
Alby memijat pelipisnya sedikit pusing. Ia sangat lelah karena sehari ini ia memiliki serangkaian operasi darurat yang memakan waktu dan pikirannya cukup lama. Bahkan pagi tadi ia tidak sempat mengantar Devi pergi ke kampusnya yang memang berlawanan arah dari tempat kerjanya dan Alby merasa bersalah akan hal itu. Apalagi begitu mereka berpapasan di depan pintu apartemen Devi hanya diam saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun padanya membuat Alby berpikir Devi pasti kecewa dengan jawabannya setiap Devi menanyakan tentang Icha padanya.
Alby juga tahu seharusnya ia segera memberitahu siapa Icha sebenarnya pada Devi sebelum gadis itu berpikir macam-macam tentangnya. Namun Alby merasa belum siap untuk kembali mengulik masa lalunya bersama Icha. Tapi begitu melihat Devi menangis kemarin malam membuat Alby meyakinkan dirinya sendiri jika ia memang harus segera memberitahu Devi tentang Icha.
Alby hanya tidak ingin Devi salah paham padanya. Satu-satunya orang yang ia cintai sekarang hanya Devi, tidak ada yang lain.
Alby melirik ke arah jam tangannya. Sudah pukul 21.25 WIB dan ia belum juga pulang. Alby sudah memberitahu Devi lewat pesan agar ia pergi tidur dulu karena ia akan pulang terlambat namun gadis itu tidak membalasnya.
Apa Devi masih marah padaku?
Alby memutuskan untuk menghubungi Devi saja untuk memastikannya.
Dering pertama Devi tidak menjawab panggilannya membuat Alby berpikir Devi pasti sudah tidur. Namun saat hendak mematikan teleponnya, Alby melihat Devi telah menjawab panggilannya.
"Halo. Dev-" Ucapan Alby terhenti begitu ia mendengar suara musik yang cukup berisik dan suara Devi yang terdengar seperti orang yang sedang mabuk.
"Huaaa kak Fitra tidak bisa di telepon!!"
Itu pasti suara Arin!
Setelahnya Alby dapat mendengar semua kata-kata Arin dan Devi yang tengah memaki-maki Fitra. Alby menjadi yakin jika Devi dan Arin pasti sedang mabuk dan sedang berada di sebuah klub malam.
Tok! Tok!
Alby menoleh ke sumber suara. Di sana sudah ada Ryan yang berjalan masuk ke ruangannya.
"Kenapa belum pulang?" tanya Ryan.
"Masih ada beberapa laporan yang belum kuselesaikan," jawab Alby.
"Selesaikan besok saja, Devi pasti sedang menunggumu pulang. Aku pulang dulu ya," pamit Ryan.
Alby hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu ia kembali melihat ke arah ponselnya dan rupanya panggilan telah terputus. Alby berpikir Devi lah yang mengakhiri panggilannya padahal kenyataannya Alby lah yang tidak sengaja mengakhiri panggilan tersebut.
Alby pun kembali menghubungi Devi. Kali ini Devi langsung menjawabnya.
"Hm? Ada apa?"
"Kamu di mana?"
"Om Alby mau membawaku pulang ya? Aku tidak mau!!! Aku tidak mau pulang, aku mau tidur di jalan saja yang lebih nyaman. Aku hoek!! Om aku masuk angin hoek!"
"Kamu mabuk?"
"Aku masuk angin!!!!"
"Di mana kau sekarang?!" tanya Alby tegas.
"Kenapa mencariku? Bukankah om Alby sudah punya wanita baru? Aku melihatnya, aku melihat om Alby mencium pipinya. Tapi om, aku kan lebih cantik darinya. Kenapa om Alby berselingkuh dariku?!"
Deg!
Dari mana Devi tahu Alby pernah mencium wanita selain dirinya?
Tanpa membuang waktu lagi, Alby segera melepas snellinya dan menggantinya dengan coat miliknya. Malam ini ia harus menemukan Devi sebelum terjadi sesuatu padanya apalagi ia sekarang sedang berada di tempat yang rawan seperti klub malam.
Begitu Alby melewati IGD, Alby melihat Fitra yang tengah berjalan di depannya dengan menggendong tas ranselnya. Rupanya Fitra juga hendak pulang.
Tanpa ragu Alby langsung menarik kerah belakang Fitra dan memintanya untuk mengikutinya.
"Lho dok? Lepaskan baju saya, ada apa ini?" bingung Fitra sembari meminta dilepaskan.
"Ikut aku," ujar Alby dingin yang membuat Fitra mau tidak mau mengikuti kemana Alby hendak membawanya pergi.
*****
"Klub malam? Dokter Alby tidak mengajak saya untuk mabuk-mabukan kan? Saya ini anti minum minuman beralkohol lho dok."
Alby mengabaikan perkataan Fitra, ia segera masuk ke dalam klub malam tersebut dengan Fitra yang mengekor di belakangnya.
"Dok, ini tidak benar. Kenapa kita datang ke mari? Dokter Alby ingin mabuk ya? Atau cari wanita? Lho bukankah dokter Alby-"
"Kau pergi cari Arin, aku cari tunanganku," potong Alby tegas yang membuat Fitra membulatkan kedua matanya begitu mendengar perkataan Alby.
