
Devi dapat melihat dengan jelas raut wajah tidak suka Alby begitu ia memilih pulang bersama Raden. Bukannya apa-apa hanya saja Devi merasa belum saatnya ia berdekatan dengan Alby di saat status Alby masih menjadi pacarnya Laudya.
Selain itu Devi akui ia masih cemburu begitu melihat kedekatan Alby dan Laudya tadi pagi. Bukankah semalam Alby menciumnya dan menyatakan perasaannya? Lalu kenapa ia kembali lagi pada Laudya?
Oh Devi melupakan satu hal. Mereka masih menjadi sepasang kekasih, hubungan mereka belum berakhir jadi wajar saja jika mereka bermesraan berdua.
"Dev kau pulang bersamaku," perintah Alby dingin.
"Om aku datang bersama kak Raden jadi aku pulang juga bersama kak Raden. Lagi pula kami tidak berdua saja kok, ada Arin dan juga Gara di mobil," tolak Devi yang membuat Alby semakin bersungut-sungut.
Rasakan! Siapa suruh bermesraan bersama tante Laudya di pinggir pantai!
"Ayo Dev kita pulang," ajak Raden sembari menggenggam tangan Devi dan membawanya masuk ke dalam mobil membuat Devi terkejut. Diam-diam Devi melirik ke arah Alby yang kini memasang wajah garang ke arahnya.
"Om kita duluan ya," pamit Gara dan Arin.
"Ayo By," ajak Laudya yang pada akhirnya dituruti oleh Alby.
*****
Setelah beberapa jam di perjalanan, mereka pun akhirnya tiba di rumah Alby. Terlihat Ishwari dan Abimanyu yang tengah menyambut kedatangan mereka dengan raut wajah khawatir yang kentara.
Begitu Devi turun dari mobil, Ishwari langsung berjalan mendekat ke arah Devi dan memeriksa apakah terjadi sesuatu pada Devi.
"Kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya Ishwari khawatir.
"Aku baik-baik saja tante," jawab Devi seraya tersenyum.
Hal itu sukses membuat Laudya merasa iri. Seharusnya orang yang dikhawatirkan Ishwari adalah dirinya, bukan Devi!
"Ayah dengar terjadi tanah longsor di sana. Syukurlah jika kalian baik-baik saja. Semalaman ibumu tidak bisa tidur begitu mendengar kabar itu dan kalian masih berada di sana tanpa memberi kabar," ujar Abimanyu seraya merangkul pundak Alby.
"Ayah jangan khawatir, kami baik-baik saja hanya saja jalan untuk pulang tidak bisa dilewati sehingga kami terpaksa menginap di sana," jelas Alby.
"Maaf telah membuat om Abi khawatir. Kami tidak ada jaringan sehingga tidak dapat memberi kabar pada om Abi," ujar Raden sopan.
"Tidak ada jaringan apanya? Aku saja bisa menghubungi orangku," cibir Alby dalam hati.
"Tidak apa-apa yang penting kalian semua baik-baik saja. Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam rumah dan beristirahat. Kalian pasti sangat lelah," ajak Abimanyu namun langsung ditolak oleh Raden.
"Maaf om, sepertinya kami langsung pulang saja. Besok Arin dan Gara harus melaksanakan ujian nasional, jadi kami harus segera kembali ke kota," tolak Raden halus.
"Benar om. Kami harus segera kembali sebelum ibu saya memarahi saya habis-habisan karena bukannya belajar untuk ujian malah pergi liburan," timpal Gara.
"Gara benar om. Kami pamit pulang ya, sebelumnya terima kasih karena menyambut kami dan memperlakukan kami dengan baik meskipun awalnya om Alby menolak kehadiran kami mentah-mentah-"
"Ehem!"
"Ah tidak om. Om Alby sangat menyambut kedatangan kami bahkan om Alby juga menjaga kami saat liburan kemarin. Terima kasih om Alby," ralat Arin begitu Alby memberinya deheman keras padanya.
Ishwari dan Abimanyu pun sontak tertawa mendengar penuturan Arin.
"Tante aku boleh tidak ikut mereka kembali ke kota?" tanya Devi takut-takut.
Ishwari tidak langsung menjawab, ia menoleh ke arah suami dan putranya untuk meminta persetujuan.
"Aku ingin melaksanakan ujian nasional seperti mereka di sekolah bukannya daring di rumah," lanjut Devi mengiba.
"Tidak boleh. Kau ujian di rumah saja. Kau belum sepenuhnya pulih, aku takut terjadi apa-apa padamu," tolak Alby.
"Tapi aku baik-baik saja om. Aku sudah sembuh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dariku. Om Abi, bolehkan aku ikut pergi bersama mereka?" tanya Devi pada Abimanyu.
