
Ceklek!
Devi melangkahkan kakinya memasuki ruang inap Sean. Devi dapat melihat Sean yang tengah tersenyum menyambut kedatangannya.
Perlahan Devi mendekat kearah Sean diikuti Renata di belakangnya. Devi mengamati perubahan fisik dari kakaknya. Sean terlihat pucat dan tubuhnya terlihat sedikit kurus dari biasanya. Apa ini efek dari angiosarcoma hatinya?
"Kau datang?" tanya Sean sembari tersenyum lebar.
"Jangan berpikir aku datang kemari karena merindukanmu kak," balas Devi mencoba bersikap seperti biasa.
Renata yang mengerti situasi pun memilih untuk menunggu di luar dan memberikan waktu kepada adik dan kakak tersebut untuk sekedar melepas rindu.
"Kau merindukan kakak," jawab Sean menggoda Devi.
"Tidak! Untuk apa aku merindukan kak Sean?! Aku kemari hanya untuk jalan-jalan," sanggah Devi sembari duduk di kursi yang berada di samping brankar.
Sean pun tersenyum lembut ke arah Devi membuat Devi menjadi sedikit emosional.
"Kau sudah besar sekarang," ujar Sean.
"Tentu saja. Aku bahkan sudah bisa berpergian ke luar negeri sendirian," jawab Devi dengan nada sedikit ketus.
"Alby bilang kau sudah datang bulan ya?" tanya Sean yang membuat Devi langsung menatap kearah Sean.
"Om Alby memberitahu kakak?" tanya Devi sedikit terkejut.
"Tentu saja. Alby sudah seperti mata-mata untukku, bahkan aku juga tahu kau hanya sibuk berkencan dari pada belajar," jawab Sean yang membuat Devi mengerucutkan bibirnya kesal.
"Om Alby ember sekali," cibir Devi.
"Kau tidak lelah? Lebih baik sekarang kau istirahat biar Renata mengantarmu ke hotel," ujar Sean.
"Tidak mau. Aku tidur di sini saja," tolak Devi.
"Tidur di mana? Di sini tidak nyaman, tidur di hotel lebih nyaman."
Devi pun bangkit dari duduknya dan langsung menaiki brankar milik Sean lalu membaringkan tubuhnya di samping tubuh Sean.
"Di sini nyaman," ujar Devi sembari memeluk Sean dari samping.
"Kau bilang tidak merindukanku tapi kenapa memelukku?" cibir Sean.
"Aku tidak bisa tidur sendirian."
"Jangan alasan. Memangnya selama ini kau tidur dengan siapa kalau tidak tidur sendiran? Dengan Toto?"
"Dengan om Alby," jawab Devi ringan yang membuat Sean langsung terkejut.
"Ap..apa?"
"Aku tidur dengan om Alby," ulang Devi lagi.
"Hei kau tidak boleh tidur bersama Alby!" tegur Sean.
"Memangnya kenapa?"
"Ya...ya pokoknya tidak boleh. Bukankah aku sudah memerintahkanmu untuk mengunci pintu kamarmu? Tapi kenapa kau malah tidur berdua dengannya?!" omel Sean.
"Kak Sean jangan marah-marah terus. Lagi pula om Alby tidak macam-macam padaku. Om Alby bilang aku ini domba kurus kering yang tidak punya daging. Om Alby tidak nafsu dengan domba yang seperti itu," ujar Devi.
__ADS_1
Sean terdiam. Sean tahu Alby tidak mungkin macam-macam pada Devi tapi entah mengapa sebagai seorang kakak, Sean tidak dapat mempercayai seekor serigala seperti Alby sekalipun.
"Kau sudah makan?" tanya Sean.
"Aku tidak lapar. Aku hanya mengantuk. Aku akan tidur sebentar, nanti ketika aku bangun kakak harus mengajakku pergi jalan-jalan," ujar Devi.
"Jalan-jalan?"
"Iya. Bukankah aku sudah bilang tadi tujuanku kemari adalah untuk jalan-jalan?"
"Ah baiklah, tidurlah aku akan mengajakmu jalan-jalan nanti," ujar Sean.
Sean menghembuskan nafasnya pelan sembari menatap Devi yang perlahan mulai memejamkan matanya.
Tangan Sean terulur untuk membelai lembut rambut Devi sembari menyisipkan anak rambut dari wajah Devi ke telinganya. Sean tidak tahu sampai kapan ia bisa melihat wajah cantik adiknya ini. Menikmati setiap waktu bersama Devi, berdebat dengannya ataupun bercanda dengannya pun Sean juga tidak tahu bisa sampai kapan.
