Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Pertengkaran


__ADS_3

Devi menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani menoleh ke arah Ishwari maupun Alby. Melihat mata bengkak Ishwari membuat Devi merasa bersalah karena telah membuat Ishwari khawatir.


Berbeda dengan Ishwari dan juga Alby, Abimanyu lebih mengeluarkan sikap tenangnya namun Devi dapat merasakan aura kemarahan yang terpancar ke arahnya.


Devi akui dia salah jadi wajar saja jika semua orang ingin memarahinya. Namun saat ini Devi enggan mengeluarkan satu patah kata pun karena ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya pergi ke kota untuk meminta penjelasan Gara dan bertemu dengan Raden.


"Asep dipecat," ujar Alby yang membuat Devi langsung mendongakkan kepalanya menatap Alby.


"Om Alby jangan pecat Asep! Asep tidak salah om!"


"Bagaimana kami tahu Asep salah atau tidak jika kau sedari tadi hanya diam enggan bersuara," balas Alby yang membuat Devi terdiam.


"Sep, aku tidak akan memecatmu jika kau berkata jujur padaku. Ke mana saja kalian pergi?" tanya Alby menginterogasi Asep.


Asep diam bergeming. Matanya menatap takut ke arah Devi karena bagaimanapun juga ia telah berjanji tidak akan mengatakan apapun pada Alby.


"Non bagaimana ini?" bisik Asep pada Devi.


"Diam Sep. Jangan katakan apapun," jawab Devi.


Alby bersedekap dada melihat keduanya secara bergantian.


"Tetap tidak ada yang mau berbicara? Baiklah mulai sekarang Asep tidak bekerja di sini lagi," ujar Alby begitu melihat keduanya hanya saling diam.


"Den jangan pecat saya," mohon Asep pada Alby.


"Aku meminta Asep untuk mengantarku pergi ke kota," ujar Devi pada akhirnya.


"Kota? Ada keperluan apa kau ke sana?" tanya Alby berjalan mendekat ke arah Devi.


Devi diam. Alasan apa yang bisa membuat Alby percaya?


"Aku tanya, kenapa kau pergi ke kota?" ulang Alby tidak sabar.


"Hanya bertemu Arin dan Gara," jawab Devi yang tentu saja ia tidak akan mengatakan jika ia juga bertemu dengan Raden. Bisa marah besar Alby jika mengetahuinya.


"Benar Sep?" tanya Alby pada Asep dengan pandangan lurus menatap Devi.


"Be...benar den," jawab Asep tergagap.


"Akan ku hubungi Arin dan juga Gara untuk bertanya kebenarannya seperti apa," ujar Alby yang membuat Devi langsung tersinggung.


"Om aku betulan berkata yang sebenarnya dan hal itu juga sudah dibenarkan oleh Asep. Kenapa om Alby masih tetap ingin menghubungi Arin dan juga Gara?"


"Itu karena aku tidak percaya padamu. Bisa saja kau sengaja bersekongkol dengan Asep untuk menyembunyikan fakta sebenarnya dan berkerja sama untuk mengarang cerita," tutur Alby.


Devi menatap Alby dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa Alby berkata seperti itu padanya?


"Baiklah aku akan mengatakan hal yang sebenarnya pada kalian! Pertama aku tidak bohong tentang aku pergi ke kota untuk menemui Arin dan juga Gara. Aku memang benar menemui mereka, jika om Alby tidak percaya silahkan hubungi mereka, aku tidak akan melarang om Alby lagi. Kedua selain bertemu Arin dan Gara aku juga bertemu dengan kak Raden," jelas Devi menatap Alby dengan marah.


"Raden?! Kenapa kau menemuinya?!! Bukankah kau tahu Raden memiliki niat buruk padamu?!! Kau ini ingin bunuh diri ya?!!!" murka Alby begitu ia mendengar Devi bertemu dengan Raden.

__ADS_1


"Alby!!!" bentak Abimanyu begitu Alby sudah berbicara kelewatan. "Kau ini bicara apa?!! Sudah, kau pergi ke kamarmu sana!"


"Bunuh diri? Untuk apa aku bunuh diri, aku kan bukan penderita PTSD yang sewaktu-waktu memiliki dorongan untuk bunuh diri," ujar Devi yang membuat Ishwari dan juga Abimanyu terkejut tak terkecuali Alby sendiri yang bingung kenapa Devi malah membongkar rahasianya sendiri.


"Dev kamu ini bicara apa?" tegur Ishwari sembari memukul pelan lengan Devi.