"Arin?"
"Itu Arin," tunjuk Alby yang semakin membuat Fitra terkejut. "Arin sedang mabuk dan dia kuserahkan padamu. Awas jika kau memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari kesenanganmu saja," ancam Alby.
Fitra tidak mendengarkan perkataan Alby hingga selesai begitu ia menemukan Arin yang tengah menari dengan kondisi mabuk.
Kini Alby kembali memfokuskan pencariannya mencari Devi. Jika Arin berada di dancefloor itu artinya Devi juga berada tidak jauh dari sana.
Alby terus menelisik diantara puluhan orang yang sibuk bersenang-senang hingga pandangannya jatuh pada seorang gadis yang duduk di sebuah sofa dengan ditemani seorang pria.
"Kenapa menolakku? Kau kan sendirian, bukankah lebih baik jika ada yang menemani?" ujar pria asing yang tiba-tiba sudah duduk di samping Devi.
Devi berdecih tidak suka sembari menatap pria asing itu dengan malas.
"Kamu jelek tidak seperti tunanganku, tentu saja aku tidak mau! Pergi saja jangan ganggu aku," usir Devi namun pria itu tetap diam bergeming.
__ADS_1
"Percayalah padaku, aku bisa membuatmu bersenang-senang malam ini," ujar pria asing itu lagi.
"DEVI KUSUMA WARDHANI!!!"
Belum sampai Devi membalas perkataan pria asing itu, suara menggelegar milik Alby langsung memasuki gendang telinganya membuat Devi terperanjat kaget.
"Om Alby," ucap Devi spontan.
"Jadi kau simpanannya om-om. Begitu kau sok-sokan menolakku," ujar pria asing itu sembari bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Devi sendirian bersama Alby karena ia tidak ingin terlibat dalam permasalahan keduanya.
"Bangun! Ayo pulang!" perintah Alby sembari menarik lengan Devi agar Devi berdiri.
"Tidak mau!! Lepaskan aku!!! Om lepaskan aku!! Aku tidak mau pulang, aku mau bersenang-senang!!" tolak Devi sembari minta dilepaskan.
Alby tetap tidak mau melepaskan cekalannya membuat Devi semakin menjadi.
"Arin tolong aku!!! Aku mau diculik om-om jahat!!! Arin!!" teriak Devi sembari terus meronta-ronta dan memukul tangan Alby yang mencekal lengannya.
"Ayo pulang!" perintah Alby lagi dengan penekanan.
"Aku tidak mau pulang, aku tidak mau melihat om Alby mencium wanita itu," ujar Devi sembari menangis.
Alby yang mendengarnya pun sontak langsung mengendurkan cekalannya.
"Kamu lihat dimana?" tanya Alby.
Bukannya menjawab pertanyaan Alby, Devi malah meraih gelas berisi minuman beralkohol lagi dan langsung meneguknya hingga tandas bahkan sebelum Alby berhasil mencegahnya.
"Hentikan! Kenapa malah minum lagi?!!"
Karena sudah habis kesabarannya, Alby pun melepas coat yang dipakainya dan langsung menyampirkan ke bahu Devi yang terbuka. Setelahnya Alby pun langsung menggendong Devi ala bridal style dan membawanya keluar dari klub.
Tentu saja Devi tidak tinggal diam, ia terus meronta-ronta minta diturunkan. Namun Alby tetap dengan tindakannya dan semakin mengeratkan gendongannya.
"Turunkan aku!!!"
"Pak maaf tunggu sebentar!" tegur salah seorang satpam menghentikan langkah Alby.
Alby membuang nafasnya kasar. Satpam ini benar-benar membuang waktunya percuma!
"Anda ini siapanya gadis ini?" tanya satpam tersebut.
"Saya tunangannya," ujar Alby sembari menunjukkan cincin di jari manisnya.
Satpam tersebut tampak sedikit curiga namun begitu Alby menunjukkan cincin yang sama di jari manis Devi, satpam itu mulai percaya.
"Ah maaf saya kira anda hendak melakukan hal jahat pada nona ini karena saya lihat nona ini terus meronta minta diturunkan."
"Apa lagi?" kesal Alby.
"Barang nona ini ketinggalan," ujar satpam tersebut sembari menyerahkan beberapa kantong besar belanjaan.
Alby sedikit kesulitan menerimanya sehingga ia menurunkan Devi dari gendongannya.
"Turun dulu dan jangan ke mana-mana," ujar Alby menurunkan Devi dan menerima kantong belanjaan Devi dari satpam tersebut.
Begitu diturunkan, Devi langsung memanfaatkan hal tersebut untuk lari dari Alby. Namun karena mabuk, Devi pun akhirnya terjatuh.
"Huaaaaaa!!!" tangis Devi begitu ia terjatuh.
Alby tidak langsung membantu Devi berdiri, ia berjongkok di sebelah Devi yang jatuh dengan posisi tengkurap itu. Alby menghela nafasnya pelan mencoba bersabar atas tindakan Devi.
