Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Pertemuan di Kafe


__ADS_3

"Dev bangun," bisik Alby tepat di telinga Devi.


Devi hanya membalasnya dengan gelengan kepalanya dan malah semakin memeluk bonekanya dengan erat.


Alby yang melihat hal itu pun hanya bersedekap dada sembari tersenyum tipis.


Karena tidak ada tanda-tanda Devi bangun dari tidurnya, Alby pun menyalakan lampu sehingga membuat Devi bergerak tidak nyaman sembari terus berusaha menutupi cahaya yang masuk ke dalam matanya menggunakan boneka Totonya.


"Dev ayo bangun," ujar Alby sembari mendekat ke telinga Devi.


"Sepuluh menit lagi om," tawar Devi tanpa mau membuka kedua matanya.


"Tidak bisa. Hari ini hari pertama ujian nasional, jika tidur lagi nanti bisa terlambat," tolak Alby halus.


"Lima menit," tawar Devi lagi membuat Alby menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Devi.


"Tidak bisa. Ayo cepat bangun, aku sudah memesan sarapan dan menyiapkan seragam sekolahmu," ujar Alby lembut.


"Om."


"Hm?"


"Kenapa om Alby membangungkanku selembut ini?" tanya Devi tersenyum lebar ke arah Alby.


"Memangnya kenapa? Kau tidak mau? Mau dibangunkan dengan kasar? Mau di siram air?" tanya Alby sembari menggelitik Devi.


"Tidak! Hentikan om! Geli!!" pekik Devi tertawa keras sembari berusaha menghentikan gelitikan Alby.


"Baiklah-baiklah aku bangun om."


Alby pun menghentikan aksinya. Ia membantu Devi bangun. Alby merapikan rambut Devi yang masih berantakan sebelum akhirnya ia menempelkan kedua tangannya pada kedua sisi pipi Devi.


"Meskipun kau berada di sekolah, kau harus tetap hati-hati. Kita tidak boleh lengah sampai Ganendra benar-benar mendapatkan hukuman bui selama mungkin. Dan kau juga harus ingat, orang yang menyebabkan kecelakaanmu masih berkeliaran bebas di luar sana, jadi setelah ujian selesai langsung keluar dan temui aku. Mengerti?"


Devi tampak sedikit terkejut mendengar penuturan Alby. Apa ia pernah bercerita pada Alby jika pelaku pembunuhan kedua orang tuanya bukan hanya ada satu orang? Dan apakah ia juga pernah bercerita jika ia pernah bertemu dengan Bima di kantor polisi? Sepertinya tidak, tapi bagaimana Alby bisa tahu?


"Ada apa?" tanya Alby begitu Devi hanya diam dengan pandangan mata kosong.


"Ah tidak. Om Alby tadi bilang apa?"


"Kau!"


"Iya-iya om aku dengar. Aku hanya bercanda," ujar Devi seraya tertawa namun Alby sama sekali tidak merubah ekspresi wajahnya dan tetap menatap Devi dengan serius.


"Om jangan marah, aku hanya bercanda," ujar Devi begitu melihat raut wajah Alby.


"Kau bertemu Bima di kantor polisi kan?"


Devi tidak terkejut. Sepertinya Abimanyu lah yang memberi tahu Alby tentang hal itu jadi Devi tidak memiliki pilihan lain selain mengakuinya.


"Iya."


"Kenapa tidak bilang padaku?!"


"Maaf," lirih Devi menyesal.


Alby yang melihat raut wajah Devi yang tampak sendu pun menjadi tidak sampai hati untuk memarahi Devi lagi. Alhasil hal yang ia lakukan adalah membawa Devi ke dalam dekapannya.


"Kau pasti sangat ketakutan," ujar Alby seraya mencium puncak kepala Devi.


"Iya, tapi untung saja ada om Abi. Om Abi langsung mengusirnya begitu saja."


"Maaf, seharusnya aku menemanimu," sesal Alby.


