Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Berkelahi


__ADS_3

Keesokan harinya seperti biasa Alby mengantar Devi pergi ke sekolah. Kaki Devi sudah sembuh meskipun masih terasa sedikit nyeri tapi Devi dapat mengatasinya.


Sepanjang perjalanan, Devi sedang sibuk belajar dan Alby menyetir dengan tenang. Inilah suasana yang disukai oleh Alby, suasana yang sangat tenang dan damai tanpa suara Devi yang membuatnya darah tinggi. Namun Alby selalu menahan amarahnya dan mencoba memahami Devi, apa yang sebenarnya gadis SMA berjiwa bayi itu inginkan. Devi tipe orang yang tidak bisa dibentak ataupun dikasari tapi sifatnya benar-benar ingin sekali dihakimi.


Lampu merah menyala dan Alby pun menghentikan mobilnya. Sesekali ia menoleh kearah Devi yang sedang sibuk belajar. Pada saat Alby memfokuskan pandangannya kearah jalan, Alby tidak sengaja melihat gadis yang ditemuinya di bawah kolong jembatan sedang berjalan di trotoar.


"Dev," panggil Alby sembari mulai menjalankan mobilnya.


"Hm?"


"Bukankah itu temanmu?" tanya Alby sembari menunjuk ke arah gadis SMA yang mengenakan seragam yang sama dengan milik Devi.


"Bukan. Aku membencinya, aku tidak mau berteman dengannya," jawab Devi melihat sekilas kearah Rea dan setelahnya ia kembali fokus ke buku pelajarannya.


Tanpa diduga, Alby menghentikan mobilnya. Devi yang hendak melayangkan protes pun harus ia urungkan karena Alby sudah terlebih dahulu keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Rea.


Entah apa yang dibicarakan keduanya namun yang pasti Alby membawa Rea masuk ke dalam mobilnya. Devi yang melihat hal itu pun langsung melayangkan tatapan tidak sukanya pada Rea.


"Kenapa om Alby membawanya kemari?!!" protes Devi tidak terima.


"Memangnya kenapa? Bukankah kalian satu sekolah? Kita kan satu tujuan jadi apa salahnya membantu teman?" ujar Alby ringan.


"Tapi aku menolak om!! Aku tidak mau!!" tolak Devi. "Kau juga!! Kenapa kau mau diajak om Alby berangkat ke sekolah bersama?!! Memangnya kau tidak tahu kalau aku membencimu?! Harusnya kau menolak bukannya malah ikut-"


"Sudahlah kenapa kau terus cerewet sepanjang hari? Rea itu temanmu kan, kau tidak boleh begitu padanya," tegur Alby membungkam mulut Devi menggunakan tangan kirinya.


"Tidak boleh apanya? Dia saja boleh mengata-ngataiku di depan Jessica masa aku tidak boleh mengatainya juga?" balas Devi begitu ia berhasil melepas bekapan tangan Alby pada mulutnya.


"Lebih baik saya turun disini saja kak," ujar Rea pada akhirnya karena ia tidak ingin Devi semakin tambah marah.


"Ya benar, lebih baik kau turun saja!" timpal Devi.


"Jangan perdulikan perkataan Devi. Ini sudah siang dan sebentar lagi kau akan telat jika berangkat sekolah dengan jalan kaki," ujar Alby.


"Kalau begitu biar aku saja yang turun jika om Alby tidak membiarkannya turun!" ancam Devi.


"Silahkan," ujar Alby sembari hendak menepikan mobilnya.


"Om!!!" marah Devi.


"Kenapa? Katamu kau ingin keluar dari mobil? Aku hanya menurutimu, kenapa jadi marah padaku? Sudahlah daripada kau sibuk marah-marah lebih baik lanjutkan saja belajarmu," ujar Alby.


Devi pun menatap kesal kearah Rea sebelum akhirnya ia kembali berkutat dengan buku pelajarannya.


"Om aku ingin bercerita," ujar Devi tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku pelajarannya.


"Hm?" jawab Alby malas.


"Apa yang om Alby katakan memang benar. Sekarang aku menjadi target bully Jessica dan teman-temannya dan itu berkat seseorang yang ditolong tapi tidak tahu terima kasih dan malah mengataiku," sindir Devi pada Rea.


