Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Siasat


__ADS_3

Suara kicauan burung yang bersahutan dan cahaya matahari yang mulai menyusup melalui celah jendela kamarnya membuat Devi terbangun. Rupanya hari sudah pagi.


Devi menoleh ke arah samping dan mendapati Alby sudah tidak ada di sana. 


"Apa om Alby sudah bangun?"


Devi melihat ke arah jam dinding yang tergantung indah di tembok dan jam menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Masih terlalu pagi untuk bangun tidur," ujar Devi kembali merebahkan dirinya di atas kasur.


Namun detik berikutnya ia langsung terbangun begitu ia sadar di mana ia tinggal sekarang. Devi pun segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah beberapa saat berkutat dengan kegiatannya di kamar mandi, Devi memutuskan untuk segera turun membantu Ishwari.


"Hari pertama tinggal di rumah orang tua om Alby, aku harus meninggalkan kesan positif sebagai calon menantu," ujar Devi cekikikan sendiri.


Begitu turun, ia mendapati Ishwari yang sedang menata bunga di ruang keluarga. Devi pun berjalan mendekat ke arah Ishwari.


"Pagi tante," sapa Devi sembari tersenyum lebar.


"Pagi juga sayang. Bagaimana tidurmu? Nyenyak tidak?" tanya Ishwari melemparkan senyum ke arah Devi.


"Nyenyak tante. Tante Ishy sedang apa?" tanya Devi.


"Tante mengganti bunga ini dengan yang baru karena yang ini sudah layu."


"Ada yang bisa Devi bantu?"


"Tidak ada, tante sudah selesai. Kalau begitu ayo kita sarapan bersama," ajak Ishwari yang diangguki oleh Devi.


Ishwari segera mengajak Devi untuk segera pergi ke ruang makan. Sebelumnya ia mencuci kedua tangannya terlebih dahulu dan meminta salah satu pelayan mereka untuk menyiapkan makanan di atas meja makan.


Devi menatap lapar ke arah rentetan makanan yang tersaji di atas meja makan. Makanan-makanan lezat itu langsung menggugah selera Devi.


"Woah tante Ishy sangat pandai memasak," puji Devi mengacungkan jari jempolnya ke arah Ishwari.


"Tante tidak memasak," ralat Ishwari sembari tertawa. "Ada bibi Jum yang memasak. Ayahnya Alby melarangku melakukan pekerjaan rumah tangga dan lebih memilih menyuruhku untuk bersantai."


Devi tersenyum kikuk mendengarnya sekaligus ia takjub dengan tipe suami seperti ayahnya Alby. Pasti ia akan merasa diratukan setiap hari jika memiliki suami seperti Abimanyu.


"Oh iya tante, ke mana om Alby dan om Abi? Apa mereka tidak ikut sarapan?" tanya Devi penasaran.


"Mereka sudah berangkat bekerja. Alby sudah berangkat subuh tadi untuk kembali ke kota," jelas Ishwari yang membuat Devi mendesah kecewa.


"Om Alby kapan pulang tante?" tanya Devi lesu.


"Tante belum tahu. Nanti coba kau hubungi Alby dan tanyakan sendiri padanya," ujar Ishwari lembut.


Devi menganggukkan kepalanya dan mulai menyantap makanannya.


"Hari ini mau ikut tante pergi belanja tidak?" tanya Ishwari.

__ADS_1


"Mau tante," jawab Devi bersemangat.


"Baiklah kalau begitu, sekarang habiskan dulu makanannya," ujar Ishwari tersenyum.


*****


"Suriah?"


"Iya. Ini pasti karena hubunganmu dengan Laudya. Direktur tua menyebalkan itu sengaja mengirimku pergi dari sini agar aku tidak mengganggu hubunganmu dengan Laudya," kesal Renata.


"Itu karena kesalahanmu sendiri Ta. Kau yang membuat Laudya berpikir kau menyukaiku," balas Alby.


"Itu karena aku perduli padamu. Dengar By, Laudya bukan wanita yang seperti kau lihat. Jauh di dalam hatinya tersimpan iblis berbahaya yang kapanpun bisa menghancurkan hidupmu."


"Apa maksudmu?" tanya Alby bingung.


"Laudya membunuh ibu kandungnya sendiri. Dia menabraknya menggunakan mobilnya sendiri," jawab Renata yang membuat Alby terkejut bukan main.


"Aku tidak membunuh ibuku," ralat Laudya yang baru saja tiba sembari menatap Renata sengit.


"Aku tahu kau membenciku tapi berbicara tidak benar tentangku untuk mempengaruhi pacarku itu bukan tindakan yang terhormat dokter Renata," ujar Laudya tajam.


"Apanya yang tidak benar, aku sudah tahu hal itu sejak aku tidak sengaja mendengar perkataanmu dengan ayahmu dulu," ujar Renata membela diri.


