menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Bukankah Sean bilang jika kematian orang tuanya karena kecelakaan?
"Tadi aku bermimpi ayah dibunuh oleh seorang pria. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena aku bersembunyi di dalam almari. Pria itu mengancam akan menyakitiku dan ibu. Setelah mereka membunuh ayah, mereka pergi keluar mencari ibu," cerita Devi.
Alby sangat terkejut mendengar cerita yang keluar dari bibir Devi. Jika ini hanya mimpi biasa tidak mungkin Devi sampai ketakutan seperti itu, tapi jika hal itu memang terjadi kenapa Sean tidak berkata apapun padanya? Sepertinya besok ia harus memastikan sendiri pada Sean.
"Apa kau juga mimpi hal yang sama di dalam mobil tempo hari saat aku memintamu menunggu di parkiran?" tanya Alby.
"Tidak," jawab Devi menggelengkan kepalanya. "Aku bermimpi dikejar sekelompok pria tidak dikenal lalu ada yang menyelamatkanku dan membawaku pergi menggunakan mobil. Namun tiba-tiba pria itu berkata seperti ini padaku 'kau pasti benar-benar berfikir aku akan menyelamatkanmu ya?' Lalu pria itu keluar dari mobil dan membiarkan mobil yang kutumpangi tertabrak truk besar. Setelah itu om Alby membangunkanku," cerita Devi lagi.
Kini berbagai macam teka-teki memenuhi kepala Alby. Mungkinkah di dunia nyata Devi pernah mengalami kecelakaan sehingga dirinya amnesia dan melupakan semua kejadian yang terjadi pada kedua orangtuanya? Dengan kata lain kedua orang tua Devi memang menjadi korban pembunuhan dan satu-satunya saksi hidup adalah Devi, itulah mengapa sekelompok pria itu ingin membunuh Devi juga?
"Om?" panggil Devi.
"Ah iya? Ada apa?" tanya Alby tersadar dari lamunannya.
"Aku tidur dulu ya om. Om Alby jangan pergi kemana-mana," pinta Devi.
"Iya. Aku tidak akan pergi kemana-mana," ujar Alby.
*****
__ADS_1