"Kau dibully Jessica?" tanya Alby.


"Ya dan untung saja kemarin kak Raden datang menolongku. Woahh kak Raden benar-benar keren sekali om. Kak Raden mencengkeram dagu Jessica dengan erat sampai Jessica tidak bisa berbicara. Lalu kak Raden berkata seperti ini 'Apa ini tindakan yang pantas dilakukan seorang siswi SMA?'. Bukankah itu keren sekali om?" cerita Devi begitu semangat sembari memperagakan cara Raden mencengkeram dagu Jessica.

__ADS_1


"Kau ini memang sudah dibutakan oleh cinta," cibir Alby.


"Memangnya tidak boleh om? Yang namanya cinta kan itu timbul dari perasaan dan itu tidak bisa disalahkan," ujar Devi.


"Halah kau ini seperti orang tua saja."


Devi melirik kearah Rea yang duduk di jok belakang. Rea yang sadar akan tatapan Devi pun langsung melemparkan pandangannya ke jendela mobil. Devi yang melihatnya pun berdecih sebal.


"Om nanti kau minta tolong kak Raden untuk menjemputku lagi ya. Aku takut nanti Jessica kembali merundungku," ujar Devi dengan keras agar Rea mendengarnya.


"Pelankan bicaramu, aku tidak tuli," tegur Alby pada Devi. "Bukannya kau jago berkelahi? Seharusnya kau tidak takut Jessica merundungmu jika kau jago berkelahi," ujar Alby.


"Berarti om Alby mengijinkanku untuk berkelahi ya om? Awas saja jika nanti marah-marah kalau mendapat panggilan sekolah karena aku berkelahi."


"Sudahlah lebik baik kau belajar saja. Lihat, Rea terganggu karena suara berisikmu," ujar Alby yang membuat Devi tersinggung.


"Kalau kau merasa terganggu, kau turun saja," ujar Devi pada Rea.


"Dev!"


"Iya-iya aku belajar sekarang. Om Alby kenapa malah membela Rea sih?!" kesal Devi sembari mulai membuka bukunya.


*****


Setelah beberapa jam kemudian akhirnya bel pulang berbunyi. Devi mendesah lega dan segera memasukkan alat tulisnya ke dalam tas ransel miliknya. Try out pertama telah usai dan tinggal menunggu hasil nilainya keluar nanti.


"Dev kau ingin pulang naik bis bersamaku?" tawar Arin sembari berjalan mendekat ke meja Devi.


"Tidak, aku dijemput kak Raden," ujar Devi sembari tersenyum senang.


"Jangan khawatir, kalian kan tahu jika aku jago berkelahi. Kalian tenang saja dan cepat pulang sana sebelum kalian ketinggalan bis," ujar Devi pada Gara dan Arin.


"Aku bisa tinggal dan menemanimu sampai kak Raden tiba. Aku takut Jessica macam-macam padamu," ujar Gara khawatir.


"Tidak apa-apa. Kau pulang saja bersama Arin. Hari ini kau ada pesta ulang tahun sepupumu kan? Kau harus segera pulang dan bersiap-siap," ujar Devi.


Gara dan Arin pun menuruti perkataan Devi. Mereka pun berjalan beriringan sampai di depan sekolah dan setelahnya mereka berpisah dengan Devi yang masih harus menunggu kedatangan Raden.


Sebenarnya Devi tidak tahu siapa yang akan menjemputnya hari ini tapi Devi berharap jika itu Raden. Ingin sekali Devi dijemput Raden lagi dan mengajaknya jalan-jalan sebentar untuk melepaskan penat. Devi benar-benar butuh refreshing setelah beberapa hari terakhir menjalani try out pertama.


Devi pun berjalan menuju ke sebuah bangku panjang yang memang disediakan untuk siswa menunggu jemputan mereka. Namun baru saja Devi melangkahkan kakinya, Devi mendengar suara Jessica yang tengah memanggilnya. Rupanya si menyebalkan Jessica tidak pernah menyerah untuk mencari masalah dengannya padahal kemarin Raden sudah memberinya pelajaran.


