
Renata berlari menghampiri Alby dengan tergopoh-gopoh. Alby yang saat itu sedang memeriksa pasien bersama Raden dan Fitra pun menatap heran ke arah Renata.
"Ada apa? Apa ada pasien gawat darurat?" tanya Alby.
"Tidak. Ini lebih dari gawat darurat," jawab Renata ngos-ngosan.
"Ada apa?"
"Direktur memanggilmu. Departemen gawat darurat dimintai pertanggung jawaban atas kematian korban kontruksi yang meninggal tadi pagi. Sekarang wali pasien sedang berada di ruangan direktur," jelas Renata yang membuat Raden dan Fitra terkejut.
Alby sudah tahu jika hal ini pasti akan terjadi. Salahnya juga karena ia mempercayakan pasien dengan batang penguat menancap di dadanya kepada Raden yang notabene masih dokter koas yang belum memiliki banyak pengalaman.
Alby menghela nafasnya pelan, ujung matanya menangkap Raden yang tengah menatap ke arahnya dengan perasaan bersalah.
Alby pun segera bergegas menuju ruangan direktur untuk menemui wali pasien meninggalkan Fitra dan Renata yang menatapnya khawatir tak terkecuali juga dengan Raden. Raden menggigit ujung kukunya panik.
*****
Begitu tiba di depan pintu ruangan direktur, Alby menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dalam-dalam. Lalu Alby memutar knop pintu tersebut dan memasukinya.
"Kau sudah datang?" sapa Sena Atmaja selaku direktur rumah sakit. Selain direktur, beberapa staf penting rumah sakit juga berada di sana.
"Duduklah."
Alby dapat melihat tatapan marah dari seorang remaja seusia Raden di hadapannya. Alby tebak remaja laki-laki di hadapannya ini pasti putra dari korban.
"Ini dokter Alby, kepala IGD tempat ayahmu menerima perawatan. Alby ini Ganendra, putra pasien atas nama Rusli yang meninggal tadi pagi akibat batang penguat menembus dadanya," ujar Sena memperkenalkan Alby.
"Oh jadi anda dokter yang mengatur ayah saya ditangani oleh dokter koas?! Bagaimana bisa kondisi darurat ayah saya hanya ditangani dokter koas yang bahkan belum berpengalaman??!!" murka remaja laki-laki bernama Ganendra tersebut. "Apa karena ayah saya menggunakan bantuan BP*S sehingga rumah sakit bisa bertindak diskriminatif seperti ini?!! Dokter macam apa kalian?!!! Kalian pikir nyawa ayah saya tidak berharga?!!"
Alby mencoba bersikap tenang dan menjelaskan secara perlahan pada Ganendra.
"Tidak bukan begitu, kami para dokter tidak pernah mendiskriminasi pasien. Saya akui saat itu kami kekurangan tenaga medis di IGD karena dokter residen sedang ada konferensi. Terlepas dari permasalahan itu, ini memang sepenuhnya salah saya. Seharusnya saya yang menangani korban bukannya malah menyerahkan korban pada dokter koas. Tapi saya bisa beri penjelasan kenapa saya menyerahkannya pada dokter koas. Saat itu saya sedang melakukan operasi darurat dan secara otomatis saya tidak dapat menangani dua pasien sekaligus sehingga saya meminta dokter koas untuk menanganinya dan saat itu saya belum melihat kondisi pasien sama sekali sehingga saya tidak tahu ada batang penguat yang menembus dadanya," jelas Alby.
"Selain itu posisi batang penguat yang menusuk pasien Rusli telah merusak sebagian besar paru-paru kirinya dan bahkan sedikit mengenai jantung. Di tambah terjadi pendarahan subarachnoid traumatik¹ membuat pasien sulit di selamatkan," imbuh Sena.
"Alah anda kan direktur rumah sakit dan dia seorang dokter tentu saja anda akan melindungi pegawai anda!! Saya tidak mau tahu, saya akan tetap mengambil jalur hukum!!"
"Tolong tenang dulu, kita bicarakan masalahnya baik-baik," bujuk prof. Yudha.
"Jika ingin bicarakan kasus ini baik-baik lebih baik kita bicarakan di pengadilan nanti. Saya permisi," pamit Ganendra melangkahkan kakinya pergi.
Alby menghela nafasnya berat.
"Jangan terlalu dipikirkan. Memang benar kau salah karena menempatkan seorang dokter koas untuk menanganinya, tapi melihat kondisi pasien mau ditangani dokter spesialis manapun kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk bisa diselamatkan," ujar prof. Yudha menenangkan Alby.
"Kau tenang saja, masalah ini biar rumah sakit yang tangani. Kau fokus saja mengobati pasien. Ganendra anak yatim piatu dan dia hanya bekerja sebagai karyawan pabrik. Punya uang dari mana dia ingin menuntut rumah sakit kita untuk meminta pertanggung jawaban?" cibir Sena.
