Dokter Alby Pujaan Hati

Dokter Alby Pujaan Hati
Bertemu Meira


__ADS_3

Devi menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kini di hadapannya ada Ishwari yang tengah menatapnya tajam dengan amarah. Tak terkecuali Abimanyu yang juga turut berdiri di hadapan Devi seolah siap melakukan eksekusi.


Devi tidak berani membuka suaranya hingga pada akhirnya Ishwari berjalan mendekat ke arah Devi sembari mengangkat dagu Devi menggunakan telunjuknya agar menatap ke arahnya.


"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu pada tante?" tanya Ishwari dingin yang membuat mata Devi berkaca-kaca.


"Bu jangan begitu, ibu membuat Devi ketakutan," tegur Alby lembut pada ibunya.


"Biar! Biar dia tahu bagaimana rasa khawatirnya ibu By!!" balas Ishwari dengan nada tinggi.


"Tante aku minta maaf," ujar Devi dengan nafas tercekat.


"Minta maaf untuk apa?" sinis Ishwari.


Devi sudah tidak dapat berkata apapun lagi selain air matanya yang mulai mengalir menuruni kedua pipinya.


"Aku hiks minta maaf. Kalau tante hiks membenciku aku tidak apa-apa. Aku tahu aku salah," ujar Devi sesenggukan.


"Bodoh! Kenapa kamu berbicara seperti itu?!!" ujar Ishwari seraya memeluk Devi. Mendapat pelukan hangat dari Ishwari malah membuat Devi semakin menangis dengan keras.


"Tante minta maaf, sudah jangan menangis lagi. Om-mu dan Alby sudah siap menerkam tante jika tante membuatmu menangis, ayo berhenti menangis," canda Ishwari sembari mengusap air mata di pipi Devi.


"Kenapa kamu menghindari om dan tante?" tanya Abimanyu padahal ia sudah tahu jawabannya.


"Aku takut om Abi dan tante Ishy memarahiku. Aku tahu ini salahku. Gara-gara aku om Alby, Gara dan Arin terluka. Aku tidak berani menemui kalian karena aku takut kalian membenciku," jawab Devi dengan sesekali sesenggukan.


"Sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu? Kamu tahu tidak bagaimana khawatirnya tante dengan keadaanmu tapi om-mu melarang tante mencarimu dan membiarkanmu menenangkan diri sendiri terlebih dulu. Melihat bagaimana parahnya luka Alby membuat tante lebih mengkhawatirkan keadaanmu," tutur Ishwari lembut.


"Tante tidak membenciku?"


"Bodoh! Kenapa tante harus membencimu? Tapi tante ingin sekali memarahimu karena kamu memilih bersembunyi dari tante dan tidak mau menemui tante. Kamu membuat rasa khawatir tante mencapai ubun-ubun," jawab Ishwari.


"Maaf," lirih Devi.


"Tidak apa-apa. Lain kali jangan seperti ini ya? Bukankah kita keluarga? Kamu tidak harus mengatasi semuanya sendirian. Kamu bisa berbagi dengan tante," tutur Ishwari lembut.


Devi pun memeluk Ishwari lagi sebelum akhirnya ia melarikan pandangannya ke arah Abimanyu yang juga menatapnya dengan senyuman.


"Devi mau berterima kasih pada om Abi. Aku tahu om Abi yang meminta dokter Raka untuk menjagaku, terima kasih om," ujar Devi tulus sembari memeluk Abimanyu.


"Ehem! Aku sakit hati karena kau bilang Raka menjagamu karena perintah ayahku. Raka menjagamu itu karena perintahku bukan ayahku," ujar Alby menginterupsi.


"Enak saja. Ayah yang memerintahkan Raka untuk menjaga Devi, bukan kamu," balas Abimanyu tidak mau kalah.


"Tapi sebelum ayah memintanya, aku sudah lebih dulu meminta bantuan Raka," balas Alby.


"Sudahlah jangan bertengkar. Sayang ayo kita pulang, ini sudah tengah malam Alby harus istirahat," ajak Ishwari pada Abimanyu.


"Baiklah, ayo kita pulang. Dev kamu mau ikut pulang?"


"Tidak om, aku ingin di sini menjaga om Alby," tolak Devi lembut.


Abimanyu pun menganggukkan kepalanya mengijinkan. Abimanyu dan Ishwari pun segera pamit pulang.


Selepas kepergian Abimanyu dan Ishwari, Devi pun berjalan mendekat ke arah brankar Alby dan duduk di sampingnya.


"Tadi itu menegangkan sekali," ujar Devi. "Aku kira aku akan dimarahi."


Alby tersenyum lembut mendengarnya.


"Tidak akan. Kau kan sekarang sudah menjadi putri kesayangan mereka," ujar Alby tertawa kecil.


Devi hanya diam tanpa menampilkan ekspresi apapun. Tiba-tiba ia teringat dengan nasib Raden.


