
"Aku tidak bisa memberimu ijin selama itu," ujar direktur menolak permohonan ijin Alby.
Alby menghela nafasnya berat. Ia sebetulnya sudah tahu jika cuti lebih dari dua minggu tidak akan diijinkan namun Alby ingin mencobanya, siapa tahu saja direktur memberinya ijin tapi ternyata jawaban direktur memang tidak mengijinkannya untuk mengambil cuti.
"Jika kau cuti bagaimana dengan pasien-pasienmu? Bukannya kau harus tetap mengawasi pasien yang kau operasi kemarin? Bukannya aku tidak memberimu ijin cuti hanya saja dua puluh tiga hari itu adalah waktu yang sangat lama," jelas direktur.
"Baiklah saya mengerti direktur. Saya mohon undur diri, maaf telah mengganggu waktu anda," pamit Alby keluar dari ruangan direktur.
Begitu keluar dari ruangan direktur, Alby cukup terkejut mendapati Laudya yang sudah berdiri di depan pintu sembari menatap kearahnya.
"Sejak kapan kau berdiri disini?" tanya Alby.
"Aku baru saja tiba. Ada apa? Apa ayahku mengancammu atau berbicara buruk padamu?" tanya Laudya curiga.
"Tidak," jawab Alby sembari tersenyum.
"Lalu?"
Alby terdiam sembari berfikir sejenak. Ia tidak mendapatkan ijin cuti dan ia juga tidak mungkin membiarkan Devi pergi ke Singapura sendirian. Devi tidak bisa bahasa Inggris, selain itu ini adalah kali pertamanya naik pesawat dan berpergian sejauh itu. Alby merasa khawatir jika membiarkannya pergi sendirian.
Alby menaikkan pandangannya menatap kearah Laudya. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalanya.
"Bisa kita berbicara berdua? Ada hal yang ingin kusampaikan padamu," ujar Alby.
*****
Kini Alby dan Laudya berada di rooftop rumah sakit untuk membicarakan sesuatu hal yang penting.
"Ada apa?" tanya Laudya.
"Laudya kau pernah belajar di Singapura kan?" tanya Alby serius.
"Iya pernah. Memangnya kenapa?" tanya Laudya bingung dengan pertanyaan Alby.
"Bisa aku minta tolong padamu?"
"Minta tolong apa?"
"Bisa kau temani Devi pergi ke Singapura selama lebih dari dua minggu? Aku akan mengganti kerugianmu karena tidak bekerja selama itu," ujar Alby serius.
"Tunggu dulu By. Ini bukan masalah uang, tolong jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Devi harus pergi ke Singapura?"
Alby menghela nafasnya pelan sembari menatap kearah gedung-gedung yang berjajar rapi di hadapannya.
"Kakaknya Devi yang bernama Sean sedang sakit. Dokter memvonis ruptur tumor spontan kemarin malam dan perkiraan usia Sean hanya tinggal dua puluh tiga hari saja. Devi ingin menemani kakaknya sampai saat-saat terakhirnya tiba tapi aku tidak bisa menemaninya. Aku tidak bisa mendapatkan ijin cuti selama itu dan Devi tidak bisa bahasa Inggris. Aku tidak tega membiarkannya pergi ke Singapura sendirian," jelas Alby yang membuat Laudya semakin tidak mengerti.
"Sean? Siapa Sean? Bukannya kakaknya Devi itu kau Alby?"
"Bukan," jawab Alby sembari menggelengkan kepalanya. "Aku anak tunggal. Sean menitipkannya padaku karena ia sedang menjalani perawatan di Singapura. Aku sengaja mengakuinya sebagai seorang adik di depan kalian semua agar tidak ada yang berpikiran aneh-aneh karena aku tinggal bersama gadis SMA," lanjut Alby.
__ADS_1
Laudya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Tapi kenapa tidak orang tuanya saja yang mengantarnya ke Singapura By? Apa kedua orang tuanya sudah berangkat kesana duluan?" tanya Laudya.
"Kedua orang tua Devi sudah meninggal karena kecelakaan," jawab Alby.
Laudya menutup mulutnya dengan tangannya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Aku tidak menyangka ceritanya seperti ini. Ini pasti sangat berat untuk Devi. Bagaimana mungkin gadis remaja seusianya sudah mengalami hal menyakitkan seperti ini?" ujar Laudya iba.
Dalam hati Alby ia membenarkan perkataan Laudya namun Laudya tidak tahu kenyataan seperti apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang tuanya Devi dan Alby tidak akan memberitahu rahasia itu pada siapapun termasuk Devi sendiri.
