
Laudya mengajak Devi untuk menuju tempat yang lebih sepi, meskipun keadaan pantai saat itu memang sudah sangat sepi karena musim liburan belum dimulai ditambah lagi seminggu lagi ujian nasional dilaksanakan. Laudya hanya tidak ingin apa yang ingin ia sampaikan didengar oleh orang lain apalagi Alby yang sedari tadi menatap was-was ke arahnya. Oh ayolah memangnya apa yang bisa ia lakukan untuk mencelakai Devi? Alby memang selalu berpikir berlebihan.
"Di sini saja," ujar Laudya mengambil duduk di atas batu karang.
Kini mereka berada di bagian tumpukan batu karang yang letaknya sedikit lebih jauh dari keberadaan Alby.
Devi pun menuruti Laudya dan duduk sedikit lebih jauh untuk berjaga-jaga jika Laudya berbuat macam-macam padanya.
"Tante Laudya mau bicara apa?" tanya Devi langsung.
"Hanya ingin curhat saja," jawab Laudya sembari membuka jaketnya.
Devi menoleh dan matanya tidak sengaja terfokus pada dada Laudya yang tampak berisi, lalu ia melihat ke arah dadanya yang berbeda jauh dengan milik Laudya. Cepat-cepat Devi segera menekuk lututnya untuk menyembunyikan dadanya. Hal itu tidak luput dari pandangan Laudya yang tertawa kecil melihatnya.
"Ini palsu," ucap Laudya yang langsung membuat Devi menoleh ke arahnya.
"Aku bohong," ujar Laudya berikutnya yang membuat Devi mencibir dalam diam.
"Syukurlah kau sudah bersama Raden," ucap Laudya.
Devi hanya diam sembari menatap keindahan laut dengan beberapa burung camar yang terbang di atasnya.
"Seharusnya jika kau sudah bersama Raden aku sudah tidak khawatir lagi Alby akan berpaling denganmu kan?"
Devi diam bergeming.
"Alby bilang ia menyukaiku dan bahkan ia sangat mengkhawatirkan tanganku. Aku merasa cukup senang akan hal itu. Oh iya kemarin malam ia datang ke kamarku dan-"
"Jika tante Laudya hanya ingin pamer, aku pergi," potong Devi beranjak bangkit berdiri.
"Duduk dulu, aku belum selesai bercerita," tahan Laudya sembari menepuk sisi sebelahnya.
"Aku tahu kau menyukai Alby dan jujur saja aku juga tahu kalau Alby juga menyukaimu."
Devi berhenti. Ia membalikkan badannya menatap Laudya yang kini tersenyum lembut padanya. Ini bukan Laudya yang seperti biasanya. Laudya kali ini tampak lebih lembut dan menjaga perkataannya.
Apa tante Laudya akan menyerah?
"Jika kau berfikir aku akan menyerah maka kau salah," ujar Laudya langsung mematahkan asumsi Devi.
"Duduklah aku ingin memberitahumu sesuatu," ujar Laudya.
Devi pun kembali duduk di tempatnya semula dengan pandangan yang enggan menatap Laudya.
"Kau tidak penasaran kenapa Alby berpacaran denganku padahal ia menyukaimu?" tanya Laudya namun Devi tetap enggan menatap kearahnya.
"Bukankah tante Laudya memintaku ke mari karena ingin memberitahuku hal itu?" balas Devi.
Laudya tersenyum sekilas sebelum raut wajahnya menjadi serius.
"Itu karena dirimu sendiri," ujar Laudya yang membuat Devi tersentak.
"Saat kau di Singapura Alby datang menemui ayahku. Dia bilang ia ingin pindah departemen dan menjadi perseptor untuk Raden dan Fitra. Tentu saja ayahku menolak sampai sebuah kalimat keluar dari mulut Alby yang membuat ayahku pada akhirnya menyetujui keinginannya. Alby bilang jika ayahku menyetujui ia pindah departemen, ia akan mengencaniku dengan kata lain Alby mau menjadi suamiku secara suka rela."
Devi terdiam mendengarkan Laudya menyelesaikan ceritanya.
"Tapi semakin ke sini Alby mulai melupakan kesepakatannya dengan ayahku dan malah mengutamakan dirimu. Alby bahkan dengan kurang ajarnya mulai menyukaimu, bukankah itu sudah melanggar kesepakatan yang ia buat dengan mulutnya sendiri? Mendengar hal itu ayahku marah dan ia mengancam akan menutup rumah sakit milik om Abimanyu jika Alby sampai berani meninggalkanku dan memilih dirimu," lanjut Laudya yang membuat Devi menoleh ke arah Laudya dengan tatapan terkejutnya.
"Pikirkan apa yang akan terjadi jika ayahku menutup rumah sakit milik om Abi. Ke mana lagi pasien-pasien di desa ini bisa berobat sedangkan satu-satunya rumah sakit yang berdiri di desa ini hanya ada milik om Abi. Itu alasan kenapa om Abi marah besar pada Alby saat kalian pergi ke kota untuk memberi kesaksian pada polisi."
