Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Lunch


__ADS_3

Tok! Tok!


Sudah beberapa kali Alby mengetok pintu kamar hotel Laudya namun Laudya tidak kunjung membukakan pintu.


Apa Laudya keluar?


"By," panggil Laudya yang baru saja tiba.


"Kamu dari mana?" tanya Alby.


"Aku baru saja mengantar Jessica ke depan. Aku meminta asistenku untuk mengantarnya pulang karena sebentar lagi kan ujian nasionalnya dimulai," jawab Laudya seraya tersenyum. Dalam hatinya ia sangat senang karena Alby menggunakan aku-kamu untuk berbicara dengannya.


"Ada apa mencariku?" tanya Laudya.


"Ayo tinggal di rumahku," ajak Alby tanpa basa-basi.


"Maksud kamu apa?"


"Tanganmu belum sembuh dan Jessica sudah kembali ke kota. Di sini kamu sendirian tidak ada yang urus, aku mengkhawatirkanmu jadi tinggalah di rumahku. Aku akan menjagamu," ujar Alby mantap.


Kalau Devi bisa membawa Raden ke rumah, aku juga bisa!!!


*****


"Selamat makan," ujar Devi riang.


"Selamat makan!!"


Ishwari tersenyum senang begitu ia melihat pemandangan di hadapannya. Devi yang riang selalu saja berbicara ketika makan bahkan Ishwari dan Raden sampai menegurnya agar tidak berbicara ketika makan. Jika sudah seperti itu Devi akan merajuk dan mencebikkan bibirnya kesal, saat itulah Raden mengelus rambutnya pelan dan menasehati Devi dengan lembut agar gadis itu tidak merajuk.


Ishwari jadi mengerti kenapa Devi sempat menyukai Raden. Sikap tulus dan lembutnya Raden mampu menghipnotis wanita manapun tak terkecuali Ishwari sendiri. Kini ia berpikir jika nanti Alby tidak bisa bersama Devi setidaknya ada Raden yang cocok untuk Devi. Namun detik berikutnya Ishwari teringat dengan perkataan Alby yang berkata Raden berniat mencelakai Devi.


Apa Alby salah informasi? Mana mungkin laki-laki seperhatian dan selembut ini pada Devi berniat untuk membunuh Devi? Lagi pula Raden sangat terlihat menyukai Devi.


"Tante sedang memikirkan apa?" tegur Devi yang membuat Ishwari tersadar dari lamunannya.


"Ah tidak, tante tidak memikirkan apapun," dusta Ishwari seraya tersenyum lembut.


Devi pun menganggukkan kepalanya dan kembali memakan makanannya.


Pada saat Devi hendak mengambil tumis daging kesukaannya, Gara langsung menuangkan sedikit sambal di atas sendok berisi daging yang hendak dituang Devi ke piringnya dan hal itu langsung membuat Devi marah.


"Gara kenapa kau menuang sambal di dagingku?!!!! Aku tidak suka sambal!!" omel Devi seraya menunjukkan sambal itu di hadapan Gara.


"Kau harus sekali-sekali makan sambal, jangan terlalu memilih makanan," ujar Gara tenang.


"Siapa yang pemilih makanan? Aku tidak pemilih! Aku hanya tidak suka sambal bukan berarti aku pemilih makanan!!!" jawab Devi tidak terima.


Baru saja Ishwari hendak menengahi mereka, Raden sudah lebih dulu mengambil tindakan.


"Sini dagingnya buat aku saja. Sudah jangan marah lagi, biar kuambilkan lagi daging untukmu," ujar Raden menengahi.


"Kak Raden memang sangat pengertian, tidak seperti Gara," ujar Arin yang langsung mendapat pelototan oleh Gara.


"Aku melakukan itu bukan tanpa tujuan," bisik Gara pada Arin. "Aku hanya ingin menunjukkan pada tante Ishwari betapa baik dan perhatiannya kak Raden pada Devi. Dengan begitu ia akan menjadi was-was jika putranya akan kalah saing dengan kak Raden," lanjut Gara.


"Aku tidak paham," bisik Arin.


Gara menepuk dahinya pelan dan mendengus kesal ke arah Arin meskipun pada akhirnya ia tetap menjelaskan niatnya.


"Takut Devi lebih memilih kak Raden, tante Ishwari pasti akan mendesak om Alby untuk segera mendapatkan Devi."


Arin yang mendengarnya pun langsung mengangguk paham dan tertawa kecil. Hal itu sontak langsung menjadi perhatian Devi.


"Kalian kenapa?" tanya Devi.


"Tidak ada apa-apa, cepat makan dagingmu sebelum diberi sambal lagi oleh Gara," ujar Arin.


Belum sempat Devi membalas perkataan Alby, tiba-tiba sebuah suara terdengar yang membuat Devi menutup kembali mulutnya rapat-rapat.

__ADS_1


"Woah sepertinya ada pesta besar di sini."