"Kau mau aku menemaninya merawat kakaknya kan?" tanya Laudya yang dijawab anggukan oleh Alby.
"Baiklah aku mau. Kapan kira-kira berangkat By? Aku harus membatalkan beberapa jadwal pemotretanku terlebih dahulu."
"Besok lusa. Paspornya keluar esok hari, itupun aku meminta bantuan orang dalam agar cepat jadi."
Laudya mengangguk mengerti. Ia menatap ke arah Alby yang tampak sangat khawatir dan perduli dengan Devi. Mungkin itu karena Alby menganggap Devi seperti adik kandungnya sendiri. Laudya mencoba menyemangati dirinya sendiri dan tidak berfikir negatif tentang hubungan Alby dan juga Devi.
Tanpa mereka sadari, di belakang sana ada Jessica yang mendengar semua perkataan Alby dan juga Laudya. Jessica yang awalnya sedang bersantai di sebuah sofa usang tidak terpakai pun dikejutkan dengan kehadiran kakaknya dan juga Alby langsung memutuskan untuk bersembunyi.
Begitu mendengar fakta yang keluar dari bibir Alby, Jessica tersenyum penuh kemenangan. Kini ia tahu rahasia terbesar Devi. Devi bukan adik kandung dari dokter Alby dan sekarang kakak kandung Devi sedang sekarat di luar negeri.
Lihat saja aku akan membalas perbuatanmu!
*****
Kini Devi sedang berada di kantin bersama Arin dan juga Gara. Sudah dua hari ini Devi hanya diam dan enggan memakan makanannya. Devi tampak pucat dan murung, tentu saja hal itu membuat kedua sahabatnya tampak khawatir. Bahkan Alby sampai meminta tolong pada Arin dan Gara untuk mengawasi Devi dan menjaganya karena akhir-akhir ini Devi benar-benar menjadi pendiam dan tidak seperti biasanya. Alby juga meminta Gara dan Arin untuk menyingkirkan benda-benda tajam dari jangkauan Devi, takut jika sewaktu-waktu efek dari amnesia dan traumanya di masa lalu membuatnya berpikiran untuk mengakhiri hidupnya.
Gara dan Arin menatap iba kearah Devi. Mereka sudah tahu tentang kondisi Sean.
"Kau ingin makan apa biar kubelikan," tanya Gara lembut.
"Aku tidak lapar," tolak Devi.
"Kau harus makan. Kau tidak boleh seperti ini. Lihat sekarang! Kau mogok makan dua hari tapi badanmu sudah seperti kekurangan gizi selama bertahun-tahun. Kau harus terlihat sehat dan bersemangat di hadapan kakakmu. Kau tidak ingin membuat kakakmu khawatir kan?" tanya Arin dan Devi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku tidak ingin kak Sean khawatir padaku. Aku ingin kak Sean hanya mengingat kenangan yang kubuat selama dua puluh tiga hari nanti dengan tawa bahagia," ujar Devi sembari meneteskan air mata.
"Jangan menangis, kau membuatku sedih," ujar Arin sembari mengusap air mata Devi.
"Kalau begitu kau tunggu disini saja biar aku dan Arin yang memesankan makanan untukmu," ujar Gara yang diangguki oleh Devi.
Gara dan Arin pun beranjak pergi untuk memesan makanan meninggalkan Devi yang tampak sedih sendirian.
Rea yang melihat hal itu ingin sekali mendekat kearah Devi dan menghibur Devi. Ia merasa iba melihat Devi yang seperti itu, tapi ia tidak mungkin berjalan mendekat ke arah Devi karena dia sendirilah yang menolak ajakan pertemanan yang diutarakan Devi padanya tempo hari. Lagipula jika ia mendekat kearah Devi sekarang, Devi pasti berfikir yang tidak-tidak padanya. Alhasil Rea hanya berani mengamati Devi dari jauh.
Tak! Tak!
__ADS_1
Devi menengadahkan kepalanya menatap seseorang yang baru saja mengetok mejanya. Di sana sudah ada Jessica dan beberapa temannya yang sudah siap mengeksekusinya.
"Hai pembohong," sapa jessica sembari tertawa meremehkan. "Siapa saja yang menjadi korban kebohonganmu tentang kau adik dari dokter Alby? Apa seluruh rumah sakit menjadi korban kebohonganmu oh apa seisi sekolah ini juga menjadi korbanmu juga?" tanya Jessica dengan nada yang sangat menyebalkan.