"Benar tante, aku tidak menderita PTSD. Tante tahu kenapa om Alby tidak mempercayaiku sekarang? Itu karena aku berbohong kalau aku menderita PTSD. Om Alby bilang ia tahu kebenaran ini dari Gara, itu kenapa aku meminta Asep untuk mengantarku pergi ke kota menemui Gara. Aku menemui Gara karena ingin bertanya langsung padanya kenapa ia membongkar rahasiaku pada om Alby tapi ternyata Gara tidak membongkarnya pada om Alby. Om Alby hanya memancing kebenaran dariku menggunakan Gara. Aku-"


"Cukup!!!" bentak Alby meminta Devi untuk berhenti.


Bukan ini yang Alby maksudkan. Alby hanya merasa marah begitu Devi berkata ia pergi ke kota untuk bertemu Raden. Apakah Devi masih belum mengerti seberapa bahayanya Raden? Apa Devi juga tidak tahu bagaimana khawatirnya dirinya begitu ia mendapati Devi tidak ada di rumah? Rasa khawatir yang mencekik leher Alby itulah yang membuatnya bisa semarah ini pada Devi. Dan soal PTSD Alby sama sekali tidak mendukung pengakuannya ini di hadapan kedua orang tuanya. Bagaimana jika mereka berubah menjadi benci pada Devi? Alby sangat tidak menginginkan hal itu terjadi.


"Kenapa om? Bukankah lebih baik semua orang tahu siapa aku? Aku ini pembohong! Orang sepertiku mau berbicara sampai mulut berbusa pun tidak akan ada yang mempercayaiku. Kalau begitu aku hubungi Arin saja dan tanyakan padanya apa aku pergi ke kota untuk menemuinya." Devi segera merogoh ponselnya dan menghubungi Arin, namun belum sampai panggilan Devi tersambung, Alby sudah lebih dulu merebut ponsel Devi.


"Kembalikan ponselku!!! Bukankah ini yang om Alby mau?!"


Dada Devi bergemuruh menahan marah. Kedua matanya berair dan wajahnya merah padam. Tuduhan tak berdasar Alby padanya benar-benar membuatnya marah. Untuk apa ia menemui Raden untuk bunuh diri? Bukankah kemarin Alby bilang akan lebih baik jika Devi kembali bersama Raden dari pada bersama dirinya?


"Bukankah om Alby bilang sendiri padaku jika lebih baik aku kembali pada kak Raden?! Lalu apa salahnya aku pergi bertemu dengannya? Aku tahu om Alby khawatir padaku, takut kak Raden berbuat jahat padaku tapi kak Raden sudah berubah. Kak Raden tidak akan menyakitiku!"


"Dev," tegur Ishwari mencoba menenangkan Devi yang kini berlinang air mata namun sorot tajam matanya pada Alby tidak melembut sedikitpun.


"Om Alby selalu marah padaku kalau aku tidak menuruti perkataan om Alby kan? Lalu kenapa sekarang aku menuruti perkataan om Alby, om Alby juga marah padaku?!! Sebenarnya om Alby ini maunya apa?!!"


Melihat Alby dan juga Devi yang masih bersitegang membuat Abimanyu langsung turun tangan. Ia meminta istrinya untuk segera membawa Devi  menjauh dari Alby.


Ishwari segera merangkul bahu Devi dan mengajaknya untuk pergi ke kamarnya menyisakan Alby dan Abimanyu di ruang tamu. Asep yang mengerti suasana pun langsung pamit undur diri sebelum ia mendapat masalah yang lebih parah lagi.


"Pokoknya om Alby tidak boleh memecat Asep!!!" teriak Devi menahan Ishwari yang ingin mengajaknya pergi.


Setelahnya tanpa perlawanan, Devi pun beranjak pergi.


"Kamu ini kenapa? Kenapa semarah itu pada Devi? Dan apa-apaan kata-katamu itu?!" tegur Abimanyu begitu Devi sudah pergi.


Alby diam bergeming mendengarkan teguran Abimanyu.


"Duduk sini," pinta Abimanyu.


Alby mengusap wajahnya kasar dan menuruti permintaan ayahnya.


"Kamu selalu mewanti-wanti ayah dan ibu agar tidak berkata kasar maupun membahas tentang kematian pada Devi, lalu kenapa kamu malah membahas bunuh diri pada Devi?"


"Ayah tidak dengar Devi sudah mengaku jika ia tidak menderita PTSD? Dia sudah mengaku berbohong yah," bela Alby.


"Lalu?"


"Hah?"


"Sekarang ayah bertanya padamu. Kamu tahu Devi menderita PTSD dari siapa? Apa Devi memberitahumu secara langsung?" tanya Abimanyu.


