Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Ujian dari Abimanyu


__ADS_3

"Pelan-pelan Sep! Jangan sampai kita ketahuan," lirih Devi sembari berjalan mengendap-endap di depan Asep.


Kini mereka berdua tengah berusaha keluar dari rumah tanpa ketahuan. Pagi-pagi buta sekali Devi sengaja membangunkan Asep yang sekarang sudah tinggal di paviliun rumah Abimanyu dan memintanya untuk menemaninya pergi ke jalan bercabang yang ia tanyakan pada Alby tadi malam. Bahkan Devi harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melepaskan diri dari pelukan Alby tanpa membangunkannya karena jika Alby terbangun, Devi bisa pastikan rencananya akan gagal total.


"Non ini kita mau ke mana?" tanya Asep takut.


"Kita keluar dulu dari rumah, nanti aku jelaskan," jawab Devi.


Setelah sebisa mungkin tidak menimbulkan suara dan berjalan mengendap-endap tanpa ketahuan, akhirnya mereka pun berhasil keluar dari rumah.


"Ayo Sep!" Devi menarik tangan Asep.


"Tunggu dulu non! Kita mau ke mana?" tanya Asep menghentikan langkah Devi.


"Jalan-jalan!" jawab Devi asal sembari terus menarik tangan Asep.


"Non Devi tidak mengajak saya kabur ke kota lagi kan? Saya tidak mau dipecat den Alby non."


"Siapa juga yang mau kabur ke kota hanya mengenakan piyama seperti ini. Aku hanya ingin pergi ke jalan bercabang yang berada di ujung jalan sana Sep. Kau tahu kan?"


"Hah untuk apa kita ke sana pagi-pagi buta seperti ini non? Nanti kalau ada hantunya bagaimana? Di sana ada bangunan tua terbengkalai lho non, pasti banyak setannya," tolak Asep panik.


"Tidak ada hantunya. Di zaman sekarang manusia lebih menyeramkan daripada hantu jadi kau tenang saja dan jangan cerewet atau kita akan ketahuan sebelum sampai ke tempat tujuan," ujar Devi yang membuat Asep langsung bungkam dan mau tidak mau menuruti Devi.


"Tujuan? Kalian pagi-pagi seperti ini mau pergi ke mana?"


Deg! Suara itu!!


Devi langsung membalikkan badannya dan ia sangat terkejut begitu mendapati Alby sudah berdiri di belakangnya sembari bersilang dada.


"Om Alby... om Alby kok ada di sini?" tanya Devi kikuk.


"Sep kalian mau pergi ke mana?" tanya Alby pada Asep.


"Anu den ehm...."


Devi segera memberi isyarat pada Asep agar Asep tidak mengatakan ke mana mereka akan pergi namun sepertinya Asep tidak paham dengan isyarat yang dimaksudkan oleh Devi.


"Ke mana Sep?" ulang Alby.


"Anu den, non Devi mengajak saya ke jalan-"


"Jalan-jalan om! Iya jalan-jalan. Aku sengaja meminta Asep untuk menemaniku jalan-jalan pagi," potong Devi sebelum Asep mengatakan yang sejujurnya.


"Eh? Bukannya non Devi tadi minta ditemani-"


"Naik kuda! Iya Sep, awalnya aku ingin memintamu menemaniku naik kuda tapi tidak jadi karena aku berubah pikiran dan ingin jalan-jalan," potong Devi lagi.


"Sep-"


"Sep cepat kembali ke kamarmu, aku tidak jadi jalan-jalan. Sana kembali!"


Devi segera meminta Asep untuk kembali ke kamarnya sebelum Alby bertanya macam-macam padanya.


"Ayo om kita kembali ke kamar. Ini masih pagi, aku kedinginan," ajak Devi sembari menarik tangan Alby agar segera masuk ke dalam rumah.


"Kenapa terburu-buru sekali? Bukankah kau ingin jalan-jalan?" tanya Alby.


"Tidak jadi. Di luar masih gelap, aku takut bertemu hantu," jawab Devi tanpa melepaskan tangannya dari Alby dan terus menarik tangan Alby ke dalam rumah.


