
Devi terdiam duduk melamun sembari menikmati keindahan malam dari balkon hotel. Apa ia benar-benar harus melakukan psikoterapi?
Terus terang saja Devi ingin mimpi buruk itu menghilang dari hidupnya namun di sisi lain Devi juga tidak ingin melakukan psikoterapi.
Jika ia menolak apakah Alby akan marah padanya?
Perlahan tangan Devi mulai terangkat menyentuh bekas luka operasinya. Lukanya sudah tidak terasa sakit namun traumanya masih tertinggal hingga saat ini.
"Bagaimana caranya menghapus semua trauma itu tanpa psikoterapi ya?" lirih Devi.
Alby yang baru saja berdiri di belakang Devi pun dapat mendengar pertanyaan yang keluar pelan dari mulut Devi.
Sepertinya Devi memang tidak ingin melakukan psikoterapi.
"Kenapa?" tanya Alby berjalan mendekat ke arah Devi yang membuat Devi terjengkit kaget.
"Om Alby mendengarnya ya?" lirih Devi takut. "Om Alby jangan memarahiku ya? Aku bukannya tidak mau melakukan psikoterapi hanya saja aku tidak punya keberanian melakukannya, aku takut om," lanjut Devi.
"Apa yang kau takutkan?"
Devi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku tidak tahu tapi yang pasti aku tidak berani." Perlahan kedua mata Devi mulai berkaca-kaca.
Devi sungguh tidak ingin melakukan psikoterapi itu. Ia tahu ada yang salah dengan dirinya, bahkan perubahan emosinya yang naik turun pun Devi juga menyadarinya tapi ia benar-benar tidak ingin melakukannya.
"Kenapa menangis?" tanya Alby lembut.
"Aku takut om Alby memarahiku."
"Tidak. Aku tidak memarahimu. Kalau kau tidak mau tidak apa-apa, aku tidak memaksamu. Sudah jangan menangis lagi," ujar Alby menghapus jejak air mata di pipi Devi.
Bukannya mereda, tangis Devi malah semakin menjadi membuat Alby kelabakan sendiri. Apa ada yang salah dengan perkataannya?
Huaaaaaaa
"Ada apa? Tenang dulu, katakan padaku ada apa?"
Huaaaa......
"Kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Kita tidak akan pergi ke psikiater, aku tidak akan memaksamu," ujar Alby menenangkan Devi. "Berhentilah menangis."
"Om Alby punya teman wanita tidak?" cicit Devi sesenggukan.
"Ada," jawab Alby sedikit bingung dengan pertanyaan tiba-tiba yang diajukan oleh Devi.
Huaaaaa....
"Eh kenapa lagi? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Alby lembut.
"Om Alby jika sudah lelah denganku pasti akan mencari wanita lain kan?" tanya Devi sesenggukan.
Alby menahan tawanya begitu mendengar pertanyaan Devi. Kenapa Devi bisa sampai terpikirkan hal seperti itu.
"Aku punya banyak kekurangan, punya trauma juga bahkan aku tidak seksi juga," tangis Devi sembari menatap ke arah dadanya.
Alby melebarkan matanya begitu mendengar kalimat terakhir Devi. Apa ia tidak salah dengar?
Astaga kenapa dia semenggemaskan ini?
"Dev," panggil Alby sembari mengangkat dagu Devi agar menatap ke arahnya.
"Kurasa kau belum memahami alasanku memberimu cincin dengan batu saphire merah muda."
Devi menatap Alby bingung namun detik berikutnya ia mulai mengingat perkataan Alby tentang makna batu shapire merah muda yang diberikan Alby padanya.
"Ingat?" tanya Alby. Devi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
"Cinta tak bersyarat. Aku tidak perduli tentang hal lain ataupun kelemahanmu karena yang terpenting aku mencintaimu. Aku janji tidak akan melirik wanita manapun selain dirimu, lagipula tidak ada wanita lain semenarik dan menggemaskan sepertimu," tutur Alby yang membuat Devi kembali berkaca-kaca lagi.
