
Alby menatap Devi yang terduduk di kursi penumpang sembari menghela nafasnya pelan. Kini Alby sedang dalam perjalanan mengantar Devi ke bandara. Devi masih sama seperti dua hari sebelumnya. Ia tampak pendiam, lesu dan muram membuat Alby sangat khawatir.
"Jangan sedih. Kakakmu tidak akan senang melihat kau bersedih seperti itu. Kau tahu, kami para dokter biasanya bercanda pada pasien yang mengalami penyakit parah seperti tumor, kanker yang berada di stadium akhir. Kami memperlakukan mereka semua sama seperti orang sehat pada umumnya agar mereka tidak terpikirkan tentang penyakit berbahaya mereka yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawanya," ujar Alby membuka pembicaraan.
Devi yang mendengar perkataan Alby pun menolehkan kepalanya menatap Alby sembari memeluk boneka Totonya dengan erat.
"Mereka yang sakit tidak ingin diperlakukan layaknya orang sakit. Mereka ingin menikmati masa-masa hidupnya dengan bahagia tanpa beban dari panyakit. Hal itu juga sama seperti kakakmu Dev. Coba bayangkan apa yang akan dirasakan kakakmu begitu melihat dirimu yang sekarang? Kau yang sekarang tampak pendiam tidak seperti biasanya. Apa menurutmu ini adalah hal yang diinginkan kakakmu? Tentu saja bukan! Kakakmu ingin kau tetap ceria seperti biasanya dan terlihat sangat bahagia. Itulah alasan mengapa kakakmu merahasiakan penyakitnya darimu. Kakakmu menyembunyikan hal ini bukan karena menganggapmu sebagai anak kecil, melainkan ia tidak ingin melihatmu sedih dan muram seperti ini. Ayolah, kau harus tunjukkan pada kakakmu kalau kau gadis yang kuat, cobaan seperti apapun tidak akan mampu membuatmu tumbang agar Sean tidak menyesal karena membiarkanmu mengetahui penyakitnya," tutur Alby.
"Om Alby benar, kalau begitu aku akan mencoba bersikap seperti biasa om," ujar Devi sembari tersenyum kearah Alby.
Alby yang mendengarnya pun membalas senyuman Devi sembari mengusap puncak kepala Devi pelan.
"Aku tahu kau bisa melakukannya."
"Tentu saja. Aku ini keturunan wonder woman lho om," timpal Devi membanggakan diri.
"Aku percaya, tapi apakah kau yakin kau akan berangkat sendiri tanpa ditemani Laudya?" tanya Alby ragu. Selain itu ia juga tidak tega Devi berangkat ke Singapura sendirian. Alby takut terjadi apa-apa di jalan.
"Aku yakin. Aku tidak mau berurusan dengan Jessica jika tante Laudya menemaniku ke Singapura," jawab Devi sembari menundukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa? Jessica mulai mengganggumu lagi?" tanya Alby.
"Tidak. Aku hanya mengantisipasinya saja," dusta Devi. Devi tidak mungkin mengatakan pada Alby jika kemarin Jessica berbicara kasar padanya dan mengganggunya. Devi merasa sudah dewasa sekarang dan ia akan belajar mengatasi masalahnya sendiri tanpa melibatkan Alby.
Ting!
Devi merogoh ponselnya dari dalam tas dan menemukan notifikasi pesan dari Raden. Tanpa menunggu lama, Devi segera membaca pesan dari Raden tersebut.
Kau ingat janjiku beberapa hari yang lalu kan? Aku akan membelikanmu es krim. Bisakah kita bertemu sekarang di kafe biasa? Aku ingin memberimu sesuatu.
Devi menghela nafasnya pelan sebelum mengetikkan balasan pesan untuk Raden.
__ADS_1
Maaf lain kali saja ya kak, aku sedang dalam perjalanan ke bandara. Aku akan pergi ke Singapura beberapa hari. Kita pergi jika aku sudah kembali ya;)
"Siapa?" tanya Alby.
"Kak Raden. Dia mengajakku bertemu di kafe hari ini," jawab Devi sembari menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Lalu kau jawab apa?"
"Aku jawab aku tidak bisa karena akan pergi ke Singapura."
"Bagus, kau pintar. Untuk saat ini fokus saja menghabiskan waktumu bersama kakakmu dan jangan perdulikan Raden dulu," nasehat Alby yang diangguki oleh Devi.
"Om Alby tidak perlu khawatir. Aku akan bersama kak Sean 24 jam nonstop," ujar Devi.
