Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Kaki Devi Terkilir


__ADS_3

"Jadi apa alasannya om?" tanya Devi sembari berjalan mengekor di belakang Alby.


"Kita pulang dulu saja. Ini sudah malam," ujar Alby sembari tetap melanjutkan langkahnya menyusuri tangga.


"Tidak mau! Ayo katakan apa alasannya om?" paksa Devi sembari melompat-lompat kecil.


"Perhatikan jalanmu dan berhenti melompat-lompat seperti katak, jika kau terjatuh itu akan bahaya. Jika kepalamu membentur tegel dengan keras dia bisa pendarahan hebat dan-"


"Beritahu dulu om!" potong Devi.


"Kau kan sudah bilang akan member- argh!!" heboh Devi yang terhenti begitu kaki kirinya terkilir.


Alby langsung menghentikan langkahnya dan langsung memutar badannya melihat kearah Devi yang kini sedang memegang kakinya sakit.


"Kakiku terkilir om," rengek Devi sembari menunjuk kakinya.


"Kan sudah kubilang jangan melompat-lompat. Kenapa kau susah sekali menuruti perkataanku?" ujar Alby sembari berjongkok untuk melihat kaki Devi yang terkilir.


"Sakit tidak?" tanya Alby sembari memeriksa kaki Devi.


"Argh sakit om!" pekik Devi sembari memukul bahu Alby.


"Lihat, kakimu bengkak. Lebih baik kita ke dokter ortopedi saja untuk memeriksa kakimu," ujar Alby.


"Tidak mau," tolak Devi sembari mengerucutkan bibirnya.


"Masih tidak mau menuruti perkataanku?" tanya Alby sembari menatap tajam Devi.


Devi hanya diam saja dan menghindari tatapan tajam Alby.


"Gendong," lirih Devi pada akhirnya.


Alby pun menghela nafasnya pelan kemudian ia berjongkok membelakangi Devi dan meminta gadis itu agar naik ke punggungnya.


Devi pun tersenyum senang begitu Alby menggendongnya dan mulai menuruni tangga.


"Lain kali dengarkan perkataanku. Lihatlah sekarang kakimu terkilir dan besok kau juga masih harus try out," ujar Alby.


Devi hanya diam saja mendengarkan semua omelan Alby.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka tiba di ruangan dokter ortopedi. Untung saja dokter Reza belum pulang jadi Alby dapat meminta tolong agar memeriksa kaki Devi sebentar saja.


Setelah selesai pemeriksaan, mereka pun pulang dengan Devi yang masih dalam gendongan Alby. Tiba-tiba bayangan masa kecil berputar di kepalanya. Devi ingat dulu ia juga pernah digendong seperti ini oleh ayahnya dan ibunya yang berlari di belakangnya sembari mengejarnya. Devi kecil sangat bahagia sekali saat itu.


"Om," panggil Devi.


"Hm."


"Aku kangen ayah dan ibu," lirih Devi pelan sembari menyembunyikan wajahnya di lipatan leher Alby.


Alby tahu apa yang Devi rasakan. Gadis itu pasti kesepian dan merindukan keluarganya. Alby cukup kasian dengan Devi, sudah ditinggal orang tuanya sejak lima tahun yang lalu karena kecelakaan kini kakak satu-satunya yang dimilikinya malah sedang sakit keras.

__ADS_1


"Dulu kalau aku sedang marah ataupun sedih, ayah selalu menggendongku seperti ini dan mengajakku jalan-jalan. Sekarang aku merindukan masa-masa itu om," jelas Devi dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Kalau kau mau kau bisa menganggapku sebagai ayahmu. Jika kau sedih ataupun marah beritahu aku saja. Aku akan menggendongmu dan mengajakmu jalan-jalan," hibur Alby. Karena jujur saja ia juga bingung hendak menghibur Devi dengan cara apa.


"Kalau begitu aku boleh memanggilmu ayah?" canda Devi.


"Kalau begitu kau turun saja jangan minta gendong aku," ujar Alby.


"Tidak mau," ujar Devi sembari mengeratkan pelukannya pada leher Alby sembari tertawa kecil.


Alby yang mendengar tawa Devi pun mendesah lega. Devi ternyata baik-baik saja.


Begitu mereka melewati ruang IGD, mereka secara tidak sengaja berpas-pasan dengan Raden. Raden yang melihat Devi sedang digendong Alby pun mengernyit heran namun sedetik kemudian ia paham begitu melihat perban di kaki Devi.


"Kak Raden!!" sapa Devi riang dengan melambaikan tangannya kearah Raden.


"Hai Dev, kenapa-"


Ucapan Raden terpotong begitu Alby tidak menghentikan langkahnya dan tetap berlalu melewati Raden tanpa membiarkan Raden berbicara lebih lanjut.


"Kak Raden!! Om kenapa kau tidak berhenti?!!" kesal Devi.