Devi memilih tidak menanggapinya dan membuang arah ke samping agar tidak menghadap ke arah Jessica. Untuk saat ini Devi tidak ingin berdebat ataupun membela diri melawan Jessica. Ia sedang sedih sekarang dan suasana hatinya juga sedang tidak bagus jadi ia membiarkan Jessica berbicara semaunya.
"Kedua orang tuamu mati kecelakaan kan? Dan sekarang kakakmu satu-satunya sedang menderita angiosarcoma hati dan hidupnya juga tidak akan lama lagi. Kakakmu akan pergi menyusul kedua orang tuamu, kenapa kau tidak ikut saja?" desis Jessica tepat di depan telinga Devi.
"Orang menyebalkan sepertimu tidak pantas merasakan yang namanya bahagia. Lihat saja sekarang, satu-persatu orang-orang di sekitarmu pergi meninggalkanmu dan aku yakin sebentar lagi dokter Alby juga akan meninggalkanmu," ujar Jessica sembari menyunggingkan smirknya.
"Kalau aku jadi kau lebih baik aku mati saja hahaha," timpal Clara yang diiringin gelak tawa oleh yang lainnya.
"Kalau kau ingin pergi ke Singapura, pergi sendiri saja jangan meminta kakakku untuk menemanimu. Kau pikir kakakku babysitter yang ditugaskan untuk mengasuh bayi menyebalkan sepertimu? Kenapa tidak meminta kakakmu Alby untuk mengantarmu?" tanya Jessica dengan menekankan kata 'kakak' dibagian akhir kalimatnya.
Devi hanya diam bergeming sembari meremas rok abu-abunya mencoba menahan amarahnya. Tubuhnya terasa tidak bertenaga hanya untuk memberinya pukulan dan jambakan di rambut Jessica.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" desis Gara yang baru saja tiba dengan dingin.
"Iya! Apa yang kau lakukan pada Devi?!!" imbuh Arin marah.
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya melihatnya sedang intropeksi diri. Sudahlah ayo kita pergi dari sini sebelum tubuhku terasa gatal karena terdapat banyak serangga di sini," ajak Jessica pada teman-temannya.
"Iya pergi saja sebelum kupatahkan lehermu!!!" balas Arin.
"Dev kau tidak apa-apa? Apa yang dikatakan Jessica padamu? Apa dia melukaimu?" tanya Gara khawatir.
"Kau beritahu saja pada kita. Apa yang dilakukan nenek sihir itu padamu?" timpal Arin.
"Tidak ada. Kemarikan makanannya, aku lapar," jawab Devi sembari mengambil makanan yang berada di tangan Gara.
"Kau betulan tidak apa-apa?" tanya Arin khawatir.
"Aku baik-baik saja Arin, jangan berlebihan. Aku bukan bayi," ujar Devi sembari tertawa dengan sedikit dipaksakan.
"Kalau begitu makanlah. Ini minumnya," ujar Gara lembut sembari menyodorkan minuman pada Devi.
"Terimakasih," ujar Devi sembari tersenyum.
Devi memakan makanan tersebut dengan menahan tangisnya bahkan air matanya sudah lolos menuruni kedua pipinya. Arin yang melihat hal tersebut berniat untuk bertanya pada Devi namun Gara segera memberi kode agar diam saja dan membiarkan Devi untuk sementara waktu.
"Aku hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan kak Sean. Itu saja, bahkan perkataan Jessica tidak ada apa-apanya dengan rasa takut kehilangan kak Sean," ujar Devi sembari menghapus air matanya.
Arin yang mendengarnya pun kini ikut menangis dan memeluk Devi dari samping. Kini Gara juga bangkit mendekat kearah Devi dan ikut memeluk Devi dari arah samping yang berlawanan dengan Arin.
"Kak Sean akan baik-baik saja. Kak Sean akan sembuh," ujar Gara lembut sembari mengusap puncak kepala Devi lembut.
Kini mereka bertiga sudah tidak perduli lagi dengan keadaan seisi kantin yang memperhatikan mereka dan hal itu juga tidak luput dari perhatian Rea. Rea menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya ia memutuskan keluar dari kantin.
"Ta..tapi kata om Alby, kak Sean hanya bisa bertahan selama dua puluh tiga hari saja," ujar Devi sesenggukan.
__ADS_1
"Om Alby hanya dokter, dia bukan Tuhan. Kau berdoa saja agar Tuhan memberi keajaiban pada kak Sean," ujar Gara.
*****