Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Belajar


__ADS_3

Begitu ia memasuki apartemennya, Alby melihat bi Tari yang sedang membelai lembut rambut Devi. Alby pun berjalan mendekat ke arahnya.


"Devi tidur?" tanya Alby.


"Iya, mungkin ia kelelahan. Seharian ini dia membantuku membersihkan apartemenmu. Devi bilang dia harus bertanggung jawab atas kekacauan yang di perbuat," jelas bi Tari sembari tersenyum.


Alby yang mendengarnya pun ikut tertawa kecil.


"Baiklah bibi pulang dulu ya," pamit bi Tari.


"Iya. Terima kasih banyak bi, maaf merepotkan bi Tari," ujar Alby.


"Tidak masalah, bibi senang kau masih mengingat bibi," canda bi Tari yang dibalas tawa kecil oleh Alby. Bi Tari pun melangkahkan kakinya hendak pulang namun baru beberapa langkah, ia menghentikan jalannya dan berbalik ke arah Alby.


"By," panggil bi Tari. Alby pun menoleh ke arah bi Tari.


"Devi mirip dengan Icha. Bibi harap dengan hadirnya Devi, kau tidak lagi mengingat semua masa lalumu bersama Icha. Yang pasti kepergian Icha bukanlah salahmu," ujar bi Tari yang diangguki oleh Alby.


Setelah bi Tari benar-benar keluar dari apartemennya, Alby pun merasakan kedua tangannya bergetar hebat. Entahlah tiba-tiba saja rasa itu memasuki pikirannya dan membuatnya kembali teringat dengan masa lalunya.


Bibirnya bergetar, rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya.


Tes!


"Om kau menangis?" tanya Devi yang terbangun dari tidurnya.


"Tidak," elak Alby sembari mengusap air matanya dan untung saja Devi mempercayainya?


"Om, aku akan mandi dulu setelah itu kita makan bersama dan membahas tentang peraturannya ya om?" tanya Devi yang diangguki oleh Alby.


Devi pun berlari menuju kamarnya dan bersiap untuk mandi.


Alby menghembuskan nafasnya pelan sembari tangan kirinya meraih gelas dan menuangkan air ke dalamnya lalu ia meminumnya dalam sekali teguk.


Perasaan itu datang lagi.


*****


Selesai mandi, Devi keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Alby untuk membahas peraturan selama ia tinggal di apartemen milik Alby. Devi mendengus kesal jika mengingat hal tersebut. Tidak di rumah tidak sekolah semuanya penuh dengan aturan.


"Makanlah terlebih dahulu," perintah Alby begitu Devi datang.


Devi mengangguk patuh dan mulai memakan masakan bi Tari.


"Om Alby tidak makan?" tanya Devi begitu melihat Alby sibuk dengan ipadnya tanpa menyentuh masakan bi Tari sedikitpun.


"Aku sudah kenyang," jawab Alby tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ipadnya.


"Jadi apa peraturannya om?" tanya Devi di sela-sela makannya.


"Habiskan makananmu dulu," ujar Alby.


Devi pun segera memakan makanannya dengan lahab agar makanannya cepat habis dan Alby akan segera membahas peraturan sialan itu sekarang.


"Uhuk uhuk!!"


"Pelan-pelan saja tidak perlu buru-buru," ucap Alby lembut sembari menyodorkan air minum kepada Devi.


Devi meminum air pemberian Alby dengan bingung. Benarkah ini Alby?


"Om," panggil Devi.


"Hm."


"Aku tahu hari ini kau mengalami hari yang sulit, tapi perubahan sikapmu padaku membuatku takut," ujar Devi sembari bergidik ngeri.

__ADS_1


"Takut kenapa?"


"Om Alby kan yang biasanya selalu saja marah-marah. Hari pertama kita bertemu di rumah sakit pun om Alby juga memarahiku, apalagi karena kejadian tadi pagi kau juga sangat marah besar padaku. Tapi sekarang om Alby bersikap dan berkata lembut padaku. Kau baik-baik saja kan om?"


"Aku baik-baik saja. Dari mana kau bisa berpikiran jika aku tidak baik-baik saja?" tanya Alby sembari menatap Devi.


"Tadi om Alby menangis kan?" tanya Devi yang membuat Alby sedikit terkejut. Jadi Devi melihatnya menangis?


"Aku tahu itu pasti karena om Alby mengalami hal buruk di rumah sakit ataupun tempat lain tapi yang pasti suasana hatimu sedang tidak baik-baik saja kan?" tanya Devi lagi.


"Bagaimana jika itu semua karena kekacauan yang kau perbuat tadi pagi?"


"Jangan begitu, aku kan sudah minta maaf! Lagi pula semua juga sudah bersih seperti sedia kala," keluh Devi sembari mengerucutkan bibirnya.


Alby yang melihat Devi mengerucutkan bibirnya kesal pun tersenyum samar, karena menurut Alby Devi terlihat menggemaskan saat ia mengerucutkan bibirnya kesal.


"Baiklah aku memaafkanmu. Sekarang kita bahas peraturannya," ujar Alby yang membuat Devi kembali antusias.


"Apa om?"


"Pertama kau tidak boleh membawa siapapun ke apartemen ini-" ujar Alby.


"Baiklah, lalu?"


"Biarkan aku melanjutkan perkataanku terlebih dahulu baru kau boleh menimpalinya," tegur Alby yang dibalas cengiran oleh Devi.


"Kedua kau harus menuruti semua perkataanku. Sudah itu saja peraturannya," ujar Alby.


"Hah?"


"Sekarang waktunya belajar. Cepat minum obatmu lalu belajarlah. Kau sudah kelas tiga sebentar lagi ujian kelulusan," perintah Alby.


