
Devi duduk terpaku di bangkunya. Suara guru kimia yang sedang menerangkan bab senyawa pun sama sekali tidak digubrisnya. Pandangannya menatap papan tulis namun tidak dengan pikirannya. Devi masih memikirkan kejadian semalam yang dialaminya. Bukan! Bukan karena mimpi buruknya melainkan bagaimana nyamannya tidur sembari memeluk Alby. Mungkin terdengar mesum tapi Devi menyukainya.
Bagaimana Alby menenangkannya setelah mimpi buruk dan bagaimana tangan Alby mengelus pundaknya lembut agar Devi tertidur pun masih teringat jelas di kepala Devi. Di balik sifat Alby yang menyebalkan ternyata Alby merupakan sosok yang perhatian.
Jika kalian bertanya apakah Devi tidak kepikiran dengan mimpi buruknya yang terasa nyata maka jawabannya adalah tentu saja kepikiran hanya saja Devi mencoba melupakan mimpi tersebut dan beranggapan bahwa mimpi tersebut hanyalah bunga tidurnya saja tidak lebih. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari itu.
Kring!!!
Bel istirahat berbunyi. Gara dan Arin langsung bergegas menuju bangku Devi dan segera menyadarkan Devi dari lamunannya.
"Kemarin kau berkelahi dengan Jessica?" tanya Gara serius.
"Darimana kalian tahu? Aku bahkan belum memberitahu kalian," bingung Devi.
"Kau tidak tahu kalau sekarang kau jadi bintang pergulatan sekolah?" tanya Arin.
"Hah apa maksudmu?" tanya Devi bingung.
Arin pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah vidio dimana Devi dan Jessica berkelahi kemarin. Mata Devi pun membulat sempurna begitu melihat adegan dirinya berkelahi dengan Jessica dan teman-temannya sampai Alby datang memisahkan mereka.
"Lho? Siapa yang merekam?" bingung Devi.
"Tidak hanya satu dua orang yang merekam kejadian itu dan sekarang seluruh penduduk sekolah juga memiliki vidio perkelahianmu," jawab Gara.
Devi menepuk jidatnya pelan dan menyesali perbuatannya. Ia pasti akan terkena masalah setelah ini.
"Dev, kau dipanggil bu Nisa ke ruang BK," ujar Leo selaku ketua kelas.
Tuhkan Devi benar-benar terkena masalah.
"Dan sekarang vidio itu sampai ke ruang BK," eluh Devi.
"Harusnya aku menemanimu sampai penjemputmu datang kemarin," sesal Gara.
"Tidak apa-apa. Tidak perlu merasa bersalah, toh ini juga bukan sepenuhnya salahku. Jika si nenek sihir Jessica tidak menamparku lebih dulu aku juga tidak akan memukulnya," ujar Devi.
"Kau tidak takut dimarahi om Alby?" tanya Gara yang diangguki oleh Arin.
"Om Alby sudah memarahiku kemarin, masa mau memarahiku lagi."
"Baiklah semoga saja om Alby tidak memarahimu lagi," ujar Gara.
"Baiklah aku pergi dulu. Doakan aku ya?" pamit Devi dengan dramatis.
*****
Begitu Devi tiba di ruang BK, disana sudah ada Jessica, Clara dan satu temannya lagi yang Devi tidak tahu namanya. Devi diminta duduk di samping Jessica oleh bu Nisa namun Devi menolaknya dengan alasan takut jika tangannya tidak sengaja memukul Jessica lagi dan tentu saja hal itu membuat Jessica marah.
"Ibu sudah menghubungi wali kalian. Kita tunggu sampai mereka datang," ujar bu Nisa.
Begitu mendengarnya, Devi langsung panik. Bukankah dalam data sekolah nomor yang dicantumkan disana adalah nomor kakaknya Sean? Bagaimana jika bu Nisa menghubungi Sean dan memberitahunya jika Devi berkelahi di sekolah? Kakaknya pasti akan marah besar padanya.
"Maaf bu. Kalau boleh tahu siapa yang ibu hubungi?" tanya Devi.
__ADS_1
"Tentu saja kakakmu-Sean. Bukankah di data sekolah yang tercantum adalah nomor kakakmu?" tanya bu Nisa.
"Kakak saya bilang apa bu?" tanya Devi takut-takut.
"Dia akan datang," jawab bu Nisa.
