Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Ruptur Tumor Spontan


__ADS_3

Drtt...drtt...


Alby terbangun dari tidurnya begitu ia mendengar suara getaran ponselnya. Alby segera mengambil ponselnya di samping nakas tempat tidurnya sembari melirik sekilas ke arah Devi yang masih tertidur lelap di sampingnya. Ya, sekarang Alby tidur bersama dengan Devi dalam satu ranjang sejak Devi mengalami mimpi buruk beberapa hari yang lalu dan menyebabkan Devi tidak berani tidur sendirian.


Alby melihat nama Renata yang tertera di layar ponselnya dengan dengan perasaan tidak enak. Tidak mungkin Renata menghubunginya malam-malam begini jika tidak terjadi sesuatu pada Sean. Dengan pelan, Alby pun beranjak bangun dan memutuskan untuk keluar dari kamar agar tidak membangunkan Devi.


"Halo Ta, ada apa?" tanya Alby begitu ia menjawab telepon Renata.


"By," lirih Renata.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Sean?" tanya Alby khawatir.


"Angiosarcoma Sean sudah mencapai komplikasi ruptur tumor spontan. Bahkan pendarahan ruptur tumor spontannya sudah mengakibatkan pendarahan intra-abdominal* yang parah dan hemoperitoneum*," jelas Renata sembari terisak pelan.


Alby menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana mungkin keadaan Sean menjadi seburuk ini? Sebagai seorang dokter, Alby sangat paham apa yang katakan Renata padanya tentang kondisi Sean.


Ruptur tumor spontan yang mengakibatkan perdarahan intra-abdominal yang parah dan hemoperitoneum merupakan komplikasi yang mungkin fatal dari angiosarcoma hati. Ruptur tumor umumnya membawa prognosis yang sangat buruk bahkan ketika perdarahan dihentikan dengan embolisasi arteri transcathether darurat* (TAE), analisis dari empat pasien menunjukkan kelangsungan hidup rata-rata 23 hari setelah ruptur tumor dan tentu saja itu kabar buruk untuk Alby.


Apa yang akan dikatakannya pada Devi nanti tentang kondisi Sean? Apakah Alby harus berkata jujur pada Devi? Tapi dapatkah Devi menerima kenyataan itu?


Alby mengusap wajahnya frustasi.


"Hidup Sean tidak akan lama lagi By," isak Renata dari seberang sana.


"Kau jangan berbicara seperti itu! Kau kan dokter, kau tidak boleh putus asa seperti itu Ta! Aku yakin Sean baik-baik saja. Dia tidak akan menyerah begitu saja pada angiosarcoma hatinya," tegas Alby.


"Om," panggil Devi dengan kedua mata berkaca-kaca.


Tanpa sepengetahuan Alby, Devi sudah berdiri di belakang Alby sejak Alby menjawab panggilan Renata. Sebetulnya saat ponsel Alby bergetar dan tertera nama Renata, Devi juga melihatnya. Karena sudah lama tidak berbincang dengan Renata, Devi berniat ikut menimbrung obrolan Alby dan juga Renata mangkanya ia bangun dan mengikuti Alby dari belakang.


Baru saja Devi hendak menegurnya, perkataan Alby membuatnya menghentikan niatnya. Angiosarcoma hati? Kakaknya-Sean menderita penyakit itu? Devi tidak tahu apa itu angiosarcoma hati tapi begitu ia mendengar perkataan Alby di akhir, Devi yakin sesuatu yang buruk telah terjadi pada kakaknya.


"Dev, sejak kapan kau ada di situ?" tanya Alby terkejut.


"Angiosarcoma hati itu apa om?" tanya Devi dengan kedua mata berlinang air mata.


"Dev kumohon kau harus tenang," ujar Alby sembari mendekat kearah Devi sembari hendak memegang kedua bahu Devi namun Devi langsung menepisnya kasar.


Devi merogoh ponselnya dan langsung membuka aplikasi pencariannya. Devi begitu terkejut begitu mendapati informasi yang muncul di dalam aplikasi pencariannya.


"Jelaskan dulu padaku om!!" teriak Devi sembari menangis keras.

