
Cukup lama Devi berdiam diri di dalam mobil namun sepertinya Alby tidak kunjung kembali. Devi pun berinisiatif untuk menyusul Alby karena ia takut terjadi sesuatu di depan sana pada Alby.
Ketika hendak membuka pintu mobil, Devi teringat larangan Alby yang melarangnya keluar dari mobil dan memintanya untuk menunggunya di dalam mobil. Namun bukan Devi namanya jika ia menuruti perkataan Alby begitu saja. Karena rasa khawatirnya yang tinggi, Devi pun memutuskan untuk pergi menyusul Alby.
Tampak beberapa warga yang tengah bergumul memenuhi jalan dan samar-samar Devi dapat mendengar telah terjadi kecelakaan.
Kecelakaan? Siapa yang kecelakaan?
Dengan langkah pelan, Devi pun memberanikan diri untuk menerobos kerumunan tersebut untuk melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi. Selain itu siapa tahu saja di depan sana ada Alby juga.
Saat hendak menerobos, mata Devi tidak sengaja melihat Raden dan juga Fitra yang tengah berlari mendekat kearah korban kecelakaan tersebut.
Seolah mendapatkan keberanian, Devi pun segera menerobos kerumunan tersebut dan ia berhasil berada di barisan paling depan.
Darah!
Satu kata yang Devi lihat begitu ia tiba di barisan paling depan. Devi melihat darah yang mengucur dari salah satu kaki korban kecelakaan tersebut. Devi juga dapat melihat Alby, Raden dan juga Fitra yang tengah menyelamatkan pasien melalui pertolongan pertamanya. Bahkan samar-samar Devi juga masih dapat mendengar percakapan mereka.
"Saat menabrak pembatas jalan dia terkena stir di bagian dada dengan keras lebih tepatnya jantung tapi belum sampai tamponade jantung, tapi ada sedikit pendarahan. Cepat suruh ambulance mendekat kesini!!!" perintah Alby yang samar-samar di dengar Devi.
Namun tiba-tiba saja sebuah ingatan mimpi buruknya kembali berputar-putar memenuhi kepalanya.
"Om," lirih Devi.
Devi merasa kepalanya sangat sakit sekali hingga rasanya ingin pecah. Bayangan sebuah kecelakaan kembali berputar memenuhi memorinya. Keringat dingin mulai mengucur memenuhi keningnya, nafasnya memburu dan badannya bergetar ketakutan.
'Devi sayang tenanglah'
'Aku akan menyelamatkanmu, tenanglah'
'Pakai sabuk pengamanmu, kita akan pergi dari sini,'
Devi memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ingin sekali Devi menghantamkan kepalanya ke aspal agar ingatan itu hilang dari kepalanya.
"Om," lirih Devi sembari menangis.
'Kau pikir aku akan menyelamatkanmu?'
'Pergilah dengan tenang sayang'
Devi merasa kepalanya semakin berat dan sakit. Kini ia merasa dunianya sedang berputar dan tidak lama kemudian dia jatuh pingsan. Samar-samar ia masih mendengar suara Raden yang memanggil namanya sebelum pada akhirnya kegelapan kembali merenggutnya.
*****
Setelah selesai melakukan operasi dadakan, Alby pun segera pergi menemui Raden untuk menanyakan keadaan Devi.
"Pindahkan pasien ke ruang ICU dan terus awasi," perintah Alby pada Fitra.
"Baik dok," jawab Fitra.
Alby pun segera menuju pusat informasi dan bertanya dimana Devi berada.
"Dokter Alby, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat yang berada di pusat informasi.
Belum sampai Alby menyebut nama Devi, Raden sudah terlebih dahulu menghampirinya dan memanggil namanya.
"Dokter Alby," panggil Raden sembari melambaikan tangannya pada Alby.
"Tidak jadi, aku sudah mendapatkannya," ujar Alby pada perawat tersebut.
Raden pun berjalan mendekat kearah Alby dan segera mengajaknya untuk segera pergi ke ruang rawat Devi.
"Bagaimana kondisi Devi?" tanya Alby khawatir.
"Devi baik-baik saja. Semuanya normal, tapi-"
"Tapi apa? Kau jangan berbicara setengah-setengah!" tegur Alby sembari menatap Raden nyalang.