"Begitu tiba nanti langsung kabari aku dan jangan lupa beritahu aku jika terjadi sesuatu pada Sean. Satu lagi, jika kau bingung saat di bandara nanti kau hubungi aku saja aku akan memandumu," pesan Alby.
"Siap om!" jawab Devi semangat sembari memberi hormat pada Alby.
Alby tertawa kecil melihat tingkah Devi. Dalam hati Alby, ia merasa senang melihat Devi sudah sedikit kembali seperti semula.
*****
Raden menatap tajam kearah siput berwarna cantik di sebuah kotak dengan pita warna biru diatasnya. Raden sudah repot-repot memesan siput beracun itu dari India namun sepertinya rencananya gagal total!
Raden sengaja memilih Siput berwarna cantik yang dikenal dengan nama siput market kerucut itu untuk diberikan kepada Devi sebagai hadiah. Karena warnanya yang cantik, Raden yakin Devi tidak akan tahu jika siput itu mengandung racun mematikan, bahkan satu tetes racun siput tersebut dapat membunuh 25 orang dewasa sekaligus dan sampai saat ini belum ada obat penawar untuk racun tersebut. Bukankah itu hadiah yang sangat manis untuk Devi?
"Kali ini aku boleh gagal, namun akan kupastikan begitu kau kembali dari Singapura aku tidak akan gagal lagi," desis Raden penuh ambisi.
*****
__ADS_1
Para penumpang yang terhormat, selamat datang di negara Singapura, kita telah mendarat di Bandar Udara internasional Changi, kami persilahkan kepada anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar-benar berhenti dengan sempurna pada tempatnya dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan.
Devi menyampirkan kembali tas selempang hitamnya di bahunya. Ia meremas pelan ujung roknya untuk menguatkan dirinya karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan kakaknya. Devi harus bisa menahan perasaan sedihnya nanti saat ia berada di depan Sean karena seperti yang Alby bilang padanya, kakaknya pasti tidak ingin melihat Devi sedih.
"Aku harus bisa!" ujar Devi dalam hati menyemangati dirinya sendiri. Namun tetap saja air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Devi menghela nafasnya dalam sebelum akhirnya pesawat sudah mendarat dengan sempurna dan penumpang dipersilahkan untuk turun.
Devi segera merogoh ponselnya untuk memberi kabar pada Alby jika ia sudah mendarat dengan selamat, tinggal mencari Renata saja yang datang untuk menjemputnya.
Setelah memberi kabar pada Alby, Devi pun segera melangkahkan kakinya untuk turun dari pesawat dan mengambil bagasinya.
Begitu selesai mengambil bagasi, Devi segera menghubungi Renata dan bertanya dimana keberadaannya sekarang.
"Dev!" panggil Renata dari arah belakang.
Devi segera membalikkan badan dan melihat Renata yang sedang melambaikan tangan kearahnya. Tanpa menunggu lama lagi, Devi segera berlari dan berhambur ke pelukan Renata sembari menangis.
Renata pun mengelus punggung Devi dengan lembut untuk menenangkannya.
"Kak Renata jahat sekali padaku. Kenapa kakak tidak memberitahuku yang sebenarnya. Kenapa kakak mengiyakan saja permintaanku dulu saat kak Renata hendak berangkat ke Singapura?" tanya Devi sesenggukan.
Renata ingat apa permintaan Devi saat ia hendak berangkat ke Singapura dulu. Saat itu Devi memintanya untuk mencari kakaknya yang bernama Sean yang juga berada di Singapura dan Devi juga meminta agar Renata berkenalan dengan Sean, dengan begitu Devi akan dengan mudah memantau kakaknya dari Renata. Renata merasa bersalah saat itu karena telah membohongi Devi dan tidak memberitahu Devi bahwa tujuannya berangkat ke Singapura adalah untuk bertemu dengan Sean itu sendiri. Namun Renata tidak memiliki pilihan lain selain merahasiakannya dari Devi karena Sean dan Alby tidak ingin Devi mengetahui penyakit Sean.
"Aku minta maaf," sesal Renata.
"Aku memaafkan kakak. Aku tahu kok alasannya," ujar Devi sembari melepaskan pelukannya.
Renata pun tersenyum sembari menghapus air mata Devi.
"Kau sudah siap? Kita akan bertemu kakakmu," tanya Renata lembut.
__ADS_1
"Aku siap. Ayo kita temui kakak."
*****