
Begitu Raden berjalan memasuki sebuah rumah megah nan besar, seluruh pengawal yang berjaga di sekeliling bangunan tersebut mendadak membungkukkan badannya menghormati kedatangan Raden.
Jika kalian berpikir ini adalah rumah Raden, kalian salah. Ini adalah rumah milik pamannya. Bima Anggara. Adik laki-laki satu-satunya ayahnya yang kini masih mendekam di balik jeruji besi.
Semenjak ayahnya masuk penjara, Raden memang sudah tinggal bersama dengan Bima. Bima yang tidak memiliki putra tentu saja menerima Raden dengan senang hati.
Raden berjalan menyusuri lorong mewah rumah tersebut dengan tenang seperti biasanya hanya saja saat ini ia sedang menduga-duga apakah pamannya turut andil dalam masalah tuntutan yang dilayangkan Ganendra pada Alby.
Begitu tiba di dalam ruang utama, seorang pengawal datang menemui Raden dan memberitahu Raden di mana Bima berada.
"Tuan Bima berada di paviliun rumah tuan muda."
Tanpa mau menjawab, Raden segera melangkahkan kakinya ke paviliun di mana pamannya berada.
"Paman," panggil Raden begitu ia tiba.
"Oh kau sudah pulang? Duduklah ke mari," sambut Bima senang seolah ini pertama kali pertemuannya dengan keponakannya dalam waktu yang lama.
Raden menuruti Bima dan duduk di kursi tepat berseberangan dengan Bima.
"Apa paman ikut terlibat dalam masalah penuntutan dokter Alby?" tanya Raden langsung dengan nada kelewat tenangnya. "Orang kaya yang membayar Ganendra untuk menuntut dokter Alby itu paman kan?"
Bima tampak terhenyak untuk beberapa detik sebelum sebuah senyuman mengembang di wajahnya.
"Benar," jawab Bima tanpa beban.
"Dokter Alby tidak ada hubungannya dengan kita, kenapa paman menargetkan dokter Alby?" tanya Raden datar.
"Tapi dia ada hubungannya dengan Devi."
Raden merasa keberatan dengan jawaban pamannya. Kenapa pamannya menyeret orang lain yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya? Bukankah target utamanya adalah Devi? Kenapa jadi melibatkan dokter Alby?
"Ayahmu menunggu hasil perburuan tikusmu," ujar Bima sembari menyesap rokoknya dalam-dalam.
Tanpa berniat menimpali perkataan pamannya, Raden pun memilih bangkit pergi. Entahlah pernyataan terakhir Bima membuat Raden sedikit tidak nyaman.
"Kurasa kau sudah mulai terlena dengan tikus buruanmu sendiri. Jika kau seperti ini terus, dendam yang ayahmu titipkan di pundakmu tidak akan pernah terbalaskan. Kau lupa selama ayahmu berada di penjara kau mendapat perlakuan seperti apa di sekolahmu? Teman-temanmu mulai merundungmu dan menyebutmu anak pembunuh Den," lanjut Bima memprovokatori Raden.
"Berburu tikus tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan satu hal lagi, apa paman tahu dokter koas yang diperintahkan dokter Alby untuk menangani ayahnya Ganendra adalah aku? Jika paman tetap melancarkan tuntutan itu bukan hanya dokter Alby yang terkena masalah tapi aku juga. Secara tidak langsung paman juga menuntutku," jawab Raden. Setelahnya Raden melanjutkan langkahnya untuk pergi dari hadapan Bima.
"Ap...apa?"
Mata Bima membola mendengar kalimat yang keluar dari bibir Raden. Bima baru tahu dokter koas yang diperintahkan Alby untuk menangani Rusli adalah Raden. Sial! Kenapa ia bisa hampir kecolongan seperti ini?! Hampir saja ia memenjarakan keponakan yang sudah ia anggap sebagai putra kandungnya sendiri.
Namun saat ini Bima tidak ingin membatalkan kesepakatan itu lebih dulu pada Ganendra. Biar Ganendra berhasil membunuh Devi terlebih dahulu baru ia akan membatalkan kesepakatannya karena sepertinya Raden tidak akan bisa melakukannya dengan tangannya sendiri untuk membunuh Devi. Keponakannya itu apakah mulai menyukai Devi?
*****
Perlahan sinar matahari mulai menyingsing memancarkan sinar hangatnya untuk menyinari bumi. Sinar hangat itupun bahkan sampai menembus celah jendela kamar Devi yang membuat Devi menggeliat tidak nyaman karena tepat mengenai matanya.