Sontak semua mata langsung tertuju pada sosok pemilik suara bass yang kini menginterupsi acara makan siang mereka.


Namun bukan sosok Alby yang menjadi sumber keterkejutan mereka, melainkan Laudya yang kini tengah berdiri di samping Alby sembari tersenyum manis ke arahnya.


"Bu bolehkan aku dan Laudya bergabung?" ijin Alby yang diangguki oleh Ishwari.


Ishwari sudah tidak terkejut dengan kehadiran Laudya di tengah-tengah mereka. Bukankah Alby sudah mengatakannya tadi saat ditanyai oleh Ishwari saat hendak pergi?


"Sini sayang duduklah di sini," ujar Alby sembari menarik kursi di sebelah Raden.


Jangankan Laudya, Devi pun yang mendengarnya juga terkejut begitu panggilan sayang Alby keluar dari mulutnya.


Laudya menanggapinya dengan senyuman lembutnya.


"Kamu makan yang banyak ya biar tanganmu cepat sembuh," ujar Alby mengelus puncak kepala Laudya.


Devi yang melihat hal itu pun langsung merasakan cemburu luar biasa.


Sial! Kenapa malah aku yang cemburu padahal niat awalnya kan aku ingin membuat om Alby yang cemburu!!


"Bisa minta tolong berikan tumis daging itu padaku?"


"Akan saya ambilkan," ujar Raden.


Begitu Raden hendak mengambil tumis daging tersebut, Devi langsung menahannya.


"Tumis daging milikku!!"


"Kau tidak mungkin menghabiskan semuanya kan?" tanya Alby.


"Kamu sudah terlalu banyak makan daging lebih baik kamu makan sayur juga. Biar daging ini untuk dokter Alby ya?" bujuk Raden.


"Aku tidak suka sayur," cebik Devi kesal namun ia membiarkan mangkuk besar berisi daging tersebut diserahkan pada Alby.


"Alby aku tidak makan daging, aku sedang diet," tolak Laudya halus begitu Alby hendak menyendokkan daging di piring Laudya.


"Om Alby ini tidak pengertian sekali. Tante Laudya itu seorang model tentu saja harus menjaga berat badannya. Kalau tante Laudya tidak mau daging ya jangan dipaksa. Lagi pula jika tante Laudya gemuk siapa yang akan mau menjadikannya model," sahut Devi yang langsung mendapat tatapan maut dari Gara.


Melihat tatapan maut Gara, Devi pun mengedikkan dagunya ke arah Gara seolah bertanya apa ada yang salah dengan bicaranya?


"Kenapa kau jadi sensitif sekali setiap ada Laudya di sampingku? Kau tidak mungkin cemburu padaku kan?" pancing Alby dengan smirk penuh kemenangan yang terpatri di wajah tampannya.


Skakmat!!


Gara yang mengerti situasinya pun segera bangkit berdiri dan mengajak Devi untuk segera pergi.


"Ayo," ujar Gara menarik tangan Devi.


"Ke mana? Makananku belum habis Gara," rengek Devi namun Gara segera mengedipkan sebelah matanya untuk memberi kode pada Devi agar mengikutinya.


"Oh iya kau kan bilang ingin memberiku sesuatu, ya sudah ayo kita pergi," ujar Devi yang mulai mengerti maksud Gara.


Devi pun segera bangkit berdiri dan berpamitan untuk meninggalkan meja makan terlebih dahulu.


*****


"Gara kenapa kau mengajakku pergi? Aku masih lapar," ujar Devi menghentikan langkahnya.


Kini mereka sedang berada di halaman depan rumah dengan Gara yang duduk di kursi kayu yang berada di teras.


"Duduk dulu," perintah Gara yang langsung dituruti oleh Devi.


Gara mengamati sekelilingnya lebih dulu dan memastikan tidak ada satupun orang yang berada di sana dan mendengar semua percakapannya dengan Devi. Setelah memastikan aman, Gara mulai memasang wajah serius dan bertanya beberapa hal pada Devi.


"Kenapa kau berkata seperti itu pada tante Laudya?!"


"Karena aku tidak menyukainya. Setiap aku melihatnya berdekatan dengan om Alby emosiku langsung naik seketika," jujur Devi yang membuat Gara menepuk dahinya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu cara kerjanya!!"


"Lalu bagaimana?" tanya Devi bingung.


"Kau harus bisa mengontrol dirimu sendiri jangan sampai terlihat kau cemburu pada om Alby. Kau ingatkan tujuan kita ke mari untuk apa?" tanya Gara yang diangguki oleh Devi.


"Kalau begitu bersikaplah senatural mungkin dan jangan berlebihan mendekati kak Raden. Tanpa kau dekati kak Raden lebih dulu, kak Raden pasti akan mendekatimu lebih dulu," terang Gara.


"Kenapa seperti itu?" bingung Devi.


"Kenapa otakmu dengan Arin tidak ada bedanya sih!" kesal Gara karena yang sulit sekali memahami perkataannya.