"Benar, seharusnya om Alby menemaniku. Kalau begitu om Alby harus dihukum," ujar Devi mencoba mencairkan suasana yang membuat Alby melepaskan pelukannya dan menatap Devi dengan penuh tanda tanya.


"Dihukum?"


"Hm. Hukumannya om Alby harus membelikanku es krim selama satu bulan penuh tanpa berkurang satu hari pun," jawab Devi.


Alby tampak terlihat berpikir sebelum akhirnya ia menyetujui hukuman dari Devi.


"Baiklah, setuju. Kalau begitu kau juga harus dihukum karena tidak memberitahuku jika kau bertemu dengan Bima."

__ADS_1


"Hukuman apa?"


"Hukumannya adalah kau tidak boleh terluka sedikitpun. Aku tidak mau melihatmu sama seperti dulu saat Ganendra menyerangmu. Kau harus tetap seperti ini, tetap sehat tanpa cela sedikitpun. Berjanjilah kau akan selalu baik-baik saja tanpa luka dengan begitu aku bisa menyelesaikan hukumanku dengan bahagia. Jika kau terluka barang sesenti pun, aku jamin kau akan kehilangan es krimmu untuk selama-lamanya."


"Om Alby jangan begitu. Aku tidak mau melepaskan es krimku," rengek Devi. Namun Devi akui, ia sangat tersentuh dengan perkataan Alby.


Belum sempat Alby membalas perkataan Devi, Devi sudah lebih dulu berteriak heboh begitu ia sadar ia telah mengobrol dengan Alby cukup lama.


"Om!!! Gawat aku terlambat!!!"


*****


Setelah mengantar Devi ke sekolah, Alby memilih untuk menunggu Devi di sebuah kafe yang berada berseberangan dengan sekolah Devi. Alby hanya tidak ingin kecolongan seperti dulu saat Ganendra berhasil melukai Devi.


Setelah satu jam menunggu tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya.


Ting!


Alby merogoh ponselnya, ia melihat ada pesan masuk dari Laudya yang mengajaknya untuk bertemu. Meskipun Alby malas, pada akhirnya ia tetap menuruti keinginan Laudya untuk bertemu dan tentu saja di kafe tempat ia berada sekarang.


Di sisi lain Laudya tersenyum penuh kemenangan begitu Alby menyetujui permintaannya. Sebetulnya Laudya sudah tahu di mana Alby berada dan permintaan bertemu dengannya hanyalah tahap awal rencana Laudya terlaksana yaitu menjauhkan Alby dari Devi selagi Bima melakukan tugasnya.


Laudya juga sudah meminta Jessica untuk mengajak Devi ke halaman belakang sekolah. Pada awalnya Jessica menolak permintaan Laudya tapi pada akhirnya Jessica menyetujuinya meskipun ia tidak tahu kenapa kakaknya memintanya untuk membawa Devi ke halaman belakang sekolah.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Alby melihat batang hidung Laudya yang kini berjalan ke arahnya.


"Kamu sudah menunggu lama?" tanya Laudya sembari duduk di kursi yang berada di seberang Alby.


"Lumayan," jawab Alby singkat. Padahal Laudya tahu Alby tidak sedang menunggunya melainkan memang sudah ada di kafe tersebut untuk memantau Devi.


Laudya tersenyum tipis mendengar jawaban singkat Alby padanya. Rupanya semakin ke sini perlakuan Alby padanya semakin dingin dan tampak acuh. Hal itulah yang membuat Laudya semakin yakin dengan keputusannya berkerja sama dengan Bima.


"Ada apa? Kenapa mengajakku bertemu?" tanya Alby langsung yang membuat Laudya tersenyum kecut.


"Biarkan aku memesan sesuatu terlebih dahulu By," ujar Laudya seraya tersenyum manis. Setelahnya ia pun segera memanggil salah seorang pelayan untuk memesan makanan.


"Saya pesan salad sayurnya satu, latte less sugarnya juga satu."


Pelayan pun segera pamit undur diri untuk menyiapkan pesanan Laudya.


Kini keduanya hanya diam dengan Alby yang terus saja melihat ke arah sekolah Devi. Laudya tahu ke mana arah pandangan Alby namun ia hanya diam saja.