"Kita harus cepat pulang. Kau tidak lihat hari sudah malam?" acuh Alby tanpa menghentikan langkahnya.


"Tapi aku ingin berbincang sebentar dengan kak Raden. Om ini kenapa jahat sekali? Tidak sopan tahu mengabaikan seseorang yang ingin berbicara dengan kita," omel Devi.


"Dia tidak berbicara padaku," jawab Alby.


"Tapi kak Raden berbicara padaku, karena aku dalam gendongan om Alby seharusnya om berhenti," kesal Devi.


Setelah sampai mobil, Alby pun segera mendudukkan Devi di bangku penumpang dan memakaikan sabuk pengamannya. Setelahnya ia pun duduk di kursi pengemudi.


"Om kau tidak berniat melarangku untuk pacaran kan?" curiga Devi karena Alby seperti mencegahnya untuk menemui Raden.


"Aku memang melarangmu pacaran," jawab Alby enteng sembari mulai menjalankan mobilnya.


"Why??!!"


"Kau itu masih kecil. Tugasmu itu belajar dan sekolah dengan benar, bukan berpacaran," jelas Alby.


"Tapi banyak kok seusiaku sudah memiliki pacar. Kenapa aku tidak boleh om?" rajuk Devi.


"Siapa penemu hukum newton?" tanya Alby.


"Hah?"


"Lihat kau tidak menjawab soal semudah itu jadi lupakan tentang pacaran terlebih dahulu. Nanti jika sudah waktunya aku pasti akan mengijinkanmu berpacaran," ujar Alby yang membuat Devi mendengus kesal.


"Om Alby menyebalkan!!"


*****

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Devi mengalihkan pandangannya kearah pintu kamarnya. Dengan susah payah, ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan membukakan pintu.


Disana sudah ada Alby yang membawa kompres air hangat dan obat untuknya.


"Duduklah aku akan mengompres kakimu," perintah Alby sembari membantu Devi berjalan mendekati ranjang.


Dengan patuh, Devi pun menuruti setiap perkataan Alby. Devi duduk di ranjangnya dengan Alby yang duduk di kursi kecil dibawah ranjangnya dan mulai mengompres kaki Devi yang terkilir.


"Aw sakit om!" pekik Devi kesakitan.


"Aku akan pelan-pelan," ujar Alby lembut.


Alby pun mulai mengompres kaki Devi dengan pelan.


"Sakit tidak?"


"Tidak."


"Akan kuberi tahu kenapa Rea berkata seperti itu padamu," ujar Alby tanpa menghentikan kegiatannya.


Devi pun diam dan mendengarkan setiap perkataan Alby dengan seksama.


"Kau tahu, orang seperti Rea adalah tipe orang yang tidak ingin dikasihani. Kau pasti menolongnya karena merasa kasihan padanya kan? Kau kasihan karena Rea tidak memiliki keluarga dan tempat tinggal kan?" tanya Alby yang diangguki oleh Devi.


"Di sisi lain mungkin Rea tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun termasuk dirimu dan bisa jadi juga dia tidak ingin melibatkan siapapun di dalam masalahnya. Dengan kata lain Rea tidak ingin kau menjadi target mereka selanjutnya. Jika kau menolongnya seperti tadi otomatis target selanjutnya Jessica adalah dirimu. Percayalah padaku besok Jessica akan mulai mengganggumu," jelas Alby.


"Aku tidak takut dengan Jessica om, lagipula aku pintar berkelahi," ujar Devi tidak takut.


"Kau ini, pintar berkelahi kau banggakan. Kau lupa kau tidak pintar dalam pelajaran?"


"Om Alby jujur sekali," kesal Devi. "Tapi om, om Alby yakin Rea orang yang seperti itu?"


"Tidak juga. Kalau begitu buktikan saja sendiri. Coba kau berteman dengannya," ujar Alby.


"Tidak mau, aku masih marah padanya," tolak Devi.


"Yasudah kalau tidak mau. Sudah, sekarang saatnya belajar," perintah Alby setelah selesai mengompres kaki Devi.


"Om kakiku masih sakit, boleh tidak besok tidak masuk sekolah?" rengek Devi dengan memasang wajah puppy eyesnya.


"Tidak, besok kau masih try out. Kau tidak ingin pergi ke sekolah bukan karena takut dengan Jessica kan?" ejek Alby.


"Tentu saja tidak! Sudah kubilang aku itu tidak takut dengan Jessica lagipula aku punya Gara dan Arin. Jika Jessica macam-macam padaku aku akan menggigitnya bersama Arin," balas Devi.


"Kau tidak mengajak Gara ikut menggigit Jessica?"


"Tidak. Gara adalah pria sejati, dia tidak ingin menyakiti perempuan," ujar Devi.


"Baiklah kalau kau tidak takut dengan Jessica sekarang kau pergi belajar sana, besok try out hari kedua," perintah Alby.

__ADS_1


"Iya-iya."


*****


__ADS_2