"Kak Raden ingin mendapatkanmu. Dia menyukaimu, kau lupa?"


Devi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tapi sebelum itu aku penasaran kenapa kau menolak kak Raden padahal dulu kau begitu menyukainya."


Devi terdiam tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah Gara dengan wajah sendunya yang membuat Gara yakin mencintai Alby bukanlah satu-satunya alasan Devi menolak Raden.


"Aku takut dengan ayahnya kak Raden dan juga pamannya. Kau tahu kan dendam seperti apa yang pernah terjadi diantara keluarga kami. Bahkan sekarang aku yakin paman kak Raden masih memiliki dendam itu dan ingin melenyapkanku," jawab Devi lirih agar tidak ada yang mendengarnya selain Gara.


Gara terkejut mendengar penuturan Devi. Gara memang tahu tentang dendam di antara keluarga Anggara dan Wardana namun Gara berpikir jika dendam itu sudah selesai sejak Sean menjebloskan Brama ke penjara dan Gara tidak tahu jika dendam itu masih berlanjut hingga sekarang.


"Bukankah itu sudah selesai?" tanya Gara.


"Belum." Devi meminta Gara untuk mendekat ke arahnya dan membisikkan sesuatu pada Gara yang membuat Gara semakin terkejut dibuatnya.


"Pembunuh ayah dan ibuku ada dua orang dan yang berhasil di penjarakan kak Sean hanya satu. Satunya lagi masih berkeliaran bebas yang sewaktu-waktu bisa membunuhku," bisik Devi.


"Jangan bilang itu pamannya-" Gara sudah tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi.


"Kau benar. Kau tahu Gara, kak Raden juga pernah hampir membunuhku namun berhasil digagalkan oleh om Alby," bisik Devi lagi.


"Kalau begitu kita batalkan rencana ini!! Aku tidak mau kau bersama kak Raden! Ini terlalu beresiko!" ujar Gara berubah pikiran.


"Kak Raden sudah berubah. Dia menyukaiku Gara dan dia juga berkata tidak akan membunuhku. Kak Raden yang sekarang ingin melindungiku bahkan dari pamannya sendiri. Kak Raden bilang padaku ingin mengakhiri dendam keluarga kami," tutur Devi.


"Apapun alasanmu aku tetap menolak!! Niat jahat orang tidak ada yang tahu. Bisa saja kak Raden hanya memanfaatkan perasaanmu hanya untuk membalaskan dendam keluarganya," kekeuh Gara menolak melanjutkan rencananya.


"Gara bukankah tujuan awal kita untuk membuat om Alby cemburu lalu mengakui perasaannya padaku?"


Gara diam bergeming.


"Kalau begitu seharusnya ini tidak menjadi masalah. Target rencana ini adalah om Alby bukan kak Raden. Kak Raden hanya sebagai alat untuk mendapatkan om Alby. Kumohon kita lanjutkan rencana ini ya?" mohon Devi memelas.


Gara mengusap wajahnya kasar lalu ia menatap mata Devi lekat-lekat.


"Kalau begitu berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja dan tidak akan terluka seujung kuku jari pun. Karena rencana ini adalah ideku maka aku penanggung jawab penuh atas dirimu," tutur Gara yang langsung diangguki oleh Devi.


"Aku berjanji tidak akan terluka," janji Devi seraya tersenyum.


"Jangan berjanji, janji dibuat untuk diingkari."


"Baiklah kalau begitu aku akan berusaha sebaik mungkin agar aku tidak terluka," ujar Devi yang diangguki oleh Gara.


"Tapi kau harus janji padaku jangan sampai Arin tahu masalah ini," ujar Devi lagi yang juga diangguki oleh Gara.


"Kalau begitu kau juga harus berjanji padaku."


"Janji apa?" tanya Devi.


"Janji yang tidak boleh kau ingkari meskipun aku berkata janji dibuat untuk diingkari," ucap Gara serius.


Devi menganggukkan kepalanya dan menatap Gara dengan sungguh-sungguh.


"Jika dirasa kau tidak bisa mendapatkan om Alby karena om Alby mencintai wanita lain, kau harus menyerah. Kau tidak boleh egois dan memaksakan perasaanmu padanya. Bukannya apa-apa, aku hanya tidak ingin kau terluka karena bagaimanapun juga kau layak dicintai, kau layak mendapatkan pria yang juga mencintaimu meskipun itu bukan om Alby. Dan untuk kak Raden, untuk keselamatanmu kau harus menghapus perasaanmu padanya. Meskipun kak Raden sudah tidak memiliki niat untuk membunuhmu namun masih ada paman dan ayahnya yang sewaktu-waktu bisa menghabisi nyawamu. Apa kau mengerti?"


"Aku mengerti. Jika aku tidak bisa mendapatkan om Alby dengan rencana ini, aku akan menyerah. Aku akan melepaskan kedua-duanya, om Alby dan kak raden sekaligus."

__ADS_1


*****


__ADS_2