"Ada apa?" tanya Alby panik.
"Kalau ada wanita lain yang lebih menarik apakah itu artinya om Alby akan mencampakkanku?"
"Astaga kenapa kau berpikir seperti itu," ujar Alby membawa Devi ke dalam pelukannya. "Tidak ada wanita lain di hidupku selain dirimu."
"Tapi tadi om Alby bilang seperti itu membuatku berpikir berlebihan," cicit Devi.
"Baiklah kalau begitu begini saja, aku berjanji tidak akan tertarik kepada wanita manapun meskipun mereka cantik, menarik-"
"Menggemaskan juga," imbuh Devi sebelum Alby menyelesaikan kalimatnya.
"Dan menggemaskan juga. Satu-satunya wanita yang boleh memilikiku hanya Devi saja. Jika aku melanggar, Devi boleh menghukumku. Bagaimana?"
Devi menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan perkataan Alby.
"Gadis pintar," puji Alby sembari mencium puncak kepala Devi.
"Perutmu sudah membaik belum?"
"Sudah," jawab Devi.
"Aku ingin membawamu pergi melihat spectra di taman merlion."
"Kalau begitu aku ganti pakaian dulu ya om?"
"Hm. Pakai pakaian hangat, cuacanya dingin," pesan Alby.
Devi menganggukkan kepalanya. Ia segera bergegas berganti pakaian. Alby mengamati Devi yang sedang memilih pakaiannya dengan senyum lembutnya.
Di masa yang akan datang Alby berjanji tidak akan ada wanita lain selain Devi dan ia berjanji akan membantu Devi lepas dari bayang-bayang masa lalunya.
*****
Devi menatap takjub dengan pertunjukan air dan cahaya yang sangat memanjakan mata.
"Spectra a light and water show ini mencerminkan perjalanan Singapura menjadi kota kosmopolitan sampai saat ini," jelas Alby sembari memeluk Devi dari belakang.
Dengan sabar Alby menjawab semua pertanyaan Devi terkait makna dari pertunjukan cahaya dan air tersebut hingga tidak terasa lima belas menit telah berlalu, pertunjukan pun berakhir.
"Sudah selesai."
"Suka tidak?"
"Aku sangat menyukainya om. Terima kasih telah membawaku ke mari," ujar Devi tulus.
"Hm. Tapi besok kita sudah harus kembali ke Indonesia. Lusa aku sudah mulai masuk kerja lagi dan kau juga harus menyelesaikan pendaftaran kuliahmu."
"Iya om."
"Kalau begitu ayo kita pergi. Aku sudah memesan restoran untuk kita makan malam," ajak Alby melepas pelukannya dan menggandeng tangan Devi agar mengikutinya.
"Kak Alby!!" panggil seseorang yang membuat Alby dan Devi menghentikan langkahnya.
Untuk seperkian detik Devi cukup terpesona dengan kecantikan wanita yang ada di hadapannya yang baru saja memanggil nama Alby. Namun detik berikutnya Devi melirik ke arah Alby untuk melihat bagaimana ekspresi Alby begitu bertemu wanita secantik ini.
"Om Alby tersenyum senang!!!!" kesal Devi dalam hati.
"Shiela?"
"Aku kira kak Alby melupakanku. Kenapa kakak berlibur di sini tanpa memberitahuku? Kak Alby tidak merindukanku ya? Kakak tidak ingin bertemu denganku?" cecar Shiela.
"Hanya liburan sebentar saja, lagipula besok aku sudah kembali ke Indonesia."
__ADS_1
Devi merasa asing di tengah-tengah keduanya yang tampaknya sedang melepas kerinduannya. Ada sedikit rasa cemburu yang hinggap di hatinya namun ia berusaha mengusirnya dengan mengingat perkataan Alby sore tadi.
"Tidak ada wanita lain selain aku di hidup om Alby!" ucap Devi dalam hati mencoba berpikir positif.
"Kenapa cepat sekali? Kita bahkan belum pergi liburan bersama. Kak Alby juga belum bertemu dengan ayah dan ibuku lagi, kakak tahu mereka sering kali bertanya kabar kakak padaku," ujar Shiela yang kali ini benar-benar membuat Devi tidak bisa menahan rasa cemburunya.
