Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Makan Bersama Teman Alby


__ADS_3

~Beberapa bulan kemudian~


'Aku akan menyelamatkanmu. Kau tenang saja, kau akan aman.'


Terdengar suara tangisan yang semakin keras.


'Pakai sabuk pengamanmu. Kita akan pergi dari sini!'


Devi dapat mendengar suara klik dari sabuk pengamannya dan bahkan Devi juga mendengar suara mesin mobil dihidupkan.


'Lihat mereka tidak dapat mengejar kita.'


'Mereka?'


Devi ingat kejadian ini. Saat itu Devi menoleh ke belakang dan begitu terkejut ketika ia tahu ternyata pria itu tidak sendirian. Di sana ada segerombolan orang lain berbaju hitam kini tengah menatap ke arahnya.


'Kau pikir aku benar-benar ingin menolongmu?'


'Anak buahku yang kau robek perutnya itu tidak mati. Dia beruntung karena di dalam ada dokter hebat yang menyelamatkannya. Sekarang pergilah dengan tenang sayang!'


'Ka..kau ti..tidak menyelamatkanku?'


'Pergilah dengan tenang sayang.'


Setelah itu terdengar suara hantaman yang sangat keras dan setelahnya sudah tidak terdengar apa-apa lagi. Itu adalah kejadian saat truk menabrak mobilnya.


"Kenapa mendengarkan itu lagi?" tegur Alby yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Devi yang saat itu sedang mendengarkan rekaman dashcam mobil kecelakaannya pun terperanjat kaget begitu Alby masuk ke dalam kamarnya.


"Astaga om Alby membuatku terkejut saja! Kapan om Alby tiba?" Devi mematikan rekaman dashcam tersebut dan kembali menyimpannya di laci nakas samping tempat tidurnya.


"Ehm....sepuluh menit yang lalu sepertinya. Aku sudah mengetok pintu kamarmu tapi kamu tidak dengar dan sibuk mendengarkan rekaman itu lagi. Ada apa? Kenapa mendengarkannya lagi? Bukankah semuanya sudah membaik dan traumamu juga teratasi sejak kamu ikut psikoterapi?" tanya Alby lembut.


"Tidak ada apa-apa om. Hanya ingin mendengarnya saja."


"Jangan mendengarkannya lagi, aku tidak mau traumamu kembali," ucap Alby serius.


Devi tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya ia menuruti perkataan Alby. Tidak ada gunanya berdebat dengan Alby sekarang.


"Hm baiklah aku tidak akan mendengarkannya lagi."


Devi ingat hari dimana ia mengaku pada Alby jika ia pernah membunuh seseorang di rumah tua itu. Saat itu Alby bilang jika ia telah mengetahui semuanya termasuk perbuatannya lewat rekaman dashcam mobil yang ia dapatkan dari anak buahnya.


Ya, setelah kejadian Alby tertembak Bima saat menyelamatkan Devi, Alby sengaja meminta anak buahnya untuk mencari tahu tentang penculikan Devi dan segala hal yang berkemungkinan dapat mencelakai Devi kembali. Dan alhasil Alby berhasil mendapatkan dashcam dari mobil yang ditumpangi Devi pada saat kecelakaan itu terjadi.


"Om."


"Hm?"


"Aku masih penasaran siapa dokter yang menyelamatkan anak buah Bima yang terluka karenaku," ujar Devi yang membuat Alby menghentikan kegiatannya melepas dasinya.


"Aku tidak tahu. Jangan dipikirkan, aku akan mencari tahu siapa dia. Cepat kamu ganti pakaian, malam ini aku ingin mengajakmu pergi," perintah Alby mengalihkan pembicaraan.


"Ke mana?"


"Makan malam dengan rekan kerjaku. Kamu ingin pergi tidak?"


Devi tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya tanda ia ingin pergi.


*****


"Ayo om."


"Sudah?"