__ADS_1


"Aku akan menjelaskan semuanya padamu tapi kau harus tenang," bujuk Alby sembari menenangkan Devi yang menangis histeris bahkan Alby sampai memeluk Devi agar gadis itu tenang dan tidak memberontak.


"Lepaskan aku om!! Lepaskan!!" teriak Devi sembari menangis keras dan memberontak sekuat tenaga namun Alby sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya malah Alby semakin mengeratkan pelukannya.


"Kenapa om Alby tidak memberitahuku sejak awal?!! Kenapa kalian merahasiakannya dariku?!!"


Setelahnya Devi yang sudah lelah memberontak pun hanya bisa menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Alby.



Setelah dirasa Devi sudah tenang, Alby pun mengajak Devi untuk kembali ke dalam kamar.


"Kita kembali ke dalam kamar ya? Aku janji akan menjelaskan semuanya padamu," ajak Alby yang dijawab anggukan kepala oleh Devi.


Mereka berdua pun berjalan menuju kamar Devi dan duduk di tepian ranjang dengan Devi yang menyandarkan kepalanya di bahu Alby.


"Singkatnya angiosarcoma hati itu sama dengan kanker hati."


"Kanker?" ulang Devi yang diangguki oleh Alby. Selanjutnya mengalir cerita dari awal Sean memberitahu Alby tentang penyakitnya hingga kondisi terbaru yang baru saja diberitakan Renata pada Alby.


"Kenapa tidak transplantasi hati saja om? Hati kak Sean yang rusak bisa diganti dengan yang baru dengan begitu kankernya juga bisa hilang. Bukankah itu ide yang baik om? Ayo telepon kak Renata dan bilang untuk melakukan transplantasi hati sekarang!" ujar Devi sembari menggoyang-goyangkan tangan Alby.


"Kita tidak bisa melakukan transplantasi hati," ujar Alby lirih.


"Bukan."


"Lalu apa?"


"Meskipun sebelumnya dianggap sebagai pilihan pengobatan yang layak, transplantasi hati tidak lagi dipertimbangkan untuk angiosarcoma hati, karena tingkat kekambuhannya yang tinggi dan kelangsungan hidup pasca transplantasi yang buruk. Registri Transplantasi Hati Eropa menganggap angiosarcoma hati sebagai kontraindikasi mutlak untuk transplantasi hati, mereka melaporkan bahwa rata-rata kelangsungan hidup setelah transplantasi hati kurang dari 7 bulan dengan tidak ada yang bertahan lebih dari 23 bulan, menunjukkan perbedaan yang sangat kecil dari tanpa pengobatan sama sekali," jelas Alby.


"Bukankah itu lebih baik daripada 23 hari?" tanya Devi berlinang air mata.


"Iya, tapi tidak dengan kondisi Sean karena kakakmu sudah mengalami ruptur tumor spontan. Transplantasi hati mustahil dilakukan."


Mendengar hal itu membuat air mata Devi semakin deras menuruni kedua pipinya. Dalam kurun waktu 23 hari orang yang merupakan keluarganya satu-satunya hendak pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Devi belum bisa menerima semua kenyataan ini.


Kenapa kakaknya tidak memberitahunya tentang penyakitnya? Kenapa Alby juga merahasiakan sakit yang dialami Sean padanya?


Tiba-tiba Devi terpikirkan sesuatu, bukankah yang menghubungi Alby adalah Renata? Tapi bagaimana Renata bisa bersama kakaknya? Apa mereka saling mengenal?


"Renata adalah pacar kakakmu," ujar Alby seolah mengerti apa yang ada di dalam kepala Devi. "Renata sengaja resign dari pekerjaannya dan berangkat ke Singapura untuk menemani dan merawat kakakmu. Maafkan Renata karena sudah berbohong padamu," lanjut Alby.

__ADS_1


"Kak Renata tidak pernah berbohong padaku, dia hanya tidak pernah memberitahuku," ujar Devi dengan nada sedikit kesal.


"Aku mengantuk, aku mau tidur," ujar Devi sembari beranjak merebahkan dirinya memunggungi Alby.


