
"Aku mau om Alby menjauhi tante Laudya."
Alby terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mana mungkin Alby bisa menuruti permintaan Devi sedangkan ia sendiri kini terikat dengan kesepakatan yang dibuatnya sendiri bersama direktur.
"Aku tidak bisa," jawab Alby yang membuat Devi menatap tidak percaya ke arah Alby.
"Kenapa tidak bisa? Apa om Alby memang benar menyukai tante Laudya?" tanya Devi cepat.
"Dev, aku tahu kau tidak menyukai Jessica. Tapi ini antara aku dan Laudya, bukan Jessica. Dan lagi, ini hubungan pribadiku bukan dirimu. Meskipun kau melarangku, aku akan tetap dengan pilihanku."
Devi merasakan kedua matanya mulai mengabur karena air mata. Bukan jawaban seperti ini yang diinginkan oleh Devi. Devi ingin Alby menuruti semua kemauannya termasuk menaati perintahnya. Devi mencintai Alby mangkanya ia melarang Alby dekat dengan Laudya.
"Ini bukan tentang Jessica. Aku melarangmu bukan karena Jessica om," ujar Devi.
"Lalu apa?"
Devi terdiam.
Haruskah ia mengatakan hal yang sejujurnya pada Alby? Haruskah ia mengungkapkan perasaannya sekarang?
"Om Alby menganggapku apa?" tanya Devi was-was, takut dengan jawaban yang diberikan Alby tidak sesuai harapannya.
"Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Aku ini di mata om Alby seperti apa?" tanya Devi lagi.
Alby tampak keberatan menjawab pertanyaan Devi. Sungguh saat ini ia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan itu karena jujur saja saat ini perasaannya pada Devi masih abu-abu dan bukankah sudah jelas selama ini Alby hanya menganggap Devi sebagai adiknya?
"Tidurlah, sudah larut malam. Kondisimu belum begitu pulih," ujar Alby menaikkan selimut Devi hingga batas dada.
"Aku tidak ingin tidur sebelum om Alby menjawab pertanyaanku," tolak Devi menurunkan selimutnya.
"Terserah kau saja. Aku lelah sekali hari ini dan besok aku juga harus kembali bekerja jadi aku ingin pergi tidur. Kau sebaiknya juga begitu karena besok ada polisi yang ingin kemari untuk memintai keteranganmu," ujar Alby yang membuat Devi langsung menegang.
"Tidak apa-apa, aku akan menemanimu," ujar Alby menenangkan Devi.
"Om," cicit Devi.
"Hm?"
"Aku masih marah padamu."
"Iya."
"Aku serius."
"Iya."
"Om Alby tidak ingin minta maaf?"
"Aku sudah minta maaf tadi," jawab Alby bingung.
"Minta maaf lagi," pinta Devi.
"Baiklah. Aku minta maaf," jawab Alby mengalah.
Devi pun menyunggingkan senyumnya getir. Sepertinya melarang Alby mendekati Laudya adalah sesuatu yang mustahil. Jadi mulai saat ini Devi akan membuat Alby jatuh cinta padanya dengan caranya sendiri sehingga dengan begitu Alby bisa menjauhi Laudya dengan sendirinya.
Benar! Satu-satunya cara adalah membuat om Alby jatuh cinta padaku!
"Aku memaafkanmu om," ujar Devi pada akhirnya.
Alby membalas senyuman Devi. Alby tahu emosi Devi masih belum stabil, ditambah kejadian penyerangan yang dialaminya membuat Devi trauma dan pengendalian emosinya bermasalah. Alby harus memaklumi mood swing yang terjadi pada Devi.
"Baiklah, sekarang sudah malam lebih baik kau tidur."
__ADS_1
"Om Alby tidur di mana?"
"Di ruanganku."
"Tidak di sini?" cicit Devi.
"Aku akan tidur di sofa," ujar Alby menunjuk sofa yang berada di samping brankar Devi.
"Tidur di sini saja," ujar Devi menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Tidak bisa. Kasur ini terlalu kecil. Bagaimana jika nanti luka operasimu tidak sengaja tersenggol olehku? Lukamu masih belum kering," jelas Alby.
Devi tampak berpikir sebentar sebelum pada akhirnya ia menganggukki perkataan Alby.
