Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Cemburu?


__ADS_3

Alby melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik dengan celana kain hitam dan blazer warna senada tengah duduk di ruang tunggu.


Alby pun berjalan mendekat ke arah wanita tersebut. Sadar akan kehadiran Alby, wanita itupun langsung membungkuk hormat dan langsung mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya pada Alby.


"Dokter Alby ya? Saya Meira. Saya sekretaris pak Sean," ujar Meira memperkenalkan diri.


"Ah iya, mari ke ruangan saya."


Alby pun mengajak Meira untuk pergi ke ruangannya agar mereka bisa mengobrol lebih leluasa. Selain itu Alby tidak ingin pembicaraan penting seperti ini dibicarakan di luar yang siapun bisa mendengarnya.


"Silahkan duduk, maaf hanya ada air mineral." Alby mempersilahkan Meira untuk duduk di hadapannya dan segera menyajikan air mineral untuk Meira.


"Tidak apa-apa dokter Alby. Maaf saya merepotkan."


"Tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?"


Kini Alby mulai memasang wajah serius ke arah Meira. Alby penasaran ada tujuan apa Meira datang ke rumah sakit ingin menemui Devi.


"Saya sebetulnya ingin bertemu dengan nona Devi namun sepertinya nona belum siuman dan saya diberitahu oleh pak Sean jika saya ingin bertemu dengan nona Devi, saya harus meminta ijin anda terlebih dahulu," ujar Meira sopan.


Meskipun Meira berusia lebih tua dari Alby, Meira tetap saja bersikap sopan dan memperlakukan Alby seolah Alby adalah atasannya.


"Apa nona Devi sudah kembali mendapatkan ingatannya?" tanya Meira yang membuat Alby terkejut.


Sekretaris Sean tahu Devi mengalami amnesia?


"Ah maaf jika anda berpikir saya lancang bertanya seperti itu. Tapi saya sudah tahu semuanya sejak awal. Sejak saya menjadi sekretaris pak Sean. Dan saya kemari ingin memastikan apakah ingatan nona Devi sudah kembali atau belum ditambah nona mengalami penyerangan seperti itu membuat saya sangat khawatir," tutur Meira sungkan.


"Ah maaf tadinya saya jadi berpikir macam-macam, tapi ternyata pikiran saya salah. Sepertinya anda sangat menyayangi Devi ya?" tanya Alby seraya tersenyum.


"Saya cukup sering mengasuh nona bila nona ikut ayahnya ke kantor dan saya sudah menganggap nona sebagai putri saya sendiri," jawab Meira sembari tersenyum.


Alby menganggukan kepalanya mengerti.


"Tapi saya yakin anda ke mari bukan hanya karena ingin memastikan ingatan Devi kan? Apa anda memiliki sesuatu lain yang ingin anda sampaikan?"


"Benar, tapi saya rasa sekarang bukan waktu yang tepat. Saya akan menunggu umur nona berusia 25 tahun dulu baru saya akan memberitahunya."


"Kenapa tidak sekarang saja? Kenapa harus menunggu tujuh tahun lagi?" Alby menatap bingung pada Meira.


"Karena saat itulah nona harus memimpin dua perusahaan. Wardhana Inc. dan Anggara Inc. tapi dengan kondisi nona yang seperti sekarang ini membuat pemegang saham dan jajaran direksi lain ingin memecat dan menggantikan nona dengan orang lain padahal pak Sean sendiri yang menyerahkan perusahaannya kepada adik semata wayangnya bukan kepada orang lain. Apalagi sekarang Anggara Inc. sedang gencar-gencarnya terjadi perebutan posisi," jelas Meira sedih.


Alby terdiam. Ia tidak tahu ingin berkomentar apa. Jelas kedua perusahaan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya dan ini juga bukan permasalahan yang dapat ia campuri begitu saja.


"Dokter Alby tenang saja. Selama nona Devi baik-baik saja, saya akan menjamin perusahaan juga dalam keadaan baik-baik saja sampai nona Devi menjabat nanti. Jadi karena itu saya mohon tolong jaga dan lindungi nona. Jangan biarkan kejadian seperti ini terjadi lagi," pinta Meira sungguh-sungguh.


"Tanpa anda minta saya pasti akan menjaga dan melindungi Devi. Dia sudah menjadi tanggung jawabku sejak Sean menitipkannya padaku," jawab Alby sedikit tersinggung dengan perkataan Meira.


Kenapa harus minta tolong seperti itu?! Devi celaka kali ini bukan berarti itu karena aku tidak melindunginya. Tapi kuakui itu terjadi karena kelalaianku sendiri.


"Ah saya minta maaf, saya tidak bermaksud apa-apa dan untuk masalah penyerangan ini biar kami yang atasi. Polisi menemukan ponsel nona Devi, ternyata nona merekam semua kejadian hari itu. Itu sudah cukup bukti untuk menjebloskan Ganendra ke dalam penjara. Dan saya telah menyiapkan sebuah rumah untuk kalian tinggali sementara apartement anda masih dalam tahap penyelidikan polisi."