"Kau mengupingku?" tanya Laudya menatap tajam ke arah Renata.


"Kau tidak dengar aku bilang tidak sengaja?" Renata membalas tatapan tajam Laudya tanpa rasa takut.


"Berhubung kau sudah mengatakannya pada Alby maka aku akan menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi saat itu. Kuharap setelah kau mendengar penjelasanku, kau tidak lagi berbicara buruk tentangku kepada orang lain terutama pada Alby."


Renata menyilangkan kedua tangannya di depan dada menantang pernyataan Laudya.


"Malam itu ayah dan ibuku bertengkar hebat. Ayah mengusir ibu keluar dari rumah. Ibu yang tidak ingin pergi pun berusaha meminta maaf dan berlutut di kaki ayah agar mengurungkan niat untuk mengusirnya. Namun ayah tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Ayah menolak dan mendorong ibu kencang tepat saat mobilku melintas. Seharusnya ibu tidak terluka parah karena saat itu aku berniat memarkir mobil di depan rumah sehingga aku memelankan laju kendaraanku. Tapi karena dorongan ayah begitu kuat, ibu jatuh tepat di kolong-" Nafas Laudya tercekat begitu ia hendak melanjutkan ceritanya. Cerita yang tidak banyak orang ketahui sekalipun Jessica sendiri.


Air mata mulai mengalir membasahi kedua mata Laudya membuat Alby dan Renata menjadi iba. Muncul rasa penyesalan di dalam hati Renata begitu melihat betapa hancurnya seorang Laudya.


"Ibu tewas terlindas ban mobilku," lanjut Laudya menangis tersedu-sedu.


Alby berjalan mendekat ke arah Laudya dan memeluk kekasihnya itu untuk menenangkannya.


"Aku tidak membunuh ibuku. Aku tidak membunuhnya," ucap Laudya disela-sela tangisnya.


"Iya, aku percaya padamu. Jangan menangis. Maafkan Renata yang sudah salah paham padamu," bisik Alby lembut sembari mengelus punggung Laudya.


Kini Alby merasa iba pada Laudya. Keadaan Laudya tidak jauh beda dengan Devi. Mereka berdua sama-sama memiliki masa lalu yang mengerikan dan trauma yang berkepanjangan. Dengan kejadian ini membuat Alby sedikit ingin mempertimbangkan kembali kesepakatan yang ia buat dengan Sena.


Sebelumnya Alby pernah berniat membatalkan kesepakatan yang dibuatnya dengan Sena dan Alby siap menerima apapun konsekuensinya karena begitu berada di dekat Devi perasaan anehnya mulai muncul. Berbeda sekali dengan perasaannya saat bersama Laudya.


Tapi sekarang begitu melihat betapa tidak berdayanya seorang Laudya di hadapannya membuat Alby terenyuh hingga ia tak berani menyakiti Laudya dengan membatalkan kesepakatan itu. Laudya sudah cukup hancur karena kematian ibunya dan Alby tidak ingin Laudya semakin hancur dengan ia meninggalkannya.

__ADS_1


Lagi pula bukankah ini adalah konsekuensi Alby sendiri karena membuat kesepakatan sembarangan tanpa berpikir panjang? Entahlah, Alby sekarang juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. Tidak mungkin ia mulai menyukai dua orang sekaligus kan?


"Aku minta maaf, aku tidak tahu jika ternyata kenyataannya seperti itu," sesal Renata.


Laudya diam tidak menjawab. Alby memberi gestur pada Renata agar ia keluar dari ruangannya dan membiarkannya untuk berdua saja dengan Laudya. Renata yang paham dengan isyarat Alby pun segera melangkahkan kakinya keluar.


Setelah beberapa saat kemudian, Laudya sudah mulai tenang. Alby menyodorkan air mineral pada Laudya dan duduk di samping Laudya. Laudya langsung menyenderkan kepalanya pada bahu Alby membuat Alby merasa sedikit tidak nyaman namun Alby menahannya. Alby harus sadar jika saat ini ia sudah menjadi pacar Laudya dan hal yang dilakukan Laudya adalah hal lumrah yang dilakukan seperti yang pasangan lain lakukan.


"Hal yang membuat ayah marah dan mengusir ibu adalah karena ibu berselingkuh. Tidak ada yang tahu tentang hal ini karena aku dan ayah ingin menjaga nama baik ibu yang sudah meninggal. Jessica pun tidak tahu akan hal ini dan menganggap orang yang berselingkuh adalah ayah bukan ibu."


"Kenapa bisa begitu?" tanya Alby bingung.