"By," panggil Laudya.


"Hm?"


"Boleh aku bertanya?"


"Katakan."


"Kenapa sikapmu padaku berubah?" tanya Laudya yang membuat Alby melarikan pandangannya ke arah Laudya.


"Aku berubah bagaimana? Bukankah aku tetap sama seperti sebelumnya?" bingung Alby.


"Tidak. Kau sudah berubah. Beberapa minggu yang lalu kau masih memperlakukanku dengan baik selayaknya aku pasanganmu tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa kau berubah. Kau lebih dingin padaku, bahkan kemarin kau juga meninggalkanku sendirian di desa dan lebih memilih mengantar Devi ke kota," tutur Laudya.


Alby menghela nafasnya pelan sembari menatap Laudya dalam.


"Laudya kau tentu tahu alasan kenapa aku mengencanimu. Aku mengencanimu karena aku telah bodoh membuat kesepakatan dengan ayahmu. Terus terang saja aku menyesali itu," tutur Alby memutuskan untuk berkata jujur pada Laudya tentang apa yang ia rasakan.


"Jadi maksudmu kau ingin memberitahuku jika hubungan kita hanya sebatas kesepakatan saja?" tanya Laudya tersinggung.


"Aku minta maaf tapi memang seperti itu faktanya. Aku memperlakukanmu dengan baik selayaknya menjadi pasanganmu karena kupikir aku akan terbiasa dan mulai jatuh cinta padamu, tapi ternyata aku salah. Aku tidak bisa jatuh cinta-"


"Kau mencintai Devi. Benar?" potong Laudya.


"Benar," jawab Alby tanpa ragu.


Laudya terdiam dan membuang pandangannya dari Alby.


"Lalu kenapa kau tidak mengakhiri hubungan denganku?"


"Kalau aku melakukannya apa kau akan menerimanya?" tanya Alby.

__ADS_1


"Tidak," jawab Laudya cepat.


"Maka kau sudah tahu jawabannya," jawab Alby sembari menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran sofa.


Kedua mata Laudya berkaca-kaca mendengar penuturan Alby. Laudya tidak menyangka jika perkataan Alby akan setajam ini padanya. Niat awal ia hanya ingin mengalihkan Alby dari Devi namun ia malah mendapatkan luka seperih ini. Kini Laudya semakin yakin melenyapkan Devi adalah jalan satu-satunya.


"Aku sejahat itu dan kenapa kau tidak mau melepasku?" tanya Alby. "Laudya dengarkan aku. Jika kau terus memaksa untuk bersamaku maka kau sendiri yang akan menderita. Kau pun pasti tidak ingin dipaksa menjalin hubungan dengan orang yang tidak kau cintai kan? Aku pun sama. Aku ingin melepasmu tapi aku terjerat kesepakatan itu dan kau harus tahu alasan kenapa aku ingin melepasmu. Aku tidak ingin kau menderita karenaku lebih jauh lagi. Kau berhak bahagia dan mendapatkan orang yang mencintaimu," lanjut Alby.


"Tidak bisakah kau mencoba mencintaiku?" tanya Laudya.


"Tidak," jawab Alby langsung.


"Kalau begitu kau juga siap jika rumah sakit milik ayahmu ditutup?"


"Sayangnya aku bukan Devi yang akan terpengaruh dengan ancamanmu," desis Alby tajam.


Laudya tersentak kaget. Alby tahu dari mana jika ia mengancam Devi? Apa Devi yang memberitahunya?


"Penutupan rumah sakit tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kau pikir selama aku berpacaran denganmu aku tidak melakukan sesuatu?" tanya Alby sembari menyunggingkan smirknya.


"Rumah sakit milik ayahku telah lepas hubungan dengan milik ayahmu. Kepemilikannya telah dipindahkan ke tangan ayahku seutuhnya, kini ayahmu tidak memiliki kuasa apa-apa lagi terhadap rumah sakit ayahku," lanjut Alby seraya tersenyum penuh kemenangan.