"Hoi pahlawan kesiangan! Kau mau kemana?!!" panggil Jessica.


Devi pun membalikkan badannya menatap Jessica dengan ekspresi tidak suka.



"Kau memanggilku?" tanya Devi malas.


"Tentu saja. Kenapa, kau tidak suka?" tanya Jessica dengan raut wajah menyebalkannya.


Devi pun memutar bola matanya malas dan memilih untuk pergi dari hadapan Jessica sebelum ia benar-benar ingin menghajar Jessica saat itu juga.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" tanya Clara sembari mencekal lengan Devi.


"Lepas," desis Devi tajam namun Clara malah semakin menguatkan cekalannya.


"Dimana temanmu Rea? Bukankah seharusnya dia datang membantumu sekarang?" ejek Jessica.


"Kenapa perlu bantuan? Aku saja sendirian berani kok jika hanya melawanmu dan para antek-antekmu. Memangnya dirimu yang beraninya keroyokan? Kenapa? Kau tidak percaya diri bisa menang jika sendirian?" balas Devi sembari tertawa meremehkan dan hal itu membuat Jessica memerah menahan marah.


Plak!!


Jessica menampar pipi Devi dengan keras bahkan pipi Devi yang putih bersih kini menjadi berwarna merah saking kerasnya tamparan Jessica.


"Kau menamparku?!!" tanya Devi tidak terima.


"Ya, kenapa?? Harusnya aku menampar mulutmu!" balas Jessica.


Devi yang tidak terima ditampar Jessica pun mulai menyerang Jessica dan teman-temannya. Devi sudah tidak perduli lagi jika ia menjadi pusat perhatian, bahkan jika nanti ia mendapat panggilan orangtua karena berkelahi Devi juga tidak takut.


"Maju sini kau biar kupukul mulutmu!!" marah Devi sembari menendang Jessica.


Teman-teman Jessica pun tidak tinggal diam, mereka juga ikut membantu Jessica melawan Devi. Kini Devi dan Jessica beserta kedua teman Jessica benar-benar berkelahi.


"Cepat pegang dia!" perintah Jessica pada kedua temannya sembari mencoba menghentikan Devi yang berusaha memukulnya.


"Lepaskan!!!" ujar Devi sembari memukul Clara menggunakan ranselnya.



"Ahhh!!" aduh Clara sembari memegang kepalanya yang terkena pukulan ransel Devi.


"Biar tau rasa!! Maju sini kalau berani, akan kubuat kepalamu gegar otak!!" ujar Devi sembari terus melawan.


Mereka kini terlibat perkelahian yang cukup sengit dan tidak ada satupun siswa yang mau ikut campur dan memisahkan mereka. Bahkan siswa-siswa lainnya pun malah sibuk merekam aksi mereka menggunakan ponselnya masing-masing.


Alby yang saat itu hendak menjemput Devi pun tidak sengaja melihat kejadian itu. Alby pun segera turun dari mobilnya dan berlari untuk memisahkan mereka.


"Dev hentikan!" perintah Alby sembari mencoba menghentikan Devi.


"Kesini kau!! Jangan kalian pikir aku tidak berani melawan kalian!! Aku ini jago berkelahi tahu!! Sini kalau kalian ingin kupukul!!"


"Devi hentikan!!" bentak Alby namun Devi masih terus saja meronta-ronta hendak menyerang Jessica dan teman-temannya yang kini menghentikan aksinya dan pergi menjauh dari Devi.



"Menyingkirlah om!!! Hei kalian mau pergi kemana?!!"


"Dev kubilang hentikan ya hentikan!!" marah Alby sembari mencengkeram lengan Devi dengan kuat yang membuat Devi menghentikan aksinya dan mengaduh kesakitan.


"Sakit om," ujar Devi sembari memegang lengannya.


"Masih mau berkelahi lagi?"


"Tentu saja! Aku belum puas memukul Jessica om! Aku akan mengejarnya. Dia sudah-"

__ADS_1


"Silahkan lanjutkan berkelahi jika kau mau aku mematahkan tanganmu saat ini juga," ancam Alby sembari mengeratkan cengkeramannya pada lengan Devi.


*****


__ADS_2