Alby membalikkan badannya ke arah Devi dan ia sangat terkejut dengan pakaian yang dikenakan oleh Devi. Bagaimana tidak? Devi memakai dress yang memperlihatkan perut dan sedikit bahunya serta potongan dadanya yang rendah tentu saja membuat Alby tidak percaya.


__ADS_1


"Ganti!" perintah Alby dingin.


"Kenapa ganti om? Dress ini sangat cantik, aku tidak mau mempermalukan om Alby di depan teman-teman om Alby. Ayo kita berangkat om."


Devi menggandeng tangan Alby untuk segera mengajak Alby berangkat.


"Tidak sebelum kamu ganti baju," tolak Alby.


"Tidak mau!!"


"Kalau begitu tidak jadi pergi."


"Om Alby jangan begitu, aku sudah ganti baju dan berdandan lho om. Memangnya kenapa kalau aku memakai dress ini?"


"Kamu ingin menunjukkan pada semua orang jika kamu memiliki bekas operasi di perutmu?"


"Tidak kok. Roknya bisa dinaikkan lagi seperti ini jadi bekas lukanya tidak kelihatan."


"Jangan dinaikkan lagi!! Kamu ingin pamer paha ya?!!" tegur Alby begitu Devi menaikkan roknya agar bekas luka operasinya tertutupi oleh roknya. "Pilih ganti sendiri atau aku yang gantikan?"


Mendengar kalimat terakhir Alby membuat Devi mau tidak mau harus mengganti pakaiannya.


Dengan bibir yang mengerucut kesal, Devi pun kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian.


"Om Alby menyebalkan!"


"Aku tunggu sepuluh menit."


Setelah beberapa saat menunggu, Alby pun melihat Devi yang sudah selesai berganti pakaian. Devi berjalan menghampiri Alby yang sedang tersenyum ke arahnya. Devi dapat melihat betapa tampannya Alby dengan setelan hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Namun tentu saja hal itu tidak bisa membuat bibirnya berhenti memberenggut kesal.



"Seperti ini kan lebih cantik," puji Alby seraya membelai lembut rambut Devi namun Devi langsung menepisnya.


"Aku terlihat seperti anak kecil," rengek Devi dengan menunjukkan pakaian yang ia kenakan.



"Lihat saja nanti kalau tidak ada om Alby. Aku akan memakai dress kesayanganku tadi dan berjalan-jalan berdua dengan Arin," sinis Devi sembari berjalan mendahului Alby.


"Lakukan saja jika kamu ingin aku membakar dressmu besok pagi," jawab Alby sembari tersenyum kecil.


*****


Setelah beberapa menit di perjalanan, Alby dan Devi pun tiba di sebuah restoran tempat Alby janjian makam malam bersama rekan kerjanya.


Mereka berdua berjalan beriringan memasuki restoran. Begitu tiba, ia langsung diarahkan oleh seorang pelayan untuk menuju tempat yang telah ia pesan sebelumnya.


"Wah lihat siapa yang datang," sambut Raka sembari mempersilahkan Alby dan Devi untuk duduk. "Halo Devi."


"Halo dokter Raka," balas Devi ramah.


"Duduklah dan pesan semaumu, Ryan yang bayar," ujar Raka.


"Kenapa jadi aku?!!" protes Ryan pada Raka. "Pesanlah Dev, khusus kamu aku yang bayar," lanjut Ryan yang membuat Alby langsung memelototkan matanya ke arah Ryan.


"Aku tidak gratis?" tanya Alby.


"Kau bayar sendiri."


"Aku pilih yang paling mahal biar dokter Ryan bangkrut," canda Devi yang membuat ketiganya tertawa.


"Renata belum tiba?" tanya Alby.


"Kak Renata sudah pulang?" tanya Devi bingung pada Alby.


"Sudah, pagi tadi ia mengirimiku pesan untuk menjemputnya di bandara tapi aku menolak. Aku sangat sibuk jadi aku meminta Ryan untuk menjemputnya."


