Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Devi Hilang!


__ADS_3

Semalaman Alby tidak bisa tidur begitu Devi mengungkapkan perasaannya pada dirinya. Jelas Alby berbohong jika ia lebih menyukai Devi kembali lagi pada Raden. Sejujurnya Alby tidak ingin Devi memiliki perasaan lagi pada Raden apalagi Raden pernah memiliki niat buruk pada Devi.


Tapi di sisi lain ia tidak bisa menerima perasaan Devi dan meninggalkan Laudya begitu saja. Ada harga yang harus ia bayar jika ia meninggalkan Laudya dan harga yang harus ia bayar sangatlah mahal bahkan sampai menyangkut ayahnya.


Alby ingat betapa murka ayahnya begitu selesai bertemu dengan direktur rumah sakitnya saat itu. Alby yang sedang asyik mengobrol dengan Devi tiba-tiba diminta ayahnya untuk berbicara empat mata di ruangannya.


Tanpa basa-basi lagi ayahnya memberitahu Alby jika Alby mengingkari kesepakatan yang ia buat dengan direktur maka rumah sakit milik Abimanyu lah yang menjadi jaminannya. Rumah sakit milik Abimanyu merupakan cabang dari rumah sakit milik Sena dan sewaktu-waktu bisa Sena tutup dengan mudah begitu Alby menyakiti Laudya. Dengan kata lain, ketua yayasan saat ini telah dipegang oleh Sena-ayah Laudya.


Mau tidak mau Alby harus tetap melanjutkan kesepakatan itu dan Alby juga tahu dibalik dukungan ayahnya pada hubungannya dengan Laudya, ayahnya pasti sangat membenci Sena. Bagaimana bisa Sena mempermainkan nyawa manusia demi kepentingan pribadi seperti ini? Rumah sakit milik Abimanyu merupakan satu-satunya rumah sakit yang berdiri di desa yang sekarang menjadi tempat tinggalnya, lalu bagaimana jika rumah sakit itu ditutup? Di mana lagi pasien bisa pergi berobat?


Alby berkali-kali merutuki kebodohannya ini dan sepertinya tidak ada jalan lain selain melanjutkan kesepakatannya. Tapi masalahnya apakah ia bisa? Sejauh ini ia hanya memperlakukan Laudya seperti pasangan pada umumnya namun Alby masih belum memiliki rasa apapun padanya.


Alby mendesah pelan. Sepertinya ayahnya sengaja tidak memberitahu ibunya tentang kesepakatan ini karena jika ayahnya memberitahunya sudah bisa dipastikan Alby akan mendapat amukan besar dari ibunya.


Dan soal kecelakaan Laudya, Alby sudah bertanya pada Asep tentang kebenarannya dan ternyata apa yang dikatakan Asep persis dengan apa yang diceritakan Devi pada ibunya. Bagus! Sekarang orang yang ingin mencelakai Devi bertambah satu lagi.


"Kenapa jadi seperti ini?!" desah Alby frustasi.


Alby melirik ke jam weker di atas nakasnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia jadi teringat dengan Devi. Gadis itu semalam kehujanan dan sekarang bagaimana keadaannya? Apakah semalam Devi langsung mandi air hangat dan bisa tidur nyenyak atau malah Devi tidak bisa tidur dan menangis karena penolakannya?


Entahlah tapi semoga saja Devi baik-baik saja.


Alby pun segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk turun ke lantai bawah. Kedua orang tuanya pasti tengah menunggunya untuk sarapan pagi.


Begitu selesai mandi, Alby segera bergegas menuju meja makan. Di sana sudah tersedia berbagai macam lauk-pauk buatan bi Jum lengkap dengan susu hangat milik Devi. Ngomong-ngomong soal Devi, kenapa Alby tidak melihat keberadaannya? Ke mana ia? Apakah belum bangun? Kenapa hanya ada ayah dan ibunya saja?


"By, panggil Devi gih. Sepertinya dia belum bangun," perintah Ishwari.


Alby sebetulnya ingin membangunkannya namun begitu ia teringat kejadian semalam, Alby mengurungkan niatnya. Ia hanya belum siap bertemu dengan Devi apalagi bersikap sewajarnya seperti biasanya.


"Kita tunggu saja paling sebentar lagi dia datang," ujar Alby sembari duduk.


"Ibu sudah menunggunya dari tadi tapi Devi belum juga ke mari," balas Ishwari.


"Kalau begitu minta bibi Jum saja yang membangunkannya. Tidak pantas jika pria masuk ke dalam kamar anak gadis," tutur Alby yang membuat Ishwari memicingkan matanya curiga ke arah Alby.


"Kalian bertengkar?"


Uhuk! Uhuk!