"Apa yang dikatakan Alby benar. Kamu belum sembuh betulan, lebih baik kamu turuti perkataan Alby," jawab Abimanyu lembut.
"Saya akan menjaga Devi om," sahut Raden tiba-tiba.
Gara segera menyenggol bahu Arin seolah memberi sinyal pada Arin jika akan ada perselisihan yang terjadi di antara Alby dan juga Raden.
"Menjaga apanya? Memangnya kau siapa? Jangan macam-macam dan jangan ikut campur urusan keluarga kami," hardik Alby dengan nada tidak suka yang kentara.
"Alby jaga bicaramu!" tegur Abimanyu pada Alby.
__ADS_1
Devi melirik ke arah Alby yang kini menampilkan wajah garang. Devi tahu Alby pasti marah sekarang apa lagi karena ia memilih pulang bersama Raden tadi pagi membuat emosinya semakin tidak karuan. Tapi sebelum itu kan Alby yang lebih dulu membuat Devi cemburu dengan berpacaran bersama Laudya di pinggir pantai!
"Aku tidak bisa mempercayakan Devi padamu," desis Alby menatap tajam ke arah Raden.
"Ini bukan karena dokter Alby cemburu melihat Devi ingin pulang bersamaku kan dok?" tanya Raden curiga dengan tatapan yang tidak kalah tajamnya dengan Alby.
Devi dapat melihat aura pertempuran sengit di antara keduanya. Devi menjadi serba salah sendiri. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Alby.
"Baiklah, aku tidak jadi ikut mereka," ujar Devi namun baru beberapa detik ia mengatakan hal itu, Devi berubah pikiran. "Tidak! Aku tidak mau!! Om biarkan aku pergi bersama mereka," rengek Devi pada Alby. Bahkan kini Devi sampai memeluk kaki Alby membuat Alby sedikit terkejut namun memilih untuk berdiam diri.
"Om aku ingin ikut ujian seperti yang lainnya di sekolah. Aku tidak mau daring om. Lagi pula ada Gara dan Arin yang akan menjagaku. Boleh ya om?" rengek Devi lagi.
Alby terdiam sembari menatap tajam ke arah Devi membuat Devi menundukkan kepalanya tidak berani menatap Alby.
"Biarkan Devi pergi By," ujar Abimanyu pada Alby.
Alby tampak diam dan berpikir sejenak.
"Baiklah aku mengijinkanmu pergi," ucap Alby pada akhirnya.
"Sungguh?" tanya Devi berbinar bahagia.
"Tapi tidak dengan pergi bersama mereka. Aku sendirilah yang akan mengantarmu pergi ke kota," jawab Alby yang membuat Laudya tersenyum kecut mendengarnya.
"Tidak perlu om, aku bisa pergi bersama mereka," tolak Devi.
"Pergi bersamaku atau tidak pergi sama sekali!" ancam Alby yang membuat Devi tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya.
*****
Sesuai dengan perkataan Alby, kini mereka sedang berada di dalam perjalanan ke kota. Devi sudah tidak dapat melihat mobil Raden lagi yang sebelumnya berada di depannya dan sepertinya Alby memilih mengambil jalan lain asalkan tidak beriringan dengan Raden.
Setelah menghabiskan beberapa jam di perjalanan, mereka pun tiba di sebuah hotel mewah yang terletak tidak jauh dari sekolah Devi.
"Hotel?" tanya Devi begitu Alby menghentikan mobilnya.
"Iya," jawab Alby sembari mematikan mesin mobilnya.
"Apartemennya sudah bisa ditinggali tapi aku tidak mungkin membawamu ke sana. Kau kan punya pengalaman buruk di sana jadi aku tidak mau kau ketakutan begitu kita kembali ke apartemen lama," jelas Alby lembut.
Devi menganggukkan kepalanya paham namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Maaf, gara-gara aku apartemennya tidak bisa ditinggali lagi om," ujar Devi lirih.
"Jangan merasa bersalah. Itu bukan salahmu, ayo kita segera turun dan beristirahat. Hari sudah mulai malam dan besok kau harus melaksanakan ujian nasional," ajak Alby mengubah topik pembicaraan Devi.
Alby pun segera turun dari mobil dan berjalan membukakan pintu untuk Devi.
Setelah mengambil koper dari dalam bagasi, mereka pun berjalan beriringan memasuki hotel.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis ramah.
"Bisa pesan dua buah kamar bersebelahan?" tanya Alby.
"Baik, silahkan ditunggu sebentar."
"Kenapa dua om?" bisik Devi pada Alby pelan.
