Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Domba


__ADS_3

Pagi harinya seperti biasa Alby selalu mengantar Devi ke sekolah dahulu sebelum ia pergi berangkat bekerja. Untung saja sekolah Devi berada satu arah dengan rumah sakit tempatnya bekerja sehingga Alby tidak perlu bolak-balik hanya untuk mengantar Devi dan berangkat kerja.


Pagi itu suasana cukup ramai kendaraan namun tidak sampai menyebabkan jalanan macet. Banyak lalu lalang kendaraan dengan tujuan mereka masing-masing. Tidak lupa dengan beberapa pengamen jalanan yang sudah siap adu kemampuan untuk mencari selembar uang dari pengguna jalan yang berhenti di depannya begitu lampu merah menyala.


Alby menoleh ke arah Devi yang kini sedang tertidur pulas. Apakah gadis itu semalam tidak bisa tidur karena mimpi buruk yang dialaminya? Atau karena semalam ia begadang menonton drama kesayangannya? Entahlah Alby tidak tahu, tapi melihat gadis itu tertidur dengan damai membuat Alby sedikit tenang. Raut wajahnya yang polos dan lugu tiba-tiba saja membuat Alby sedikit teringat dengan seseorang.


Tin! Tin! Tin!


Alby segera menjalankan mobilnya sebelum mobil di belakangnya membunyikan klakson sekali lagi. Alby menoleh lagi ke arah samping dan melihat Devi menggeliat terganggu dengan bunyi nyaring dari klakson.


Alby pun berniat mengulurkan tangan kirinya dan membelai pipi Devi dengan lembut agar gadis itu kembali ke alam mimpinya. Namun saat tangan Alby hendak menyentuh pipi Devi, gadis itu sudah membuka matanya terlebih dahulu yang membuat Alby langsung reflek menampar pipi Devi dengan pelan.


Plak!


"Aww! Om kau menamparku?" tanya DeviĀ  terkejut.


Jangankan Devi, Alby pun juga terkejut dengan tindakan yang baru saja ia lakukan.


"Penurunan tekanan uap jenuh larutan berbanding lurus dengan apa?" tanya Alby tiba-tiba.


"Hah?"


"Kau ini bagaimana! Bukankah tinggal tiga hari lagi tryout-mu dimulai? Kenapa soal mudah begini saja tidak bisa menjawabnya? Sebenarnya kau belajar tidak?" tanya Alby cepat berusaha menutupi salah tingkahnya.


"Aku baru saja bangun om jadi tidak dapat berpikir dengan baik," ujar Devi membela diri.


"Maka dari itu aku membangunkanmu, takut jika otakmu tidak dapat berfungsi dengan baik saat di sekolah," jawab Alby membuat alibi.


Tanpa menjawab, Devi pun segera membuka bukunya dan mulai mempelajarinya dengan bibir yang mengerucut ke depan karena kesal.


Alby pun diam-diam menoleh ke arah Devi sembari tersenyum begitu melihat raut wajah Devi yang tampak menahan kesal.


Menurut Alby wajah Devi yang seperti itu tampak menggemaskan. Namun sedetik kemudian, Alby kembali memasang wajah datarnya.


"Om kau tidak ingin membeli sesuatu untuk dokter Renata?" tanya Devi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku kimia yang ada di tangannya.


"Tidak," jawab Alby.


"Why?"


"Kurasa itu sesuatu yang tidak perlu," jawab Alby santai.


"Tentu saja itu perlu! Besok dokter Renata sudah mau berangkat ke Singapura dan om Alby sebagai pacar yang baik seharusnya memberikan sesuatu padanya agar kelak saat dokter Renata merindukanmu dia dapat mengobatinya dengan barang pemberianmu," ujar Devi panjang lebar.


"Kurasa kau salah tentang satu hal padaku. Aku bukan pacarnya Renata," koreksi Alby.


"Kalian putus?" tanya Devi cepat. Bahkan Devi langsung menutup buku kimianya dan memfokuskan pandangannya ke arah Alby.


"Sudahlah, anak kecil sepertimu tugasnya hanya belajar! Bukan malah mengurusi percintaan orang dewasa," tegur Alby sembari menggunakan tangan kirinya untuk memutar kepala Devi agar menatap ke arah depan.


"Oh jadi ini cinta bertepuk sebelah tangan," lirih Devi mengambil kesimpulan sendiri. Meskipun Devi berbicara sangat pelan, Alby masih dapat samar-samar mendengar ucapan Devi.

__ADS_1


"Apa kau bilang?" tanya Alby.


"Apa? Aku hanya membaca soal saja om. Dalam periode dari kiri ke kanan, harga keelektronegatifan lebih titik-titik. Tentu saja lebih kecil," ujar Devi sembari menunjukkan sebuah soal kimia yang berada di bukunya.


"Salah. Justru dari kiri ke kanan harga keelektronegatifannya semakin besar," ralat Alby.


"Oh benarkah? Ah kau benar om, hehe."


"Begitu saja kau sudah salah menjawabnya. Kalau begitu hafalkan sifat periodik unsur terlebih dahulu baru kau kuberi ijin untuk bertemu dengan Raden hari ini," ujar Alby santai.


"Tidak mau!" tolak Devi.


"Kalau begitu tidak usah ketemu," jawab Alby santai.


"Om kau sudah memberiku ijin kemarin dan kau juga sudah berjanji padaku! Mana boleh pria dewasa sepertimu mengingkari janji pada gadis SMA sepertiku?" protes Devi tidak terima.


"Baiklah. Aku hanya bercanda," ujar Alby.


"Om Alby jangan berbicara padaku sebelum aku benar-benar bertemu dengan kak Raden!" ancam Devi marah.