__ADS_1
Devi ingat saat itu!
Jadi ini alasan om Abi terlihat marah begitu selesai berbicara dengan om Alby dulu. Tapi kenapa om Alby pindah departemen dan apa maksud tante Laudya mengatakan semua ini karenaku?
"Alby pindah departemen karena ingin melindungimu dari Raden yang ingin membunuhmu."
Deg!
Tante Laudya tahu?
"Ia pikir dengan menjadi perseptor untuk Raden ia dapat dengan mudah mengontrol kegiatan Raden dan memantaunya jika suatu saat Raden berniat mencelakaimu, namun pada kenyataannya Alby malah menggali lubangnya sendiri. Ia terjebak dengan kesepakatannya dengan ayahku. Aku tidak mengerti kenapa Alby mempertaruhkan karirnya sendiri demi gadis malang sepertimu."
Kedua mata Devi memanas dan mulai berair. Ia tidak percaya demi melindungi dirinya, Alby rela mengorbankan karirnya. Kini bukan hanya karir Alby saja melainkan rumah sakit milik Abimanyu juga terkena imbasnya.
"Tidak bisakah tante Laudya membujuk ayah tante Laudya untuk membatalkan kesepakatan itu?" lirih Devi.
"Jika kesepakatan itu batal maka penutupan rumah sakit om Abi akan dilakukan," jawab Laudya yang membuat Devi mengerti. Laudya memanfaatkan kesepakatan itu untuk mempertahankan Alby.
"Apakah nyaman menikah dengan orang yang tidak mencintaimu tante?"
"Aku tidak menuntut Alby untuk mencintaiku, selama Alby memperlakukanku dengan baik aku tidak masalah. Jadi sekarang kau harus tahu batasanmu. Bukankah lebih pantas jika kau menjadi adik Alby saja? Tenang saja aku pasti juga akan menyayangimu seperti adikku sendiri kok. Selain itu aku bisa membujuk ayah untuk mengembalikan Alby menjadi dokter bedah digestif seperti semula dan rumah sakit milik om Abi tidak akan ditutup."
"Jika aku tidak mau menyerah pada om Alby bagaimana?" tantang Devi.
"Apa kau tidak memiliki rasa bersalah sama sekali? Bukankah sudah cukup kau merusak karir Alby, kenapa malah mau menghancurkan rumah sakit milik om Abi? Pikirmu berapa nyawa pasien yang akan kau korbankan untuk keegoisanmu sekarang?"
Devi terdiam. Kini serangan fakta mulai menghantam dadanya membuat rasa bersalah mencekik lehernya hingga rasanya ia sangat kesulitan hanya untuk sekedar bernafas.
"Bukankah Raden sudah tidak memiliki niat untuk membunuhmu lagi? Aku lihat-lihat dia juga sangat menyukaimu, kenapa kau tidak bersamanya saja?"
Devi tidak menanggapi, ia segera beranjak pergi meninggalkan Laudya namun baru beberapa langkah ia pergi, ia mendengar Laudya terjatuh dan tengah meringis kesakitan.
Devi membalikkan badannya dan melihat darah yang keluar dari kedua lutut Laudya.
Darah!
"Tante kau tidak apa-apa?" tanya Devi dengan nada bergetar.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu? Kau tidak apa-apa kan? Kenapa wajahmu pucat? Kau phobia darah?" tanya Laudya bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arah Devi.
Memori kelamnya kembali terputar di kepalanya. Bayangan darah dan kematian kedua orang tuanya berlalu lalang memutari ingatannya membuat perutnya terasa mual seketika.
"Hoek!"
Devi segera menutup mulutnya mencoba menahan cairan yang ingin keluar dari mulutnya. Melihat Laudya yang berjalan mendekat ke arahnya membuat Devi panik dan berniat pergi sebelum Laudya tahu apa yang terjadi pada dirinya.
"Kau kenapa?" tanya Laudya menahan bahu Devi yang hendak bangkit berdiri.
"Le..lepaskan aku tante," pinta Devi lemah dengan tangan yang terus membekap mulutnya dan peluh yang membanjiri keningnya.
"Aku hanya khawatir padamu. Kenapa kau ketakutan seperti ini? Apa ini karena darah yang keluar dari lututku?" tanya Laudya seraya menunjukkan lukanya kepada Devi yang membuat rasa mual di perutnya semakin menjadi.
Tanpa menghiraukan pertanyaan Laudya, Devi segera menyingkirkan tangan Laudya dengan kasar dari pundaknya dan bangkit berdiri meninggalkan Laudya dengan tergesa.
Laudya menatap kepergian Devi dengan senyum yang tercetak jelas di bibirnya sebelum pada akhirnya ia merogoh ponselnya dari saku jaketnya dan menghubungi seseorang.