Laudya tidak habis pikir jika Alby ternyata orang selicik ini. Kini ia tidak memiliki apapun lagi untuk mengancam Alby agar terus bersamanya.


Rahang Laudya mengeras menahan marah, kedua matanya menatap tajam Alby.


"Kenapa kau sebenci ini padaku?" desis Laudya.


"Aku tidak membencimu pada awalnya, tapi karena kau sudah mulai berani bermain-main dengan orang di sekitarku maka jangan salahkan aku jika aku menjadi jahat padamu," balas Alby tajam.


"Apa maksudmu?"


"Kau sengaja mengancam ayahmu untuk terus menjodohkanmu denganku bukan? Kau mengancam ayahmu jika ayahmu tidak melakukannya maka kau akan membongkar perselingkuhan ayahmu. Orang yang berselingkuh adalah ayahmu tapi kau menipuku dengan mengatakan itu ibumu. Kau juga membunuh ibu kandungmu sendiri karena kau lelah dikekang. Aku sebetulnya tidak masalah dengan hal itu karena itu urusan keluargamu tapi begitu kau menyeret rumah sakit milik ayahku, aku tidak bisa tinggal diam," tutur Alby tajam.


Laudya yang mendengar hal tersebut sontak gelagapan sendiri. Dari mana Alby tahu fakta ini? Siapa yang memberitahunya? Bukankah selama ini hanya dirinya dan ayahnya saja yang mengetahui fakta ini? Apa mungkin ayahnya yang memberitahu Alby, tapi bukankah itu tidak mungkin?


"Baik aku minta maaf karena melibatkan ayahmu. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku tidak akan menyentuh keluargamu lagi By, kumohon beri aku kesempatan," mohon Laudya berlinang air mata.


"Terlambat. Aku sudah mengatasi itu semua," jawab Alby dingin.


Laudya menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya ia menatap Alby dengan senyuman yang terbit di bibirnya.


Dalam benak Alby ia bertanya-tanya ada apa dengan perubahan raut wajah Laudya namun Alby tetap mempertahankan raut wajah datarnya.


"Kalau begitu kau juga tahu jika aku bertemu Bima tempo hari kan?" tanya Laudya santai.


Alby hanya diam sembari menatap tajam Laudya. Menunggu Laudya menyelesaikan perkataannya.


"Kami bekerja sama untuk menyingkirkan Devi selama-lamanya," lanjut Laudya.


Alby masih diam bergeming.


"Melihat reaksimu sepertinya benar. Kau memang tahu akan hal itu," ujar Laudya tertawa kecil.


"Jika kau sentuh Devi maka kau akan mati di tanganku," ancam Alby tajam.


"Kenapa mengancamku sayang. Bukan aku yang melakukannya, tapi Bima. Aku hanya bertugas mengalihkan perhatianmu dari Devi mangkanya aku meminta bertemu denganmu di sini," tutur Laudya.


Alby terkejut bukan main begitu ia sadar ia telah dikelabuhi Laudya!


"Sial!!!" umpat Alby.


Alby langsung berlari menuju sekolah Devi untuk memastikan Devi baik-baik saja.


Laudya menatap punggung Alby yang kini menjauh dari hadapannya dengan sendu. Laudya sadar meskipun ia melenyapkan Devi dari dunia sekalipun, tetap saja ia tidak akan bisa memiliki Alby seutuhnya. Tentu saja! Alby kan membencinya apalagi setelah ia tahu bahwa ia bekerja sama dengan Bima, Laudya yakin rasa bencinya pasti sampai tandas ke hatinya.


"Meskipun aku melenyapkan dua nyawa orang, tetap saja aku tidak mendapatkan apa yang kuminta," lirih Laudya sembari tersenyum kecut.


"Silahkan kak pesanannya," ujar pelayan yang baru saja tiba dan menyajikan pesanan Laudya di atas meja.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Laudya hanya meninggalkan beberapa lembar uang seratusan di atas meja. Setelahnya ia berjalan keluar kafe sebelum pada akhirnya sebuah mobil suv hitam berhenti di depannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2