Alby yang saat itu sedang minum air putih pun langsung tersedak begitu mendengar pertanyaan Ishwari.


"Tidak," elak Alby.


"Terus kenapa tidak mau? Bukankah biasanya kamu malah tidur berdua di kamarnya? Kamu pikir ibu tidak tahu!"


Skakmat!


Alby tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan ibunya. Dengan gontai Alby pun bangkit dari duduknya dan bergegas menuju kamar Devi untuk membangunkannya.


Alby menatap pintu bertuliskan 'Princess' dengan gusar. Ekspresi macam apa yang harus ia tunjukkan pada Devi begitu ia bertemu sebentar lagi.


Alby mengusap wajahnya frustasi sebelum pada akhirnya ia memberanikan diri mengetok pintu kamar Devi.


Tok! Tok!


Hening!


Alby mengulanginya berkali-kali bahkan ia juga berteriak memanggil nama Devi berulang kali namun tidak ada sahutan sama sekali. Karena panik, Alby langsung mendobrak pintu kamar Devi begitu saja.


Brak!!


Kosong!!


Alby panik dan matanya awas mencari keberadaan Devi sampai ke kamar mandi namun nihil.


Alby pun bergegas turun ke lantai satu dan berteriak memanggil Asep.


"Asep!!"


"Asep!!!"


Tidak ada sahutan.

__ADS_1


Alby merogoh ponselnya dan mendiall nomor Asep dan Devi namun tidak aktif. Tidak kehabisan akal, Alby segera memanggil salah satu pekerjanya dan memerintahkannya untuk mencari Devi maupun Asep di penjuru desa sampai ketemu.


"Pokoknya cari sampai ketemu!" perintah Alby tegas dan setelahnya ia langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Ada apa?" tanya Ishwari yang datang tergopoh-gopoh.


"Devi tidak ada di dalam kamarnya bu," jawab Alby.


"Asep? Di mana Asep? Bisa saja Devi pergi bersama Asep," timpal Abimanyu juga ikut panik.


"Asep tidak bisa dihubungi begitu juga Devi. Sepertinya ponsel mereka sengaja dimatikan," ujar Alby.


Alby mengusap wajahnya frustasi. Alby hanya takut terjadi apa-apa pada Devi mengingat banyak orang yang ingin mencelakainya.


Laudya!!


"Yah, bu Alby pamit ke hotel menemui Laudya," pamit Alby tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya.


"Kenapa ke Laudya?!! Devi sedang hilang kenapa kamu malah pergi berkencan?!!" marah Ishwari sembari berjalan menyusul Alby.


"Alby menemui Laudya bukan untuk berpacaran bu, Alby hanya ingin memastikan sesuatu," jawab Alby masuk ke dalam mobilnya dan setelahnya Alby langsung menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi menuju hotel Laudya.


*****


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Laudya mengerutkan keningnya menatap seorang pria berumur yang berdiri di depan kamarnya.


"Cari siapa pak?" tanya Laudya was-was.


"Bisa berbicara sebentar? Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu."


"Maaf anda salah orang," ujar Laudya sembari menutup pintu kamarnya namun karena tangan kanannya yang patah membuatnya kalah cepat dengan pria berumur itu. Pria itu menahan pintu kamar Laudya.


"Saya akan memanggil petugas keamanan kalau anda berani kurang ajar pada saya," desis Laudya tajam.


"Tenang saja, tujuanku kemari bukan untuk kurang ajar padamu. Aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu."


"Kau ingin aku mengatakannya di sini? Bagaimana jika adikmu dengar?"


"Apa maksud anda?"


"Adikmu tidak tahu jika pembunuhan ibumu disengaja olehmu kan?"


Deg!


"Kita bicarakan di luar!" ucap Laudya cepat sebelum Jessica mendengar pembicaraannya.


*****


"Siapa anda?" tanya Laudya was-was. Bagaimana pria ini bisa tahu jika pembunuhan ibunya adalah ulah dirinya.


"Bima Anggara," ucap pria itu memperkenalkan diri dengan singkat.


"Anggara?" Laudya tampak berpikir sejenak, sepertinya ia tidak pernah mendengar siapa Anggara. Lalu apa yang sebenarnya pria ini inginkan darinya?


"Tidak perlu tahu lebih banyak tentangku. Aku ke mari ingin membuat kesepakatan denganmu."


"Aku tidak tertarik," tolak Laudya.


"Jadi kau tidak masalah adikmu tahu-"


"Hentikan!! Anda tidak tahu apa-apa tentang hidup saya, jadi berhenti mengancam saya!!" marah Laudya.