"Jadi alasan sebenarnya kau tidak jadi jalan-jalan itu yang mana? Takut hantu, dingin, masih gelap atau karena ingin naik kuda? Atau sebenarnya kau ingin pergi ke suatu tempat tanpa sepengetahuanku?" pancing Alby yang membuat Devi segera melepaskan tangan Alby dan berlari memasuki kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya.


Dia ketahuan!


Melihat Devi yang berlari meninggalkannya sepertinya kalimat terakhirnyalah yang menjadi tujuan Devi mengajak Asep diam-diam pergi dengan alasan jalan-jalan.

__ADS_1


Ini tidak bisa dibiarkan, ia harus segera menemui Asep. Alby pun bergegas menuju kamar Asep.


"Den Alby, ada apa ke mari?" bingung Asep yang saat itu hendak membuka pintu kamarnya dan melihat kedatangan Alby dengan raut wajah khawatirnya.


"Jangan katakan apapun pada Devi jika pernah terjadi kecelakaan di dekat jalan bercabang di ujung jalan itu dan kau harus ingat, jangan biarkan Devi mendekat ke bangunan itu satu sentimeter pun," ujar Alby penuh penekanan.


"Memangnya kenapa Den?"


"Cukup turuti perkataanku Sep dan jangan bertanya lebih lanjut mengenai hal itu," jawab Alby sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan Asep.


*****


"Selamat pagi tante Ishy dan om Abi," sapa Devi riang sembari duduk di dekat Alby.


"Pagi sayang," jawab Ishwari.


"Pagi juga Dev," jawab Abimanyu.


"Kau tidak menyapaku?" tanya Alby sembari bersilang dada menatap Devi.


Baru saja Devi hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Alby, Alby sudah lebih dulu membungkam Devi dengan perkataannya.


"Oh tentu saja tidak, tadi pagi kan kita sudah bertemu," ujar Alby yang membuat Devi gelagapan sendiri.


"Ten...tentu saja bertemu, bukankah kita tidur bersama?" balas Devi kikuk. Jangan sampai Alby mengatakan di hadapan kedua orangtuanya jika mereka bertemu di luar rumah tadi pagi.


"Iya, tapi setelahnya kau mengunciku di luar. Begitu kau bilang ingin merawatku sampai sembuh," cibir Alby.


"Maaf om, aku lupa jika om Alby juga ingin tidur di kamarku," jawab Devi membela diri.


"Kalian tidur bersama lagi?" tanya Abimanyu menghentikan perdebatan kecil keduanya.


"Iya om, tapi kami tidak melakukan apa-apa kok om. Sungguh! Om Alby bilang ia tidak bisa tidur tanpa memelukku mangkanya aku mengijinkannya tidur bersamaku. Lagipula aku sudah berjanji akan merawat om Alby sampai sembuh om," jawab Devi cepat.


Berbeda dengan Devi yang tampak panik, Alby malah dengan santainya mulai menyendokkan nasi ke piringnya.


"Maafkan aku om, tapi kami benar-benar tidak melakukan hal lain selain tidur. Om Abi tidak percaya padaku ya?" cicit Devi.


"Om percaya padamu tapi om tidak mempercayai serigala satu ini," ujar Abimanyu menunjuk Alby.


"Kenapa jadi aku yah? Memangnya apa yang bisa kulakukan pada Devi? Meskipun aku pria dewasa, aku tahu kok mana batasan yang tidak boleh dilanggar pada seorang gadis kecil," protes Alby.


"Aku sudah besar!" protes Devi tidak terima disebut gadis kecil oleh Alby.


"Baiklah-baiklah, gadis besar. Aku tidak mungkin melakukan sesuatu pada gadis besar," ralat Alby sembari menatap Devi. "Bagaimana?" lanjut Alby.


"Om Alby sudah benar," jawab Devi sembari mengacungkan jari jempolnya.


"Dev setelah ini kau ingin lanjut ke mana?" tanya Abimanyu mengabaikan jawaban Alby.


Devi menoleh ke arah Alby yang juga tampak ingin tahu akan jawabannya.


"Mungkin aku akan coba ke universitas Indonesia dan ambil jurusan bisnis om," ujar Devi ragu.


