Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Aku Menyukaimu!


__ADS_3

"Ayah!!!!"


"Jangan tinggalkan aku yah!!!!"


Devi langsung terbangun dari mimpi buruknya. Nafasnya memburu, peluh membanjiri keningnya dan tubuhnya tiba-tiba bergetar ketakutan. Mimpi buruk itu lagi!


Devi menatap kedua tangannya dengan takut namun rupanya tangannya bersih dan tidak ada setetes darah pun di sana. Devi pun mendesah lega. Mimpi tentang kematian ayahnya benar-benar sebuah momok untuknya.


Devi mengusap wajahnya kasar.


"Kapan mimpi buruk itu hilang dari mimpiku?" eluh Devi pelan.


Devi pun segera meminum air yang berada di atas meja kecil yang berada di samping ranjang.


"Kau sudah bangun?"


Devi langsung menoleh ke sumber suara. Di sana ada Alby yang baru saja datang tengah berdiri dengan kaos hitam polos dan celana panjangnya tengah menatap ke arahnya dengan intens.


Devi segera mengelap peluh yang membanjiri dahinya menggunakan punggung tangannya agar Alby tidak tahu jika ia baru saja bermimpi buruk.


"Perutmu masih sakit tidak?" tanya Alby sembari berjalan mendekat ke arah Devi.


"Om Alby kenapa masih di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Alby, Devi malah berbalik melemparkan pertanyaan pada Alby.


"Kenapa apanya? Ini kamarku," jawab Alby santai bahkan kini ia duduk di pinggiran ranjang.


"Kalau begitu aku saja yang pergi. Aku harus kembali ke kamarku," ujar Devi beranjak bangkit dari ranjang namun secara tiba-tiba Alby langsung menahan tubuh Devi agar gadis itu tidak bisa bangkit.


Melihat Alby yang menguncinya menggunakan tubuhnya pun membuat nafas Devi tercekat. Dengan jarak sedekat ini Devi dapat merasakan hembusan nafas Alby mengenai wajahnya bahkan Devi dapat merasakan perut keras Alby mengenai perutnya membuat gelenyar aneh mulai memasuki syaraf tubuhnya.


"Om, apa yang kau lakukan?" cicit Devi sembari menahan dada Alby agar Alby tidak semakin merendahkan tubuhnya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku dan aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum mendapatkan jawabanmu," ujar Alby sembari membelai lembut anak rambut Devi.


"Perutku sudah tidak sakit lagi, jadi sekarang lebih baik om Alby segera menyingkir dari tubuhku!"


"Kenapa?"


"Om Alby berat!!"


Alby terkekeh pelan sebelum akhirnya ia sedikit mengangkat tubuhnya agar tidak terlalu menindih tubuh Devi.


"Pergi om! Aku harus kembali ke kamarku!" pinta Devi seraya mendorong dada Alby.


"Ini masih larut malam dan aku yakin Arin pasti sudah tidur. Jangan membangunkan orang tidur," jawab Alby enggan beranjak dari posisinya.


"Om Alby jangan menindihku kalau begitu!"


"Kalau aku tidak menindihmu kau pasti akan kabur," tolak Alby.


Devi memutar bola matanya malas. Alasan macam apa itu.


"Apa yang dikatakan Laudya padamu?" tanya Alby serius dengan menatap tepat di manik mata milik Devi.


Devi sedikit terkejut mendengar pertanyaan Alby namun ia berusaha menyembunyikan ekspresi terkejutnya dan menatap ke arah lain asalkan tidak menatap ke arah Alby.


"Tante Laudya tidak berkata apapun," dusta Devi.


"Bohong."


"Tidak."


"Kau tidak berani menatap mataku itu artinya kau berbohong padaku."


"Aku berani," ujar Devi seraya melarikan pandangannya ke arah mata Alby.


Deg!

__ADS_1


Jantung Devi berdegub dengan kencang saat kedua mata mereka beradu.


"Apa yang dikatakan Laudya padamu?" tanya Alby tegas.