"Baiklah, aku mau tidur. Om Alby tidur di sofa sana ya jangan tinggalkan aku sendiri."
"Iya."
Alby berjalan dan berbaring di atas sofa yang ukurannya tidak terlalu panjang sehingga kakinya yang panjang menggantung bebas di lantai.
"Apa itu nyaman?" tanya Devi khawatir.
"Setidaknya lebih nyaman dari pada tidur di lantai. Jangan pikirkan aku, cepat tidur," ujar Alby sembari memejamkan kedua matanya.
Devi pun segera ikut menutup kedua matanya begitu melihat Alby sudah mulai terlelap.
*****
"Ganendra akan menjalani pemeriksaan esok pagi dan polisi juga akan memintai keterangan dari Devi," ujar Bima begitu ia melihat keponakannya baru saja tiba dan sedang melepas sepatunya untuk diganti sandal rumah.
"Kau tenang saja aku sudah membuat Ganendra bungkam tentang insiden ayahnya dan kupastikan kasus itu tidak akan dibongkar di pengadilan. Aku bisa menjamin jika kasus ini murni karena penyerangan saja jadi kau tidak perlu khawatir," ujar Bima.
"Apa paman bisa menjamin jika Devi akan tutup mulut jika ditanyai polisi? Devi pasti akan mengatakan semuanya. Alasan kenapa Ganendra menyerangnya. Dan aku yakin Devi akan menjawab alasan pergi ke rumah Ganendra adalah untuk meminta Ganendra membatalkan tuntutan itu. Bukankah itu sama saja membuka kasus malpraktik itu?" balas Raden.
"Devi bilang dia tidak akan menuntut kita. Apakah itu tidak cukup? Tidak bisakah alasan itu kita gunakan untuk mengakhiri dendam ini?" potong Raden.
"Apanya yang bisa diakhiri?!! Dendam itu hanya bisa diakhiri dengan kematian Devi Den! Kau lupa karena siapa ayahmu membusuk di penjara?!!!" murka Bima pada Raden.
"Ayah di penjara karena membunuh ibunya Devi bukan karena membunuh ayahnya Devi paman!!! Bukankah satu nyawa dibalas dua nyawa sudah lebih dari cukup untuk pembalasan dendam keluarga kita?!!!" balas Raden dengan wajah merah padam penuh amarah.
"Sean menjadi jaksa karena ia ingin menjebloskan ayahnya sendiri ke penjara tapi terlambat karena kalian lebih dulu membunuh Banyu. Sean bisa menerima itu semua dan bahkan ia menutupi kasus pembunuhan itu tapi Sean tidak bisa tinggal diam begitu tahu ibunya mati di tangan kalian. Ayah di penjara karena kesalahan kalian sendiri jadi hentikan drama dendam kalian sekarang juga," ucap Raden melangkahkan kakinya pergi.
"Kau memang sudah dibutakan oleh cinta. Dengar, aku tidak akan berhenti sebelum Devi mati. Jangan salahkan paman jika paman harus mengotori tangan paman sendiri," desis Bima.
"Maka paman akan berurusan denganku," balas Raden menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Bima.
"Kalau begitu mari kita lihat sampai sejauh mana kau mampu melindungi gadis pujaanmu. Gadis yang membuatmu mengkhianati keluargamu!!!!!"
Raden tidak menjawab, ia langsung pergi begitu saja masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan keras.
*****
Devi langsung membuka kedua matanya. Ia terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. Keringat membasahi dahinya seolah ia baru saja lari marathon puluhan kilometer.
Bayangan Ganendra menyerangnya masih melekat di ingatannya dan baru saja hadir di dalam mimpinya. Devi terdiam sembari mengatur deru nafasnya yang masih tidak beraturan.
"Bisa gila aku kalau mimpi buruk seperti ini terus!" keluh Devi sembari terus menenangkan dirinya.
"Om," panggil Devi sembari menoleh ke arah sofa yang sebelumnya ditempati Alby untuk tidur namun Alby tidak ada di sana.
Melihat tidak ada Alby di dalam kamarnya membuat rasa takut kembali merayap ke dalam tubuhnya. Tangan Devi bergetar diikuti air mata yang mulai mengalir menuruni pipinya.
Dengan cepat Devi pun langsung bersembunyi di balik selimutnya. Takut jika sewaktu-waktu ada seseorang yang berniat mencelakainya lagi.