Devi pun beranjak pergi dan berinisiatif untuk kembali ke hotel lebih dulu. Namun begitu ia hendak melangkah, tangannya langsung digenggam oleh Alby.
"Jadi om Alby sering bertemu dengan keluarga perempuan ini? Jadi dia ini siapa? Apa jangan-jangan perempuan ini mantan kekasihnya om Alby?" Dalam benak Devi berkecambuk berbagai pemikiran-pemikiran liar tentang hubungan Alby dan juga Shiela.
"Maaf aku belum sempat berkunjung."
"Setelah kepergian kakak, ibu dan ayah menjadi kesepian jadinya aku menawarkan mereka untuk tinggal di sini."
"Mereka mau?" tanya Alby sembari menahan tangan Devi yang hendak melepaskan diri.
"Tentu saja tidak. Ibu bilang lebih nyaman tinggal di negeri sendiri daripada tinggal di negeri orang. Lagipula ibu dan ayah tidak ingin menambah beban kak Alby. Dengan membiayaiku sekolah di Singapura saja pasti biayanya sangat mahal kan kak? Seharusnya kak Alby menuruti permintaanku agar aku sekolah di Indonesia saja," jawab Shiela.
"Apa maksud perkataannya? Om Alby membiayai sekolahnya? Tapi kenapa? Siapa dia?" tanya Devi dalam hati.
"Lain kali aku akan berkunjung," ujar Alby begitu melihat raut wajah Devi yang mulai terlihat tidak nyaman dengan obrolannya dengan Shiela.
"Aku tunggu kedatangan kakak. Oh iya, kak Alby sendirian?"
"Tidak. Aku datang bersama Devi." Alby memperkenalkan Devi pada Shiela.
Devi hanya berekspresi datar tanpa mau mengulurkan tangannya lebih dulu untuk berkenalan. Namun tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu.
"Siapa kak?" tanya Shiela pada Alby.
"Tunangannya om ah maksudku Alby. Aku tunangannya Alby," ujar Devi memperkenalkan diri. Kali ini Devi mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Shiela. Devi ingin memberitahu Shiela jika Alby adalah miliknya!
"Kakak sudah memiliki tunangan?"
Alby menganggukkan kepalanya sebagai jawaban meskipun kedua matanya terus mengarah kepada Devi. Jujur saja Alby tidak bisa menyembunyikan senyumnya begitu melihat wajah kesal Devi.
"Sudah. Bukankah dia sudah memperkenalkan diri padamu?"
"Ah iya. Halo kak Devi?"
"Panggil Devi saja. Dia seumuranmu," ralat Alby.
"Benarkah?" tanya Shiela tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Iya. Dev perkenalkan ini Shiela, dia ehm adik temanku."
"Wah aku sakit hati. Dulu kakak menolakku dengan alasan aku masih kecil dan perbedaan umur yang sangat jauh. Tapi sekarang lihatlah! Kakak bahkan bertunangan dengan perempuan seusiaku," canda Shiela tanpa tahu Devi yang kini tengah diselimuti api cemburu.
"Om aku mengantuk ingin tidur," pamit Devi sembari melepaskan genggaman tangan Alby berniat untuk pergi namun lagi-lagi Alby menahan tangannya.
"Shiel tunanganku mengantuk, kami harus kembali. Sampai jumpa!" pamit Alby.
"Ah iya kak. Sampai jumpa."
Shiela tersenyum samar begitu melihat punggung Alby yang mulai menjauh dari hadapannya.
"Akhirnya kak Alby bisa lepas dari bayang-bayang kak Icha," lirih Shiela.
"Tidak mau makan dulu? Aku sudah memesan restoran dan kau belum makan sejak siang," tanya Alby.
"Aku tidak lapar!" ketus Devi.
"Tapi nanti perutmu sakit."
"Om Alby makan sendiri saja aku tidak mau!!"
__ADS_1
*****