Alby tersenyum jenaka sebelum akhirnya ia menoleh ke arah Devi yang kini mencebikkan bibirnya sedikit kesal.
"Mbak saya pesan satu kamar saja," ralat Alby memberitahu sang resepsionis.
"Ti....dak jadi dua?" tanya resepsionis sembari menatap Alby dan Devi bergantian.
"Kami bersaudara," ujar Devi seraya tersenyum kikuk.
"Ah baiklah, ini kunci kamarnya. Terima kasih," ujar resepsionis tersebut merasa bersalah karena telah berpikiran jauh pada Devi dan juga Alby.
"Terima kasih."
Setelahnya keduanya segera bergegas menuju kamar mereka yang terletak di lantai sepuluh.
__ADS_1
Ting!
"Resepsionisnya tadi pasti menganggap om Alby pria mesum yang mengencani gadis SMA," ujar Devi keluar dari lift.
"Aku tidak perduli. Biar saja dia berpikir semaunya," jawab Alby enteng sembari membuka pintu kamarnya.
Ceklek!
Devi menatap takjub interior kamar hotelnya yang sangat mewah ditambah dengan pemandangan indah yang memanjakan matanya.
Berbeda dengan Devi yang sibuk mengagumi keindahan kamarnya dan berlari kesana-kemari menjelahi kamar, Alby segera merapikan koper miliknya dan milik Devi.
"Woah kamarnya sangat bagus om, aku sangat menyukainya," ujar Devi terkagum-kagum.
"Jangan naik ke ranjang dulu sebelum mandi oke?"
"Oke," jawab Devi menghentikan aksinya dan berjalan mendekat ke arah Alby yang masih sibuk menata pakaiannya di dalam almari.
"Om mana peralatan mandi, handuk, pakaian dan pakaian dalamku?" tanya Devi enteng sembari berdiri di samping Alby.
Alby yang mendengar pertanyaan Devi langsung tersedak ludahnya sendiri. Bagaimana bisa Devi bertanya hal seperti itu dengan entengnya.
"Dev," panggil Alby lembut sembari memutar tubuhnya menatap ke arah Devi.
"Hm?"
"Lain kali untuk hal pribadi seperti itu jangan bertanya pada laki-laki ya?"
"Kenapa?" tanya Devi bingung.
"Kau kan perempuan, aku laki-laki. Tentu ada beberapa hal mengenai perempuan yang laki-laki tidak perlu mengerti. Misalnya seperti baru saja kau bertanya padaku tentang di mana pakaian dalammu kan?" tanya Alby yang diangguki oleh Devi.
"Lain kali kau tidak boleh bertanya hal seperti itu lagi. Entah itu padaku atau pada orang lain. Itu privasimu. Laki-laki kan seperti serigala, bisa saja ia menyerangmu hanya karena kau bertanya masalah sepele seperti itu. Mengerti?"
Begitu mendengar penuturan Alby, Devi langsung tersadar dan langsung menutup kopernya.
"Ah aku minta maaf om, koperku biar ku bereskan sendiri saja. Aku malu jika om Alby melihatnya," ujar Devi seraya menundukkan kepalanya.
Alby tersenyum. Lalu ia mengangkat dagu Devi agar menatap ke arahnya. Sedetik kemudian Alby mencium kening Devi lama.
"Kau benar-benar menggemaskan. Aku jadi ingin memakanmu," ujar Alby hendak mencium bibir Devi namun Devi segera melepaskan diri dari Alby dan berlari menuju kamar mandi.
"Aku harus segera mandi dan pergi belajar om," teriak Devi yang membuat Alby tertawa kecil melihatnya.
Alby menatap pintu kamar mandi dengan geli, kenapa ia bisa begitu tertarik pada gadis SMA seperti Devi?
Ceklek!
"Aku lupa membawa pakaianku. Om Alby jangan lihat ke mari!!" panik Devi seraya menyembunyikan pakaian dalamnya ke dalam handuknya.
"Iya-iya," jawab Alby tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya.
"Bi Tari salah, Devi sama sekali tidak mirip dengan Icha," lirih Alby.
*****
Di sisi lain Laudya tengah menghubungi seseorang melalui ponselnya. Laudya sangat marah begitu Alby lebih memilih kembali ke kota bersama Devi dan meninggalkan dirinya begitu saja. Sehingga Laudya memutuskan bahwa besok adalah harinya, hari untuk menyingkirkan Devi selama-lamanya.
"Halo."
"....."
"Aku mau besok," ujar Laudya.
"......"
"Aku punya rencana."
Tut..tut..tut...
"Ini akan jadi malam terakhir untukmu Dev. Bersenang-senanglah dulu sebelum menderita di neraka," ujar Laudya menyeramkan.
__ADS_1