Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Alby Marah Lagi


__ADS_3

Alby menggendong Devi menuju luar rumah sakit karena jika terjadi perdebatan atau apapun itu, Alby tidak ingin terdengar dan mengganggu pasien lain.


Selama dalam gendongan Alby, Devi terus saja meronta-ronta minta diturunkan dan tentu saja hal itu membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar, tapi Alby tidak perduli. Alby tetap melanjutkan langkahnya keluar dari rumah sakit dan mencari tempat yang sedikit sepi.


"Om turunkan aku!!"


"Turunkan aku!!!"


"Om Alby turunkan aku!!"


"Om aku malu!!"


"Jika kau malu maka diamlah!" bentak Alby hilang kesabaran.


Alhasil, Devi pun mengunci mulutnya rapat-rapat dan membiarkan Alby membawanya ke manapun Alby mau.


Alby membawa Devi ke taman yang masih berada di area rumah sakit. Di sana tidak terlalu ramai karena hari sudah petang mungkin orang-orang memilih untuk pulang atau masuk ke dalam menunggui sanak saudara mereka yang sakit. Alby pun menurunkan Devi dari gendongannya.


Devi menundukkan wajahnya merasa bersalah. Devi tahu jika ia salah dan seharusnya dia tidak menyetujui rencana Arin, tapi di sisi lain Devi juga ingin bertemu dengan Raden. Sebelumnya Devi bimbang antara menuruti rencana Arin atau tidak karena jujur saja ia juga takut ketahuan orang lain apalagi Alby, tapi karena ia begitu merindukan Raden pada akhirnya ia pun melakukannya walaupun pada akhirnya ia ketahuan Alby juga dan berakhir ia digendong dibawa keluar dari rumah sakit.


"Kau tahu tidak apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Alby dingin.


"Aku tahu," lirih Devi sembari memainkan kedua tangannya.


"Lalu?"


"Aku minta maaf om. Aku salah, tidak seharusnya aku pura-pura sakit seperti itu," ujar Devi menundukkan kepalanya.


"Kau tahu itu salah kan? Lalu kenapa kau mau melakukannya?" tanya Alby menahan emosinya.


"Aku merindukan kak Raden. Aku ingin bertemu dengannya," jujur Devi pelan.


"Hanya karena rindu?" tanya Alby tidak percaya.


Devi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kau tahu tidak apa akibat dari perbuatan bodoh yang baru saja kau lakukan hanya karena alasan rindumu itu?!!! Apa kau pikir rumah sakit adalah tempat bermain-main untukmu?!! Coba bayangkan bagaimana jika tiba-tiba ada pasien dalam keadaan darurat saat itu sedangkan kau juga dengar sendiri dokter residen sedang rapat dan hanya ada dua orang dokter koas yang berjaga di IGD, dari pada menyelamatkanmu yang hanya berpura-pura sakit bukankah lebih baik mereka menyelamatkan pasien yang benar-benar sakit?!! Kau menghambat pekerjaan mereka!!" ujar Alby marah.


"Ta..tapi tadi tidak ada pasien yang dalam kondisi darurat om," cicit Devi.

__ADS_1


"Ya, jadi bersyukurlah untuk itu dan aku hanya memintamu untuk mengandaikan saja bagaimana jika hal itu terjadi. Tidak, anak kecil sepertimu memang tidak dapat berpikiran jauh dan berandai-andai seperti itu."


"Kau hanya dapat menciptakan sebuah masalah sebagai ajang menyalurkan egomu. Kau lebih mementingkan rasa rindu sialanmu itu dari pada keselamatan pasien lain!! Kau tahu tidak berapa juta orang di luar sana yang ingin memiliki tubuh sehat dan tidak berpenyakitan?!! Mereka yang berjuang melawan penyakitnya mati-matian agar bisa sembuh sedangkan kau yang sangat sehat tanpa satu penyakit apapun malah berpura-pura sakit? Apa menurutmu itu masuk akal? Kau ingin mempermainkan kami para dokter?!!" lanjut Alby berapi-api.


Devi sudah tidak kuasa menahan tangisnya. Apa yang dikatakan Alby memang benar, di luar sana banyak sekali orang yang ingin sehat seperti dirinya namun kenapa ia yang sehat malah berpura-pura sakit hanya karena sebuah rindu? Devi akui alasannya memang tidak masuk akal bahkan terkesan menjijikkan.


"Aku... hiks minta maaf om," lirih Devi sesenggukan.


"Kenapa minta maaf padaku? Aku tidak perduli dengan apa yang kau lakukan, tapi jika itu menyangkut pekerjaanku dan pasien aku tidak akan tinggal diam," ujar Alby tegas.


"Kau sudah SMA jadi cobalah bersikap sedikit dewasa dan cobalah berfikir jauh," lanjut Alby.


"Hei sudah jangan memarahinya lagi. Kau ini kasar sekali," tegur Renata yang baru saja tiba sembari merangkul bahu Devi dari samping dan meminta Alby menyudahi bicaranya.


"Kau jangan membelanya," tegur Alby pada Renata.


"Untuk apa aku membela sainganku. Sudahlah kau pergi saja, sekarang saatnya kau kunjungan kamar," ujar Renata sembari mendorong pelan Alby agar ia pergi.


