
Alby menggendong Devi keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju taman yang terletak tidak jauh dari rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Devi hanya diam saja tanpa mengeluarkan suara sepatah pun. Gadis itu hanya mengamati sekitarnya tanpa minat dan bahkan kini ia memejamkan matanya karena rasa kantuk mulai menyerangnya.
Alby melirik ke belakang untuk melihat Devi sekilas. Apa ini ketakutan Sean jika Devi mengingat kejadian mengerikan itu? Devi hanya mengingat sebagian kecil kejadian itu tapi efeknya sampai seperti itu. Jujur saja Alby juga merutuki kebodohannya akan keputusan sepihaknya. Tidak seharusnya ia menyetujui saran Raka. Bukankah seharusnya ia menurut saja pada Sean? Sean kan yang paling mengerti tentang keadaan Devi bukan Raka. Sial! Kenapa dalam keadaan seperti itu ia malah menjadi bodoh?! Lihat saja tadi bagaimana ketakutannya Devi begitu memasuki ruangan untuk melakukan EEG, dia benar-benar ketakutan hingga tubuhnya bergetar.
"Om," panggil Devi pelan.
"Hm?"
"Mau es krim," ujar Devi.
"Es krim?"
"Iya. Kemarin kita tidak jadi beli es krim om dan aku mau beli sekarang," rengek Devi.
"Baiklah, ayo kita beli es krim."
Devi pun tersenyum senang begitu Alby menuruti keinginannya. Alby pun segera melangkahkan kakinya menuju kafe yang dulu didatangi Raden dan juga Devi untuk membeli es krim.
"Om Alby capek tidak menggendongku seperti ini?" tanya Devi sembari memajukan kepalanya ke sisi samping wajah Alby.
"Capek. Kau kan berat," canda Alby.
"Aku tidak berat om! Om Alby saja yang lemah!" protes Devi tidak terima sembari memukul pundak Alby pelan.
"Baiklah aku yang lemah," ujar Alby sembari tertawa kecil.
Setidaknya Alby merasa lega Devi sudah baik-baik saja dan bahkan tingkah Devi sudah kembali seperti semula.
"Selamat datang," ujar pelayan begitu Alby dan Devi memasuki kafe tersebut.
"Duduk disana om!" tunjuk Devi pada sebuah meja.
Alby pun melangkahkan kakinya pergi ke meja yang Devi maksud dan mendudukkan Devi di sana.
"Aku mau es krim coklat dan vanila ya om?"
"Terserah kau saja," jawab Alby.
"Om Alby mau apa?" tanya Devi.
"Aku tidak mau."
Devi pun segera memesan es krim sesuai dengan keinginannya pada pelayan.
"Kau sangat suka es krim ya?" tanya Alby pada Devi.
"Iya om. Dulu ayah dan kak Sean selalu membawakanku es krim ketika pulang ke rumah dan itu hampir setiap hari. Oh iya aku pernah kemari bersama kak Raden dan aku juga memesan dua," ucap Devi sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke hadapan Alby.
"Jangan terlalu banyak makan es krim," tegur Alby.
__ADS_1
"Memangnya kenapa om?"
"Kebanyakan makan es krim dapat meningkatkan resiko penyakit jantung, obesitas, membekukan otak, memicu rasa malas dan kerusakan gigi. Ayah dan ibuku melarangku makan es krim sejak dulu," jelas Alby.
"Wah aku jadi kasian padamu om. Selama ini om Alby ternyata belum pernah merasakan manisnya es krim dan rasa dingin yang nikmat di dalam mulut," ujar Devi dramatis.
"Lagipula aku tidak tertarik sama sekali pada es krim," ujar Alby tenang.
Tidak lama kemudian, es krim pesanan Devi tiba. Devi pun segera melahab es krimnya dan Alby hanya mengamatinya sembari tersenyum tipis.
Devi benar-benar gadis yang sulit ditebak. Pagi tadi ia bergetar sangat ketakutan namun sekarang gadis itu sudah kembali menjadi dirinya seperti semula.
"Om."
"Hm?"
"Kepalaku sudah tidak sakit lagi. Aku tidak mau kembali ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan seperti tadi," ujar Devi di sela-sela makannya.
"Kau pasti sangat ketakutan ya?"
"Iya. Rasanya jantungku seperti berhenti berdetak saja tapi untung saja om Alby tidak memaksaku."
Alby menghela nafasnya pelan sembari menatap kearah Devi.
"Aku minta maaf," ujar Alby menyesal.