Alby yang saat itu baru saja selesai berpakaian dan bersiap-siap pun berjalan mendekat ke arah Devi begitu melihat gadis itu menggeliat tidak nyaman sembari memeluk bonekanya erat.
Uhuk! Uhuk!
__ADS_1
Mendengar Devi yang terbatuk pun membuat Alby reflek mendekat ke arah Devi dan memeriksanya dengan raut wajah khawatir. Namun beberapa saat kemudian sudah tidak terdengar suara batuk dari Devi lagi dan hal itu membuat Alby mendesah lega.
Alby mengambil duduk tepat di pinggir ranjang dan memperhatikan Devi yang sedang tertidur dengan pulas.
Wajah ayu dan tampak lugu Devi begitu menggemaskan di mata Alby. Perlahan tangan Alby membelai pelan pipi Devi yang terluka akibat cakaran Jessica. Dalam hati Alby ia merasa menyesal dan bersalah begitu mengingat perlakuannya pada Devi saat itu. Kini Alby merasa upaya yang ia lakukan dengan mendekati Laudya tidak membuat Jessica menghentikan perundungannya. Alby telah gagal.
Lalu pandangan Alby jatuh pada bibir merah alami Devi yang sedikit terbuka membuat Alby teringat dengan aksinya mencium Devi di rooftop. Bibir yang terus saja membantah setiap perintahnya itupun kini membuat Alby tampak gemas sendiri. Ingin sekali setiap Devi membantah dan tidak ingin menuruti perintahnya Alby membungkam bibir Devi menggunakan bibirnya. Menyesap dan menggigit bibirnya pelan.
Seolah sadar dengan apa yang ada di pikirannya, Alby pun langsung menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran mesumnya. Alby tidak habis pikir kenapa ia jadi berpikiran seperti itu begitu melihat bibir Devi. Alby rasa sekarang ia mulai kehilangan kewarasannya.
Ugh!
Alby kembali menoleh ke arah Devi yang melenguh pelan dengan mata terpejam. Sepertinya sinar matahari yang menembus celah jendelanya membuat Devi tidak nyaman.
Alby membenarkan letak selimut Devi dan menariknya ke atas hingga batas dada. Devi yang merasakan pergerakan Alby pun membuka matanya perlahan.
"Om Alby sudah mau pergi?" tanya Devi setengah sadar.
"Hm. Aku harus segera menyerahkan rekaman suara Ganendra pada direktur." Alby mengelus pelan rambut Devi dengan lembut dan melarikan anak rambut yang menghalangi wajah Devi ke telinganya.
"Baiklah, aku lanjut tidur saja," ujar Devi memeluk bonekanya erat.
"Tidurlah. Aku sudah memasak untukmu, jika kau ingin makan panaskan dulu," pesan Alby yang diangguki oleh Devi.
"Hari ini jangan pergi kemana-mana. Ganendra bisa saja mencari keberadaanmu dan berniat untuk mencelakaimu. Begitu aku pergi bekerja, tutup semua pintu dan jendela. Jangan biarkan siapapun masuk kecuali aku. Mengerti?"
Devi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelahnya Alby beranjak keluar dari kamar Devi. Meskipun dalam hati Alby ia tidak tega membiarkan Devi berada di rumah sendirian, namun Alby juga tidak mungkin membawa Devi ke rumah sakit karena di rumah sakit lebih rawan bertemu dengan Ganendra sedangkan di apartemen hanya dirinya dan Devi yang bisa keluar masuk apartemen sehingga lebih baik Devi tinggal di apartemen saja.
*****
Setelah puas berselancar di alam mimpinya, Devi pun membuka kedua matanya dan berdiam diri sebentar untuk mengumpulkan kembali nyawanya. Ia mencoba mengingat kembali pesan Alby padanya tadi sebelum Alby berangkat bekerja.
Devi tidak begitu mendengarnya karena rasa kantuknya yang hampir meraup seluruh kesadarannya. Satu hal yang Devi ingat adalah ia tidak boleh pergi kemana-mana setelah itu ia sudah ingat lagi apa kata berikutnya yang dilontarkan Alby.
"Ah masa bodoh, aku lupa."
Devi pun beranjak dari tempat duduknya dan bergegas mandi. Setelah mandi ia segera menuju meja makan dan memakan sarapannya. Seharian ini ia hanya ingin bermalas-malasan sembari maraton drama Korea kesukaannya.
"Ternyata ada untungnya juga di skorsing," ujar Devi bahagia.