Devi mengernyitkan dahinya bingung. Mana mungkin kakaknya akan datang jika dia saja berada di Singapura? Memangnya ada pesawat dengan tujuan Indonesia-Singapura dalam waktu setengah jam?
"Selamat siang bu."
Devi menolehkan pandangannya kearah pintu masuk dan disana ada Alby yang tengah berdiri sembari memberi salam. Devi mendesah lega begitu melihat Alby yang datang. Jika Sean yang datang, Devi pasti akan dimarahi habis-habisan lagi. Masa sudah dimarahi oleh Alby mau ditambah lagi dimarahi oleh Sean?
"Selamat si- lho Alby?"
"Tante Laudya?" tanya Devi terkejut.
"Laudya, kau ada perlu apa disini?" tanya Alby bingung.
"Ehm maaf menganggu, bisa kita mulai sekarang?" tanya bu Nisa menginterupsi.
"Tunggu dulu!!" cegah Devi. "Kenapa hanya om Alby dan tante Laudya yang datang? Bukankah seharusnya ada wali murid lain yang juga datang? Wali murid dari Jessica misalnya, atau wali murid Clara juga. Kenapa mereka tidak dipanggil disuruh kemari?" tanya Devi tidak terima.
"Kau memanggil kakakku tante? Heh kau pikir kau itu siapa?!!" ujar Jessica tidak terima.
"Kakak?" lirih Devi.
"Iya. Aku kakaknya Jessica. Hari ini aku menggantikan ayahku untuk datang kemari," jelas Laudya.
"Selamat siang bu."
Kini lengkap sudah wali murid masing-masing lakon perkelahian itu. Devi duduk di sebelah Alby lalu Laudya disusul Jessica dan seterusnya.
Kini Devi merasa sedang menjalani sidang kasus kekerasaan saja.
"Maaf bapak ibu sekalian, tujuan saya meminta anda sekalian datang kemari adalah mengenai vidio perkelahian putri bapak ibu kemarin. Di dalam vidio terekam jelas siapa saja yang terlibat dan termasuk bapak Alby sendiri yang datang untuk memisahkan perkelahian itu."
"Disini saya selaku guru bimbingan konseling ingin bertanya kepada putri bapak ibu sekalian. Siapa yang memulai perkelahian terlebih dulu?" lanjut bu Nisa.
"Jessica," jawab Devi singkat.
"Benar?"
Jessica tampak diam sebentar sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya membenarkan pernyataan Devi.
"Jessica menampar pipiku lebih dulu," ujar Devi yang membuat Jessica menatap nyalang kearahnya. Devi tidak takut malah ia balik menatap nyalang kearah Jessica.
"Itu karena mulutmu minta dihajar!" kesal Jessica.
"Jess! Jaga bicaramu! Kau tidak lihat ini di sekolah?!" tegur Laudya.
"Ta-tapi kemarin ada teman Devi yang mencengkeram dagu Jessica dengan kuat sampai Jessica kesakitan dan keesokan harinya Jessica ingin bertanya kepada Devi apa maksudnya tapi Devi malah memakinya," dusta Clara yang membuat Devi marah sedangkan Jessica hanya tersenyum menunjukkan smirknya.
"Wah mulutmu minta dihajar ya?!!" geram Devi sembari hendak menerjang Clara namun Alby segera menghadangnya dan meminta Devi agar tenang.
__ADS_1
"Tenang dulu! Kenapa kau langsung emosi dan berniat menghajarnya? Masalah yang ini belum selesai dan kau mau menambahinya?!!" tegur Alby pada Devi.
"Tapi dia berbohong om!" tunjuk Devi pada Clara.
"Jangan menunjuk putriku!! Kalau kau salah seharusnya kau meminta maaf bukan malah menghajar putriku!" marah ibunya Clara.
"Untuk apa aku minta maaf?!! Aku tidak bersalah!! Memang benar kemarin ada temanku yang mencengkeram dagunya, tapi itu karena temanku menyelamatkanku dari perundungan Jessica dan teman-temannya!!" balas Devi.
"Kau pelaku perundungan?" tanya Laudya pada Jessica tidak percaya.
"Aku tidak merundungnya!!" sanggah Jessica.