"Saat ayah dan ibu bertengkar, Jessica berada di dalam kamarnya dan ia hanya samar-samar mendengar perkataan ayah dan ibu. Ia tidak begitu jelas mendengar apa yang mereka ributkan namun yang pasti Jessica mendengar kata 'selingkuh' dari perkataan mereka. Mungkin karena penasaran, Jessica keluar dan menuju balkon. Di sana ia melihat ayah mendorong ibu dan aku yang menabrak ibu hingga meninggal. Sejak saat itu kepribadian Jessica berubah menjadi seperti sekarang. Jessica berpikir ayahlah yang berselingkuh dan sering kali Jessica menyebutku sebagai seorang pembunuh," jelas Laudya sedih.


"Kenapa tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada Jessica?" tanya Alby.


"Itulah kesalahanku. Harusnya aku menjelaskan semuanya pada Jessica namun pada kenyataannya aku tidak mampu. Aku terlalu takut untuk kembali mengingat kejadian itu hingga rasanya sangat sakit sekali. Aku ingin menghapus ingatan menyakitkan itu namun Jessica kerap menyinggungnya hingga membuatku marah dan sering bertindak kasar padanya. By, selain putri yang buruk, aku adalah kakak yang buruk juga untuk Jessica. Aku..aku-"


Laudya tidak mampu melanjutkan lagi kata-katanya dan langsung menangis kembali di dalam dekapan Alby.


Alby langsung berusaha menenangkan Laudya kembali dan membisikkan kata-kata menenangkan di telinga Laudya.


Kini Alby merasa ia sangat plin-plan dan tidak memiliki pendirian. Perasaannya mudah sekali berubah-ubah. Apa itu karena Laudya dan Devi memiliki persamaan trauma masalalu sehingga timbul rasa kasihan pada keduanya? Kalau memang seperti itu berarti selama ini rasa perdulinya kepada Devi murni karena rasa kasihannya saja bukan karena Alby menyukainya. Buktinya sekarang begitu mendengar cerita Laudya muncul perasaan yang sama seperti yang ia rasakan pada Devi hanya saja perasaan itu tidak sekuat yang ia rasakan pada Devi.


"Ternyata sekuat itu cintaku pada Icha hingga dua orang yang ada di dekatku belum bisa menggantikan perasaanku padanya hingga yang muncul di dalam hatiku pada Devi dan Laudya hanya ada rasa kasihan," ujar Alby dalam hati.


Laudya yang melihat betapa lembut dan perhatiannya Alby padanya pun tertawa penuh kemenangan dalam hatinya. Pertama ia berhasil mematahkan pernyataan Renata di depan Alby dan yang kedua sepertinya ia berhasil meluluhkan hati Alby yang sebelumnya tampak dingin padanya.


Laudya akui pernyataan yang diungkapkan Renata pada Alby adalah kebenarannya sedangkan yang ia jelaskan pada Alby hanyalah skenario kebohongannya.


Faktanya ayahnya lah yang berselingkuh dari ibunya dan kematian ibunya adalah hal yang disengaja oleh Laudya. Selama ini ibunya selalu mengekang dan menuntut Laudya seperti yang ibunya inginkan mulai dari soal nilai sekolah yang harus sempurna, jurusan kuliah hingga perjodohan semua sudah diatur oleh ibunya. Laudya yang sudah bertahun-tahun hidup dalam tekanan pun merasa frustasi hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mengakhiri hidup ibunya. Itu semata-mata ia lakukan untuk mencari kebebasannya.


Dan dampak dari hal itu membuat Laudya berpikir semua keinginannya yang belum ia dapat dari ibunya harus dipenuhi, termasuk keinginannya mendapatkan Alby. Dulu ibunya menjodohkannya pada pengusaha kaya yang sudah duda dengan satu anak. Laudya menolaknya namun ibunya memaksanya dan bahkan mengancamnya. Sekarang sebagai gantinya, ia harus mendapatkan Alby sesuai keinginannya meskipun dengan cara kotor sekalipun. Termasuk mengancam ayahnya untuk menjodohkannya dengan Alby. Selama Laudya tidak mengatakan hal sebenarnya pada Jessica maka semua keinginan Laudya akan dipenuhi oleh ayahnya.


Bukankah itu siasat terbaik yang ia punya?


*****


Di sisi lain, terlihat Bima yang sedang bersantai dengan satu batang rokok yang terselip di tangannya. Ia sedang menunggu informasi dari anak buah yang ia kirim untuk mencari tahu di mana keberadaan Devi sekarang.


Tidak lama kemudian, muncul seorang anak buahnya yang langsung memberi hormat padanya sebelum akhirnya ia melaporkan pekerjaannya.


"Maaf tuan, saya belum berhasil menemukan keberadaan Devi. Tapi hari ini Alby masuk kerja dan saya akan mengikutinya saat ia pulang nanti karena saya yakin Alby pasti akan menuju ke tempat Devi berada."


"Ikuti dengan benar dan jangan sampai Raden tahu akan hal ini," ujar Bima.


"Baik tuan."


"Raden tidak boleh tahu rencana ini karena jika ia tahu ia pasti akan membunuhku," desis Bima.

__ADS_1


*****


__ADS_2