"Tidak direktur. Masalah ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya. Jika Ganendra ingin menuntut biarkan dia menuntut saya," ujar Alby yang membuat Sena dan Yudha serta beberapa staff rumah sakit terkejut.
"Apa maksudmu?!! Kau ingin masuk penjara?!!" marah direktur begitu mendengar ucapan Alby.
"Ganendra hanya ingin keadilan untuk kematian ayahnya dan saya juga sangat paham bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat disayanginya. Jika saya memang bersalah, saya siap menerima konsekuensinya," ujar Alby mantap.
Sena menatap Alby tanpa bisa berkata-kata dan meminta seluruh staff agar keluar menyisakan Alby dan juga dirinya saja.
"Ini tentang karir profesimu yang berhasil kau capai selama ini. Jika pengadilan memutuskan kau bersalah maka tamat sudah riwayatmu," desis Sena menahan amarahnya. Kenapa Alby sangat bebal diberitahu?
"Dengar Alby, kau seorang dokter. Kau tahu jelas kondisi pasien. Keadaannya sudah melewati masa golden hour dan meskipun dokter terbaik rumah sakit di negeri ini yang menanganinya, nyawanya tetap tidak tertolong. Jangan biarkan perasaan bersalah menguasai dirimu, lagi pula ini bukan sepenuhnya salahmu-" ujar Sena menggantung yang membuat Alby menatap kearahnya.
"Aku sudah dengar dari suster Ratna tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ini semua karena dokter koas yang kau tunjuk untuk menanganinya tidak mampu melakukan apa-apa kan? Dia hanya sibuk ketakutan begitu melihat darah yang mengucur deras begitu batang penguat terlepas. Jika gawat darurat diselidiki bukan hanya kau yang hancur karirnya, tapi Raden dan juga suster yang menyenggol batang penguat itu. Pikirkan dulu, kini kau bukan hanya menanggung karir dirimu sendiri, tapi ada karir dua orang yang harus kau tanggung," ujar Sena menjelaskan situasinya pada Alby.
Setelahnya Sena meninggalkan Alby sendirian untuk memberi waktu bagi Alby untuk berpikir.
Tes!
Satu bulir air mata mengalir menuruni pipinya. Ia tahu betul bagaimana perasaan Ganendra tapi di sisi lain ini bukan hanya menyangkut karirnya sendiri namun ada karir Raden dan juga suster Selvi.
Alby berjalan keluar dari ruangan tersebut. Alby bersandar pada dinding dengan kedua kakinya ditekuk sembari memegang kepalanya pusing. Di saat seperti ini ia sama sekali tidak memiliki pilihan selain menuruti direktur.
Alby tidak tahu cara seperti apa yang akan digunakan direktur untuk membungkam Ganendra tapi Alby harap itu bukan sesuatu yang buruk.
Raden yang melihat Alby seperti itu pun merasa bersalah, ia berjalan mendekat ke arah Alby.
"Dok," panggil Raden pelan.
__ADS_1
Alby berdiri menegakkan tubuhnya dan menatap Raden dengan datar.
"Kasus ini biar saya yang bertanggung jawab. Ini semua salah saya," ujar Raden mantap.
"Tanggung jawab apa? Memangnya kau siapa bisa bertanggung jawab hah?!!! Kau hanya koas, punya pengaruh apa kau di sini?!!" marah Alby.
Seakan tersadar dengan perkataannya, Alby pun menghela nafasnya pelan dan menatap ke arah Raden dengan tatapan lembut.
"Pergilah, suasana hatiku sedang buruk. Aku tidak ingin kata-kata kasarku keluar," perintah Alby yang malah membuat Raden semakin merasa bersalah. Raden ingin Alby memarahinya dan memakinya seperti biasanya. Melihat Alby yang seperti ini membuat Raden yakin pertemuan wali dan direktur tadi membuahkan hasil yang buruk.
"Kenapa tidak pergi?!!! Kau tuli?!!!" marah Alby yang langsung membuat Raden bergegas pergi meskipun rasa bersalah semakin membuncah memenuhi dadanya.
Drt...drt....
Alby merogoh ponselnya dan segera menjawab panggilan yang ia tahu itu dari guru BK Devi.
"Halo."
"......"
"Saya akan ke sana sekarang."
Alby mengakhiri panggilannya dan segera bergegas menuju sekolah karena Devi terlibat perkelahian lagi.
*****
Alby keluar dari ruang BK dengan penuh amarah. Bagaimana bisa Devi mendapat panggilan orang tua sebanyak dua kali karena berkelahi?