Apa Raden akan mendapatkan hukuman yang berat karena melenyapkan pamannya sendiri? Lalu apa karir Raden juga akan hancur karenanya?

__ADS_1


Memikirkan hal itu membuat Devi menjadi sedih sendiri. Ia merasa lega karena Bima sudah mati tapi ia merasa tidak tenang karena pelakunya adalah Raden sendiri. Devi jadi teringat perkataan Raden saat berada di pantai dulu. Saat itu setelah Devi melihat kedekatan Alby dan Laudya di pantai, Devi yang merasa cemburu pun segera beranjak pergi. Namun tiba-tiba saja Raden mengajaknya untuk berbicara empat mata.


Devi menurutinya dan Devi tidak menyangka sebuah kata keluar dari mulut Raden. Raden berkata jika ia ingin mendapatkan dirinya sekali lagi. Devi yang sebelumnya tahu niat jahat Raden pada awalnya pun tentu saja menolak ide Raden. Raden tidak tinggal diam dan menyerah begitu saja. Untuk meyakinkan Devi, ia berjanji pada Devi untuk melindunginya dari kejahatan paman dan ayahnya sendiri. Devi pun menerimanya.


Tapi Devi tidak menyangka jika upaya yang dilakukan Raden adalah dengan membunuh pamannya sendiri. Kini karir Raden hancur begitu pula hidupnya yang harus ia habiskan di penjara dan itu semata-mata hanya untuk melindunginya.


"Ada apa?" tanya Alby begitu melihat perubahan raut wajah Devi.


"Tidak apa-apa. Om Alby sekarang harus istirahat, ini sudah malam," dusta Devi sembari menaikkan selimut Alby sampai batas dada.


"Kau betulan tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa om. Aku akan tidur di sofa," ujar Devi sembari beranjak berdiri berjalan ke arah sofa.


Alby hanya mengamatinya tanpa sepatah kata. Ia tahu Devi pasti sedang memikirkan sesuatu yang ia tidak tahu itu apa.


Devi yang menyadari tatapan Alby yang mengarah padanya pun mencoba mencari topik untuk menghilangkan kekhawatiran Alby padanya. Lagipula Devi juga tidak ingin mengatakan apa yang menjadi kegundahan hatinya. Meskipun mereka sudah berjanji satu sama lain untuk saling bercerita dan tidak menutupi satu sama lain, tapi bukankah tidak masalah jika ada beberapa hal yang ditutupi?


"Om?"


"Hm?"


"Aku khawatir," ujar Devi.


"Apa yang kau khawatirkan?"


"Nilai ujianku bagaimana ya? Aku kan tiga hari ini tidak belajar dan pasti nilaiku jelek," ujar Devi mencoba menutupi apa yang sebenarnya ia khawatirkan.


"Jadi wajahmu terlihat seperti itu karena kau mengkhawatirkan nilaimu?"


"Tentu saja, memangnya om pikir aku mengkhawatirkan apa?"


"Aku tidak tahu dan aku menunggumu untuk bercerita padaku, tapi ternyata kau seperti itu karena mengkhawatirkan nilaimu. Itu membuatku lega," ujar Alby.


"Satu-satunya hal yang membuatku khawatir hanya nilaiku saja om. Nanti kalau semisalnya aku tidak diterima di universitas yang bagus om Alby tidak marah kan?"


"Kalau aku tidak kuliah bagaimana om? Toh nanti aku juga bakalan jadi ibu rumah tangga," canda Devi tertawa pelan.


"Terserah kau saja. Bekerja kan tugas suami dan kurasa aku bisa menafkahimu dan memenuhi semua kebutuhanmu," jawab Alby.


"Aku ini bodoh lho om. Om Alby tidak apa-apa?"


"Aku kan pintar."


"Tapi Gara bilang fisik anak itu dari ayahnya tapi kepintarannya menurun dari ibunya. Bagaimana kalau anak kita nanti bodoh sepertiku om?"


"Tidak apa-apa yang penting ia tampan atau cantik sepertiku," balas Alby yang membuat Devi tertawa.


"Om Alby jangan begitu! Aku tidak mau anakku bodoh sepertiku."


"Kalau begitu kau harus rajin belajar. Kalau tahun ini belum bisa masuk ke universitas keinginanmu kau kan bisa mencobanya lagi," tutur Alby.


"Om Alby benar. Baiklah kalau begitu, aku sudah mengkhawatirkan apapun lagi." Devi tersenyum senang.


"Sudah malam lebih baik kita tidur," ujar Alby menginterupsi.


"Om Alby benar. Tidur kurang dari delapan jam kan bisa menyebabkan bodoh, kalau begitu aku harus cepat tidur," ujar Devi sembari merebahkan dirinya di sofa.


"Apa itu nyaman?"


"Hm."


"Kau tidak ingin tidur di hotel? Sepertinya kau kurang nyaman tidur di sofa," ujar Alby perhatian.