"Kau tunggu aku di mobil dan jangan pergi kemana-mana," ujar Alby sembari menunjuk Devi dengan jari telunjuknya. Devi pun menganggukkan kepalanya patuh sembari terus berlinang air mata.


"Kubilang kau pergi saja! Lihatlah Devi menangis lagi karenamu!!" kesal Renata.


"Kau juga cepat kembali sebelum jam kunjung kamar mulai," ucap Alby memberi peringatan pada Renata.


Selepas kepergian Alby, Renata pun mengajak Devi duduk di sebuah bangku yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Si kasar Alby itu bisa-bisanya memarahimu tanpa memintamu duduk di sini. Apa dia pikir berdiri terus sembari mendengar omelannya tidak capek?! Sini duduklah."


Devi menggelengkan kepalanya menolak.


"Why?"


"Aku harus menunggu om Alby di mobil sebelum om Alby semakin marah padaku ehm dok?" ujar Devi yang sedikit bingung memanggil Renata dengan sebutan apa.


"Panggil kakak saja tidak masalah. Duduklah sebentar saja di sini, jika si Alby marah padamu biar aku yang memukulnya," bujuk Renata yang pada akhirnya dituruti oleh Devi.


Untuk beberapa detik selanjutnya mereka hanya terdiam satu sama lain sembari menikmati sapuan angin sore yang membelai wajah mereka dan menerbangkan beberapa helai rambut mereka.


"Baiklah sekarang santai saja, anggap kita sudah kenal lama. Kau jangan sungkan padaku oke?" ujar Renata membuka pembicaraan sembari duduk menyamping ke arah Devi.

__ADS_1


Devi sedikit terkesan dengan sikap Renata yang ia tujukan padanya. Renata sangat ramah dan baik padanya, ia berperilaku seperti kakak kandungnya meskipun Devi baru mengenalnya kemarin. Itupun tidak berkenalan secara langsung.


"Perkataan Alby pasti menyakitimu ya?" tanya Renata yang diangguki oleh Devi.


"Dia memang seperti itu orangnya. Dia gampang sensitif jika itu menyangkut pekerjaannya dan tentang keselamatan pasien. Jangan diambil hati semua perkataan Alby, sebagai seorang dokter dia hanya mengkhawatirkan keselamatan pasien jika sewaktu-waktu mereka mengalami kondisi darurat sedangkan tidak ada dokter residen saat itu yang dapat menolong mereka dan dua dokter koas tersebut sibuk menyelamatkanmu," ujar Renata sembari menatap Devi.


"Aku mengerti kak. Aku juga memaklumi kenapa om Alby begitu marah besar padaku. Ini semua salahku, aku tidak berpikir panjang dan menerima begitu saja ide Arin tanpa memperhitungkan dampaknya," ujar Devi sembari tersenyum.


Renata menghela nafasnya lega begitu melihat Devi yang sudah tampak baik-baik saja. Renata paham apa yang dirasakan Devi, lagipula Devi masih terlalu anak-anak jadi belum bisa berfikir sejauh itu.


"Kalian harus berbaikan setelah ini dan jangan sering bertengkar dengan kakakmu," ujar Renata sembari menghembuskan nafasnya pelan.


"Kak sebenarnya om Alby itu bukan-"


"Dua hari lagi aku akan pergi ke Singapura," potong Renata sebelum Devi menyelesaikan perkataannya.


"Hah?"


"Aku sudah mengajukan surat pengunduran diriku kemarin dan lusa saatnya aku berangkat ke Singapura," jelas Renata sembari tersenyum.


"Om Alby tahu?" tanya Devi.


"Tidak. Aku belum memberitahunya," jawab Renata.


"Lalu bagaimana om Alby jika nanti kakak tinggal pergi?" tanya Devi.


"Makanya aku titipkan Alby padamu. Kedepannya kau harus lebih baik lagi pada kakakmu, jangan membuatnya marah dan kau harus jadi gadis penurut pada kakakmu. Kakakmu melakukan itu semua demi kebaikanmu, kau tahu jika kakakmu sangat menyayangimu bukan?"


"Tapi om Alby bukan-"


"Aku harus kembali. Sudah waktunya jam kunjung kamar," pamit Renata sembari beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Devi.


"Kak!" panggil Devi yang membuat Renata berbalik dan tersenyum kearahnya.


"Ada apa?"


Devi bangkit dari duduknya, ia pun berjalan mendekat ke arah Renata sembari menatap Renata dengan penuh keyakinan.


"Tenang saja, aku akan menjaga om Alby dan satu hal lagi, aku bukan saingan kakak. Aku akan pastikan kak Renata adalah satu-satunya wanita untuk om Alby. Aku pergi dulu kak, takut jika om Alby sudah terlebih dahulu menungguku di mobil," ujar Devi penuh keyakinan sebelum pada akhirnya ia berlari meninggalkan Renata yang sedikit terkejut dengan perkataan Devi.

__ADS_1


"Kak Renata baik sekali, tidak heran jika om Alby menyukainya. Sudah pintar, baik dan ramah sekali, wah benar-benar wanita idaman. Pokoknya aku akan membantu kak Renata untuk jadi wanita satu-satunya untuk om Alby. Tidak akan kubiarkan wanita lain merebutnya termasuk tante Laudya," janji Devi dalam hati.


*****


__ADS_2