"Baiklah, mulai sekarang kita jangan saling berbicara satu sama lain," ujar Alby sembari menahan senyum.


******


"Jadi bagaimana? Kau betulan akan bertemu dengan kak Raden?" tanya Arin serius.


"Hm, aku akan mengiriminya pesan," jawab Devi sembari memakan makanannya.


Kini mereka bertiga sedang menikmati waktu istirahat mereka di kantin sembari membeli beberapa makanan untuk mengisi perut mereka yang mulai meronta-ronta ingin diisi makanan.


"Kau kan memang pecundang! Tidak berani bertanggung jawab seperti kami," cibir Arin.


"Tidak ada sejarahnya menyelamatkan diri disebut pecundang," balas Gara.


"Kalau aku jadi Gara tentu saja aku juga akan menyelamatkan diri. Hanya saja aku yang jadi tokoh utama dalam rencanamu itu, jadinya aku tidak dapat melarikan diri," ujar Devi pada Arin.


"Aku minta maaf," rengek Arin sembari menyatukan tangannya di depan wajahnya.


"Sudahlah. Aku tidak mau lagi mengikuti rencanamu," ujar Devi.


"Iya. Aku tidak akan membuat rencana apapun kok. Aku janji," janji Arin dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Kau pasti dimarahi habis-habisan oleh dokter Alby," tebak Gara.


"Tentu saja. Semua kata yang keluar dari mulutnya benar-benar menyakiti hatiku tapi aku sadar aku salah jadi tidak masalah. Lagi pula ia mengijinkanku menemui kak Raden hari ini, itu yang terpenting," ujar Devi sembari mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Devi : 'Kak, hari ini bisa bertemu sebentar?'


Raden : 'Bisa. Kuhubungi saat aku luang. Sampai bertemu nanti.'


Devi : 'Hm, sampai bertemu nanti;)'

__ADS_1


"Ngomong-ngomong soal dokter Alby, kau tidak takut tinggal berdua dengannya?" tanya Gara penasaran.


"Takut kenapa?" tanya Devi polos.


"Kau tahu, semua laki-laki adalah serigala dan perempuan adalah domba. Kau tidak takut 'dimakan' olehnya?" tanya Gara sungguh-sungguh.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi om Alby tidak pernah menggigitku," jawab Devi.


"Bukan itu maksudku!" kesal Gara. "Arin coba kau jelaskan padanya dengan bahasa yang bisa dia mengerti," lanjut Gara.


"Maksud Gara adalah kau kan hanya tinggal berdua dengan dokter Alby. Dokter Alby adalah seorang pria dewasa dan kau adalah gadis SMA yang jika dilihat dari fisikmu hm lumayan lah kalau dibilang menggoda-"


"Aku tidak menggodanya!" potong Devi sebelum Arin sempat melanjutkan perkataannya.


"Jangan memotong perkataanku dan dengarkan dulu sampai aku selesai berbicara!" kesal Arin.


"Kau jangan bertele-tele Arin. Katakan saja pada Devi intinya!" tegur Gara.


"Kau tidak takut om Alby memperkosamu?" tanya Arin yang langsung membuat Devi tersedak minuman yang ia minum.


"Uhuk uhuk! Apa maksudmu?! Om Alby tidak mungkin seperti itu!"


"Apanya yang tidak mungkin? Dokter Alby adalah pria normal. Aku saja yang bocah SMA jika melihat wanita bisa tergoda kok apalagi pria dewasa seperti dokter Alby," ujar Gara.


"Dasar mesum," cibir Arin dan Devi bersamaan.


"Apanya yang mesum? Itu normal untuk pria tertarik dengan wanita. Itulah mengapa aku menyebut pria sebagai serigala dan kalian para domba harus berhati-hati," terang Gara.


"Kenapa aku juga?" tanya Arin bingung.


"Tentu saja! Kau kan pacaran dengan dokter koas itu, jadi kau juga harus berhati-hati. Siapa tahu pacarmu yang bernama Fitra itu lebih ganas dari serigala," jawab Gara.


"Kak Fitra tidak seperti itu!" bela Arin tidak terima pacarnya dikatai oleh Gara.


"Kau mana tahu jika Fitra seperti itu atau tidak. Sudah kubilang kan kalau semua laki-laki itu sama, kau yang perempuan tidak akan mengerti. Karena aku sama-sama seorang laki-laki mangkanya aku memberitahu kalian," ujar Gara.


"Berarti kami juga harus berhati-hati terhadapmu juga kan? Kau kan serigala!" ujar Devi menunjuk Gara.


"Tenang saja, aku serigala vegetarian. Aku tidak suka domba gemuk penuh lemak seperti kalian," jawab Gara santai yang membuat Devi dan juga Arin mengeluarkan tanduk saat itu juga begitu mendengar jawaban Gara.


"Apa kau bilang?"


"Bu..bukan apa-apa. Aku tidak mengatakan apapun!" panik Gara begitu melihat kedua sahabatnya sudah hendak menerkamnya.


"Kau bilang kami domba gemuk penuh lemak?"


"Ti..tidak! Kau salah dengar, aku hanya- arghhhhh Arin kenapa kau menggigit tanganku!!! Sakit!!" teriak Gara begitu Arin menggigit tangan kiri Gara.


"Sebelum aku dimakan serigala lebih baik aku memakan serigalanya terlebih dahulu!" ujar Arin sebelum akhirnya ia kembali menggigit tangan Gara lagi.


"Arin kubantu kau memakan serigala kurus kering ini!" ujar Devi sembari ikut menggigit tangan Gara.

__ADS_1


"Argh!!! Sakit!! Hentikan!!"


*****


__ADS_2