__ADS_1
"Di perjalanan tadi Devi tidak henti-hentinya berkata 'tolong'. Dia seperti meminta tolong dok. Apa Devi pernah mengalami suatu peristiwa tragis yang membuatnya seperti itu?" tanya Raden yang membuat Alby menghentikan langkahnya menatap Raden.
"Kupikir aku tidak punya alasan untuk memberitahumu. Cukup disini saja, aku akan pergi ke ruang rawat Devi sendirian dan kau awasi pasien kecelakaan yang baru saja ku operasi tadi," perintah Alby pada Raden.
"Ta..tapi dok."
"Bukankah seharusnya itu pasienmu?! Aku sudah cukup berbaik hati membantumu menyelamatkan nyawanya dan sekarang kau tinggal mengawasinya saja kau tidak mau? Jika kau tidak mau maka berhentilah menjadi seorang dokter!" sarkas Alby.
Setelahnya, Alby pun segera pergi meninggalkan Raden yang berdiri menunduk menyadari kesalahannya. Alby benar, tidak seharusnya ia ingin tahu masalah orang lain. Tapi ini adalah Devi, mana mungkin Raden membiarkannya begitu saja jika ada masalah? Ah sudahlah lebih baik ia segera pergi ke ruang ICU untuk mengawasi kondisi pasiennya.
Alby yang sudah menemukan ruang rawat Devi pun segera masuk ke dalamnya. Begitu masuk, Alby dapat melihat Devi yang tengah tertidur dengan wajah pucatnya. Perlahan Alby pun mendekat kearah Devi dan memperhatikan wajah pucat Devi dengan seksama.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Alby pada perawat yang sedang membenarkan selang infus Devi.
"Tekanan darah dan saturasi oksigennya normal semua dok. Mungkin sebentar lagi pasien akan sadar," jawab perawat tersebut sopan.
Setelah perawat tersebut pergi, Raka yang mengetahui kondisi Devi pun masuk ke dalam dan berdiri di samping Alby.
"Benar dugaanku. Amnesia yang kau tanyakan padaku kemarin itu dialami Devi kan? Kau dan Devi bukan saudara kandung," ujar Raka yang enggan dibalas oleh Alby.
Raka melirik kearah Alby sebentar sebelum akhirnya ia menghembuskan nafasnya kasar.
"Alby aku belum berani melakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum mendapat ijin darimu. Kau yakin tidak ingin melakukan pemeriksaan untuk mendiagnosis amnesia yang dialami Devi?" tanya Raka.
"Itu akan sulit."
"Sulit apanya? Bukankah mumpung Devi berada disini kita harus melakukan pemeriksaan tersebut agar Devi tidak tahu? Kita bisa bilang kalau itu untuk pemeriksaan tambahan biasa. Kita harus melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk pemeriksaan neurologis (fungsi sitem syaraf). Lalu untuk memastikan diagnosis, kita bisa melakukan tes penunjang seperti tes kognitif¹, tes darah², MRI³ atau EEG⁴ pada Devi."
"Jangan ngawur. Sudahlah kau pergi saja, biar kupikirkan dulu saranmu."
"Aku menunggu jawabanmu."
Akhirnya Raka pun pergi dari ruang rawat tersebut dan hanya menyisakan Alby seorang.
Alby memilih duduk di samping brankar Devi sembari terus menatap kearah Devi dengan otak yang terus saja memikirkan saran Raka. Haruskah ia setuju melakukan serangkaian tes mumpung Devi masih dirawat di rumah sakit?
Tiba-tiba saja Devi bergerak gelisah. Kedua matanya masih tertutup rapat namun ia terus mengigau dan meminta tolong sembari menangis.
"Tolong selamatkan saya..."
"Hei, ada apa?" tanya Alby lembut sembari menenangkan Devi.
"Selamatkan saya..."
"Dev, hustt tenanglah. Aku disini, jangan takut. Kau akan baik-baik saja," ujar Alby menenangkan Devi dan membelai lembut kepala Devi.
Tidak lama kemudian Devi pun mulai tenang. Alby merapikan anak rambut Devi yang berantakan dan bahkan Alby juga menghapus air mata di pipi Devi dengan lembut.