Tidak lama kemudian Renata datang memasuki ruang rawat inap Sean. Sean melarikan padangannya kearah Renata.
"Ta bisa beritahu dokter jika malam ini aku ingin jalan-jalan bersama Devi?"
*****
Langit sudah mulai gelap bahkan matahari sudah menghilang sedari tadi. Bintang-bintang mulai datang menghiasi langit malam ditambah bulan berbentuk sabit yang memperindah hiasan awan.
Gedung-gedung megah menjulang tinggi dengan lampu berwarna-warni pun juga turut memperindah suasana malam hari ini.
Kini Sean, Renata dan juga Devi sedang berada di Singapore Flyer untuk menaiki bianglala tertinggi di dunia, dengan tinggi 165 meter, lebih tinggi 5 meter dari Star of Nanchang di Tiongkok dan 30 meter lebih tinggi dari London Eye di Inggris. Singapore Flyer itu sendiri menawarkan pemandangan 3 negara sekaligus, yaitu Singapura, Malaysia dan Indonesia.
"Woah disini indah sekali. Kak itu pasti Indonesia ya?" tunjuk Devi senang.
"Bukan," jawab Sean.
Devi mendengus kesal mendengar jawaban Sean.
"Itu bukan Indonesia Dev, tapi Korea," jawab Renata.
"Jawabanmu bahkan lebih ngawur lagi," cibir Sean.
Devi tertawa kecil mendengar cibiran Sean. Ia pun berjalan mendekat ke arah Sean lalu mendorong kursi roda Sean dan membawanya mendekat ke arah kaca sedangkan Renata memilih untuk mengamati mereka dari jauh.
"Om Alby pasti sedang menyelamatkan pasien sekarang," ujar Devi sembari menikmati pemandangan.
"Tidak mungkin," jawab Sean.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Ini sudah malam, Alby pasti sudah pulang," jawab Sean.
"Kakak benar hehe."
Devi melarikan pandangannya lagi menikmati keindahan Singapura saat malam hari. Keindahannya benar-benar memanjakan matanya.
"Dev," panggil Sean pelan.
"Hm?"
"Sekarang kau sudah dewasa bahkan kau juga sudah datang bulan. Kau bukan anak-anak lagi, sudah saatnya kau memikirkan masa depanmu. Kau harus bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada kakak maupun Alby. Kakak tahu kau sering merepotkan Alby kan? Mulai sekarang kau harus mampu berdiri di kakimu sendiri. Kau harus mampu menyelesaikan masalahmu sendiri. Mulai sekarang belajarlah dengan rajin, masuklah ke universitas yang kau inginkan. Tapi kakak menyarankan agar kau mengambil jurusan bisnis. Kau tahu kakak memiliki perusahaan peninggalan ayah yang harus kau teruskan," nasehat Sean.
Devi yang mendengarnya pun mulai merasakan air mata menggenang di kedua pelupuk matanya namun ia berusaha untuk menahannya.
"Memangnya kenapa? Aku tetap ingin bergantung pada kakak. Memangnya tidak boleh seorang adik bergantung pada kakaknya? Lagipula kenapa harus aku yang meneruskan perusahaan ayah? Aku ini masih kecil, tugasku hanya main-main bukannya malah meneruskan perusahaan ayah!" protes Devi.
__ADS_1
"Bukannya tidak boleh, hanya saja sekarang kau sudah dewasa dan kakak tidak bisa setiap saat menemanimu dan menjagamu. Dan untuk perusahaan bukankah kau sudah tahu kalau kakak seorang jaksa? Bagaimana bisa seorang jaksa memimpin perusahaan? Harus kau lah yang menggantikan kakak. Jadi mulai sekarang jangan main-main terus yang kau lakukan, kau harus belajar dan masuk ke universitas kesukaanmu," ujar Sean.
"Tidak mau!!! Pokoknya aku tidak mau!! Aku tidak mau belajar dan akan terus bergantung pada kakak! Aku juga tidak mau memimpin perusahaan ayah dan harus kakak sendirilah yang memimpinnya. Kalau seorang jaksa tidak bisa memimpin perusahaan yasudah lepaskan saja pekerjaan kakak sebagai seorang jaksa dan berganti menjadi CEO."
"Jangan begitu. Jika kau malas belajar bagaimana nanti jika anakmu bertanya padamu dan kau tidak bisa menjawab pertanyaannya? Kau tidak mau kan dianggap bodoh oleh anakmu?" tanya Sean bahkan kini kedua mata Sean juga sedang berkaca-kaca.