"Sudah kubilang tante Laudya tidak berbicara apapun padaku!" kekeuh Devi.


Cup!


"Om!! Apa yang kau lakukan?!!!" pekik Devi begitu Alby mengecup bibirnya sekilas.


"Setiap kebohongan yang keluar dari mulutmu maka aku akan menciummu," jawab Alby tanpa mengalihkan pandangannya.


Devi terdiam. Ia tidak mungkin menceritakan apa yang dikatakan Laudya padanya. Ia tidak mungkin memberitahu Alby bahwa ia sudah tahu semuanya.


"Masih ingin berbohong?"


Cup!


Belum sempat Devi menjawab pertanyaan Alby, Alby lebih dulu melayangkan kecupannya pada Devi.


"Aku belum menjawabnya, kenapa om Alby langsung menciumku lagi!!" protes Devi.


"Aku orangnya tidak sabaran."


"Apa yang ingin om Alby tahu?" tanya Devi pada akhirnya.


"Semuanya."


"Lepaskan aku dulu, dadaku terasa sesak." Mendengar perkataan Devi membuat Alby langsung beranjak bangkit dan duduk di sebelah Devi.


Devi pun juga ikut beranjak dan duduk berhadapan dengan Alby.


"Kenapa om Alby pindah departemen?" tanya Devi yang membuat Alby terkejut mendengarnya.


Alby hanya diam enggan menjawab pertanyaan Devi.


"Kalau begitu aku juga berhak memiliki rahasia, jadi om Alby jangan bertanya padaku apa yang dikatakan tante Laudya padaku," lanjut Devi.


Mendengar pertanyaan semacam itu yang keluar dari mulut Devi membuat Alby yakin jika Laudya pasti telah mengatakan semuanya pada Devi.


"Sial!" umpat Alby dalam hati.


"Jawabannya seperti apa yang dikatakan Laudya padamu," jawab Alby pada akhirnya.


"Secara tidak langsung om Alby membenarkan apa yang dikatakan tante Laudya padaku," ujar Devi sendu.


"Apa maksudmu? Aku hanya membenarkan satu hal dan hal yang lainnya aku tidak tahu karena kau tidak memberitahuku apa yang dikatakan Laudya padamu," sanggah Alby.


"Om Alby kenapa berpacaran dengan tante Laudya?" tanya Devi.


Alby terdiam.


"Om Alby tidak mencintainya kan?" tebak Devi.


Hening!


"Aku tahu om Alby menyukaiku tapi orang yang seharusnya om Alby cintai itu tante Laudya bukan aku," ujar Devi.


Tak!


"Awhh!!" pekik Devi kesakitan begitu Alby menyentil dahinya.


"Kau ini berbicara apa?!! Kenapa bicara ngawur seperti itu?!!"


"Sakit om!!"


"Biar, biar otakmu sedikit berfungsi."

__ADS_1


Devi mengerucutkan bibirnya kesal dan membuang wajahnya enggan menatap Alby.


"Kuberitahu satu hal padamu. Jika aku menyukai seseorang, aku tidak akan melepaskannya begitu saja," ujar Alby serius.


Mendengar hal itu membuat Devi tertawa terbahak-bahak. Omong kosong macam apa yang dikatakan Alby padanya?!!


"Om aku sudah merusak karirmu dan sekarang rumah sakit milik om Abi juga ikut terkena imbasnya. Apa om Alby pikir aku berhak atas om Alby?"


"Tentu saja, kenapa tidak?"


"Kesepakatan yang om Alby buat pada dasarnya karena ucapan om Alby sendiri dan sebagai pria sejati bukankah seharusnya om Alby menjalankan kesepakatan itu?"


"Sejauh mana Laudya memberitahumu akan hal itu?" desis Alby marah.


"Semua. Aku tahu semuanya."


Mendengar jawaban Devi membuat rahang Alby mengeras.


"Om aku sudah cukup merasa bersalah karena merusak karirmu dan sekarang aku tidak ingin rasa bersalah semakin mencekikku karena menghancurkan rumah sakit milik om Abi."