"Om," ujar Devi membuka kedua matanya.
"Hei, kau sudah sadar?" tanya Alby lembut.
"Om huaaa...."
Devi pun langsung menangis keras dan memeluk Alby dengan erat. Alby pun segera mengelus punggung Devi lembut agar Devi mulai tenang.
"Hustt jangan takut. Aku disini, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian," ujar Alby.
Tanpa Alby sadari, Raden yang niatnya ingin menjenguk Devi sebentar sebelum ia pergi ke ruang ICU pun melihat Alby yang tengah menenangkan Devi dalam pelukannya. Entah mengapa Raden sedikit tidak rela jika Devi berada dalam dekapan orang lain. Namun sekarang rupanya Devi sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja dan Raden memaklumi pelukan Alby pada Devi.
Setelah dirasa Devi sudah mulai tenang, Alby pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Devi yang sembab.
"Ada yang sakit tidak?" tanya Alby perhatian.
"Ada," jawab Devi sembari terus menangis.
"Yang mana?" tanya Alby khawatir.
__ADS_1
"Kepalaku sedikit sakit om," rengek Devi sembari menunjuk kepala bagian belakangnya.
Alby pun segera memeriksa kepala bagian belakang Devi. Bahkan kini pikiran Alby melayang kemana-mana. Apakah ini efek Devi mengingat kejadian kecelakaan yang dialaminya itu? Namun begitu melihat sedikit luka yang berada di kepala bagian belakangnya, Alby sedikit lega.
"Kepalamu terluka karena kau pingsan dan kepala bagian belakangmu terbentur aspal," jelas Alby mencoba menahan marah. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Raden?!! Kenapa ia sampai tidak tahu ada luka di kepala bagian belakang Devi?!! Lihat saja jika ia bertemu dengan Raden nanti, Alby akan memarahinya habis-habisan karena tidak teliti dalam menangani pasien!
"Berdarah tidak om?" lirih Devi.
"Tidak," jawab Alby bohong karena jika ia jujur dan mengatakan ada sedikit darah di kepala bagian belakangnya, Devi mungkin akan ketakutan lagi.
"Aku akan mengobatinya," ujar Alby sembari beranjak keluar untuk mengambil obat-obatan dan peralatan.
"Om Alby jangan pergi," cegah Devi sembari menahan lengan Alby.
"Hanya sebentar. Aku hanya pergi untuk mengambil obat dan setelahnya aku akan kembali lagi," bujuk Alby namun Devi tetap tidak mau melepaskan lengannya.
"Aku takut sendirian om," lirih Devi.
"Tapi kepalamu harus segera diobati," ujar Alby.
"Panggil kak Raden saja. Suruh dia mengobati kepalaku."
"Raden masih sibuk. Aku tahu siapa yang harus mengobati kepalamu," ujar Alby sembari menatap Devi dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Siapa om?"
"Dokter Raka."
Entahlah ini keputusan yang diambil Alby sudah benar atau belum tapi yang pasti kali ini ia akan mencoba saran dari Raka. Devi memang harus menjalani tes untuk mendiagnosis amnesianya atau ada tidaknya kerusakan otak yang lain sebelum terlambat.
"Raka aku mau kau melakukan EEG pada Devi sekarang juga," ujar Alby pada Raka melalui sambungan teleponnya. Alby sengaja menggunakan kata yang tidak dimengerti oleh Devi agar Devi tidak curiga.
"Maaf Sean, kali ini aku menggunakan keputusanku sendiri," ujar Alby dalam hati.
*****
FYI.
Tes kognitif, untuk memeriksa kemampuan berpikir dan mengingat,
Tes darah, untuk mendeteksi infeksi pada otak,
MRI atau CT scan, untuk melihat adanya kerusakan, perdarahan, dan tumor otak,
EEG atau elektroensefalogram adalah tes yang mengukur aktivitas listrik di otak menggunakan cakram logam kecil (elektroda) yang dipasang di kulit kepala.
Untuk mendeteksi seseorang mengalami amnesia atau tidak, banyak cara yang bisa dilakukan salah satunya EEG itu sendiri.
__ADS_1
Semoga informasi ini dapat membantu ya;)
Cr. Google