Tadi begitu ia keluar dari ruangan direktur, Alby mendapat panggilan dari sekolah Devi yang mengabarkan Devi kembali terlibat perkelahian. Dan lagi-lagi lawan berkelahi Devi adalah Jessica.
Dengan marah Alby pun langsung bergegas menuju sekolah Devi.
Sama seperti sebelumnya, panggilan orang tua ini dihadiri oleh Laudya sebagai wali dari Jessica. Laudya tampak merasa bersalah padanya namun Alby tersenyum lembut untuk menenangkannya.
Alby dapat melihat luka di pipi Devi dengan darah yang hampir kering. Mau dilihat dari sisi manapun sepertinya yang mendapat luka paling parah adalah Devi sedangkan Jessica hanya terlihat rambutnya yang berantakan. Alby tahu, Devi pasti menjambaknya.
Menurut cerita Jessica saat ditanyai oleh bu Nisa selaku guru BK, Devi lah yang pertama kali menyerang Jessica dengan menjambak rambutnya dan yang dilakukan Jessica adalah bentuk perlawanan diri. Tentu saja Devi keberatan dengan cerita ngawur Jessica namun begitu bu Nisa mendatangkan beberapa siswa sebagai saksi, Devi diam tidak berkutik. Mereka mengatakan memang Devi lah yang pertama kali menyerang Jessica.
Devi yang hendak mengelak pun tetap tidak bisa karena memang jika orang yang tidak mengetahui duduk perkaranya dan hanya melihat perkelahian tersebut akan berpikir Devi lah yang pertama kali menyerang Jessica, padahal Devi menyerang Jessica karena Jessica lah yang lebih dulu berbicara kurang ajar pada Devi sehingga Devi sangat marah dan menyerangnya.
Akibat hal itu Devi mendapatkan skorsing selama satu minggu. Bagus! Di saat Devi sudah mulai rajin belajar kini ia malah tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya.
Devi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Alby dengan pandangan malasnya.
"Minta maaf pada Jessica sekarang," perintah Alby penuh penekanan.
Raut wajah Alby terlihat tidak menerima penolakan namun Devi tidak sudi jika harus meminta maaf pada Jessica padahal bukan dia yang salah.
Jessica dan Laudya yang baru saja keluar dari ruang BK pun menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Devi. Devi dapat melihat senyum mengejek Jessica padanya namun Devi tidak perduli.
"Dev!"
"Aku tidak mau!" tolak Devi tegas.
"Kau harus minta maaf!! Bukankah kau yang menyerang Jessica lebih dulu?!" marah Alby.
"Bukan aku yang memulainya om! Si brengsek Jessica yang lebih dulu mengata-ngataiku!!" balas Devi berani.
"Mulutmu," lirih Alby terkejut begitu mendengar Devi berkata kasar. Selama ini Alby belum pernah mendengar satu kata kasar pun yang keluar dari mulutnya tapi kenapa sekarang Devi berani berkata kasar seperti itu? Alby memijit keningnya tidak habis pikir. "Siapa yang mengajarimu berbicara kasar seperti itu?!!! Ah rupanya selain pandai berkelahi kau juga pandai berbicara kasar. Mau jadi apa kau nanti ha?"
Laudya berjalan mendekat ke arah Alby untuk menenangkan Alby yang tengah diselimuti emosi. Laudya tahu saat ini emosi Alby tidak stabil akibat masalah di rumah sakit dan kini Devi juga menambah masalah Alby.
"By tenanglah, bicarakan dengan Devi baik-baik oke?" bujuk Laudya namun Alby tidak menggubrisnya.
Alby berjalan ke arah Devi dan menarik tangan Devi agar mengikutinya. Devi meronta-ronta minta dilepaskan bahkan Devi juga beberapa kali memukul-mukul Alby namun sepertinya pukulannya tidak ada efek apapun bagi Alby.
"Lepaskan aku om!! Lepaskan!!!"
Alby diam bergeming dan terus melangkahkan kakinya menuju parkiran sekolah. Alby meminta ijin pada guru piket jika ia membawa pulang Devi sekarang juga.
Setelah mendapat ijin, Alby langsung bergegas menuju mobilnya dan langsung memasukkan Devi secara kasar ke dalam mobil. Begitu Devi sudah masuk, Alby pun ikut masuk ke dalam mobil.
"Om buka pintunya!!!" Devi berulang kali mencoba membuka pintu mobil dan menggedor-gedor kaca mobil namun Alby enggan menanggapinya.
"Om buka!!!"
"DIAM!!!" bentak Alby yang membuat Devi terjengkit kaget dan menghentikan aksinya.
__ADS_1
Alby mengusap wajahnya kasar sembari mencoba menahan emosinya.
"Kenapa kau sulit sekali menuruti perkataanku?" desis Alby sembari mencekal lengan Devi agar Devi menatap ke arahnya.