"Kan ada kakak. Aku akan memberitahunya untuk bertanya saja pada kakak," jawab Devi meneteskan air matanya.
"Bagaimana kalau kakak tidak ada?" lirih Sean.
"Kenapa tidak ada?? Kakak harus selalu ada, aku tidak mau tahu tentang itu!! Kakak harus selalu menemaniku sampai aku menikah dan memiliki seorang anak. Tidak! Aku tidak ingin seorang anak saja, aku ingin memiliki sebelas anak dan aku ingin kakak menemaniku sampai saat itu tiba."
"Sebelas? Kenapa banyak sekali?"
"Tentu saja. Aku ingin membuat klub sepak bola dengan kak Sean yang menjadi wasitnya. Jadi kuharap kakak akan tetap sehat sampai waktu itu tiba," ujar Devi yang membuat Sean meneteskan air matanya.
Tidak jauh berbeda dengan Sean, pipi Devi bahkan sudah basah oleh air mata yang terus saja mengalir sejak pembicaraannya dengan Sean.
Setelah sekitar 37 menit menaiki bianglala tersebut dalam satu kali putaran, mereka pun memutuskan untuk turun dan segera kembali ke rumah sakit karena khawatir jika kondisi Sean tiba-tiba memburuk karena terkena angin malam terlalu lama.
"Kalian tunggu disini ya, aku ingin ke kamar mandi," ujar Devi berlari menjauh dari Renata dan juga Sean.
Devi segera menuju bilik kamar mandi yang sedang kosong dan langsung meluapkan semua kesedihannya. Devi menangis tersedu-sedu di dalamnya. Sungguh berpura-pura kuat di hadapan Sean adalah hal terberat yang harus ia lakukan dan Devi tidak dapat menahannya sekarang mangkanya ia pergi ke kamar mandi untuk meluapkan tangisnya tanpa sepengetahuan Sean.
Di sisi lain setelah kepergian Devi, Sean mengeluh perutnya sakit dan hal itu langsung membuat Renata panik.
"Perutku sedikit sakit," eluh Sean sembari memegangi perutnya.
Renata pun berjongkok di depan kursi roda milik Sean dan mulai memeriksa kondisi Sean.
"Aku baik-baik saja. Jangan menangis, ini hanya sakit perut biasa," ujar Sean sembari mengusap air mata yang menuruni pipi Renata.
"Kita harus segera kembali ke rumah sakit," ujar Renata sembari menatap Sean.
"Iya, tapi jangan menangis. Di sini ada Devi, aku tidak ingin Devi melihatmu menangis dan berfikir kondisiku semakin memburuk. Aku tidak ingin Devi juga ikut menangis. Ayo bangun sayang," pinta Sean.
Mendengar panggilan sayang dari Sean malah membuat Renata menangis tersedu-sedu.
Devi yang saat itu berada di belakang Renata dan Sean pun juga tidak dapat menahan tangisnya. Alhasil Devi pun kembali menangis namun dengan segera ia menghapus air matanya dan berjalan menghampiri keduanya.
"Ayo kak kita pulang," ajak Devi sembari tersenyum pada Sean dan berpura-pura tidak mengetahui jika Renata baru saja menangis.
"Kau tidak ingin pergi jalan-jalan lagi? Ini masih pukul delapan malam," tawar Sean.
Devi dapat melihat Sean yang sedikit meringis menahan sakit dengan tangan kiri Sean yang memegangi perutnya.
"Tidak, aku capek sekali kak. Masih ada hari esok, esoknya lagi dan seterusnya untuk kita bisa jalan-jalan ke sini," ujar Devi riang. "Woah aku sangat menantikan saat-saat aku kemari bersamamu kak. Saat itu tiba nanti kira-kira aku sudah memiliki berapa anak ya kak?" lanjut Devi sembari berjalan mendahului Sean.
Renata pun mulai mendorong kursi roda milik Sean untuk menyamakan langkahnya dengan Devi.
"Anak apanya? Kau harus rajin belajar dulu baru memikirkan seorang anak!" tegur Sean.
"Bodo amat whleee," ujar Devi menggoda Sean.
"Renata kau harus mendorong kursi rodaku lebih cepat. Aku harus menangkap Devi dan memberinya pelajaran," ujar Sean.
"Baiklah ayo kita tangkap Devi sekarang!" ujar Renata sembari mendorong Sean sedikit kencang.
"Tangkap aku kalau bisa hahaha," goda Devi sembari menjulurkan lidahnya dan menggoyang-goyangkan pantatnya.
Teruslah tertawa seperti ini agar kakak tenang ketika harus meninggalkanmu.
__ADS_1
******