"Kesepakatan yang kubuat dengan direktur itu jauh-jauh hari sebelum aku menyukaimu. Sekarang aku menyukaimu dan aku akan mencari cara untuk membatalkan kesepakatan itu," tutur Alby.


"Apa om Alby ingin rumah sakit milik om Abi ditutup? Sudahlah om, satu-satunya cara untuk mengakhiri kesepakatan itu dan menyelamatkan rumah sakit milik om Abi adalah dengan om Alby menikah dengan tante Laudya."


Tampak raut wajah tidak suka kini terpancar jelas di wajah Alby. Kenapa Devi terus-terusan memintanya untuk bersama Laudya? Sebenarnya apa yang Laudya katakan pada Devi??


"Katakan apa yang dikatakan Laudya padamu," desis Alby.


"Aku harus kembali ke kamarku," ujar Devi bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar Alby.


Belum sampai Devi membuka pintu kamar Alby, Alby sudah lebih dulu mengunci pintunya dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celananya.


"Apa yang om Alby lakukan?!! Cepat buka pintunya!!" perintah Devi.


Alby hanya diam bergeming sembari memasukkan kunci ke dalam saku celananya.


Devi berusaha merebut kunci tersebut sebelum akhirnya Alby mendorong tubuh Devi pelan hingga punggung Devi menempel pada pintu. Alby mempersempit jarak diantara keduanya membuat Devi mencoba berontak sekuat tenaga namun ia gagal. Alby malah semakin merapatkan tubuhnya dan bahkan kini kedua tangan Devi berhasil Alby tahan menggunakan satu tangannya saja.


"Lepaskan aku!" desis Devi seraya menatap Alby tajam.


"Kau sengaja membawa Raden ke mari untuk mengujiku kan?" tanya Alby dengan nada rendah yang membuat Devi terkejut.


Om Alby tahu dari mana?


"Apa maksud om Alby?" tanya Devi gugup.


"Kau tidak ingin tahu jawabannya?" tanya Alby yang membuat Devi mengernyitkan dahinya bingung.


"Daripada repot-repot memaksamu untuk mengatakan apa yang dikatakan Laudya padamu bukankah lebih baik jika aku memberi jawaban atas usahamu dalam mengujiku?"


"Om." Nafas Devi tercekat begitu Alby mulai merendahkan wajahnya dan mencoba ingin menciumnya.


"Aku cemburu. Aku tidak suka kau dengan Raden. Itu jawabannya," ujar Alby dengan nada rendah sebelum akhirnya ia menyatukan bibirnya dengan bibir merah muda milik Devi.


Alby menekan tengkuk Devi untuk memperdalam ciumannya. Tidak ada respon apapun dari Devi selain kedua matanya yang membola terkejut dengan tindakan Alby.


Semakin lama ciuman Alby semakin menuntut dan dalam bahkan erangan kecil mulai lolos dari mulut Devi. Devi berusaha melepaskan ciuman Alby dari bibirnya namun cekalan Alby di tangannya sangat kuat hingga untuk bergerak sedikitpun memerlukan tenaga ekstra.


"Aku menyukaimu, bukan Laudya. Bersabarlah sampai aku menemukan cara untuk mengakhiri kesepakatan itu," ujar Alby di sela ciumannya.


"Tapi om Alby sudah menolakku," cicit Devi begitu teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia mendapat penolakan dari Alby. "Om Alby juga bilang jika lebih baik aku bersama kak Raden."


"Aku menyesal berbicara seperti itu. Maafkan aku," sesal Alby.


Devi menganggukkan kepalanya tanda ia memaafkan Alby. Alby tersenyum lembut sebelum akhirnya ia kembali mencium bibir Devi dengan lembut.


"Aku tidak tahu apa yang dikatakan Laudya padamu, tapi yang pasti aku tidak akan meninggalkanmu. Aku menyukaimu."

__ADS_1


*****


__ADS_2