"Kau benar, trauma Devi belum sembuh sama sekali. Kita gunakan kelemahannya untuk membunuhnya," ujar Laudya mematikan sambungan teleponnya.
*****
__ADS_1
Alby yang saat itu berniat menyusul Laudya dan Devi pun melihat Devi yang tengah berlari terburu-buru menuju toilet. Alby merasa ada yang aneh dengan keadaan Devi yang tampak pucat dan tengah membekap mulutnya.
Tanpa pikir panjang Alby segera berlari menyusul Devi untuk memastikan keadaan Devi baik-baik saja.
"Dev! Devi kau tidak apa-apa?" teriak Alby memasuki kamar mandi wanita begitu saja. Beruntung saat itu toilet dalam keadaan sepi sehingga Alby tidak dituduh sebagai pria mesum yang memasuki kamar mandi wanita sembarangan.
Devi hanya diam bergeming. Ia duduk di atas closet kamar mandi sembari menahan mual di perutnya. Ia tidak ingin Alby mengetahui keadaan buruknya.
"Dev! Buka pintunya! Kau kenapa? Apa Laudya berbuat sesuatu padamu? Keluarlah Dev!!" teriak Alby sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi yang ditempati oleh Devi.
"Dev jika kau tidak membuka pintunya, aku akan mendobraknya!"
Ceklek!
Pintu terbuka menampilkan Devi yang tengah menatap lurus ke arah Alby.
"Om Alby berisik sekali! Apa yang om Alby lakukan di sini? Ini kan kamar mandi perempuan. Cepat keluar sebelum-"
Alby langsung memegang kedua pundak Devi dan menatap Devi dengan intens membuat Devi tidak dapat meneruskan perkataannya lagi.
Alby mengamati raut wajah Devi yang tampak sedikit lebih pucat dengan keringat yang masih tersisa di keningnya.
"Kau kenapa? Apa Laudya berbuat sesuatu padamu?" tanya Alby khawatir.
"Jangan mengkhawatirkan aku om. Om Alby seharusnya mengkhawatirkan tante Laudya," jawab Devi yang membuat Alby mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Kenapa Laudya?"
"Bukankah tante Laudya pacarnya om Alby? Tante Laudya sedang terluka sekarang, aku tidak bisa menolongnya karena aku takut melihat darah. Lebih baik om Alby segera pergi menemui tante Laudya."
Setelah mengucapkan hal itu Devi langsung beranjak pergi meninggalkan Alby sendiri.
Namun baru beberapa langkah, tangan Devi langsung dicekal oleh Alby dan Alby segera membalikkan badan Devi untuk menghadap ke arahnya.
"Trauma masa lalumu muncul begitu kau melihat darah?" tanya Alby.
"Berhenti mengkhawatirkanku om. Sekarang yang terluka bukan aku tapi tante Laudya, pacarnya om Alby."
"Sekarang apa yang kau rasakan? Mual? Atau kau ketakutan?" tanya Alby mengabaikan perkataan Devi.
"Om Alby jangan begini! Jika om Alby seperti ini bagaimana bisa aku melupakan om Alby? Bukankah om Alby bilang lebih baik aku bersama kak Raden?" tanya Devi dengan kedua mata berkaca-kaca.
Alby terdiam. Devi benar, dia tidak boleh seperti ini. Ia harus membuat jelas hubungan antara Laudya dan Devi. Laudya adalah pacarnya dan Devi hanya sebagai adiknya, tapi bukankah wajar seorang kakak mengkhawatirkan adiknya seperti ini?
"Apa seorang kakak tidak boleh mengkhawatirkan adiknya?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Alby.
Devi tersenyum kecut mendengarnya. Laudya benar, memang seharusnya hubungan mereka hanya sebatas adik kakak saja tidak lebih. Hal itu membuat Devi sadar, melepas Alby untuk Laudya adalah jalan terbaik yang bisa ia lakukan. Ia tidak boleh bersikap egois. Ia sudah menghancurkan karir Alby dan ia juga tidak ingin menghancurkan rumah sakit milik Abimanyu. Devi kini merasa seperti menanggung ratusan nyawa di pundaknya jika ia salah memilih langkah.
"Boleh, tapi om Alby harus segera memeriksa tante Laudya. Aku tidak apa-apa om. Aku harus segera kembali sebelum kak Raden mengkhawatirkanku."
Setelah mengucapkan hal itu, Devi segera keluar dari kamar mandi meninggalkan Alby.
"Dev, kau dari mana saja? Aku, Arin dan kak Raden mencarimu ke mana-mana," tanya Gara panik begitu ia mendapati Devi keluar dari kamar mandi.
"Gara kita batalkan rencananya, aku tidak ingin bersama om Alby," tangis Devi berhambur ke pelukan Gara yang membuat Gara terkejut.
Tanpa Devi sadari, Alby mendengar perkataannya dari balik bilik kamar mandi.
"Jadi kau membawa Raden ke mari karena ingin mengujiku?" lirih Alby sendu.
__ADS_1
*****