"Belajar?"


"Hm."


"Itu karena kakakmu sangat perduli padamu," ujar Alby.


"Perduli apanya? Jika dia perduli maka dia tidak akan meninggalkanku sendirian dengan orang asing hanya demi melanjutkan studynya," kesal Devi sembari bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Alby.


"Belajar," jawab Devi sinis.


Alby menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Devi. Devi memang masih anak-anak.


*****


"Huaaaaa!!!!!!!" kesal Devi sembari mencoret-coret buku tulisnya dengan kasar.


Sudah lebih dari satu jam Devi belum bisa menyelesaikan soal kimia satu pun.


Devi pun mangacak-acak rambutnya frustasi. Otaknya sudah tidak dapat diajak konpromi lagi.


"Kenapa sulit sekali huaaaa. Ini siapa yang membuat soal? Apa dia tidak punya hati nurani?" keluh Devi.


"Jangan menyalahkan pembuat soal. Kau saja yang tidak bisa mengerjakannya," tegur Alby yang baru saja memasuki kamar Devi.


"Om harusnya kau mengetok pintu dulu sebelum masuk!" tegur Devi pada Alby.


"Aku sudah mengetok pintu berulang kali tapi kau sibuk berteriak karena frustasi," ujar Alby.


"Apa suaraku terlalu keras?" tanya Devi yang diangguki oleh Alby. Devi yang melihat jawaban Alby pun menatap sebal ke arah Alby. Apa dia tidak bisa bohong sedikit saja untuk menjaga perasaan Devi?


"Kenapa kau kemari om?" tanya Devi.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memberitahumu jika mulai besok kau akan aku antar jemput sekolah," ujar Alby.


"Tidak perlu om, aku bisa kok naik bus. Lagi pula om Alby kan harus pergi bekerja."


"Tidak masalah, kita satu arah," ujar Alby.


"Tapi aku ada ekstrakulikuler melukis," ujar Devi.


"Kau tinggal bilang padaku pulang jam berapa nanti tinggal kujemput."


"Bagaimana jika aku ada ekstrakulikuler taekwondo?"


"Aku bisa menunggumu. Kau jangan cari-cari alasan agar aku tidak mengantar jemputmu. Kau pikir aku tidak tahu jika itu hanya akal-akalanmu saja? Kau pasti sengaja ingin naik bus ke sekolah agar dapat pergi jalan-jalan bersama Arin dengan alasan kau ada ekstrakulikuler kan? Dan apa itu tadi, taekwondo? Kau ikut taekwondo? Jangan bercanda, tubuh sekurus ini ikut taekwondo kena tendang langsung patah tulang," ujar Alby yang membuat Devi mencebikkan bibirnya kesal. Rupanya akal bulusnya sudah diketahui Alby.


"Baiklah-baiklah terserah om Alby saja," ucap Devi pada akhirnya.


Alby menatap buku Devi yang penuh dengan coretan di dalamnya. Devi yang paham arah pandang Alby pun langsung menutup buku tersebut dan menindihnya dengan siku tangannya.


"Jangan memarahiku om. Soal ini sulit sekali tapi om tenang-"


"Sini aku ajari. Mana soal yang menurutmu sulit?" tanya Alby sembari duduk di sebelah Devi. Devi mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Apa ini karena Alby merasa bersalah karena memarahinya tadi pagi mangkanya ia sangat baik padanya sekarang.


"Mana?" tanya Alby lagi yang langsung membuat Devi tersadar.


"Semua," cengir Devi.


"Semua?"


"Hehe."


"Mana coba lihat soal dan caranya kau mengerjakan," ujar Alby.


"Tunggu sebentar biar aku kerjakan lagi om. Jawabanku yang tadi sudah aku coret-coret semua," ujar Devi sembari mulai mengerjakan.


Alby sedikit melengkungkan bibirnya begitu melihat Devi mengerjakan soalnya dengan serius. Jika dilihat dari jarak dekat seperti ini, gadis itu terlihat manis dengan hidung mancungnya dan kulit putih bersihnya.


"Dev," panggil Alby.


"Ya?" jawab Devi tanpa mengalihkan fokusnya pada soal.


"Soal kakakmu. Ehm.. kau tahu jika kakakmu perduli dan menyayangimu bukan?" tanya Alby.


"Tahu."


"Soal kepergiannya ke Singapura tanpa berpamitan langsung padamu itu karena Sean tidak ingin melihat wajah sedihmu. Sean ingin kau selalu tersenyum dan bahagia bahkan saat Sean meninggalkanmu," ujar Alby ambigu.


"Lihat om, aku sudah mengerjakan soal ini tapi tidak ada jawaban yang benar di pilihan jawaban," rengek Devi mengalihkan pembicaraan.


Alby menghela nafasnya pelan, kemudian ia mengambil alih soal dan jawaban dari tangan Devi.


Begitu membaca soal dan melihat kebarah jawaban Devi, Sean sudah tahu di mana letak kesalahan Devi.


"Rumus yang kau gunakan salah. H2SO4 memiliki molaritas yang lebih besar dari yang kita butuhkan. Jika molaritas larutan tersebut lebih besar dari yang dibutuhkan maka kita harus melakukan pengenceran terlebih dahulu," jelas Alby.


"Bukankah jika diencerkan jumlah volume dan molaritasnya akan berubah om?"


"Ya, tapi jumlah mol yang terkandung tidak. Jadi menurutmu rumus mana yang akan kau gunakan?"


"V1×M1 \= V2×M2," jawab Devi mantap.


"Benar, kau sebetulnya pintar hanya saja kadang kepintaranmu tidak kau gunakan," ejek Alby.


"Om!!!"


*****

__ADS_1


__ADS_2