Ceklek!
__ADS_1
"Mari silahkan masuk."
Devi dapat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Tidak hanya satu namun ada beberapa orang.
Devi semakin meringkuk ketakutan.
"Dengan saudari Devi?"
"Siapa kalian?!!! Pergi!!! Jangan sakiti aku!!! Kumohon pergilah!!! Pergi!!!" teriak Devi histeris dari dalam selimut yang langsung membuat Alby tanggap pergi menghampiri Devi.
Alby mencoba membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Devi namun Devi tetap berusaha menahannya dengan sekuat tenaga.
"Jangan sakiti aku, kumohon!!! Pergi!! Aku tidak akan membocorkan rahasia itu!! Aku janji tapi jangan sakiti aku!!" raung Devi.
"Dev, ini aku. Tenanglah, jangan takut," ujar Alby lembut.
Begitu mendengar suara Alby, Devi langsung membuka selimutnya dan langsung menenggelamkan kepalanya ke dalam dekapan Alby.
"Awas pelan-pelan, luka operasimu belum kering," tegur Alby lembut sembari menahan Devi dan memposisikan Devi dalam pelukannya senyaman mungkin agar tidak menekan luka operasinya.
"Om aku takut," lirih Devi.
"Tidak apa-apa. Mereka bukan orang jahat. Mereka polisi Dev, mereka hanya ingin kesaksianmu," bujuk Alby membelai rambut Devi dengan lembut.
Alby tampak berpikir. Bukankah tadi malam Devi baik-baik saja dan bahkan gadis itu bisa marah padanya? Lalu kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Apa Devi baru saja mengalami mimpi buruk akibat kejadian penyerangan itu? Alby harus bertanya pada Raka setelah ini.
"Tidak apa-apa, kami hanya ingin bertanya beberapa hal saja dan kami tidak akan menyakitimu. Kami adalah polisi, kami akan melindungimu. Kami janji setelah bertanya beberapa hal padamu kami akan pergi," ujar salah seorang polisi bernama Aqsal kepada Devi.
"Bagaimana? Kau mau kan?" tanya Alby pada Devi.
"Tidak mau. Aku takut mereka menusuk perutku atau malah mereka mungkin ingin menjual organ dalamku. Aku tidak mau om!" tolak Devi.
Alby terkejut mendengar perkataan Devi.
Jadi trauma itu masih belum hilang ya?
"Bisa kita tunda lain waktu saja? Saya rasa Devi harus menenangkan diri terlebih dahulu," negosiasi Alby pada beberapa polisi yang ada di hadapannya ini.
Polisi tersebut tampak menimang-nimang keputusan apa yang akan ia ambil namun sepertinya mereka tidak memiliki pilihan lain selain menunggu Devi tenang dan bersiap menceritakan kejadian traumatis yang dialaminya.
"Baik, jika saudari Devi sudah lebih baik dari sebelumnya dan bisa dimintai keterangan tolong hubungi saya."
"Baik pak," jawab Alby.
Setelahnya polisi-polisi tersebut keluar dari ruang rawat Devi menyisakan Devi dan Alby sendiri.
"Sudah tidak apa-apa, mereka sudah pergi," ujar Alby membuat Devi melepaskan pelukannya.
"Om, apa aku akan gila?" tanya Devi sesenggukan.
"Tidak. Kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Aku baru saja mimpi buruk. Mimpi ketika Ganendra menyerangku dan bahkan mimpi masa lalu saat aku diculik dan hendak diambil organku juga kerap hadir di dalam mimpiku. Kenapa begitu om? Aku tidak akan gila kan?"
"Tidak. Tentu saja tidak. Kau ini berbicara apa? Kau tidak mungkin akan gila. Percayalah padaku," hibur Alby meskipun di dalam hatinya penuh dengan tanda tanya.
"Nanti kita temui dokter Raka ya? Kita konsultasi padanya," bujuk Alby.
"Aku tidak mau. Aku takut bertemu orang asing om, bagaimana jika-"
"Tidak akan." potong Alby. "Selama kau berada dalam jangkauanku, aku akan melindungimu dan kau akan aman."
Bukannya tidak mungkin setelah mengalami banyak kejadian buruk Devi jadi menderita PTSD dan untuk memastikannya aku harus menemui Raka!
*****
__ADS_1