"Tidak mau. Aku lebih nyaman tidur di sini, lagipula sofanya sangat empuk dan nyaman. Ini tidak ada bedanya dengan hotel bintang lima," tolak Devi.

__ADS_1


Alby hanya tersenyum menanggapinya. Ia lega Devi tidak berpikiran macam-macam akibat kejadian ini dan terus terang saja Alby tidak ingin Devi kembali terlibat dengan keluarga Anggara. Sudah cukup ia saja yang terluka, jangan sampai kejadian Ganendra terulang dua kali.


"Selamat malam om."


"Hm. Selamat malam."


Devi mendesah lega. Alby tidak curiga sama sekali kepadanya. Devi pun memejamkan kedua matanya mencoba untuk tidur, esok ia harus menemui Meira untuk membicarakan beberapa hal dan masalah ini harus Devi sendirilah yang menyelesaikannya.


*****


Sudah lebih dari satu jam Devi menunggu Meira di kafe Anonymous namun Devi melihat tanda-tanda kedatangan Meira.


Devi bahkan harus berbohong pada Alby dengan mengatakan jika hari ini ia harus pergi ke sekolah untuk mengurus beberapa berkas pendaftaran universitas.


Dalam kasus ini memang Meira-lah yang mengurusinya sama seperti kasus sebelumnya, namun selama ini Devi belum bertemu langsung dengannya.


"Dev," panggil wanita paruh baya yang baru saja tiba.


Devi tersenyum lebar menyambut kedatangan Meira bahkan ia sampai berdiri dari duduknya dan berlari memeluk Meira.


"Aunthy, aku sangat merindukanmu," ujar Devi senang.


"Aunthy juga merindukanmu. Maaf aunthy ada urusan sebentar di kantor jadi aunthy telat menemuimu," balas Meira.


"Tidak apa-apa aunthy. Aku juga baru saja tiba," dusta Devi sembari mempersilahkan Meira duduk.


"Aku tahu kamu berbohong," ujar Meira tertawa kecil.


Setelahnya mereka pun saling mengobrol satu sama lain dan bertanya bagaimana keadaan mereka selama ini. Dari situ pula Devi tahu jika Meira saat ini menjadi pemegang saham tertinggi di perusahaan kakaknya-Sean dan menjadi seorang CEO.


"Suatu hari nanti aku akan menyerahkan seluruh saham milikku kepadamu. Itu milikmu, milik kakakmu. Hanya kamu yang berhak atas saham itu," ujar Meira mengakhiri ceritanya.


Devi tersenyum simpul ke arah Meira sembari menggenggam tangannya.


"Terima kasih aunthy. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan aunthy dengan cara apa. Aunthy juga sudah menyelesaikan semua kasusku dari mulai kasus Ganendra hingga sekarang," ujar Devi tulus.


"Tidak perlu berterima kasih. Aunthy sudah menganggapmu sebagai putri aunthy sendiri dan ayahmu sudah sangat berjasa pada aunthy. Rasanya apa yang aunthy lakukan padamu saat ini masih belum sepadan dengan kebaikan ayahmu pada aunthy. Ayahmu telah menyelamatkan hidup aunthy," tutur Meira yang membuat Devi tersenyum kecut.


Rupanya ayahnya merupakan sosok pahlawan untuk hidup Meira.


"Aunthy."


"Iya?"


"Bagaimana kelanjutan kasus kak Raden? Apa ia akan ditahan dalam waktu yang lama?" tanya Devi dengan raut wajah khawatir yang kentara.


"Ada apa? Kamu sangat mengkhawatirkannya?" tanya Meira yang diangguki oleh Devi.


"Untuk apa? Keluarga mereka kan pernah ingin mencelakaimu, kenapa kamu mengkhawatirkannya?"


"Aku tahu, tapi kak Raden sudah berubah. Bahkan ia sampai membunuh pamannya sendiri demi menyelamatkanku dan om Alby."


"Kamu menyukainya ya?"


"Tidak," jawab Devi cepat. "Aku hanya mengkhawatirkannya dan menganggapnya sebagai kakakku saja."


"Raden terjerat pasal berlapis. Selain pasal 338, 339 dan 340 tentang menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja dan terancam hukuman paling lama dua puluh tahun. Selain itu Raden juga terjerat pasal 9 UU No. 8 tahun 1948 tentang kepemilikan senjata ilegal. Sepertinya akan sulit Dev," ujar Meira dengan nada menyesal.


Devi menghela nafasnya pelan. Raden memang salah, itu artinya ia memang harus mendapatkan hukuman. Tapi apakah Devi bisa tenang jika dirinya-lah penyebab kekacauan ini semua?


"Aunthy."


"Iya?"


"Apa aunthy tahu jika selain perusahaan Wardhana Inc. ayah juga memiki bisnis lain yang ilegal?" tanya Devi yang membuat Meira tampak sangat terkejut.

__ADS_1


*****


__ADS_2