Devi meringis kesakitan begitu cengkeraman Alby yang bertengger di lengannya menguat.
"Kenapa kau tidak mau meminta maaf pada Jessica padahal jelas-jelas kau yang memulainya lebih dulu?!"
Devi yang ketakutan melihat Alby pun mencoba memberanikan dirinya. Ia tidak salah jadi untuk apa ia takut pada Alby.
"Bukan aku yang memulai lebih dulu om!" sanggah Devi yang membuat cekalan di lengannya bertambah kuat.
"Lalu kenapa para siswa itu bilang jika kau yang memulai lebih dulu? Apa kau mencoba membohongiku dengan mengatakan mereka sengaja menjadikanmu kambing hitam atas perkelahian itu?"
"Lepaskan om! Sakit!!" Devi menatap tajam ke arah Alby. Namun tatapan Devi sepertinya tidak berpengaruh apa-apa bagi Alby.
"Jawab pertanyaanku lebih dulu!!!" bentak Alby.
"Untuk apa aku menjawab pertanyaan om Alby jika om Alby tidak percaya padaku?!! Bukankah percuma saja jika aku menjelaskan semuanya pada om Alby? Om Alby akan terus membela Jessica dan memintaku untuk meminta maaf padanya kan?" Air mata Devi mengalir membasahi kedua pipinya membuat luka di pipinya terasa perih.
Sebenarnya Devi tidak ingin menangis di hadapan Alby hanya saja Devi yang merasa emosinya sudah di ubun-ubun pun tidak kuasa menahan tangisnya. Apalagi sedari tadi Alby terus berkata seolah Devi lah dalang utamanya.
"Apa om Alby akan percaya jika aku berkata jika Jessica lah yang memulainya? Tidak kan? Jessica yang lebih dulu mencari masalah denganku!! Aku berjalan melewatinya tapi ia menyusulku dan berbicara sembarangan padaku!! Aku tidak masalah ia mengolok-ngolokku atau apapun itu asalkan ia tidak memintaku untuk mati!! Jessica selalu memintaku untuk mati menyusul ayah dan ibuku om!!"
Alby terkejut mendengar penuturan Devi. Perlahan cengkeramannya mulai terlepas dari lengan Devi. Rasa bersalah mulai memenuhi dadanya.
Alby menatap Devi yang kini menangis tersedu-sedu dan berniat untuk menenangkannya namun tangannya langsung ditepis saat itu juga.
"Apa om Alby juga menginginkan aku mati?"
"Dev, aku tidak bermaksud-"
"Buka pintunya om," perintah Devi dingin.
"Tidak. Kau mau ke mana? Kita harus selesaikan masalah ini baik-baik oke? Aku minta maaf, aku menyesal," sesal Alby.
"Buka!"
Mau tidak mau Alby pun menuruti permintaan Devi. Begitu pintu terbuka, Devi langsung keluar dari mobil dan berlari keluar sembari menangis.
"Dev!! Devi!!" panggil Alby namun Devi tidak menggubrisnya.
Alby menendang ban mobilnya untuk menyalurkan amarahnya. Ia menatap kepergian Devi dengan penuh penyesalan.
Drt..drt...
Alby merogoh ponselnya dan langsung menjawab panggilan dari Renata yang memberitahunya agar Alby segera kembali ke rumah sakit.
"Aku ke rumah sakit sekarang," ujar Alby.
Baiklah sepertinya Alby memang harus membiarkan Devi tenang untuk sementara waktu. Biarkan gadis itu memperbaiki suasana hatinya dan Alby yakin Devi pasti akan pulang nanti jadi lebih baik Alby menunggunya pulang saja nanti dan meminta maaf padanya.
"Sial! Harusnya aku bisa mengontrol emosiku!"
*****
FYI
Perdarahan subarachnoid adalah penimbunan darah di dalam lapisan pelindung otak.
Pendarahan subarachnoid dibedakan menjadi dua macam yaitu traumatik dan nontraumatik.
Perdarahan subarachnoid traumatik terjadi akibat cedera kepala berat, misalnya akibat kecelakaan lalu lintas. Cedera kepala berat bisa menyebabkan pembuluh darah di selaput otak pecah dan mengakibatkan perdarahan subarachnoid.
Perdarahan subarachnoid nontraumatik timbul secara spontan, misalnya pecah pembuluh darah akibat aneurisma otak.
__ADS_1
Golden hour adalah satu jam pertama setelah serangan jantung terjadi. Tindakan penanganan yang tepat dalam 60 menit pertama serangan jantung bisa memberikan efek yang positif. Hal ini penting untuk diketahui karena kebanyakan kematian dan henti jantung terjadi selama periode ini.
Cr. Google