"Mungkin? Jangan bilang kau masih ragu dengan pilihanmu?" tanya Abimanyu yang membuat Devi semakin gugup.


Tidak biasanya Abimanyu bertanya sampai seperti ini. Apalagi Abimanyu yang biasanya berkata lembut dan perhatian kini menjadi tegas dan terkesan menuntut. Daripada seorang ayah yang bertanya pada putrinya, Abimanyu malah terlihat seperti sedang menyeleksi menantunya. Tunggu dulu! Menantu?


"Aku masih belum yakin om. Dengan nilaiku yang seperti itu membuatku pesimis bisa diterima di UI," jawab Devi jujur.


"Sayang jangan merusak suasana di pagi hari kita. Bukankah kamu juga tahu kalau Alby tidak mungkin macam-macam pada Devi? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" ujar Ishwari menengahi.


"Memangnya kenapa? Apanya yang salah dengan pertanyaanku? Aku ini seorang ayah tentu saja aku harus memposisikan diriku sendiri sebagai ayahnya Devi juga. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Devi? Sebagai seorang ayah tentu saja aku khawatir akan hal itu. Tidak ada seorang ayah yang rela putri kecilnya disakiti ataupun dilecehkan," jawab Abimanyu membela diri.


"Wah aku sangat tersinggung dengan kalimat terakhir ayah. Bagaimana bisa ayah menyebut putra kandung ayah sendiri sebagai pria cabul?" Alby menatap tidak percaya ke arah Abimanyu.

__ADS_1


"Kalau kau tidak melakukan hal macam-macam ya sudah. Tidak perlu protes seperti itu," balas Abimanyu.


"Aku sudah menganggap Devi sebagai putri kandungku sendiri bahkan aku sangat menyayanginya mangkanya aku khawatir padanya," lanjut Abimanyu yang membuat mata Devi berkaca-kaca karena terharu dan merasa sedih di saat yang bersamaan.


Devi terharu karena Abimanyu menyayanginya dan mengkhawatirkannya seperti putri kandungnya sendiri. Di sisi lain Devi juga sedih karena Devi tidak ingin menjadi seorang putri dari Abimanyu Pradana melainkan seorang menantu dan istri dari Alby Wisnu Pradana.


"Wah aku merasa seperti putra yang dibuang," canda Alby. Ia tahu apa maksud ayahnya. Ayahnya hanya tidak ingin putri kecilnya di sakiti oleh siapapun terlepas itu Alby sekalipun. Tapi hal itu kan tidak mungkin terjadi karena meskipun Alby terkadang gemas pada Devi, Alby kan hanya berani menciumnya saja tidak lebih. Masa yang seperti itu disebut pelecehan?


"Sejak dapat Devi kan kamu memang sudah ayah buang," balas Abimanyu menyeimbangi candaan Alby.


Ishwari yang awalnya berpikir perdebatan ini akan memanas pun mendesah lega karena hal ini berakhir dengan saling bercanda.


"Tapi kemarin saat Alby kritis ayah menangis sepanjang malam di samping brankar Alby," balas Alby.


"Bukan aku, tapi ibumu. Tanya saja padanya," sanggah Abimanyu.


"Mana ada! Aku memang menangis tapi tidak separah dirimu," balas Ishwari.


Setelahnya ketiganya pun tertawa bersama sedangkan Devi hanya tersenyum kecut melihatnya. Apa ia tidak memiliki harapan untuk menjadi menantu keluarga Pradana?


Abimanyu tampak terdiam sebentar sebelum akhirnya ia menatap ke arah Devi dengan tatapan lembutnya.


"Maaf jika aku menyinggung perasaanmu. Om sama sekali tidak ada niatan apapun padamu."


"Tidak apa-apa om. Aku malah merasa senang om Abi sangat menyayangiku seperti putri om Abi sendiri," jawab Devi cepat.


"Kau tidak ingin menjadi putri angkatku ya?" tanya Abimanyu di luar prediksi Devi.


"Eh apa maksud om Abi. Tentu saja aku mau! Aku mau menjadi adik angkat om Alby kok," ralat Devi yang membuat Alby langsung menatap Devi tajam.


"Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya. Besok aku akan mengurus kartu keluarga untuk memasukkanmu ke dalam keluarga kami," ujar Abimanyu tersenyum lebar.


Berbeda dengan Abimanyu, Alby langsung melayangkan tatapan protesnya pada Devi. Kenapa Devi menyetujuinya??


"Aku menolak!" tolak Alby terang-terangan.


"Terserah, aku tidak perduli pendapatmu karena yang penting Devi mau," acuh Abimanyu.


"Itu karena Devi takut padamu yah! Tidak bisakah ayah lihat kami saling mencintai? Kenapa ayah malah ingin menjadikan kami saudara alih-alih menjadi sepasang suami istri?"


"Jika Devi mencintaimu dia tidak akan mau menjadi putri angkatku, tapi lihatlah kenyataannya! Devi mau menjadi putriku itu tandanya Devi tidak mencintaimu," jawab Abimanyu yang membuat Alby mengepalkan tangannya erat menahan emosinya.


"Ikut aku, kau harus memberi penjelasan padaku!" perintah Alby dingin sembari bangkit dari duduknya meninggalkan meja makan dengan penuh amarah.


"Om tante Devi permisi dulu ya," pamit Devi cepat-cepat menyusul Alby.


Begitu Alby dan Devi pergi, Ishwari langsung menatap suaminya tajam sembari bersilang dada.


"Lihat kekacauan yang telah kau buat!! Tidak bisakah kau menahan ucapanmu? Bukankah kau tahu jika Alby mencintai Devi? Kenapa kau malah menjadikan Devi sebagai putri angkatmu alih-alih menjadikannya menantumu?!!" marah Ishwari hingga ia bangkit berdiri.


"Tenang dulu sayang," bujuk Abimanyu mencoba menenangkan istrinya agar kembali duduk ke kursinya.


"Bagaimana aku bisa tenang?!! Lihat apa yang kau lakukan!!"


"Aku tahu. Aku juga merestui hubungan mereka dan aku juga ingin Devi menjadi menantuku bukan putriku. Jangan marah, duduklah aku akan menjelaskannya padamu," bujuk Abimanyu lagi.


Ishwari pun kembali ke tempat duduknya semula.


"Bukannya aku tidak merestui hubungan mereka bahkan aku juga tidak mempermasalahkan perihal mereka tidur bersama karena tentu saja aku mempercayai putraku yang tidak mungkin melanggar batas sebelum waktunya. Aku hanya menguji hubungan mereka. Aku ingin tahu bagaimana cara mereka mengatasi permasalahan ini. Mereka dua orang dengan kepribadian dan umur yang sangat berbeda. Jika mereka menikah tentu saja akan muncul masalah-masalah tak terduga yang bahkan bisa lebih dari ini. Aku ingin tahu bagaimana Alby menghadapi Devi dan Devi yang memahami keinginan Alby karena terus terang saja dengan perbedaan jauh yang seperti itu membuatku sedikit was-was. Kamu lihat kan Devi setuju menjadi putriku sedangkan Alby menolak hal itu. Kita tunggu saja apa keputusan mereka. Jika mereka tetap memilih bersama setelah kesulitan yang kuperbuat, aku janji akan merestui mereka."


"Bagaimana jika pada akhirnya Alby menyetujui Devi menjadi putri kita?" tanya Ishwari.


"Itu artinya mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama dan hanya ditakdirkan sebagai saudara saja. Lebih baik mencegah hal yang tidak diinginkan sekarang sebelum terlambat. Bayangkan jika mereka menikah dan diterpa masalah besar hingga berakhir perceraian. Selain kehilangan menantu, kita juga akan kehilangan putri kita mangkanya aku mencoba menguji mereka sebelum mereka melangkah ke jenjang yang lebih serius," tutur Abimanyu.


"Jika mereka bisa mengatasi masalah ini kamu harus berjanji akan merestui mereka!"

__ADS_1


"Tentu saja sayang. Aku janji. Aku hanya sangat menyayangi mereka dan tidak ingin kehilangan salah satunya mangkanya aku terpaksa melakukan ini."


*****


__ADS_2