Alby terdiam sebentar. Devi tidak pernah berkata padanya jika ia menderita PTSD dan hal itu membuat Alby menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kamu berasumsi Devi mengalami PTSD setelah berkonsultasi pada Raka kan?"


Alby menganggukkan kepalanya.


"Maka itu salahmu sendiri bukan Devi. Kamu sendiri yang menganggap Devi mengalami PTSD bahkan tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikannya."


"Tapi Devi mengaku jika ia memang berpura-pura mengalami PTSD yah."


"Lalu kamu percaya? Kamu seorang dokter dan aku tidak percaya dokter sepertimu tidak bisa membedakan mana penderita PTSD sungguhan dan bohongan."


"Apa maksud ayah?" tanya Alby bingung.


"Devi memang penderita PTSD," terang Abimanyu yang membuat Alby terkejut.


"Apa?"


"Kamu ingat hari saat ayah dan Devi pergi ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian?" tanya Abimanyu yang diangguki oleh Alby.


Tentu saja Alby ingat. Bagaimana tidak, hari itu juga ayahnya marah besar padanya karena kesepakatan itu.


"Devi ketakutan setengah mati begitu seseorang tidak sengaja menabraknya bahkan ayah harus meminta salah seorang petugas polisi untuk menemaninya selagi ayah menyelamatkan Ganendra. Selain itu bukankah di setiap Devi mimpi buruk kau selalu menemaninya? Masa kamu tidak menyadarinya?"


Alby terdiam. Apa yang dikatakan ayahnya benar. Alby ingat bagaimana ketakutannya Devi begitu ia terbangun dari mimpi buruknya dan tentu saja Alby tidak melihat kebohongan di dalamnya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Tapi kenapa Devi perlu repot-repot mengatakan ia pura-pura menderita PTSD padahal dirinya memang benar menderita PTSD?" tanya Alby tanpa sadar padahal Devi sudah memberitahunya alasan sebenarnya.


"Tentu saja karena Devi orang awam tidak seperti kita. Ia tidak tahu jika dirinya menderita PTSD dan lagi, hal yang ia pikirkan hanya cara untuk mendapatkanmu. Devi takut kamu tidak perduli padanya lagi begitu kamu berpacaran dengan Laudya. Devi pasti mencari di internet segala kemungkinan apa yang dapat terjadi setelah mengalami penyerangan dan salah satunya PTSD. Dan opsi yang memungkingkan untuk ia lakukan adalah berpura-pura menderita PTSD, karena dengan begitu ia bisa mendapatkan perhatianmu secara penuh," jelas Abimanyu yang membuat Alby sedikit terkejut.


"Ayah tahu kalau Devi menyukaiku?" tanya Alby menatap ayahnya dengan tatapan terkejutnya.


"Kemarin ayah tidak sengaja mendengar pertengkaranmu dengan Devi dan ayah juga mendengar kalau kamu lebih suka Devi kembali bersama Raden."


Alby menghela nafasnya pelan.


"Kamu yang berbicara seperti itu pada Devi tapi kamu juga yang marah begitu Devi menuruti perkataanmu," cibir Abimanyu.


"Alby melakukannya karena ingin Devi berhenti menyukai Alby yah. Ayah kan tahu sendiri Alby harus menikahi Laudya apapun yang terjadi. Sebelum Devi terluka lebih lanjut bukankah lebih baik Alby hentikan sampai sini?"


Abimanyu menghela nafasnya pelan seraya menatap sang putra seraya tersenyum.


"Sejujurnya ayah juga lebih menyukai kamu bersama Devi, tapi ayah harus terpaksa mendukung hubunganmu dengan Laudya agar Laudya benar-benar merasa diterima dan tidak melaporkan hal-hal buruk pada ayahnya yang berakibat pada rumah sakit milik ayah. Bahkan di depan ibumu sendiri ayah juga terus berpura-pura mendukung Laudya dan tidak merestui Devi."


"Maaf yah," sesal Alby.


"Apa yang mau dimaafkan? Semua sudah terjadi. Kita pikirkan cara untuk mengakhiri kesepakatan ini tanpa melibatkan rumah sakit milik ayah. Tapi sebelum itu pastikan dulu perasaanmu."


"Maksud ayah?"


"Kamu perduli dan khawatir pada Devi bukan karena ia mirip Icha kan? Dan kamu melindunginya bukan sebagai bentuk kompensasimu terhadap Icha kan?"


Deg!

__ADS_1


Alby langsung terdiam tidak bisa berbicara apapun untuk menyangkal perkataan ayahnya.


*****


__ADS_2