"Tidak perlu minta maaf om. Aku-nya saja yang ketakutan. Lagipula om Alby kan dokter jadi om Alby tahu apa yang harus dilakukan pada pasien, tapi aku benar-benar sudah sembuh om. Kepalaku sudah tidak sakit lagi," ujar Devi dengan sedikit kebohongan di dalamnya. Kepalanya memang sudah tidak sakit lagi tapi bukan itu alasannya. Alasan Devi tidak mau melakukan pemeriksaan tersebut adalah bayangan dirinya diculik dan hendak dijual organnya lah yang membuatnya ketakutan setengah mati. Dan Devi tidak mungkin bercerita tentang hal itu pada Alby.
Alby memeriksa pesan yang baru masuk ke ponselnya. Itu adalah pesan dari Gara tentang hasil try out Devi minggu lalu. Pagi tadi Alby sengaja meminta tolong Gara untuk mengirimkan hasil try out minggu lalu padanya.
"Lihat kau dapat ranking 30 dari 36 siswa," tunjuk Alby pada layar ponselnya.
"Woahh!!! Aku sangat terkejut om!! Tidak sia-sia aku belajar rajin akhir-akhir ini," ujar Devi penuh percaya diri.
"Tidak ada yang bisa dibanggakan dari ranking 30 dari 36 Dev."
"Tentu saja ada! Ini sebuah kemajuan om."
"Memangnya sebelumnya kau dapat ranking berapa?" tanya Alby.
"35 om," jawab Devi ringan.
"35?" tanya Alby tidak percaya.
"Iya dan yang mendapat ranking 36 adalah Arin. Setidaknya bukan aku yang mendapat peringkat terakhir."
Alby memijat keningnya pusing. Bagaimana bisa Devi terlihat senang dengan peringkat enamnya dari bawah? Ini mungkin efek dari Devi yang jarang belajar dan malah pergi kencan bersama Raden. Alby harus melakukan sesuatu!
"Mulai besok kau akan kembali belajar dengan Laudya sebagai tutormu dan aku akan membatasi kencanmu bersama Raden," ucap Alby final.
__ADS_1
"Aku tidak mau om," rengek Devi sembari mengerucutkan bibirnya.
"Lihat! Inilah akibatnya terlalu sering memakan es krim, kau jadi malas belajar. Kalau begitu aku juga akan melarangmu makan es krim."
"Om!!"
"Kau pilih satu dari dua opsi. Opsi pertama kau boleh makan es krim tapi harus belajar bersama Laudya atau kau tidak makan es krim sama sekali. Silahkan kau pilih." Alby menyungginggakan smirknya melihat raut wajah kesal Devi. Tidak mungkin gadis itu melepaskan es krimnya begitu saja.
"Baiklah, aku memilih belajar," pilih Devi dengan sedikit kesal.
"Akan kuhubungi Laudya untuk mengajarmu mulai malam ini."
"Kenapa malam ini? Bukankah om Alby tadi bilang besok?" protes Devi.
"Kau mau makan es krim tidak?"
"Mau."
"Yasudah turuti saja perkataanku."
"Om Alby benar-benar menyebalkan!!"
*****
"Tuan, tuan muda Raden sudah pulang."
Mendengar interupsi dari anak buahnya, pria paruh baya itupun segera menoleh dan mendapati seorang pemuda yang baru saja tiba tengah berdiri di sana.
"Kau sudah pulang?"
"Sudah paman," jawab Raden sembari berjalan mendekat kearah pamannya.
"Bagaimana kehidupanmu sebagai dokter koas? Kau pasti lelah sekali bukan? Sudah kubilang kau lanjutkan saja bisnis ayahmu jadi kau tidak perlu kelelahan seperti ini."
"Aku tidak lelah paman. Aku lebih menyukai profesiku sekarang," jawab Raden sembari tertawa.
Pria paruh baya itupun menghela nafasnya pelan sembari menatap Raden.
"Paman lebih suka kau melanjutkan bisnis ayahmu. Bisnis ayahmu berada di ujung tanduk sekarang, tidak ada yang bisa menggantikan kekosongan ayahmu."
"Aku tahu paman. Aku akan memikirkannya nanti," ujar Raden pada akhirnya.
Pria paruh baya itupun menerima jawaban Raden, meskipun ia tidak puas mendengar jawabannya. Namun apa boleh dikata, keponakannya ini memang memiliki pendirian yang sulit untuk digoyahkan.
"Aku pergi menemui ibu dulu," pamit Raden.
"Iya pergilah. Ibumu pasti senang kau pulang."
Raden pun segera bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan pamannya. Namun baru beberapa langkah Raden melangkahkan kakinya, pertanyaan pamannya membuatnya berhenti di tempat.
__ADS_1
"Kapan kau akan menjenguk ayahmu di penjara? Kakakku sangat merindukan putranya."
*****