Alby yang melihatnya pun hanya menghembuskan nafasnya pelan sebelum ia ikut merebahkan dirinya di samping Devi.


"Kakakmu sangat menyayangimu mangkanya dia tidak ingin memberitahumu," ujar Alby sembari menoleh kearah Devi. Alby tahu Devi tidak benar-benar tidur, buktinya sekarang punggung kecil itu sedang bergetar menahan tangis. Alby yakin Devi sedang menangis sekarang.


Devi hanya diam enggan menjawab perkataan Alby. Devi tahu kakaknya sangat menyayanginya tapi bukan itu alasan Devi marah. Devi marah karena ia tidak mengenal Sean, ia tidak tahu apa-apa tentang Sean dan ia juga merasa menjadi adik yang sangat buruk untuknya yang setiap hari hanya bisa membuat ulah dan membuatnya kewalahan karena mengasuhnya.


Devi teringat dengan pertanyaannya pada Alby dulu tentang Sean orang yang seperti apa. Jika dipikir-pikir lagi, kini Devi sangat malu. Bukankah seharusnya Devi-lah yang paling mengenal Sean bukannya Alby? Devi kan adik kandungnya, tapi kenapa ia malah tidak tahu apa-apa?


"Om malam ini aku ingin tidur sendiri," ujar Devi.


Alby menghela nafasnya pelan sebelum ia beranjak keluar dari kamar.


"Istirahatlah, besok kita akan pergi mengurus paspor dan minta ijin ke sekolahmu untuk berangkat ke Singapura menemani kakakmu. Jika kau tidak bisa tidur panggil aku saja, aku akan kemari menemanimu," ujar Alby sembari mengecup puncak kepala Devi.


Setelah kepergian Alby, Devi langsung menumpahkan semua air matanya dan menangis sesenggukan sembari memeluk boneka Totonya.


Dua puluh tiga hari lagi. Ya, itu waktu yang diberikan Tuhan pada kakaknya untuk menikmati hidupnya. Kenapa hanya sebentar saja? Tidak bisakah kakaknya terus menemaninya hingga ia tua nanti dan memiliki cucu? Tidak inginkah kakaknya melihatnya menjadi orang sukses dan membanggakannya?


Setelah kedua orang tuanya, apa Tuhan juga akan mengambil kakaknya? Kenapa semua orang-orang yang ia sayangi pergi dari hidupnya? Memangnya apa salahnya? Devi tidak ingin apa-apa, Devi hanya ingin kedua orang tuanya dan kakaknya menemaninya menjalani kehidupannya itu saja.


Setelah puas menangis, rasa lelah dan kantuk pun mulai dirasakan Devi. Dengan perlahan Devi mulai memejamkan matanya dan tertidur dalam kesedihannya. Devi berharap ini hanyalah mimpi buruk yang biasa ia mimpikan dan setelah ia terbangun esok hari, Devi berharap yang ditemuinya pertama kali adalah kakaknya Sean yang sedang menyeterikakan seragam sekolahnya seperti biasanya. Ya, semoga saja.


*****


FYI


Pendarahan intra/ internal adalah hilangnya darah dari pembuluh darah yang terkumpul di dalam tubuh. Pendarahan di dalam biasanya tidak terlihat dari luar. Ini adalah keadaan darurat medis yang serius tetapi tingkat keparahan tergantung pada tingkat perdarahan dan lokasi perdarahan (misalnya kepala, batang tubuh, ekstremitas).


Pendarahan intra-abdominal terjadi di dalam abdomen (perut).


Hemoperitoneum (juga haemoperitoneum , kadang juga hematoperitoneum ) adalah adanya darah di rongga peritoneum.


Rongga peritoneum adalah ruang potensial antara peritoneum parietal ( peritoneum yang mengelilingi dinding perut) dan peritoneum visceral (peritoneum yang mengelilingi organ dalam).


Embolisasi arteri transcathether darurat (TAE) adalah pengobatan hemostatik untuk pendarahan atau sebagai pengobatan untuk beberapa jenis kanker dengan sengaja menyumbat pembuluh darah untuk membuat sel tumor kelaparan.


Cr. Google

__ADS_1


*****


__ADS_2