"Kau itu bukan sibuk, tapi menyibukkan diri agar tidak menjemput Renata. Kau kan paling malas kalau disuruh berkendara di siang hari apalagi cuaca panas dan berdebu," cibir Ryan.

__ADS_1


"Jahat sekali," komentar Devi pada Alby.


Baru saja Alby hendak membela diri, datanglah seorang wanita cantik menyapa mereka.


"Hai, apa aku datang terlambat?"



"Wah apa ini? Alby tumben kau ikut makan malam bersama kami, oh siapa ini? Alby ini adikmu? Eh kau kan tidak punya adik, apa ini adiknya Icha? Icha kan punya adik perempuan. Hai kamu Shiela ya?"


Devi yang mendapat pertanyaan secara tiba-tiba pun tampak kebingungan sendiri. Ia tahu Shiela tapi siapa Icha?


"Namanya Devi, dia tunanganku," jawab Alby dengan nada dingin. "Bisakah kau tidak berbicara sembarangan begitu tiba ke mari?" lanjut Alby tersinggung begitu wanita itu menyebut nama Icha.


"Aku hanya salah mengira, kenapa sensitif sekali," gerutu wanita cantik tersebut.


"Oh ehm Dev perkenalkan Aluna. Aluna ini dokter spesialis kandungan-"


"Kami dulu satu SMA," imbuh Aluna sembari tersenyum manis kepada Devi.


"Sayang aku belum selesai memperkenalkanmu pada Devi. Dev Aluna ini pacarku," lanjut Raka memperkenalkan Aluna dan memberi isyarat pada Aluna agar tidak menyinggung masalah Icha di hadapan Devi dan Alby.


Devi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti meskipun dalam otaknya ia masih bertanya-tanya siapa Icha.


Devi merasa pernah mendengar nama ini, tapi dimana?


Begitu melihat perubahan raut wajah Devi, Alby pun mendekat ke arahnya dan berbisik pelan.


"Ada apa?"


"Siapa-"


"Maaf aku terlambat!" ujar Renata yang menghentikan pertanyaan Devi.


"Kenapa kau baru saja tiba? Kami sudah menunggumu dari-"


"Kak Renata!" pekik Devi riang sembari berhambur ke pelukan Renata.


Renata pun membalas pelukan Devi sembari tersenyum lebar.


"Wah sudah berapa lama kita tidak bertemu, kau semakin cantik saja," puji Renata. "Kudengar kau juga sudah bertunangan dengan Alby," lanjut Renata sembari berbisik di telinga Devi.


Devi melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya riang sebagai jawaban.


Devi pun menarik tangan Renata agar duduk di sampingnya.


"Kenapa lama sekali? Kau terlambat dua puluh menit," komentar Raka.


"Pacarmu juga terlambat jadi jangan menegurku saja," balas Renata.


Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan dihidangkan.


Saat sedang asyik bercanda, ponsel Devi berdering. Devi pun meminta ijin pada Alby untuk menjawab panggilannya dan berjalan agak jauh dari mereka.


"Arin, ada apa?"


"......"


"Aku akan ke sana sekarang!"


Devi segera berlari menuju Alby. Ia segera berbisik pada Alby jika telah terjadi sesuatu pada Arin dan ia harus pergi menolongnya. Dengan sigap, Alby pun segera berpamitan pada teman-temannya dan mengantar Devi untuk pergi ke tempat Arin berada.


"Ada apa?" tanya Alby begitu ia mulai menjalankan mobilnya.


"Aku tidak tahu, tapi Arin meneleponku sembari menangis. Aku diminta menemuinya," jawab Devi khawatir. "Om tolong tambah sedikit kecepatannya, aku sangat mengkhawatirkan Arin."


Alby pun menuruti Devi, ia segera menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai ke tempat Arin.


*****

__ADS_1


__ADS_2