"Tidak perlu. Saya sudah mendapat tempat tinggal untuk kami berdua," tolak Alby.


Meira tampak keberatan namun ia tidak dapat berbuat apa-apa selain menyetujuinya.


"Baiklah, saya permisi dulu. Terima kasih atas waktu yang dokter Alby berikan. Salam untuk nona ya dok dan saya mohon maksud kedatangan saya anda rahasiakan dulu dari nona," pamit Meira.


"Baik akan saya sampaikan dan saya tidak akan mengatakan apa-apa tentang anda pada Devi. Mari saya antar sampai depan."


*****


Setelah menemui Meira, Alby pun bergegas kembali menuju ruang rawat Devi. Pada saat ia melewati ruang IGD, ia melihat Renata yang sedang memeriksa seorang pasien.


Renata di sini? Lalu Devi?


Alby pun langsung bergegas menuju ruang rawat Devi dengan setengah berlari.

__ADS_1


Pada saat Alby tiba di depan ruang inap Devi, Alby langsung membuka pintu tersebut namun kedua mata Alby langsung membulat sempurna begitu ia melihat adegan yang ada di hadapannya.


Devi tengah berciuman dengan Raden. No! Tapi Raden yang tengah mencium Devi yang masih berbaring di ranjang.


Untuk seperkian detik Alby hanya diam tertegun sebelum akhirnya ia merasakan sesuatu yang asing merasuk ke dalam hatinya. Sesuatu yang sedikit menyakitkan ditambah rasa sesak yang tiba-tiba menjalar memenuhi dadanya.


Perasaan macam apa ini? Masa iya aku terserang penyakit?


Alby pun berjalan mundur dan kembali menutup pintu tersebut dengan pelan agar tidak mengganggu kedua insan yang tengah menyalurkan perasaannya.


Alby berniat pergi untuk menemui Renata. Ia minta periksa saja pada Renata apakah ia mengalami masalah dengan dadanya. Namun baru saja beberapa langkah ia berjalan, Alby teringat siapa Raden sebenarnya dan niat awal Raden pada Devi.


Begitu teringat hal tersebut, ia langsung berbalik dan langsung kembali menuju ruang inap Devi.


Brak!


Alby membuka pintu dengan kasar. Nafasnya memburu karena ia khawatir dengan apa yang akan dilakukan Raden pada Devi. Namun nyatanya begitu ia membuka pintu Raden sudah tidak ada dan hanya menyisakan Devi yang kini tengah menangis.


Dengan langkah lebar, Alby mendekat ke ranjang Devi.


"Ada apa? Kenapa kau menangis? Raden tidak menyakitimu kan? Dia tidak berbuat sesuatu padamu kan?" cecar Alby.


Devi hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus saja mengalir di kedua pipinya.


"Lalu apa? Apa luka operasinya sakit? Apa cedera di kepalamu juga sakit? Ayo beritahu aku biar aku tahu di mana yang sakit," ujar Alby sembari menyentuh sisi wajah Devi dan menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Devi tidak menjawab, ia hanya sibuk menangis. Alby menghela nafasnya pelan dan memilih menunggu sampai Devi mulai tenang sendiri.


Setelah beberapa saat menunggu, Devi pun mulai tenang. Alby memberanikan diri untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dengan melihat pakaian Raden yang tampak hitam-hitam dan tidak mengenakan pakaian kerjanya membuat Alby curiga Raden telah melakukan sesuatu pada Devi.


"Apa Raden menyakitimu?" tanya Alby khawatir.


"Apa om Alby tahu jika kak Raden ingin membunuhku?" tanya Devi dengan kedua mata berkaca-kaca.


Alby terkejut sebentar sebelum pada akhirnya kedua tangannya mengepal erat tanda ia sedang marah.


"Apa yang kau ingat?" tanya Alby khawatir.


Devi pun menceritakan semuanya tanpa terlewat satupun pada Alby. Bagaimana awal mula dendam itu terbentuk hingga Raden yang mengurungkan niat untuk membunuhnya dan berakhir malah menciumnya.


"Jadi Sean menjadi jaksa karena-" Alby tidak kuasa meneruskan kalimatnya.


"Benar. Kakak ingin memenjarakan ayah, tapi sebelum hal itu terjadi, ayah sudah lebih dulu terbunuh ayah kak Raden. Om Alby pasti jijik padaku, ayahku pemilik bisnis perdagangan manusia yang setiap saat membunuh dan mengambil organnya sedangkan om Alby di sini berjuang mati-matian agar pasien bisa selamat dan melanjutkan hidup," jawab Devi sendu.


Alby tidak berkata apapun. Perlahan ia mendekat ke arah Devi dan mencium kening Devi dengan lembut.