"Tidak tahu apa-apa ya? Laudya, kau salah menilai tentangku. Aku tahu semuanya tentangmu mulai dari kematian ibumu yang kau sengaja hingga rencana licikmu dan ayahmu yang ingin mendapatkan Alby. Tapi tenang saja, aku tidak ada masalah dengan hal itu karena masalahku hanya satu yaitu Devi."


"Devi?"


"Lenyapkan Devi maka aku akan bungkam tentang kematian ibumu."


Laudya terkejut mendengar ucapan Bima. Melenyapkan Devi? Apa maksudnya itu?

__ADS_1


"Bukankah ini juga menguntungkanmu? Dengan lenyapnya Devi dari hidup Alby maka sudah tidak ada lagi yang menghalangimu memiliki Alby seutuhnya."


"Laudya!"


Deg! Itu suara Alby.


"Hubungi aku jika kau setuju." Bima beranjak dan meninggalkan sebuah kartu namanya di atas meja. Cepat-cepat Laudya mengambil kartu nama tersebut dan memasukkannya ke dalam sakunya.


"Alby," sapa Laudya sembari berusaha menutupi rasa terkejutnya.


"Kau bertemu dengan siapa?" tanya Alby curiga begitu ia melihat seorang pria yang terburu-buru pergi begitu ia tiba.


"Hanya kenalan. Dia ingin menawariku sebagai model produknya," dusta Laudya.


Meski Alby tidak percaya namun kali ini ia mengiyakan saja apa perkataan Laudya.


"Ada apa By, kau mencariku?" tanya Laudya seraya tersenyum manis.


"Hm. Aku mencarimu ke kamarmu tapi Jessica bilang kau keluar kamar dan ternyata kau ada di sini," ujar Alby.


Laudya dapat melihat peluh yang membanjiri kening Alby dan raut wajah Alby yang tampak khawatir membuatnya bertanya-tanya.


"Ada apa?"


"Kau lihat Devi tidak?"


Laudya terdiam. Raut wajahnya tampak sedikit kecewa begitu tahu niat Alby mencarinya hanyalah untuk mencari Devi bukan dirinya.


"Tidak."


"Kau betulan tidak melihatnya?" tanya Alby memicingkan matanya.


"Kau tidak mempercayaiku? Pikirmu apa yang bisa kulakukan pada Devi dengan tangan patah seperti ini? Kau tidak menuduhku telah menculik Devi kan?"


"Tidak! Bukan seperti itu! Aku tidak menuduhmu," elak Alby.


Laudya menghela nafasnya pelan sebelum menatap Alby.


"Bukankah Devi di rumahmu? Kenapa kau mencarinya sampai sini?"


"Devi tidak ada di rumah dan semua pekerja sudah aku kerahkan untuk mencarinya namun hasilnya nihil. Aku takut terjadi apa-apa pada Devi. Kalau begitu cepatlah kembali ke kamar dan istirahat, tanganmu masih belum pulih. Aku harus pergi mencari Devi."


Belum sempat Laudya menjawab perkataan Alby, Alby sudah lebih dulu berlari pergi meninggalkannya.


Laudya mengepalkan satu tangannya yang sehat untuk menahan emosinya. Kedua matanya berair namun ia berusaha menahannya. Ia merogoh saku celananya dan menatap kartu nama Bima dengan lama sebelum pada akhirnya ia membuat keputusan.


Di sisi lain, Alby segera menghubungi salah seorang suruhannya melalui ponselnya.


"Terus awasi Laudya dan kabarkan hal apapun jika ada yang mencurigakan!"


*****


Alby mengendarai mobilnya keliling desa dan sekitarnya untuk mencari keberadaan Devi dan Asep. Bahkan orang tua Asep juga tidak tahu menahu di mana keberadaan putranya.


Lelah berkendara seharian, Alby pun memutuskan untuk pulang sejenak ke rumah. Siapa tahu saja orang-orang suruhannya sudah berhasil menemukan Devi.


Begitu tiba, ia melihat ibunya yang masih menangis dalam pelukan ayahnya. Sepertinya ibunya benar-benar mengkhawatirkan Devi seperti putri kandungnya sendiri.


"Bagaimana?" tanya Abimanyu pada Alby. Alby menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Den Alby!!! Den!!"


Semua mata langsung tertuju pada bibi Jum yang berlari tergopoh-gopoh menuju Alby.


"Ada apa bi?"


"Asep!! Asep baru saja menelepon bibi," ujar bibi Jum menunjukkan ponselnya pada Alby.


Tanpa menunggu lama, Alby langsung mencoba menghubungi Asep.


Panggilan pertama dan kedua tetap tidak ada jawaban dari Asep. Alby tidak menyerah begitu saja hingga pada panggilan ketiga Asep akhirnya menjawab panggilannya.


"Sep di mana kau sekarang?!!!!!" bentak Alby emosi.

__ADS_1


******


__ADS_2