"Oh ya? Lalu apa yang kau lakukan pada Rea? Menyiram telur dan tepung di kepalanya dan memintanya duduk bersimpuh di bawah kakimu, kau pikir itu bukan perundungan?!! Aku akui ini adalah kesialanku karena menyelamatkan gadis tidak tahu terima kasih itu dan berakhir menjadi target bully kalian. Tapi bu Nisa yang terhormat, saya tidak pernah menyerang Jessica lebih dulu jika dia tidak menampar saya," ujar Devi dengan dada naik turun menahan amarah.
Alby yang berada di sebelah Devi pun langsung menggenggam tangan kiri Devi dan mengelusnya pelan agar dia tenang dan tidak terpancing emosinya.
"Bukankah sudah jelas jika dalam vidio itu Devi hanya membela dirinya bukan menyerang Jessica seperti yang siswi itu katakan?" tanya Alby pada bu Nisa.
"Tapi tidak ada buktinya pak," ujar bu Nisa lembut.
"Memang tidak ada buktinya sih, di vidio juga hanya adegan perkelahian saja. Tapi tempo hari Devi bercerita pada saya jika ia melihat Jessica dan teman-temannya sedang merundung siswi bernama Rea. Devi sangat kesal saat itu karena Rea malah mengata-ngatainya alih-alih berterima kasih padanya. Sejak saat itu sepertinya Jessica ganti target ke Devi untuk jadi bahan rundungan," ujar Alby.
"Tapi dia menyiram tepung dan telur ke kepalaku saat itu!" ujar Jessica membela diri. "Lagipula itu acara ulang tahun Rea. Bukankah wajar jika aku memberinya kejutan dengan memberinya tepung dan telur?" dusta Jessica.
"Wah wah sepertinya kau cocok sekali menjadi pengarang cerita. Semoga tahun depan kau bisa menerbitkan buku baru ya," cibir Devi.
"Kalau begitu panggil Rea saja kemari, biar dia menjadi saksi sekaligus bukti," ujar Alby yang membuat Devi membulatkan matanya tanda tidak menyetujui ide Alby.
"Om Alby jangan macam-macam. Dibanding aku, Rea malah lebih takut pada Jessica. Bagaimana jika Rea malah membuat keterangan palsu? Hubungan kami ini tidak baik lho om!" bisik Devi pada Alby.
"Coba dulu saja. Jika Rea memang seperti itu yasudah terima saja hukumanmu," jawab Alby tenang.
"Om!! Aku sekarang dalam kondisi di ujung tanduk lho om. Kenapa om Alby malah seperti itu?!!"
"Jangan berlebihan. Kita tunggu Rea datang kemari dan kita lihat apa yang akan dikatakan Rea pada bu Nisa," ujar Alby.
Laudya yang berada di dekat Alby pun mendengar percakapan Devi dengan Alby lalu ia menoleh kearah Jessica yang sedang duduk sembari bersilang dada.
"Luruskan tanganmu. Tidak sopan duduk seperti itu di hadapan guru," tegur Laudya.
Jessica pun menurutinya meskipun dengan sedikit kesal.
"Baik, saya akan panggil Rea untuk datang kemari," ujar bu Nisa. Setelahnya ia keluar meminta salah satu siswa untuk meminta Rea datang menemui bu Nisa di ruang BK.
Setelah tidak lama menunggu, Rea pun tiba di ruang BK. Devi dapat melihat raut wajah Jessica yang terlihat mengancam kepada Rea namun Devi mengabaikannya. Devi sudah tidak perduli lagi dengan jawaban Rea, tapi awas saja jika Rea berbicara yang jauh dari fakta. Devi akan memberi pelajaran padanya.
"Rea, ibu ingin bertanya apakah benar kamu menjadi korban perundungan dari Jessica dan teman-temannya lalu Devi datang menolongmu?" tanya bu Nisa.
Rea hanya diam sembari menatap takut kearah Jessica. Haruskah ia jujur pada bu Nisa tentang kebenarannya? Tapi bagaimana jika Jessica kembali merundungnya? Bukankah sekarang hidupnya sudah tenang karena Jessica sudah menemukan mainan baru untuk bahan bullyannya? Haruskah ia berbohong saja? Toh dia dan Devi kan tidak begitu dekat jadi tidak perlu merasa bersalah. Lagipula Rea tidak pernah meminta Devi untuk menyelamatkannya.
"Ehmm sebenarnya-"
*****
__ADS_1