"Apapun itu, terima kasih telah bercerita hal yang sebenarnya sangat sulit untuk kau ceritakan. Aku tidak perduli latar belakangmu dan aku tidak jijik padamu. Bukan kau yang menjalankan bisnis itu jadi kau tidak perlu merasa bersalah begitu." Alby mengusap pelan rambut Devi.


"Maaf," lirih Devi.


"Untuk apa?"


"Apartementnya jadi rusak dan sekarang pasti tidak bisa ditinggali karena sedang diselidiki polisi."


"Tidak masalah. Kau jangan berpikir macam-macam dulu. Kau harus fokus pada kesehatanmu. Perutmu tertusuk dan kepalamu cedera, bukankah lebih bagus jika kau fokus pada penyembuhanmu?" tanya Alby lembut sembari tersenyum.


Devi membalas senyum Alby membuat Alby sedikit lega.


"Lalu apa yang dilakukan Raden kemari? Apa ia berhasil melukaimu?" tanya Alby cepat.


"Tidak. Aku menggagalkannya dan aku menceritakan semua ingatanku pada kak Raden."


"Lalu?"


"Kak Raden bisa menerimanya tapi aku tidak tahu kalau ayahnya bagaimana. Tapi yang jelas kak Raden ingin mengakhiri dendam keluarga kami."


"Mengakhiri?" tanya Alby memastikan pendengarannya.

__ADS_1


"Iya. Kak Raden tidak ingin memperpanjang dendam ini karena sejujurnya kak Raden tidak ingin membunuhku."


"Kenapa?"


"Karena kak Raden mencintaiku. Kak Raden malah memintaku untuk menjadi pacarnya dengan begitu dendam kedua keluarga kami dapat berakhir dengan adanya hubungan kami," jawab Devi.


Alby diam tertunduk sebentar. Melihat Raden yang mencium Devi seperti itu pasti Devi menerima cinta Raden. Bukankah Devi memang menyukai Raden sejak lama?


Perlahan wajah Alby terangkat dan menatap Devi dengan tersenyum.


"Kau pasti senang sekali karena memiliki seorang pacar, apa lagi itu adalah orang yang kau sukai cukup lama," ujar Alby.


"Aku malah sedih om," cicit Devi.


Alby mengernyitkan dahinya bingung.


Kenapa malah sedih?


"Jika dulu aku akan sangat bahagia jika kak Raden memintaku menjadi pacarnya tapi sekarang aku tidak merasa demikian. Meskipun aku menyukai kak Raden tapi aku tidak ingin bersamanya. Aku menolaknya."


"Karena aku mulai mencintaimu om," lanjut Devi dalam hati.


Entah mengapa begitu ia mendengar jawaban Devi, rasa sesak yang ia rasakan perlahan hilang. Ada rasa bahagia tersendiri yang timbul di hatinya.


"Tapi kau tadi berciuman dengannya, kupikir kau menerimanya," ujar Alby mengingatkan.


Mata Devi membulat sempurna mendengar perkataan Alby.


"Om Alby lihat?" panik Devi.


"Tidak sengaja."


"Itu ciuman perpisahan katanya."


"Lain kali jangan mau dibodohi! Mana ada ciuman perpisahan! Dia pasti menciummu karena nafsu, untung saja ia tidak 'menyerangmu!' betulan," omel Alby.


"Kenapa om Alby jadi mengomeliku?!! Om Alby dulu kan juga pernah menciumku malah om Alby menggigit bibirku, berarti om Alby melakukan hal itu juga karena nafsu ya?!!" balas Devi yang membuat Alby memelototkan matanya.


"Mana ada aku begitu?!! Aku tidak seperti itu!" sanggah Alby.


"Tidak seperti itu apanya?! Ciuman om Alby malah lebih brutal dari kak Raden!"


Alby semakin terkejut mendengar penuturan Devi. Bagaimana Devi bisa berbicara hal sejujur itu?!! Bahkan Alby yang mendengarnya pun malu sendiri.


"Kau belum sembuh jadi jangan berbicara aneh-aneh!" tegur Alby yang membuat Devi mengerucutkan bibirnya kesal.


Alby pun mengambil tisu dari meja samping ranjang Devi dan langsung mengusapkannya pada bibir Devi.


"Kenapa mengelap bibirku?" tanya Devi bingung.


"Kenapa apanya? Aku hanya ingin mencoba tisu baru ini. Apa ini lembut?" alibi Alby dan secara polos Devi menganggukkan kepalanya begitu Alby bertanya tentang tisunya.


"Kalau begitu aku akan memberitahu direktur agar menggunakan tisu ini saja," jawab Alby enteng yang membuat Devi mengernyitkan dahinya tidak paham.


"Om Alby kenapa sering sekali berhubungan dengan direktur? Seperti om Alby ini menantunya saja," cibir Devi.


"Sepertinya akan seperti itu," jawab Alby santai.


"Hah?"


"Pak direktur adalah ayah Laudya."


"Apa?!!!!"


*****


Tbc

__ADS_1


__ADS_2