Devi merebahkan dirinya di sofa, mengambil boneka Toto kesayangannya dari dalam kamar dan memeluknya. Yah setidaknya ia tidak merasa sendirian karena ada Toto.
Devi teringat janji Alby. Bukankah Alby ingin membelikannya seekor kelinci? Kenapa sampai sekarang kelinci itu belum ada?
Devi pun merogoh ponselnya dan mengirimi pesan pada Alby untuk bertanya kapan kelincinya tiba. Beberapa menit menunggu, Alby tidak kunjung membalas pesan Devi hingga suara bel berbunyi mengalihkan perhatiannya.
"Siapa?" tanya Devi dalam hati.
Yang pasti itu bukan om Alby!
Devi berjalan mendekat ke arah pintu dan melihat dari layar yang berada di samping pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu.
__ADS_1
Devi mengerutkan dahinya bingung begitu ia tidak melihat ada seorang pun yang berdiri di depan pintu. Devi mengabaikannya dan memilih untuk kembali ke ruang tengah. Namun begitu ia mulai duduk, suara bel kembali berbunyi.
Devi yang kesal pun segera beranjak dan melihat ke arah layar namun lagi-lagi tidak ada satupun orang yang berdiri di sana. Sampai tiba-tiba saja Devi mendengar ada seseorang yang tengah berusaha membuka jendela dengan paksa.
Devi segera berlari untuk mengecek situasi dan benar saja di sana ia melihat Ganendra yang tengah berusaha membuka jendela dengan paksa.
Devi yang melihat hal itu sontak langsung lari ketakutan. Ia segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan berlari masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintunya dari dalam.
Pyar!!!
Devi terjengkit kaget mendengar suara kaca dipecahkan. Devi yakin Ganendra pasti memecah kaca jendela karena ia tidak berhasil membuka jendela tersebut dengan paksa.
"Devi!!!"
Devi semakin ketakutan begitu Ganendra memanggil namanya. Dari mana Ganendra tahu namanya? Dan kenapa Ganendra bisa tahu di mana ia tinggal?
"Devi!! Keluarlah! Aku tahu kau bersembunyi!!"
"Keluarlah brengsek!!!" umpat Ganendra marah.
Pyar!!!
"Kau pasti bersembunyi di dalam kamarmu kan?!!"
Brak!! Brak!!
Ganendra berulang kali mencoba mendobrak pintu kamar Devi. Devi menutup telinganya sembari berlari bersembunyi di dalam kamar mandi kamarnya. Ia benar-benar ketakutan setengah mati.
Dengan tangan bergetar, Devi segera mencari nomor Alby di ponselnya dan berharap Alby segera menjawab panggilannya.
Alby yang saat itu sedang memeriksa salah satu berkas pasien pun melihat ponselnya bergetar, ada panggilan masuk dari Devi. Alby pun langsung menjawab panggilan Devi. Namun begitu ia mengucapkan kata 'halo', Alby tersentak kaget begitu mendengar suara Devi yang menangis ketakutan dan memintanya untuk segera pulang.
"Bertahanlah, aku akan pulang dan menelepon polisi. Jangan buat suara dan bersembunyilah ke tempat yang aman," pesan Alby.
Alby pun segera bergegas untuk pulang. Raden yang melihat Alby pulang dengan terburu-buru pun hanya mengernyitkan dahinya bingung.
"Apa terjadi sesuatu pada Devi?" lirih Raden.
Di sisi lain, Devi semakin ketakutan tak kala Ganendra berhasil mendobrak masuk kamarnya.
"Keluar kau!! Aku tahu kau yang menguping pembicaraanku dengan pacarku. Karena kau sudah tahu jika aku yang membunuh ayahku maka kau harus mati di tanganku!" gertak Ganendra.
Devi mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah mencoba mencari barang bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya. Ya, setidaknya sampai Alby datang.
Ganendra menyusuri segala penjuru kamar Devi, bahkan ia sampai membuka lemari pakaian Devi kalau-kalau Devi bersembunyi di dalamnya.
Kosong!
Ganendra tidak menemukan keberadaan Devi di dalamnya hingga pandangannya kini jatuh pada pintu yang diyakini Ganendra adalah kamar mandi.
Dengan menyunggingkan smirk mengerikannya, Ganendra berjalan menuju kamar mandi. Ia mencoba membukanya dan ternyata pintunya di kunci dari dalam membuat Ganendra yakin Devi ada di dalamnya.
__ADS_1
"Jika aku membunuh ayahku menggunakan batang penguat, enaknya kau kubunuh dengan cara apa ya?"
*****