"Ayo kubantu berdiri," ujar Alby lembut.
"Tidak mau!! Lebih nyaman tidur di sini," tolak Devi sembari menempelkan pipinya ke tanah.
"Tapi ini kotor. Lihat pakaianmu terkena tanah."
"Aku tidak mau pulang, aku tidak mau bertemu wanita itu," tangis Devi yang membuat Alby bingung.
Wanita siapa?
"Wanita? Memangnya di apartemen ada wanita lain selain kamu?"
Devi pun mendudukkan dirinya sembari menatap ke arah Alby.
"Ada."
"Siapa?"
"Icha."
Deg! Alby terkejut. Bagaimana Devi bisa mengatakan Icha ada di dalam apartemennya? Seketika amarah Alby meluap begitu saja entah ke mana.
"Aku ini siapanya om Alby? Hiks aku selingkuhannya om Alby atau wanita bernama Icha yang menjadi selingkuhannya om Alby? Eh apa yang kukatakan? Entahlah pokoknya seperti itu, aku sendiri juga bingung menjelaskannya."
Alby terdiam menatap mata Devi yang memerah dan berlinang air mata.
Apa ini penyebab Devi mabuk sampai seperti ini?
__ADS_1
"Ayo bangun dulu," ujar Alby membantu Devi bangkit berdiri namun Devi kembali menolaknya.
"Aku tidak mau pulang, aku tidur di sini saja," ujar Devi merebahkan dirinya ke tanah lagi namun dengan cepat Alby langsung menahan kepala Devi sebelum menyentuh tanah.
"Di sini kotor banyak kuman dan penyakit, nanti kalau kamu jadi sakit bagaimana?"
"Aku kan sudah sakit huaaa. Hatiku yang sakit om," tangis Devi lagi.
Alby mengusap pipi Devi, mencoba membersihkan tanah yang menempel di pipinya.
"Kita tidur di hotel saja bagaimana?"
"Hotel?"
"Iya, kalau di hotel kamu tidak akan bertemu dengan-" Alby mengambil jeda sejenak. Entahlah tiba-tiba saja Alby tidak bisa menyebutkan nama Icha. "Dengan wanita yang kamu maksud."
"Dia tidak akan menyusul ke hotel kan om?"
"Tidak."
Devi tampak berpikir sejenak lalu ia menganggukkan kepalanya setuju.
"Tapi aku pusing, aku ingin tidur. Aku tidak mau jalan ke sana, di sana jauh sekali parkirnya mobil om Alby. Aku tidur di sini saja," ujar Devi lagi dengan ciri khas mabuknya.
"Aku gendong sampai ke mobil," ujar Alby.
Devi terdiam lagi.
"Bagaimana?"
Devi pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Alby pun berjongkok di depan Devi dan memakaikan coat miliknya pada Devi yang sempat terlepas saat Devi terjatuh, lalu ia meminta Devi agar menaiki punggungnya.
"Om Alby bisa bawa belanjaanku?" tanya Devi sembari menidurkan kepalanya di pundak Alby.
"Bisa," jawab Alby.
Tangan kanan Alby menenteng belanjaan Devi sedangkan tangan kirinya menyangga Devi agar tidak jatuh dari gendongannya.
"Om."
"Hm?"
"Om Alby mencintaiku kan?" tanya Devi lirih.
"Tentu saja," jawab Alby.
"Tapi aku pendek, jelek dan tidak seksi."
"Aku tidak perduli. Aku tetap menyukaimu sampai kapanpun."
"Suka saja?"
"Tidak. Tentu saja cinta juga. Aku mencintai Devi selamanya," ralat Alby.
Devi pun diam sembari memperat pelukannya pada leher Alby hingga tiba-tiba perutnya kembali terasa mual.
"Om turunkan aku," ujar Devi sembari meronta-ronta minta diturunkan.
Alby pun menurunkan Devi dan gadis itu pun langsung duduk lagi di tanah sembari menangis.
"Ada apa?"
"Perutku terasa mual. Aku ingin muntah," cicit Devi.
"Muntahkan saja tidak apa-apa," ujar Alby lembut.
"Aku akan menahannya. Aku takut om Alby jijik padaku. Aku tidak mau muntah," ujar Devi membekap mulutnya.
"Tidak sayang."
"Tidak mau."
"Aku tidak akan lihat," ujar Alby pada akhirnya.
Devi terdiam. Lalu ia menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat cahaya bintang yang bersinar di gelapnya malam.
"Aku begini saja biar tidak mual."
"Baiklah, jika kau merasa mual katakan saja dan tidak perlu takut aku jijik padamu oke?"
"Hm."
Alby pun kembali melangkahkan kakinya ke arah parkiran yang jaraknya tinggal beberapa meter saja.
"Di dunia ini hal yang paling aku takuti adalah kehilangan om Alby," ujar Devi lirih yang masih dapat didengar oleh Alby.
Belum sampai Alby mengatakan sesuatu, perut Devi kembali terasa mual dan ia langsung memuntahkan isi perutnya sebelum sempat meminta Alby untuk diturunkan dari gendongannya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa menahannya."
****